Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Tesis Terapi Kognitif: Terapi Kognitif trhdp Harga Diri dan Kondisi Depresi Pasien GGK

Judul Tesis : Pengaruh Terapi Kognitif terhadap Perubahan Harga Diri dan Kondisi Depresi Pasien Gagal Ginjal Kronik di Ruang Haemodialisa RSUP Fatmawati Jakarta Tahun 2009

 

A. Latar Belakang

Ginjal adalah sepasang organ berbentuk seperti kacang berwarna merah tua, dan berukuran kira-kira sebesar kepalan tangan. Ginjal berfungsi sebagai sistem filter/saringan dengan membuang ‘sampah’ sisa-sisa metabolisme tubuh, menjaga keseimbangan cairan tubuh, memproduksi hormon yang mengontrol tekanan darah, memproduksi Hormon Erythropoietin yang membantu pembuatan sel darah merah, dan mengaktifkan vitamin D untuk memelihara kesehatan tulang (Sloane, 2004). Dengan demikian jelaslah bahwa ginjal mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesehatan tubuh, karena ia berperan dalam proses ekskresi (pembuangan) sisa metabolisme tubuh dan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Jika terjadi kerusakan atau mengalami gangguan fungsi pada organ ini akan berpengaruh terhadap organ tubuh yang lain. Hal inilah yang membuat fungsi ginjal tak bisa digantikan oleh organ lainnya.

Gangguan atau kerusakan pada fungsi ginjal menimbulkan masalah kesehatan pada tubuh karena akan terjadi penumpukan sisa-sisa metabolisme tubuh. Pada tahap awal, gangguan pada fungsi ginjal tidak menunjukkan gejala berarti. Penderita baru merasakan ada kelainan pada dirinya, jika fungsi ginjal menurun menjadi 25 persen, bahkan 10 persen pada penderita muda (Lumenta, 2005). Tidak ada alarm tubuh yang mengingatkan bahwa fungsi ginjal mulai menurun. Penumpukan sisa metabolisme yang merupakan racun tubuh akibat penurunan fungsi ginjal dapat menyebabkan racun diserap dan menyebar kembali ke seluruh tubuh. Hal ini mengakibatkan berbagai gangguan tubuh lainnya, seperti gangguan keseimbangan cairan tubuh dan gangguan pengontrolan tekanan darah. Tubuh menjadi mudah lelah, lemas, sehingga aktivitas kerja terganggu. Menurut Soeleman (2008 dalam Anwar, 2008), keluhan baru dirasakan bila fungsi ginjal sudah sangat menurun, seperti bengkak mata kaki, nyeri pinggang hebat (kolik), sakit saat berkemih, demam, sering berkemih namun urine yang keluar hanya sedikit, kelainan urine (mengandung protein, darah, nilai abnormal pada eritrosit, lekosit, dan adanya bakteri). Gejala tersebut dikenal dengan gagal ginjal akut (GGA).

 

B. Rumusan Masalah Tesis

  1. Dari 30 pasien yang diteliti dalam studi pendahuluan tersebut, terdapat 27 (90 %) orang yang memiliki masalah (diagnosa) keperawatan harga diri rendah, sehingga harga diri rendah merupakan diagnosa keperawatan utama karena menduduki peringkat teratas dari diagnosa keperawatan lainnya.
  2. Program pengobatan yang diberikan pada pasien GGK yang menjalani haemodialisa umumnya masih berupa pengobatan untuk mengatasi keluhan-keluhan fisik dan belum menyentuh terhadap masalah-masalah psikososial pasien.

 

C. Tinjauan Pustaka

Pengertian GGK

Kegagalan fungsi ginjal dapat terjadi dalam 2 (dua) jenis yaitu gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronik. Gagal ginjal akut (GGA) atau Acute Renal Failure (ARF) adalah sekumpulan gejala yang mengakibatkan disfungsi ginjal secara mendadak (Nursalam, 2006) dan bersifat reversibel (Corwin, 1996). Gagal ginjal kronik (GGK) atau Chronic Renal Failure (CRF) adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal menyaring sisa-sisa metabolisme tubuh, pembuangan elektrolit tubuh yang berbahaya untuk tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium di dalam darah atau produksi urine (Nettina, 1997).

Penatalaksanaan Medik GGK

Penanganan serta pengobatan GGK tergantung dari penyebab terjadinya kegagalan fungsi ginjal itu sendiri. Tujuan pengobatan adalah untuk mengendalikan gejala, meminimalkan komplikasi dan memperlambat perkembangan penyakit (Lumenta, 2008). Pasien perlu melakukan diet pembatasan atau penurunan intake sodium (natrium), kalium, protein dan cairan dan peningkatan kalori. Bila diketahui penyebabnya adalah dampak penyakit lain, maka dokter akan memberikan obat-obatan atau terapi misalnya pemberian obat untuk pengobatan hipertensi, anemia atau mungkin kolesterol yang tinggi.

Konsep Depresi pada Pasien GGK

Depresi yang merupakan salah satu gangguan kesehatan jiwa khususnya gangguan mood atau gangguan alam perasaan ini dapat mengganggu kehidupan individu. Individu diliputi kesedihan jangka panjang dan drastis, agitasi, disertai dengan keraguan terhadap diri sendiri, rasa bersalah, dan marah yang dapat mengubah aktivitas hidupnya terutama aktivitas yang melibatkan harga diri, pekerjaan dan hubungan dengan orang lain (Videbeck, 2001).

 

D. Metodelogi Penelitian

Penelitian adalah quasi experiment dengan desain pre-post test design with control group.

Data diambil sebelum dan sesudah pemberian intervensi terapi kognitif pada pasien GGK yang mengalami harga diri rendah dan kondisi depresi di kelompok intervensi.

Sampel penelitian diperoleh secara consequtive sampling yang berjumlah 56 responden, terdiri dari 28 responden untuk kelompok intervensi dan 28 responden untuk kelompok kontrol.

Instrumen penelitian untuk mengetahui tingkat harga diri dan kondisi depresi menggunakan kuesioner modifikasi dari Test Skrining Depresi Beck (Beck Depresion Inventory/BDI) yang berjumlah 25 pertanyaan.

 

E. Simpulan

Dalam penelitian tentang pengaruh terapi kognitif terhadap perubahan tingkat harga diri dan kondisi depresi pada pasien GGK di ruang Haemodialisa RSUP Fatmawati memberikan hasil bahwa karakteristik pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) rata-rata berusia 48,73 tahun, memiliki waktu lama sakit 26,50 bulan, dan jumlah frekuensi haemodialisa sebanyak 199,98 kali. Karakteristtik lainnya adalah sebagian besar pasien GGK dalam penelitian ini adalah laki-laki yang tidak bekerja, memiliki jenjang pendidikan tinggi (SMA dan PT), dengan status perkawinan adalah kawin (menikah), dan mendapatkan antihipertensi.

Pasien GGK yang menjalani terapi haemodialisa berisiko mengalami harga diri rendah dan kondisi depresi. Hal ini dikarenakan faktor-faktor yang mendukung terjadinya perilaku harga diri rendah, mekanisme koping yang digunakan dan sumber koping yang dimiliki pasien GGK dan didukung adanya hasil analisis terhadap tingkat harga diri dan kondisi depresi pasien GGK di kedua kelompok sebelum terapi kognitif diberikan, yang meskipun menunjukkan nilai rata-rata berada dalam katagori harga diri sedang dan kondisi depresi, namun masih berada dibawah nilai standar optimal untuk harga diri yaitu 54 dan diatas batas nilai kondisi depresi, yaitu 16.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada pengaruh terapi kognitif yang cukup bermakna terhadap tingkat harga diri dan kondisi depresi pasien GGK dimana terapi kognitif yang telah dilakukan selama kurang lebih 6 minggu ini telah memberikan hasil yaitu bahwa tingkat harga diri pasien GGK meningkat secara bermakna setelah diberikan terapi kognitif dan kondisi depresi pasien GGK menurun secara bermakna setelah dilakukan terapi kognitif.

 

Contoh Tesis Terapi Kognitif

  1. Pengaruh Terapi Kognitif terhadap Perubahan Harga Diri dan Kondisi Depresi Pasien Gagal Ginjal Kronik di Ruang Haemodialisa
  2. Pengaruh Terapi Kognitif dan Logoterapi terhadap Depresi, Ansietas, Kemampuan Mengubah Pikiran Negatif, dan Memaknai Hidup Klien Diabetes Melitus di RSUP dr. M Djamil Padang
  3. Pengaruh Terapi Kognitif dan Senam Latih Otak terhadap Tingkat Depresi dengan Harga Diri Rendah Pada Klien Lansia di Panti Tresna Wreda Bakti Yuswa Natar Lampung
  4. Pengaruh Terapi Kognitif dan Terapi Penghentian Pikiran terhadap Perubahan Ansietas
  5. Pengaruh Terapi Kognitif dan Terapi Penghentian Pikiran terhadap Perubahan Ansietas, Depresi dan Kemampuan Mengontrol Pikiran Negatif Klien Kanker di RS Kanker Dharmais Jakarta
  6. Pengaruh Terapi Kognitif Perilaku Terhadap Pikiran dan Perilaku Anak Usia Sekolah tang Mengalami Kesulitan Belajar di SDN Kelurahan Pondok Cina Tahun 2010
  7. Terapi Kognitif – Tingkah Laku untuk Mengatasi Kecemasan Sosial
  8. Terapi Kognitif-Perilaku untuk Menangani Depresi pada Lanjut Usia