Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Tesis Keperawatan Kesehatan Masyarakat: Keperawatan Kesehatan Warga Kota pd Nenek TJ

Judul Tesis : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti

 

A. Latar Belakang

Hamid (2007) memaparkan bahwa pada tahun 2010, jumlah penduduk lansia yang tinggal di perkotaan sebesar 12.380.321 (9,58%) dan yang tinggal di perdesaan sebesar 15.612.232 (9,97%). Perkiraan penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 28,8 juta atau 11,34 %. Namun dengan adanya peningkatan jumlah lansia diperkirakan jumlah Lansia yang tinggal di perkotaan lebih besar yaitu sebanyak 15.714.952 (11,20%) dibandingkan dengan yang tinggal di perdesaan yaitu sebesar 13.107.927 (11,51%).

Peningkatan jumlah lansia di perkotaan akan berdampak dengan meningkatnya permasalahan kesehatan. Data Riskesdas 2007 menunjukkan angka kematian terbesar diperkotaan akibat stroke sebesar 15,9%, sementara itu prevalensi lainnya yaitu: hipertensi (31,7%), arthritis (30.3%), penyakit jantung (7,2%), dan cedera (7,5%). Masalah stroke akan mengakibatkan lansia mengalami penurunan sistem muskuloskeletal yang akan berpengaruh terhadap keseimbangan tubuh lansia karena menyebabkan penurunan kekuatan otot, terutama otot ekstremitas bawah sehingga lansia susah atau terlambat mengantisipasi bila terpeleset atau tersandung (Tinetti, 1992; Kane, 1994; Reuben, 1996; Campbell & Brocklehurst, 1987 dalam Darmojo, 2004). Sedangkan Kane dan Ouslander (dalam Siburian, 2007) menjelaskan urutan tiga teratas dari masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia, yaitu immobility (kurang bergerak), instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh), incontinence (beser buang air kecil dan atau buang air besar).

 

B. Rumusan Masalah

Bagaimana asuhan keperawatan yang dilakukan berfokus pada latihan keseimbangan tubuh lansia dapat mencegah risiko jatuh pada salah satu lansia di Wisma Bungur STW Karya Bhakti?

 

C. Tinjauan Pustaka

Definisi Risiko Jatuh pada Lansia

Doenges (2008) mendefinisikan risiko jatuh ialah peningkatan kerentanan terhadap jatuh yang dapat menyebabkan kerusakan fisik. Risiko jatuh juga didefinisikan sebagai peningkatan kemungkinan untuk jatuh yang dapat menyebabkan cedera fisik. Faktor risiko seseorang mengalami risiko jatuh ialah dewasa, pernah memiliki riwayat terjatuh sebelumnya, menggunakan kursi roda, usia lebih dari 65 tahun, perempuan (lebih tua), hidup sendiri, prosthesis gerak bawah, penggunaan alat bantu (walker, tongkat), fisiologi penyakit akut, kondisi post operasi, sulit penglihatan, sulit pendengaran, arthritis, hipotensi ortostatik, tidak dapat tidur, pusing ketika menggerakan atau menegakkan kepala, anemia, penyakit vaskular, neoplasma (lelah, mobilitas terbatas), inkontinensia, diare, penurunan kekuatan ekstrimitas bawah, perubahan gula darah, post prandial, masalah kaki, kerusakan mobilitas fisik, kerusakan keseimbangan, kesulitan berjalan, kurang proprioseptif (penolakan sepihak), serta neuropati (Nanda, 2012).

Masalah kesehatan Lansia Perkotaan

Kota adalah suatu system jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang memiliki tingkat strata social ekonomi yang heterogen dan kehidupan materialistis. Karakteristik Kota antara lain mempunyai fungsi-fungsi khusus (sehingga berbeda antara kota dengan fungsi yang berbeda), mata pencaharian penduduknya diluar agraris, adanya spesialisasi pekerjaan warganya, kepadatan penduduk, ukuran jumlah penduduk (tertentu yang dijadikan batasan), warganya memiliki mobilitas tinggi, tempat pemukiman yang tampak permanen, sifat-sifat warganya yang heterogen, kompleks, social relation, yang impersonal dan eksternal, serta personal segmentasion karena begitu banyaknya peranan dan jenis pekerjaan seseorang dalam kelompoknya sehingga seringkali tidak kenal satu sama lain, seolah-olah seseorang menjadi asing dalam lingkungannya (Arnen, 2012).

 

Peran Perawat dalam Pencegahan Jatuh

Peran perawat dalam pencegahan jatuh dapat dilakukan dengan pemberian asuhan keperawatan dengan risiko jatuh. Asuhan keperawatan yang komprehensif diberikan kepada lansia yang memiliki risiko jatuh untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya jatuh. Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan harus melakukan pengkajian, penetapan diagnosa, perencanaan intervensi, implementasi, evaluasi, dan dokumentasi (Potter & Perry, 2005).

 

D. Metodelogi Penelitian

Pelayanan lansia yang ada di perkotaan ialah Sasana Tresna Werdha (STW). Lansia yang berada di STW berisiko mengalami masalah kesehatan.

Lansia yang berada di institusi seperti STW mengalami jatuh lebih sering daripada yang berada di komunitas. Mahasiswa yang berperan sebagai perawat melakukan asuhan keperawatan dengan risiko jatuh kepada nenek Tj di Wisma Bungur STW Karya Bhakti mulai tanggal 7 Mei – 22 Juni 2013.

Intervensi utama yang dilakukan ialah latihan keseimbangan. Hasil dari latihan keseimbangan yang dilakukan ialah adanya peningkatan nilai skala keseimbangan Berg (BBS), yaitu dari 35 menjadi 49. Implementasi terkait risiko jatuh yang dilakukan menunjukkan hasil positif yaitu tidak terjadi jatuh selama pemberian asuhan keperawatan.

Rekomendasi untuk pihak STW ialah adanya perawat sebagai penanggung jawab wisma yang dapat memberikan asuhan keperawatan terkait jatuh dan melakukan latihan keseimbangan minimal tiga kali dalam sepekan dengan durasi minimal 30 menit.

 

E. Kesimpulan

  1. Gambaran data menunjukkan nenek Tj berisiko jatuh
  2. Penetapan diagnosa risiko jatuh yang tepat pada nenek Tj karena didukung oleh 11 faktor risiko jatuh yang dialaminya
  3. Rencana intervensi yang paling utama untuk mengatasi diagnosa risiko jatuh ialah latihan keseimbangan
  4. Implementasi latihan keseimbangan dengan lima gerakan dilakukan mulai dari pekan ketiga sampai dengan pekan ketujuh. Cara pencegahan jatuh dengan aktivitas fisik seperti latihan keseimbangan dan senam yang dilakukan secara rutin efektif dapat mencegah terjadinya jatuh. Terbukti dengan adanya peningkatan hasil penilaian jatuh yang dilakukan saat awal dan saat akhir mahasiswa praktik. Nilai BBS saat awal 35 yang berarti lansia berisiko sedang jatuh dan membutuhkan alat bantu jalan, sedangkan nilai BBS saat evaluasi menunjukkan adanya peningkatan menjadi 49 yang bearti lansia memiliki risiko jatuh rendah dan lansia tidak memerlukan alat bantu jalan. Dengan menggunakan penilaian FMS nilai awal 55 dan nilai akhir ialah 45. Latihan keseimbangan akan efektif mencegah tarjadinya jatuh dan meningkatkan keseimbangan tubuh jika latihan dilakukan minimal tiga kali setiap pekan dengan durasi minimal 30 menit

Contoh Tesis Keperawatan Kesehatan Mayarakat

  1. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Atresia Ani di Lantai III Utara Rsup Fatmawati
  2. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Dengan Diabetes Melitus di Ruang Teratai 5 Selatan Rsup Fatmawati
  3. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Kasus Fraktur Cruris Sinistra di GPS Lantai 1 Rsup Fatmawati
  4. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Kepada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  5. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Anak Dengan Gizi Buruk di Ruang Teratai Lantai 3 Selatan RSUP Fatmawati
  6. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  7. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  8. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  9. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  10. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
  11. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Luka Bakar Derajat II di RSPAD Gatot Soebroto
  12. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati
  13. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V, RSPAD Gatot Soebroto
  14. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  15. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan Dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo
  16. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kejang Demam di RSUP Fatmawati
  17. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 Rspad Gatot Soebroto
  18. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Post Operasi Laparatomi Apendiktomi Et Causa Apendisitis Perforasi di Rsup Fatmawati Obat
  19. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Sistemik Lupus Eritematosus Di Ruang Rawat Anak Lantai Tiga Selatan Rsup Fatmawati Jakarta
  20. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida Di Ruang Bedah Anak Lantai Iii Utara Rsup Fatmawati