Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Tesis Militer: Kebijakan Extended Deterrence trhdp Stabilitas Keamanan

Judul Tesis : Tesis Aliansi Militer Amerika Serikat dan Korea Selatan: Kebijakan Extended Deterrence terhadap Stabilitas Keamanan Korea Selatan (2005-2010)

 

A. Latar Belakang Masalah

Perang Dingin memberikan implikasi terhadap tatanan hubungan internasional. Dunia disederhanakan dalam bentuk bipolaritas namun disandingkan oleh berbagai kompleksitas dimensi masalah. Penggunaan nuklir sebagai strategi deterrence oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet membawa dunia ke dalam kekhawatiran besar terjadinya perang nuklir. Namun, sejarah menunjukkan bahwa deterrence merupakan instrumen efektif yang mampu mencegah terjadinya perang terbuka di antara kedua negara yang terlibat. Efek psikologis yang kredibel (credibility) atas penggunaan ancaman nuklir merupakan faktor penentu dalam berbagai situasi. Kedua pihak diyakinkan oleh efek destruktif yang dapat diterima jika melakukan serangan (retaliatory threat) atau bahkan mengalami kehancuran di kedua pihak (mutually assured destruction).

Rivalitas ideologi dalam Perang Dingin mendorong kedua negara melakukan sphere of influence di berbagai kawasan dunia. Meski tidak berseteru di wilayah utama (mainland) mereka, namun benturan kepentingan nasional kedua negara berlangsung di kawasan lain. Beberapa diantaranya adalah Perang Vietnam, Perang Soviet – Afghanistan, Krisis Misil Kuba, Krisis Kongo dan Perang Korea. Namun dari peristiwa tersebut hanya hanya kawasan Asia Timurlah yang hingga saat ini masih menyisakan perselisihan ideologis dari Perang Dingin.

 

B. Rumusan Permasalahan Tesis

Mengapa extended deterrence Amerika Serikat tidak efektif menjaga stabilitas keamanan Korea Selatan dari ancaman Korea Utara pada kurun waktu 2005 hingga 2010?

 

C. Tinjauan Pustaka

Stabilitas Keamanan Korea Selatan Periode 2005 – 2010

Kondisi keamanan Korea Selatan, tidak terlepas dari ancaman yang diberikan oleh Korea Utara meskipun diantara keduanya sudah terjadi kesepakatan armistice agreement, namun secara teknis kedua negara tersebut masih dalam status berperang. Ancaman Korea Utara terhadap Korea Selatan dibagi menjadi dua sumber ancaman yaitu ancaman konvensional dan non – konvensional.

Serangan Terhadap Kapal Cheonan

Kapal laut Korea Selatan jenis Korvet, Cheonan, tenggelam saat melakukan patrol rutin di kawasan Northern Limit Line (NLL) yaitu 1 mil dari Pulau Baengnyeong pada 26 Maret 2010 pukul 21:22. Peristiwa ini menewaskan 46 Angkatan Laut Korea Selatan dari 104 anggota yang bertugas di kapal tersebut. Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kim Tae-Yung merespon peristiwa ini dengan mengancam akan melakukan pembalasan jika terbukti Korea Utara berada di balik peristiwa ini. Kim mengatakan, “Retaliation –whatever it form takes- must be done“.

 

Serangan di Pulau Yeonpyeong

Peristiwa di Pulau Yeonpyeong pada 23 November 2010 bukanlah yang kali pertama terjadi. Peristiwa ini merupakan peristiwa yang ketiga sepanjang sejarah provokasi konvensional Korea Utara terhadap Korea Selatan. Pertempuran pertama terjadi pada 15 Juni 1999 yang mengakibatkan tewasnya 30 tentara Korea Utara. Selanjutnya, pertempuran kedua terjadi pada 29 Juni 2002. Ketiga pertempuran tersebut terjadi di wilayah NLL.

 

D. Metodologi Penelitian

Penulis menggunakan metode analisa deskriptif yaitu analisis dengan menggunakan data anggaran pertahanan, kapabilitas nuklir dan militer, kronologi konflik, serta kerjasama yang dilakukan Amerika Serikat dan Korea Selatan dalam menghadapi ancaman Korea Utara sebagai acuan data analisa.

Data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber pada studi pustaka, dokumen, arsip, serta lembar perjanjian. Kemudian, hipotesa akan diuji melalui hubungan antar variabel dengan menjabarkan kedua variabel secara deskriptif.

 

E. Kesimpulan

  1. Peningkatan kemampuan militer dibutuhkan Korea Selatan karena ancaman serangan dari Korea Utara masih potensial. Korea Selatan merupakan negara yang pernah mengalami invasi militer dari Korea Utara pada tahun 1950 dan hingga kini masih dilingkupi oleh rasa ketakutan akan terjadinya serangan kembali. Terlebih, kemampuan Korea Utara saat ini tidak hanya memiliki keunggulan dalam jumlah personil militer namun juga kemampuan untuk menghasilkan senjata nuklir.
  2. Jaminan keamanan dalam bentuk extended deterrence yang diberikan Amerika Serikat sejak tahun 1953 berdasarkan Mutual Defense Agreement, tidak mampu untuk menghentikan agresivitas Korea Utara untuk menghentikan provokasinya. Pasca tahun 2006, tahun 2009 merupakan uji coba nuklir yang kedua kali bagi Korea Utara. Kondisi ini tentu saja membawa kekhawatiran lebih bagi Korea Selatan. Extended nuclear deterrence yang diberikan Amerika Serikat tidak mampu untuk membawa pesan bahwa Korea Utara tidak akan mendapatkan keuntungan dari penggunaan nuklir sebagai ancaman. Bahkan, Amerika Serikat seharusnya mampu menyakinkan Korea Utara bahwa akibat yang akan diterima akan jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

 

Contoh Tesis Militer:

  1. Aliansi militer Amerika Serikat dan Korea Selatan- Kebijakan Extended Deterrence terhadap Stabilitas Keamanan Korea Selatan (2005-2010)