Tesis Pendidikan: Kajian Persebaran Permukiman Kumuh Liar (Squatter)

Judul: Kajian Persebaran Permukiman Kumuh Liar (Squatter) di Sepanjang Bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta

A. Latar Belakang

Permukiman di sepanjang bantaran Bengawan Solo dipilih sebagai tempat penelitian karena kondisi di lapangan telah menunjukkan gejala kekumuhan yang dicirikan seperti pola permukiman tidak teratur, kepadatan rumah tinggi dan berdesak-desakan, permukiman yang kurang terlayani, legalitas lahan yang dipertanyakan dan rentan banjir. Munculnya permukiman liar di daerah ini tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor dan indikasi adanya permukiman kumuh liar (squatter) di sepanjang Bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta merupakan proses yang berjalan lambat dan terus-menerus dalam kurun waktu yang lama. Konsekuensi keruangan yang sangat jelas dari proses ini adalah meningkatnya tuntutan akan ruang untuk mengakomodasikan struktur fisik yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan penduduk.

Berdasar uraian masalah dan kenyataan di lapangan tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Kajian Persebaran Permukiman Kumuh Liar (Squatter) di Sepanjang Bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta”.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Bagaimana persebaran permukiman kumuh liar (squatter) di sepanjang bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta ?
  2. Apakah penyebab munculnya permukiman kumuh liar (squatter) di sepanjang bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta ?
  3. Bagaimana proses yang terjadi pada permukiman kumuh liar (squatter) di sepanjang bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta

 

C. Landasan Teori

Pengertian Pemukiman

Yunus, 1987 dalam Yunus 2007 : 20 mengungkapkan pengertian permukiman secara umum yaitu bentukan secara artificial maupun natural dengan segala kelengkapannya yang dipergunakan oleh manusia, baik secara individual maupun kelompok untuk bertempat tinggal baik sementara maupun menetap dalam rangka menyelenggarakan kehidupannya.

 

Pengertian Permukiman Kumuh

Permukiman Kumuh Liar (squatters) Persudi Suparlan dalam Kurniasih (2007:4) mengemukakan ciri-ciri permukiman kumuh sebagai berikut :

  1. Fasilitas umum yang kondisinya kurang atau tidak memadai.
  2. Kondisi hunian rumah dan permukiman serta penggunaan ruang-ruangnya mencerminkan penghuninya yang kurang mampu atau miskin.
  3. Adanya tingkat frekuensi dan kepadatan volume yang tinggi dalam penggunaan ruang-ruang yang ada dipermukiman kumuh sehingga mencerminkan adanya kesemrawutan tata ruang dan ketidakberdayaan ekonomi penghuninya.
  4. Permukiman kumuh merupakan suatu satuan-satuan komuniti yang hidup secara tersendiri dengan batas-batas kebudayaan dan sosial yang jelas,yaitu terwujud sebagai :
    • Sebuah komuniti tunggal, berada di tanah milik negara, dan karena itu dapat digolongkan sebagai hunian liar.
    • Satuan komuniti tunggal yang merupakan bagian dari sebuah RT atau sebagian RW.
    • Sebuah satuan komuniti tunggal yang terwujud sebagai sebuah RT atau RW atau bahkan terwujud sebagai sebuah kelurahan dan bukan hunian liar.
  5. Penghuni permukiman kumuh secara sosial dan ekonomi tidak homogen, warganya mempunyai mata pencaharian dan tingkat kepadatan yang beranekaragam. Begitu juga asal muasalnya. Dalam masyarakat permukiman kumuh juga dikenal adanya pelapisan sosial berdasarkan asal kemampuan ekonomi mereka yang berbeda-beda tersebut.
  6. Sebagian besar penghuni permukiman kumuh adalah mereka yang bekerja di sektor informal atau mempunyai mata pencaharian tambahan di sektor informal. Secara umum, lingkungan kumuh dapat dibedakan menjadi dua yaitu daerah “slum” merupakan lingkungan hunian yang legal tetapi kondisinya tidak layak huni atau tidak memenuhi persyaratan sebagai tempat permukiman dan daerah “squatter” yaitu ruang-ruang terbuka yang ditempati oleh permukiman-permukiman liar. Pada umumnya, lingkungan permukiman kumuh berada di atas tanah Negara, tanah perorangan, badan hukum atau tanah yayasan yang belum dibangun pemiliknya (Hadri 2000 : 18).

 

Jenis-jenis “squatter” :

  1. Squatter bantaran sungai
  2. Squatter tepian rel kereta api
  3. Squatter tanah Negara
  4. Squatter di daerah milik jalan (Damija)
  5. Squatter bawah jalan layang
  6. Squatter pasar dan terminal
  7. Squatter tanah milik swasta
  8. Squatter air (laut, danau, rawa)

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskrpitif kualitatif.

Populasi penelitian adalah seluruh permukiman kumuh liar (squatter) yang terdapat di sepanjang bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta yang terbagi ke dalam 39 blok permukiman.

Teknik sampling yang digunakan adalah Quota Sampling atau sampel quota, dengan sampel sebanyak 8 blok permukiman.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan interpretasi citra IKONOS hasil rekaman tahun 2006 yang kemudian digabung dengan data lapang dengan teknik scoring dan teknik analisis tabel frekuensi.

 

E. Kesimpulan

  1. Persebaran permukiman warga yang menghuni bantaran dan sempadan di sepanjang Bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta tidak merata, artinya permukiman yang semakin padat ke arah selatan menuju pusat kota. Keadaan ini dipicu oleh faktor penarik yang terdapat di pusat kota diantaranya adalah tersedia dan mudahnya sarana prasarana yang ada, tersedianya lapangan pekerjaan dan mudahnya aksesibilitas. Lingkungan permukiman kumuh liar (squatter) di sepanjang bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta memiliki kualitas lingkungan permukiman baik, agak kumuh dan kumuh. Sebaran kualitas lingkungan permukiman squatter ini adalah lingkungan baik ada di Kampung Gulon Rt 04 Rw 36 Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres dengan luas 0,595 ha. Lingkungan agak kumuh ada di kampung Kentingan RT 03 RW 19 Kelurahan Jebres Kecamatan Jebres, kampung Losari RT 01 RW 03 Kelurahan Semanggi Kecamatan Semanggi dan kampung Mojo RT 04 RW 23 Kelurahan Semanggi Kecamatan Semanggi dengan luas 2, 028 ha. Serta lingkungan kumuh ada di Kampung Kedung Kopi RT 03/6 Kelurahan Pucang Sawait Kecamatan Jebres, kampong Jomasan RT 02/6 Kelurahan Pucang Sawit Kecamatan Jebres, kampung Beton RT 02 dan 03 RW 2 Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres dan Kampung Ngepung RT 04 dan 05 RW 13 Kelurahan Sangkrah Kecamatan Pasar Kliwon. Luas lingkungan kumuh di daerah penelitian adalah 5,200 ha.
  2. Penyebab munculnya permukiman kumuh liar (squatter) di sepanjang bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta secara dominan dipengaruhi oleh factor urbanisasi terutama urbanisasi kelompok lokal dan urbanisasi desa ke kota dan faktor ekonomi.
  3. Proses masuknya para migran di bantaran berlangsung secara ekspansif dan tampak adanya perkembangan spasial lompat katak dan infilling lahan-lahan kosong. Dengan berjalannya waktu, maka proses ini berjalan terus-menerus dan pada akhirnya terbentuklah permukiman yang tak terkendali di sepanjang bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta seperti sekarang ini. Proses kehidupanpun dialami oleh para penghuni bantaran, dari kehidupan yang serba tidak layak sampai menjadi lebih layak. Kelayakan kehidupan dapat dilihat dari bahan bangunan rumah. Proses yang terjadi pada permukiman kumuh liar (squatter) di sepanjang bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta ini termasuk dalam proses pemadatan.

 

Contoh Tesis Pendidikan

  1. Pelaksanaan Penjurusan Mahasiswa di Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta Tahun Ajaran 2009/2010
  2. Kontribusi Pemberian Asi, Usia Pernikahan, Jenjang Pendidikan Ibu, terhadap Nilai Gizi Balita Usia 0 Sampai 24 Bulan di Desa Tangkil, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen (Kasus Sosial di Kecamatan Sragen)
  3. Keefektifan Penggunaan Media “Kartu Kerja” terhadap Kemampuan Menulis Puisi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Tulung Klaten Tahun Ajaran 2008/2009 (Studi Eksperimen)
  4. Kajian Persebaran Permukiman Kumuh Liar (Squatter) di Sepanjang Bantaran Bengawan Solo Kota Surakarta
  5. Pengaruh Keharmonisan Keluarga Terhadap Prestasi Belajar Pkn pada Siswa Kelas VII SLTP Negeri 3 Polokarto Kabupaten Sukoharjo Tahun Ajaran 2007/2008