Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Tesis Usaha Agribisnis: Analisis Dampak Pelaksanaan Program PUAP

Judul Tesis : Analisis Dampak Pelaksanaan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) (Studi Kasus Gapoktan Rukun Tani, Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor)

A. Latar Belakang

Kemiskinan merupakan masalah multidimensi karena berkaitan dengan ketidakmampuan akses secara ekonomi, sosial, budaya, politik dan partisipasi dalam masyarakat. Kemiskinan juga memiliki arti yang lebih luas dari sekedar lebih rendahnya tingkat pendapatan atau konsumsi seseorang dari standar kesejahteraan terukur seperti kebutuhan kalori minimum atau garis kemiskinan. Akan tetapi kemiskinan memiliki arti yang lebih dalam karena berkaitan juga dengan ketidakmampuan untuk mencapai aspek di luar pendapatan (non-income factors) seperti akses kebutuhan minimum seperti kesehatan, pendidikan, air bersih dan sanitasi. Lebih lanjut kompleksitas dari kemiskinan bukan saja berhubungan dengan pengertian dan dimensinya saja tetapi juga berkaitan dengan intervensi kebijakan yang diperlukan dalam mengentaskan masalah ini.

Berdasarkan data statistik BPS (2012) jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia) dari tahun 2007 – 2011 sebagian besar tinggal di perdesaan. Pada tahun 2007 jumlah penduduk miskin tercatat sebesar 37,2 juta jiwa, dimana sekitar 63,7% dari jumlah tersebut berada di perdesaan dengan mata pencaharian utamanya berada di sektor pertanian.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Pendapatan petani merupakan salah satu indikator keberhasilan/dampak program PUAP dan salah satu indikator keberhasilan yang bisa diukur.
  2. Mata pencaharian responden adalah pertanian, yaitu petani tanaman sayuran dan tanaman pangan.
  3. Petani lebih banyak mengetahui penerimaan dan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam usaha taninya.

 

C. Tinjauan Pustaka Tesis

Konsep Kemiskinan

Definisi umum kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar antara lain : terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, serta rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik (BPS, 2011).

Evaluasi Program

Evaluasi adalah suatu proses untuk membuat penilaian secara sistematis mengenai suatu kebijakan, program, proyek atau kegiatan berdasarkan informasi dan hasil analisis dibandingkan terhadap relevansi, keefektifan biaya, dan keberhasilannya untuk keperluan pemangku kepentingan (Suharyadi, 2007). Salah satu kriteria yang digunakan pada penilaian dalam evaluasi adalah hasil (outcomes) yaitu apakah terjadi perubahan indikator-indikator utama tujuan program (membaik atau tidak), berapa banyak perubahannya, serta apakah perubahan tersebut disebabkan oleh program. Evaluasi dampak dilakukan untuk mengkaji apakah suatu program memberikan pengaruh yang diinginkan terhadap individu, masyarakat, dan kelembagaan.

Pengukuran Dampak

Dampak adalah perbedaan antara indikator hasil dengan program dan indikator hasil tanpa program. Tetapi, sulit untuk melihat seseorang atau sesuatu dalam keadaan yang berbeda pada saat yang bersamaan. Jadi, meskipun indikator hasil setelah program dapat diamati, indikator hasil tanpa program, yang biasa disebut sebagai kontra-fakta (counter-factual), tidak dapat diamati (Suharyadi, 2007). Ilustrasi berikut ini menggambarkan suatu indikator sebelum suatu program dijalankan.

 

D. Metodelogi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Bogor. Dilihat dari sumber datanya, pengumpulan data dapat menggunakan data primer dan data sekunder (Kuncoro, 2003).

 

E. Kesimpulan

1. Pelaksanaan program PUAP di Gapoktan Rukun Tani telah berjalan baik. Hal ini dapat dilihat dari bertambahnya jumlah anggota yang menerima dana PUAP, Sisa Hasil Usaha (SHU) Tahun 2011 yang meningkat (10,37% dari dana awal PUAP), dan juga tingkat pengembalian kredit macet yang relatif kecil (6,85% dari dana PUAP). Kendala yang dihadapi para anggota gapoktan adalah terjadinya gagal panen. Kurangnya pengetahuan dan teknologi mengenai budidaya pertanian menyebabkan produktifitas hasil pertanian tidak maksimal. Keterbatasan sumber daya manusia dari pengurus dan adanya rangkap jabatan antar kelembagaan menyebabkan pengurus gapoktan tidak fokus didalam pengembangan unit-unit usaha lainnya.

2. Aspek kinerja dan kualitas kinerja Gapoktan Rukun Tani yang dinilai perlu dilakukan peningkatan kinerja adalah adanya rencana kerja gapoktan, penyelenggaraan rapat/pertemuan anggota, gapoktan belum memiliki badan hukum, waktu dan realisasi pinjaman, analisa kelayakan usaha, pelaporan yang dibuat pengurus gapoktan, pembinaan usaha anggota, adanya pengawasan dalam hal pembiayaan, sarana dan prasarana, dan peran penyuluh pendamping. Aspek kerjasama keuangan dengan lembaga keuangan lain sebagian besar petani menganggap tidak penting. Ini menunjukkan bahwa masih rendahnya kesadaran petani akan pentingnya pengembangan modal usaha gapoktan bagi keberlanjutan peran gapoktan sebagi lembaga ekonomi pedesaan. Hal ini didukung data laporan neraca yang menunjukkan dana keswadayaan dari anggota masih relatif kecil sebesar Rp. 11.020.000,- atau sebesar 10% dari jumlah aktiva gapoktan rukun tani.

3. Dampak pelaksanaan program PUAP mengakibatkan peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga petani penerima manfaat sebesar 12,86% dan penurunan tingkat kemiskinan sebesar 7,67%. Hal ini menunjukkan adanya dampak positif program PUAP terhadap pendapatan penerima manfaat. Dan jika dilakukan uji beda rata-rata terhadap pendapatan setelah program PUAP antara kelompok anggota PUAP (kelompok aksi) dengan kelompok non anggota PUAP (kelompok kontrol) dihasilkan tidak berbeda nyata. Hal ini dikarenakan karena kegiatan produksi pertanian yang sangat tergantung iklim, kualitas sumber daya manusia yang rendah, akses terhadap penggunaan lahan rendah, skala usaha yang sangat kecil, dan juga penggunaan teknologi yang masih sangat sederhana menyebabkan kualitas dan kuantitas produksi rendah. Sehingga diperlukan ketepatan dan kecermatan dalam merumuskan strategi untuk perbaikan program PUAP kedepannya.

Contoh Tesis Usaha Agribisnis

  1. Analisis Dampak Pelaksanaan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) (Studi Kasus Gapoktan Rukun Tani, Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor)