Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Tesis Kualitas Hidup: Hubungan Self Care dgn Kualitas Hidup Pasien Diabetes Mellitus

Judul Tesis : Hubungan Self Care dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Cabang Cimahi

 

A. Latar Belakang

Diabetes Mellitus (DM) merupakan masalah kesehatan yang serius di seluruh dunia dan prevalensinya cenderung meningkat dengan cepat, diperkirakan dari 2.8% pada tahun 2000 akan menjadi 4.4% di tahun 2030. Jumlah penderita DM di dunia pada tahun 2000 berjumlah 171 juta jiwa, diperkirakan akan meningkat menjadi 366 juta pada tahun 2030 (Wild, Roglic, Green, Sicree & King, 2004). Perkiraan prevalensi DM secara global sebesar 6.4% atau 285 juta orang di tahun 2010, dan akan meningkat menjadi 7.7% atau 439 juta orang pada tahun 2030 ((Padma, Bele, Bodhare & Valsangkar, 2012). Peningkatan jumlah penderita DM diperkirakan 75% berasal dari negara-negara berkembang, hal ini disebabkan karena perubahan sosial dan budaya yang cepat dan terjadinya peningkatan urbanisasi (Ma et al., 2003 & Chuang, 2003 dalam Ali, 2009).

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang juga mengalami peningkatan jumlah penderita DM. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2030 penderita DM di Indonesia diperkirakan akan berjumlah 21.3 juta orang dan menempati urutan keempat dalam jumlah penderita diabetes terbanyak setelah Amerika Serikat, Cina dan India (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia/PERKENI, 2011). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penderita DM tahun 2003 sebanyak 13.7 juta dan berdasarkan pola pertambahan penduduk diperkirakan pada tahun 2030 akan menjadi 20.1 juta jiwa dengan tingkat prevalensi 14.7% untuk daerah urban dan 7.2% untuk daerah rural (Pusat Data Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia/PDPERSI, 2011).

 

B. Perumusan Masalah

Penatalaksanaan diabetes bertujuan untuk mengendalikan kadar glukosa dalam darah yang dapat dilakukan melalui aktivitas self-care diabetes. Perawat memegang peranan yang penting dalam memberikan pengertian tentang DM dan penatalaksanaannya. Pasien bertanggungjawab dalam menjalankan aktivitas self-care sehingga pengobatan diabetes dapat berhasil. Kurangnya kesadaran dan pengertian pasien terhadap aktivitas self-care akan menyebabkan terjadinya komplikasi yang berdampak pada penurunan kualitas hidup.

Penelitian yang mengkaji hubungan antara self-care dengan kualitas hidup pasien DM di PERSADIA cabang Cimahi belum pernah dilakukan, sehingga belum diketahui hubungan antara self-care dengan kualitas hidup pasien DM. Oleh karenanya peneliti ingin melakukan studi penelitian terhadap hal itu.

Berdasarkan uraian diatas, maka masalah penelitian dapat dirumuskan yaitu “bagaimana hubungan antara self care dengan kualitas hidup pasien DM di PERSADIA cabang Cimahi?”

 

C. Tinjauan Pustaka

Pengertian Diabetes mellitus

Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit kronik multisistem yang berhubungan dengan produksi insulin yang tidak normal, gangguan penyimpanan insulin atau karena keduanya (Lewis, Dirksen, Heitkemper, Bucher & Camera, 2011). Sedangkan menurut Black & Hawks (2009), DM adalah penyakit progresif yang ditandai dengan ketidakmampuan tubuh dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang menyebabkan terjadinya hiperglikemia.

Konsep Self-Care Menurut Orem

Salah satu teori keperawatan yang dikembangkan oleh Orem adalah teori self-care deficit, berfokus pada self-care, dimana semua manusia diyakini mempunyai kebutuhan self care dan mempunyai hak untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut, kecuali bila tidak mampu. Self-care adalah kemampuan individu dalam melakukan perawatan diri, dimana aktivitas self-care dapat mengalami gangguan atau hambatan karena individu dalam keadaan sakit atau keadaan yang melelahkan, seperti stres fisik dan psikologis. Setiap orang memiliki kemampuan untuk belajar melakukan self-care secara mandiri sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan (Tomey & Alligood, 2006).

Pengertian Kualitas Hidup

World Health Organization (WHO) mendefenisikan kualitas hidup sebagai persepsi individu terhadap keadaan hidup dalam konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka hidup, yang berhubungan dengan tujuan, harapan, standart dan kepedulian individu (Porojan, Poanta & Fodor, 2009; Huang & Hung, 2007 & Yao, 2002 dalam Asselstine, 2011). Kualitas hidup adalah istilah yang menggambarkan emosi individu, kesejahteraan sosial dan fisik, serta menggambarkan kemampuan individu untuk berfungsi dalam menjalankan tugastugas (Odili, Ugboka & Oparah, 2010). Kualitas hidup dapat disimpulkan sebagai persepsi atau pandangan subjektif individu terhadap fisik, emosi, kesejahteraan sosial berdasarkan konteks budaya dan sistem nilai dimana individu hidup, yang berhubungan dengan tujuan, harapan, standar dan kepedulian individu.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel pada suatu situasi atau sekelompok subyek (Notoatmodjo, 2010; Dahlan, 2010).

Populasi penelitian ini adalah seluruh anggota PERSADIA cabang Cimahi.

Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode non probability sampling, melalui pendekatan purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan, sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.

Tempat penelitian dilaksanakan di PERSADIA cabang Cimahi yang berlokasi di RS Dustira Cimahi. Kelompok PERSADIA Cabang Cimahi memiliki 180 anggota pasien DM dan sebanyak 150 anggota yang aktif melakukan kegiatan-kegiatan penatalaksanaan DM sehingga jumlah sampel dapat tercapai sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan.

Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data dalam bentuk kuesioner, yang terdiri dari tiga kuesioner, yaitu kuesioner karakteristik demografi, kuesioner selfcare diabetes, kuesioner kualitas hidup dan kuesioner depresi.

 

E. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka simpulan yang dapat dirumuskan adalah: rata-rata usia responden adalah 62.7 tahun, sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan, dengan tingkat pendidikan responden sebagian besar adalah pendidikan dasar (SD, SMP), dan penghasilan responden per bulan diatas UMK Cimahi. Lama responden menderita DM rata-rata adalah 8.2 tahun, sebagian besar responden mengalami komplikasi, dan responden tidak mengalami depresi. Sebagian besar responden tidak melakukan aktivitas self-care dengan maksimal, termasuk dalam melakukan pengaturan diet, olahraga, pemeriksaan kadar glukosa darah, penggunaan medikasi dan perawatan kaki. Sedangkan nilai rata-rata kualitas hidup menunjukkan bahwa responden merasa puas dengan kualitas hidupnya.

Hasil uji bivariat menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara aktivitas selfcare, jenis kelamin, komplikasi DM dan depresi dengan kualitas hidup responden. Selanjutnya, ditemukan tidak ada hubungan antara usia, tingkat pendidikan, penghasilan, lama menderita DM dengan kualitas hidup responden.

Hasil uji multivariat penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara self-care dengan kualitas hidup responden setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin dan depresi. Setiap peningkatan satu satuan self-care dapat meningkatkan kualitas hidup sebesar 6.1% setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan depresi. Hasil uji multivariate menunjukkan ketiga variabel tersebut berperan menjelaskan kualitas hidup sebesar 32.6%, dan sisanya dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti.

 

Contoh Tesis Kualitas Hidup

  1. Hubungan Self Care dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Mellitus (DM) di Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Cabang Cimahi
  2. Keterbatasan Ruang dan Dampaknya Terhadap Kualitas Hidup Perempuan di Permukiman Kumuh Padat (Case Study Kelurahan Kramat – Senen, Jakarta Pusat)
  3. Kualitas Hidup Sebagai Dasar Tata Ruang Kota Kasus Jakarta
  4. Pengaruh Program Kemitraan terhadap Tingkat Kualitas Hidup Mitra Binaan PT. Pertamina (Persero) Region I Sumatera Utara
  5. Upaya Pengelolaan Hutan Lindung di Kabupaten Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat dalam Meningkatkan Kualitas Lingkungan Hidup
  6. Hubungan Kualitas Hidup Penduduk Kota dengan Kemacetan Lalu Lintas (Studi Kasus Kota Depok)
  7. Hubungan Pembangunan Perumahan Bertumpu Pada Masyarakat dengan Kualitas Hidup (Studi Kasus Perumahan Kopersup di Kelurahan Cengkareng Timur, Jakarta Barat)
  8. Hubungan Pembangunan Rumah Susun dengan Kualitas Hidup Penghuninya (Studi Kasus Rumah Susun di Kelurahan 23 Ilir Kola Palembang)
  9. Hubungan Perkembangan Penduduk dengan Degradasi Lingkungan Hidup (Studi Kasus Kualitas Air Kali Bekasi dan Kesehatan Masyarakat di Wilayah Kota Bekasi