Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Tesis Risiko Produksi: Dampak Perubahan Iklim trhdp Hasil dan Risiko Produksi Padi

Judul Tesis :  Dampak Perubahan Iklim terhadap Hasil dan Risiko Produksi Padi di Indonesia

 

A. Latar Belakang

Besarnya ketergantungan terhadap iklim mengakibatkan produksi pertanian selalu berisiko. Risiko produksi dapat menjadi salah satu risiko yang paling tidak menentu dan berpotensi memberikan dampak buruk terhadap petani (Drollete, 2009). Ketidakpastian iklim yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini semakin meningkatkan risiko produksi. Kegagalan panen akibat kekeringan, banjir, dan serangan hama penyakit merefleksikan keberadaan risiko tersebut. Data tahun 2008 menunjukkan areal padi yang terkena banjir, kekeringan dan serangan hama penyakit berturut-turut mencapai 333,000; 319,500; dan 428,600 hektare dengan kehilangan hasil masing-masing 997,300; 984,200; dan 352,300 ton. Dengan demikian, total kehilangan hasil akibat banjir, kekeringan, dan serangan hama penyakit lebih dari 2.3 juta ton atau sekitar 4.08% dari produksi total pada tahun 2008 (57.17 juta ton) (PSEKP, 2012). Dalam 10 tahun terakhir, secara kumulatif areal padi yang mengalami kekeringan, banjir, dan serangan hama penyakit masih cukup tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa risiko akibat iklim selalu ada di dalam usaha tani padi.

Meskipun tingkat kerentanan sektor pertanian terhadap perubahan iklim sangat tinggi, penelitian yang dilakukan di negara berkembang masih terbatas (Joshi, Maharjan, dan Luna, 2011; Holst, Yu, dan Grun, 2010; Boubacar, 2010). Sama halnya di Indonesia, penelitian dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian masih terbatas dan belum terintegrasi (Las et al., 2011). Penelitian lebih banyak dilakukan di negara maju (Cabas, Weersink, dan Olale, 2010; Kim dan Pang, 2009; Carew, Smith, dan Grant, 2009; Chen dan Chang, 2005; Isik dan Devadoss, 2004; Chen, McCarl, dan Schimmelpfennig, 2004). Beberapa penelitian sebelumnya di Indonesia fokus terhadap perubahan produksi padi sebagai akibat dari perubahan iklim (Naylor et al., 2007; Syaukat, 2011) namun tanpa menyertakan risiko produksi dalam kajiannya.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Seberapa besar perubahan iklim mempengaruhi hasil padi di daerah sentra di Indonesia?
  2. Seberapa besar risiko produksi yang timbul?
  3. Apakah ada perbedaan hasil dan risiko produksi antar daerah sentra di Indonesia?

 

C. Tinjauan Literatur

Iklim dan Pertanian

Istilah cuaca dan iklim seringkali dipertukarkan untuk menggambarkan objek yang sama. Perbedaan antara aspek cuaca dan aspek iklim di bumi sebenarnya terletak dalam hal lingkup ruang dan waktu. Nasir (1994) mendefinisikan cuaca sebagai nilai sesaat dari atmosfer serta perubahan dalam jangka pendek (kurang dari 1-24 jam) di suatu tempat tertentu di bumi, sedangkan iklim merupakan kesimpulan dari perubahan nilai unsur-unsur cuaca yang tercatat dalam jangka waktu yang relatif panjang (misalnya 30 tahun atau lebih) di suatu tempat atau suatu wilayah.Pertanian merupakan salah satu industri yang sangat peka terhadap cuaca. Risiko terkait cuaca umumnya berasal dari fluktuasi suhu dan curah  hujan yang merupakan sumber utama risiko produksi tanaman (Chung, 2011). Keragaman cuaca tidak dapat dikontrol oleh para pelaku industri pertanian (Paulson, 2007). Selain itu akan mempengaruhi pengelolaan usaha tani dimana cuaca dalam jangka pendek mempengaruhi hasil tanaman melalui perubahan suhu, evapotranspirasi, dan tersedianya kelembaban (Chen dan Chang, 2004).

Risiko dalam Produksi Pertanian

Produksi pertanian di seluruh dunia sangat terkait dengan risiko (Hurley, 2010). Risiko didefinisikan sebagai kemungkinan terjadinya kejadian buruk (Crocker, 2003) atau hasil yang kurang baik akibat ketidakpastian dan ketidaksempurnaan pengetahuan dalam membuat keputusan (Drollete, 2009). Menurut World Bank (2005), risiko di bidang pertanian berhubungan dengan hasil negatif dari ketidaksempurnaan memperkirakan variabel biologi, iklim, dan harga. Variabel tersebut meliputi kerugian alami (hama dan penyakit), faktor iklim yang tidak dapat dikontrol produsen, dan kerugian akibat perubahan harga input maupun output. Lebih jauh OECD (2000) mengklasifikasikan sumber risiko pertanian menjadi empat tipe, yaitu

  • risiko produksi (cuaca, serangan hama penyakit, perubahan teknologi),
  • risiko ekologi (polusi, perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam),
  • risiko pasar (variabilitas harga input dan output), dan
  • risiko regulator/institusi (kebijakan pertanian, keamanan pangan dan regulasi lingkungan). Risiko produksi dan risiko harga menjadi dua risiko utama yang sering dihadapi dalam produksi pertanian.

Risiko Produksi Akibat Iklim

Hubungan antara hasil tanaman dan iklim telah menjadi perhatian dunia dalam beberapa dekade terakhir seiring dengan meluasnya isu perubahan iklim. Variabilitas hasil yang terjadi akibat iklim menjadi sumber risiko produksi. Beberapa penelitian berbasis regresi ekonometri dengan fokus pengaruh faktor iklim terhadap hasil tanaman dan variabilitasnya telah dilakukan oleh Chen, McCarl, dan Schimmelpfennig (2004), Chen dan Chang (2005), Isik dan Devadoss (2006), serta Kim dan Pang (2009). Peneliti lain mengkombinasikan faktor iklim dan non iklim sebagai faktor yang mempengaruhi hasil tanaman dan variabilitasnya, seperti yang telah dilakukan oleh Carew, Smith, dan Grant (2009) atau Cabas, Weersink, dan Olale (2010).

 

D. Metodelogi Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder time series hasil padi dan iklim dalam kurun waktu 30 tahun (1982-2011) dan cross section sejumlah delapan daerah sentra produksi (provinsi). Data tersebut diperoleh dari Kementerian Pertanian (Kementan) dan National Oceanic and Atmospheric Association (NOAA).

Salah satu analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis deskriptif melalui ringkasan statistik deskriptif dari data.

Berdasarkan penelitian terdahulu diketahui bahwa perubahan kondisi iklim tidak hanya mempengaruhi hasil tanaman, namun juga variabilitasnya. Variabilitas hasil digunakan sebagai pendekatan risiko produksi.

 

E. Kesimpulan

  1. Suhu dan curah hujan mempengaruhi hasil padi di daerah sentra. Peningkatan suhu mengakibatkan penurunan hasil padi di seluruh daerah sentra, sedangkan pengaruh terjadinya peningkatan curah hujan lebih spesifik wilayah karena dapat meningkatkan atau menurunkan hasil padi.
  2. Curah hujan mempengaruhi risiko produksi padi di daerah sentra sedangkan suhu tidak berpengaruh. Fluktuasi curah hujan yang tinggi di daerah sentra mengakibatkan curah hujan menjadi faktor yang meningkatkan risiko (risk increasing factor).

 

Contoh Tesis Risiko Produksi

  1. Dampak Perubahan Iklim terhadap Hasil dan Risiko Produksi Padi di Indonesia
  2. Kajian Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Bagian Produksi Sediaan Padat Perusahaan Obat PT. XX tahun 2007
  3. Analisis Risiko Ergonomik pada Craftsman, Welder dan Floorman (Studi Kasus pada Pekerja di Lapangan Produksi Minyak dan Gas Bumi VICO Indonesia, Kalimantan Timur, Tahun 2000)