Tesis Keperawatan Kesehatan Masyarakat: Klinik Kesehatan Kota pd Nenek G dgn Risiko Jatuh

Judul Tesis : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti

 

A. Latar Belakang

Lansia sangat berisiko mengalami jatuh. Hal ini disebabkan oleh faktor aktivitas, penurunan kemampuan fisik, penyakit yang diderita dan faktor lingkungan (Nugroho,2008). Sebagian besar jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas berjalan, naik atau turun tangga, merubah posisi atau saat lansia dengan banyak kegiatan dan olahraga yang menyebabkan kelelahan. Penyebab jatuh pada lansia juga bisa karena penyakit yang diderita seperti Parkinson, osteoporosis, stroke dan lain-lain. Sedangkan faktor dari lingkungan adalah lantai yang licin, jalan yang tidak rata, pencahayaan yang kurang, dan tidak adanya handraill pada tangga. Jika lansia mengalami jatuh tentu akan menimbulkan masalah baru dan berdampak pada kesehatan lansia.

Akibat dari jatuh adalah terjadi cidera kepala, cidera jaringan lunak dan fraktur. Komplikasi dari fraktur jika tidak ditangani dengan tepat adalah timbulnya dekubitus akibat tirah baring yang berkepanjangan, perdarahan, trombosis vena dalam, emboli paru, infeksi pneumonia atau infeksi saluran kencing akibat tirah baring lama, gangguan nutrisi, dan sebagainya (Ariawan, Kuswardhani, & Aryana, 2010). Dampak buruk dari risiko jatuh bisa dialami lansia di rumah ataupun di panti, karena lansia ada yang tinggal di rumah bersama keluarga dan ada yang tinggal di institusi seperti di panti werdha.

 

B. Rumusan Masalah

Lansia adalah usia dimasa pensiun, rentang usia antara 65 dan 75 tahun (Potter & Perry, 2006). Menurut UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia, definisi lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas, baik pria maupun wanita. Menjadi lansia atau menjadi tua tidak bisa dihindari, karena akan terjadi pada setiap orang.

Lansia akan mengalami perubahan fisiologis, kognitif dan kesehatan psikososial (Potter & Perry, 2006). Perubahan fisik meliputi semua sistem tubuh, yang salah satunya sistem muskuloskeletal. Perubahan yang terjadi pada sistem muskuloskeletal, yaitu: penurunan massa dan tonus otot, serat otot berkurang ukurannya, kekuatan otot berkurang sebanding dengan penurunan massa otot (Potter & Perry, 2006).

Perubahan tersebut dapat mengakibatkan kelambanan dalam gerak, langkah kaki yang pendek, kekuatan otot menurun terutama ekstremitas bawah (Darmojo, 2004). Kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan cenderung mudah goyah, lansia menjadi lambat mengantisipasi bila terjadi gangguan terpeleset, tersandung, mengalami gangguan keseimbangan dan akhirnya berisiko jatuh. Risiko jatuh bisa terjadi pada lansia yang tinggal di rumah bersama keluarga ataupun yang tinggal di panti.

Hasil survei yang dilakukan di Unit Pelayanan Sosial Tresna Werdha (UPSTW) Bangkalan, didapatkan sekitar 63% lansia mengeluh gangguan keseimbangan tubuh akibat kelemahan otot ekstremitas bawah. Dari 65% lansia tersebut sekitar 57% lansia pernah mengalami jatuh. Risiko jatuh pada lansia jika tidak dilakukan pencegahan akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan lansia. Akibat dari jatuh adalah timbulnya cidera kepala dan fraktur, yang jika dibiarkan akan menimbulkan komplikasi seperti timbulnya dekubitus akibat tirah baring yang berkepanjangan, perdarahan, trombosis vena dalam, emboli paru, infeksi pneumonia atau infeksi saluran kencing akibat tirah baring lama, gangguan nutrisi, dan sebagainya (Ariawan, Kuswardhani, dan Aryana, 2010). Olehkarena itu diperlukan upaya pencegahan untuk mengatasi masalah risiko jatuh pada lansia.

Upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah risiko jatuh, salah satunya dengan mengajarkan latihan fisik atau latihan keseimbangan, yang bertujuan untuk meningkatkan keseimbangan tubuh lansia.. Latihan keseimbangan pada lansia diajarkan oleh perawat profesional. Selain itu, perawat juga berperan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, mulai dari pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan, membuat rencana keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi.

Berdasarkan fenomena tersebut, maka penulis tertarik melakukan asuhan keperawatan pada Nenek G dengan masalah risiko jatuh di Wisma Bungur STW Karya Bhakti.

 

C. Tinjauan Pustaka

Pengertian lansia

Menurut UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia, definisi lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas, baik pria maupun wanita. Lansia adalah tahapan dimana individu ada pada usia tertentu, yang dikategorikan sebagai berikut: lansia awal (young old) antara 65 sampai 74 tahun, lansia pertengahan (middle old) antara 75 sampai 84 tahun dan lansia akhir ( oldold) 85 tahun atau lebih (Miller, 2012). Menjadi lansia atau menjadi tua tidak bisa dihindari, karena akan terjadi pada setiap orang.

Pengertian kota

Kota adalah pemukiman yang relatif besar padat dan permanen serta dihuni oleh orang orang yang heterogen kehidupan sosialnya. Akibatnya hubungan sosial menjadi longgar, acuh tak acuh dan tidak bersifat pribadi. Kota adalah istilah untuk lokasi geografis dan densitas populasi yang digambarkan dalam jarak dan waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke pusat kota (Stanhope & Lancaster, 2004 )

 

Keperawatan Kesehatan Perkotaan

Keperawatan kesehatan masyarakat adalah suatu bidang dalam keperawatan kesehatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat, serta mengutamakan pelayanan promotif, preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang utuh melalui pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal sehingga mandiri dalam upaya kesehatannya (Depkes, 2006).

 

D. Metode Penelitian

Data subjektif yang ditemukan antaralain: Nenek G mengatakan tidak kuat berdiri lama (lebih dari 2 menit), ingin bisa berdiri mandiri dan bisa berjalan kembali, mobilisasi menggunakan kursi roda, menggunakan walker hanya untuk latihan berpindah dari duduk ke berdiri dan sebaliknya, pernah jatuh 3x selama di STW, aktivitas sebagian dibantu oleh caregiver.

Data Obyektif yang didapatkan pada Nenek G, antara lain: terlihat beraktivitas menggunakan kursi roda, Nilai Indeks Kazt (tingkat kemandirian): 4, artinya tingkat kemandirian sebagian atau gangguan fungsional sebagian, Nilai BBT (Berg Balance test): 26.

Diagnosa keperawatan yang dirumuskan, ada 3 diagnosa utama yaitu: hambatan mobilisasi fisik, risiko jatuh dan insomnia.

 

E. Kesimpulan

  1. Lansia yang tinggal di Wisma Bungur, memungkinkan mengalami risiko jatuh, karena proses menua, seiring pertambahan usia terjadi penurunan kekuatan otot dan massa tulang, dan terbatasnya rentang gerak sendi. Faktor penyebab lain risiko jatuh adalah lansia tinggal sendiri di kamar, tidak ada yang selalu mengawasi aktivitas dan kegiatannya. Identifikasi lansia yang berisiko jatuh adalah hal yang paling penting. Pengkajian skala jatuh Morse dan test keseimbangan Berg juga perlu dilakukan dalam mengidentifikasi lansia yang berisiko jatuh.
  2. Masalah yang terjadi pada lansia dengan risiko jatuh bisa dirumuskan jika ada faktor risiko seperti ada riwayat jatuh, usia di atas 65 tahun, tinggal sendiri di kamar, prosthesis ekstremitas bawah, penggunaan alat bantu (tongkat, walker), penggunaan kursi roda, penurunan kognitif atau status mental. Sedangkan faktor lingkungan yang meningkatkan risiko jatuh, antaralain: lingkungan yang tidak teratur, ruang dengan pencahayaan yang redup, lantai yang licin, keset atau karpet yang tertekuk, tidak adanya handrail di kamar mandi atau di shower. Faktor lain yaitu medikasi, seperti: penggunaan alkohol, anti ansietas, anti hipertensi, diuretic, obat penenang, dan anti depresi.
  3. Rencana asuhan keperawatan untuk mengatasi risiko jatuh, tidak hanya diperuntukkan pada lansia, tetapi juga pada lingkungan atau orang-orang di sekitar lansia untuk melakukan modifikasi lingkungan pencegahan jatuh, seperti tidak menaru barang-barang di area handrail koridor, meletakkan barang dengan rapi, keset tidak tertekuk, cahaya cukup.

 

Contoh Tesis Keperawatan Kesehatan Mayarakat

  1. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Atresia Ani di Lantai III Utara Rsup Fatmawati
  2. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Dengan Diabetes Melitus di Ruang Teratai 5 Selatan Rsup Fatmawati
  3. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Kasus Fraktur Cruris Sinistra di GPS Lantai 1 Rsup Fatmawati
  4. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Kepada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  5. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Anak Dengan Gizi Buruk di Ruang Teratai Lantai 3 Selatan RSUP Fatmawati
  6. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  7. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  8. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  9. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  10. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
  11. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Luka Bakar Derajat II di RSPAD Gatot Soebroto
  12. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati
  13. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V, RSPAD Gatot Soebroto
  14. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  15. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan Dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo
  16. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kejang Demam di RSUP Fatmawati
  17. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 Rspad Gatot Soebroto
  18. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Post Operasi Laparatomi Apendiktomi Et Causa Apendisitis Perforasi di Rsup Fatmawati Obat
  19. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Sistemik Lupus Eritematosus Di Ruang Rawat Anak Lantai Tiga Selatan Rsup Fatmawati Jakarta
  20. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida Di Ruang Bedah Anak Lantai Iii Utara Rsup Fatmawati