Tesis Kesehatan Kerja: Efisiensi Ketersediaan Obat-Obatan dan Bahan Habis Pakai

Judul Tesis : Efisiensi Ketersediaan Obat-Obatan dan Bahan Habis Pakai di Balai Kesehatan Kerja Pelayaran Direktorat Jendral Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Pada Tahun 2012

 

A. Latar Belakang

Dari data laporan Bagian Seksi Kesehatan Tenaga Pelayaran BKKP didapatkan pada tahun 2011 bahwa jumlah penyakit yang terbesar yang terjadi pada para pegawai negeri sipil (PNS) di wilayah sekitar Direktorat Jenderal Perhubungan Laut adalah penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan penyakit degenaratif seperti Hipertensi jumlahnya hampir 1099 kasus dari total 1567 kasus penyakit dalam 1 tahun, ini artinya kurang lebih 70 persen dari seluruh total kasus dalam 1 tahun. Namun didapatkan pula data dari pengadaan obatobatan dan bahan kesehatan habis pakai bahwa obat-obatan yang dianggarkan sebagai obat Infeksi Saluran Pernapasan Atas dan obat hipertensi berjumlah sekitar Rp.143.000.000 atau sekitar hanya 35 persen saja dari total anggaran obatobatan tahun 2011 yakni sejumlah Rp.411.540.000.

Selain itu juga didapatkan data dari pengadaan obat-obatan dan bahan habis pakai bahwa obat-obatan yang sangat jarang dipakai atau penggunaan obatobatan yang tidak termasuk dalam 10 besar penyakit berjumlah sekitar Rp.119.000.000 atau sekitar 30 persen dari total anggaran obat-obatan tahun 2011. Berdasarkan atas kondisi tersebut diatas maka peneliti mengambil keputusan untuk menguraikan pembahasan mengenai EFISIENSI KETERSEDIAAN OBAT-OBATAN DAN BAHAN HABIS PAKAI DI BALAI KESEHATAN KERJA PELAYARAN TAHUN 2012. Alasan tersebut juga didorong atas belum adanya penelitian atau studi sebelumnya tentang pengelolaan obat di Balai Kesehatan Kerja Pelayaran sehingga diharapkan hasil penelitian ini dapat berguna bagi BKKP.

 

B. Masalah Penelitian

  1. Bagaimana Pengaturan dan Pengelolaan Obat-obatan di Instalasi Farmasi BKKP, terutama pada perencanaan dan pengendalian selama tahun 2012?
  2. Seberapa banyak tingkat kebutuhan obat-obatan yang efisien sehingga BKKP tidak mengalami kelebihan atau kekurangan stock?
  3. Berapa jumlah obat-obatan yang harus dianggarkan setiap kali mengadakan penganggaran selama tahun 2012?

 

C. Tinjauan Pustaka Tesis

Manajemen Obat

Manajemen obat di apotek merupakan salah satu unsur penting dalam fungsi manajerial apotek secara keseluruhan. Manajemen obat merupakan serangkaian kegiatan kompleks yang mempunyai empat fungsi dasar yang siklusnya saling terkait, seleksi dan perencanaan, pengadaan, distribusi, serta penggunaan (Jonathan Quick,1997). Meski demikian, Quick menjelaskan bahwa didalam sistem manajemen obat, masing-masing fungsi utama terbangun berdasarkan fungsi sebelumnya dan menetukan fungsi selanjutnya. Seleksi obat dapat dilakukan berdasarkan penglaman aktual terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan dan obat yang digunakn. Sementara perencanaan dan pengadaan memerlukan keputusan seleksi dan seterusnya.

Persediaan

Fungsi perencanaan obat erat hubungannya dengan persediaan. Sedangkan pengertian dari persediaan adalah suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal, atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan (proses produksi) ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi. Jadi persediaan adalah sejumlah bahan-bahan, “parts” yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari konsumen atau langganan setiap waktu (Asauri, 1999).

 

Pengendalian/Pengawasan

Pengendalian persediaan adalah berhubungan dengan aktivitas dalam pengaturan persediaan bahan-bahan agar dapat menjaminkelancaran proses produksi atau persediaan obat di apotek dan farmasi Rumah Sakit agar menjamin kelancaran pelayanan pasiennya, secara efektif dan efisien. Untuk pengaturan ini perlu ditetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang berkenaan dengan persediaan, baik mengenai pemesanannyamaupun mengisi tingkat persediaan yang optimum.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif dengan analisis kuantitatif dengan metode analisis ABC Indeks Kritis.

Penelitian ini dilakukan dibagian depo farmasi dan gudang farmasi Balai Kesehatan Kerja Pelayaran (BKKP). Dimana data mulai dikumpulkan dari bulan Oktober 2012 sampai dengan bulan Desember 2012.

Data-datanya terdiri data primer yakni data yang didapat dari kuisioner yang dibagikan kepada dokter-dokter selaku pengguna dan data sekunder yakni data yang didapat dari laporan rutin pemakaian persediaan farmasi yang terdapat di BKKP.

 

E. Kesimpulan

1. Balai Kesehatan Kerja Pelayaran (BKKP) merupakan sebuah instansi Kesehatan dibawah Direktorat Jemderal Perhubungan Laut yang merupakan instansi kesehatan pemerintah, dimana pengadaan obat-obatan maupun bahan habis pakai diadakan setiap satu tahun sekali sesuai dengan anggaran yang telah diterima dari pusat. Dikarenakan hal tersebut maka perencanaan maupun pengendalian obat di BKKP harus baik dan efisien, sehingga pelayanan kesehatan di BKKP tidak terganggu dikarenakan terjadinya kekurangan stok obat sebelum 1 tahun maupun kelebihan stok obat yang berdampak terjadinya penumpukan obat dan akhirnya menyebabkan kaduluarsa pada obat.

2. Pada tahun 2011 BKKP menganggarkan kurang lebih anggarannya untuk obat-obatan dan bahan habis pakai sebesar Rp.411.500.000. dengan jumlah item obat sebanyak 101 item. Namun dari hasil penelitian yang dilakukan nilai investasi yang terjadi berdasarkan jumlah pemakaian selama 1 tahun adalah hanya sebesar Rp.169.563.290. Hal ini tentu sangat tidak efisien dikarenakan anggaran yang sudah dibelanjakan cukup besar untuk obatobatan namun pemakaiannya tidak maksimal sehingga akan menyebabkan terjadinya penumpukan obat di gudang dan pemborosan keuangan didalam pembelanjaan obat-obatan.

3. Berdasarkan hasil penelitian dari analisis ABC Pemakaian didapatkan bahwa pemakaian obat-obatan pada kelompok A sarat dengan obat-obatan yang diindikasikan untuk pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA),Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi), Penyakit Radang Sendi dan Gangguan Lambung ada sekitar kurang lebih 17 item obat dengan 62.792 pemakaian atau sekitar 69,33% dari total keseluruhan pemakaian. Namun faktanya pada saat penganggaran pengadaan obat-obatan,obat Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi), Penyakit Radang Sendi dan Gangguan lambung hanya dianggarkan sekitar 49,44% saja dari total stok yang diadakan pada saat penganggaran obat-obatan tersebut.

 

Contoh Tesis Kesehatan Kerja

  1. Analisis Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada PT Surveyor Indonesia
  2. Aspek Hukum Kesehatan Kerja pada Perusahaan Industri (Studi Kasus Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta)
  3. Efisiensi Ketersediaan Obat-Obatan dan Bahan Habis Pakai di Balai Kesehatan Kerja Pelayaran Direktorat Jendral Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan pada Tahun 2012
  4. Kajian Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Industri Pertambangan Umum dalam Rangka Antisipasi Era Otonomi Daerah Study Kasus PT Kaltim Prima Coal dan PT Inco
  5. Kajian Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Bagian Produksi Sediaan Padat Perusahaan Obat PT. XX Tahun 2007
  6. Kajian Tentang Program Kesehatan Kerja Sektor Informal di Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung dan Dinas Kesehatan Kerja Lampung Selatan Tahun 2002
  7. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Serta Pengaruhnya Terhadap Produktivitas Kerja (Suatu Studi Pada Perusahaan Industri Karoseri di Malang)
  8. Analisa Biaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Proyek Konstruksi
  9. Analisa Profil Budaya Iklim Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT. Thames Pam Jaya Tahun 2004
  10. Analisa Profil Budaya Iklim Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Divisi Perencanaan dan Kontrol Operasi Penerbangan di Direktorat Operasi PT. Garuda Indonesia Tahun 2002
  11. Analisa Profil Budayai Iklim Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT Pupuk Kujang, Tahun 2003

 

Incoming search terms: