Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Tesis Efektifitas Biaya: Efektivitas Biaya Intervensi trhdp Penderita Kusta

Judul Tesis : Analisis Efektivitas Biaya Intervensi terhadap Penderita Kusta setelah Selesai Pengobatan Melalui Pengamatan Semi Aktif dan Pengamatan Pasif

 

A. Latar Belakang

Indonesia sebagai salah satu negara di Asia tenggara, memiliki beban penyakit kusta yang cukup tinggi. Pada tujuh tahun terakhir, Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dan urutan kedua di wilayah Asia Tenggara (WHO, 2011). Berdasarkan Kemenkes RI (2011), pada tahun 2010 jumlah kasus baru kusta di Indonesia mencapai 17.012 kasus dengan kecacatan tingkat 2 di antara penderita baru sebesar 10,71% (1822 kasus).

Kecacatan sebagai salah satu indikator beban penyakit kusta, menimbulkan masalah yang kompleks. Kecacatan yang terjadi pada bagian mata, tangan, atau kaki penderita seringkali tampak menyeramkan sehingga menimbulkan ketakutan yang berlebihan terhadap kusta (leprofobia) dan stigma di masyarakat (Wisnu dan Hadilukito, 2003). Stigma di masyarakat menyebabkan penderita kusta dijauhi dan dikucilkan oleh masyarakat walaupun penderita tersebut telah diobati dan telah dinyatakan selesai pengobatan (Wisnu dan Gudadi, 1997). Kecacatan menjadi penyebab timbulnya stigma yang mengakibatkan terjadinya permasalahan kompleks, tidak hanya terbatas pada masalah medis melainkan masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan, dan ketahanan nasional (Depkes RI, 2007; Universitas Sumatera Utara, 2008).

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana gambaran biaya, metode pengamatan, umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri, dan tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan?
  2. Bagaimana hubungan metode pengamatan dengan tingkat pengetahuan, perawatan diri, dan pencegahan cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan?
  3. Bagaimana hubungan umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, tipe kusta, riwayat reaksi, pencegahan cacat, perawatan diri dengan pengendalian tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan?

 

C. Tinjauan Pustaka Tesis 

Pengertian dan Diagnosis Penyakit Kusta

Penyakit kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang kulit dan saraf tepi (James Chin, 2009). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dan ditularkan melalui pernapasan atau kulit dengan kontak erat dan lama. Bakteri pada penyakit kusta memiliki masa inkubasi yang cukup panjang yaitu 2 hingga 5 tahun (Depkes RI, 2007).

Pengobatan Kusta

Pengobatan pada penderita kusta dapat membunuh bakteri Mycobacterium leprae sehingga dapat memutus mata rantai penularan  menyembuhkan penyakit pada penderita, dan mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan (Depkes RI, 2007). Pengobatan dengan minyak chaulmoogra (hydnocarpus) dikenal sebagai pengobatan pertama kali yang efektif untuk kusta. Kemudian pada tahun 1945, pengobatan tersebut digantikan dengan pengobatan yang menggunakan dapson (DDS). DDS tidak hanya mengobati penyakit kusta pada suatu individu, namun juga mengontrol kusta pada masyarakat di daerah endemik (McDougall, 1997). Berdasarkan Depkes RI (1993), DDS digunakan sebagai pengobatan kusta di Indonesia sejak tahun 1951. Pada tahun 1969, program kusta diintegrasikan di puskesmas.

Pengertian Reaksi

Reaksi kusta adalah suatu episode dalam perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan suatu reaksi kekebalan (cellular respons) atau reaksi antigen-antibodi (humoral respons) dengan akibat merugikan penderita, terutama jika mengenai saraf tepi karena menyebabkan gangguan fungsi atau cacat (Depkes RI, 2007, p.90).

 

D. Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional.

Penelitian ini akan dilakukan pada Mei 2012 di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder.

Manajemen data terdiri atas editing, coding, entry data, dan cleaning.

Editing adalah pengecekan data yang telah terkumpul untuk melihat adanya kemungkinan data yang masuk meragukan atau tidak sesuai.

 

E. Kesimpulan

  1. Metode pengamatan semi aktif adalah intervensi yang efektif biaya tinggi dibandingkan pengamatan pasif dalam mengendalikan tingkat cacat pada penderita kusta yang telah selesai pengobatan dengan rasio efektivitas biaya kurang dari satu kali GDP per capita yaitu sebesar Rp. 16.527.926.
  2. Faktor yang berhubungan dengan pengendalian tingkat cacat penderita yang telah selesai pengobatan adalah metode pengamatan, pencegahan cacat, dan perawatan diri.
  3. Faktor yang paling mempengaruhi pengendalian tingkat cacat pada penderita yang telah selesai pengobatan adalah perawatan diri. Penderita yang tidak melakukan perawatan diri memiliki peluang 39 kali untuk tidak dapat dikendalikan tingkat cacatnya dibandingkan dengan penderita yang melakukan perawatan diri.

 

Contoh Tesis Efektivitas Biaya

  1. Analisis Efektivitas Biaya Intervensi terhadap Penderita Kusta Setelah Selesai Pengobatan Melalui Pengamatan Semi Aktif dan Pengamatan Pasif
  2. Analisis Efektivitas Biaya Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelompok Bisnis dan Manajemen di Kotamadya Jakarta Timur (Jakarta Timur Dua)
  3. Analisis Efektivitas Biaya Pengobatan Batu Ureter Distal Antara Alat Ureterorenoskop dibanding Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy di RSUPN-CM Jakarta, Tahun 2001
  4. Analisis Efektivitas Biaya Pengobatan Simptomatik Penderita Ischialgia di Poliklinik Saraf RS Duren Sawit 2004