Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Tesis Keselamatan Perawat:Determinan Peran dn Fungsi Kepala Ruang dlm Keselamatan Perawat

Judul Tesis : Determinan Pelaksanaan Peran dan Fungsi Manajemen Kepala Ruang dalam Penerapan Keselamatan Perawat Rs PKU Muhammadiyah di Yogyakarta

 

A. Latar Belakang

Fenomena keselamatan perawat di RS PKU Muhammadiyah Bantul berbeda dengan yang terjadi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil observasi lima perawat pada lima ruangan yang berbeda didapatkan 100% perawat melakukan cuci tangan sebelum dan setelah tindakan, 60% perawat menggunakan antiseptik setelah melakukan cuci tangan, dan 100% perawat menggunakan APD saat melakukan tindakan. Hasil wawancara didapatkan dua perawat tidak pernah mengalami kelelahan dalam bekerja, tiga perawat terkadang mengalami kelelahan namun sebagian besar karena pengaruh faktor keluarga. Seratus persen perawat mengatakan kepala ruang tidak pernah mengingatkan untuk menggunakan APD oleh kepala ruang. Seratus persen perawat mengatakan dalam setahun terakhir ini tidak mengalami needle stick injury-NSI.

Hasil wawancara dengan kepala bidang keperawatan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada 14 September 2012 menyatakan bahwa perilaku perawat dalam menjaga keselamatan diri masih harus ditingkatkan. Kepala bidang keperawatan menyatakan bahwa belum ada badan/komite khusus keselamatan perawat. Tugas ini di bawah tanggung jawab komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Namun di dalam komite ini tidak ada perawat yang menjadi anggotanya. Kegiatan-kegiatan K3 selama ini difokuskan pada kegiatan pencegahan penyakit. Kegiatan yang dilakukan rutin tiap tahun yaitu general medical check-up dan imunisasi.

 

B. Rumusan Masalah

Penelitian mengenai peran dan fungsi manajemen kepala ruang telah pernah dilakukan di beberapa RS PKU Muhammadiyah di Yogyakarta. Namun penelitian yang terkait dengan pelaksanaan peran dan fungsi manajemen dalam penerapan keselamatan perawat belum pernah dilakukan.

 

C. Tinjauan Pustaka

Keselamatan Perawat

Keselamatan perawat dipengaruhi oleh iklim keselamatan yang diciptakan oleh organisasi dan lingkungan kerja perawat yang mendukung proses pemberian asuhan keperawatan. Faktor individu, organisasi, dan sistem yang membangun budaya keselamatan keselamatan perawat menjadi faktor pendukung utama terwujudnya keselamatan perawat (RNAO, 2006; Squires, 2010).

 

Peran Manajemen

Seseorang yang memiliki jabatan manajerial memiliki peran yang sangat penting. Peran ini tidak hanya bagi internal organisasi namun juga berbagai pihak di luar organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan organisasi untuk mencapai tujuannya. Mintzberg (1960) mengidentifikasi bahwa manajer memiliki serangkaian perilaku yang terkait dengan pekerjaan manajerial. Kesepuluh peran ini dikelompokkan menjadi tiga kelompok peran utama yaitu: peran interpersonal, peran informasional, dan peran pengambilan keputusan (Huber, 2010; Robins, 2003; Siagian, 2009).

 

Fungsi Manajemen

Manajemen keperawatan adalah suatu proses koordinasi dan integrasi sumber-sumber melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pengarahan, dan pengontrolan di suatu unit pelayanan keperawatan. Manajemen keperawatan ini melibatkan penerapan keterampilan dan penggunaan sumbersumber yang ada untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Proses dalam manajemen keperawatan akan bekerja melalui individu, kelompok ataupun sumber lain seperti peralatan dan teknologi untuk mencapai tujuan organisasi (Huber, 2010).

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik korelatif.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala ruang di RS PKU Muhammadiyah di Yogyakarta. Populasi pada penelitian ini sebanyak 44 orang.

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah total sampling.

Penelitian dilakukan di empat RS PKU Muhammadiyah di D.I.Yogyakarta yaitu RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Bantul, Nanggulan dan Kotagede.

 

E. Kesimpulan

Kepala ruang menunjukkan proporsi yang sama kepala ruang berusia < 35 tahun dan ≥ 35 tahun, sebagian besar jenis kelamin perempuan, masa kerja ≥ 10 tahun, pendidikan S1, dan pernah mengikuti pelatihan pengelolaan ruang rawat. Faktor determinan menunjukkan sebagian besar kepala ruang mempersepsikan tuntutan kerja fisik rendah, tuntutan kognitif tinggi, fisik organisasi kurang baik, sosial organisasi baik, dan proporsi sama untuk kepribadian individu organisasi profesi. Peran manajemen kepala ruang berada pada proporsi yang sama antara kurang baik dan baik, pelaksanaan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengaturan staf dan pengarahan sebagian besar baik sedangkan untuk pengendalian sebagian besar kurang baik.

Hasil uji hubungan menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor determinan dengan pelaksanaan peran dan fungsi manajemen kepala ruang dalam penerapan keselamatan perawat. Sedangkan untuk faktor determinan dengan pelaksanaan peran dan fungsi manajemen kepala ruang didapatkan hasil ada hubungan antara faktor tuntutan fisik dengan fungsi perencanaan, faktor organisasi profesi dengan fungsi pengorganisasian, faktor tuntutan kerja fisik dengan fungsi pengaturan staf, faktor sosial organisasi dengan fungsi pengarahan.

 

Contoh Tesis Keselamatan Perawat

  1. Determinan Pelaksanaan Peran dan Fungsi Manajemen Kepala Ruang dalam Penerapan Keselamatan Perawat RS PKU Muhammadiyah di Yogyakarta
  2. Hubungan Budaya Organisasi dengan Perilaku Keselamatan Kerja Perawat di RSUD Depok
  3. Determinan Perilaku Perawat dalam Melaksanakan Keselamatan Pasien di Rawat Inap RSAU dr. Esnawan Antariksa Jakarta