Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Tesis Daya Saing: Daya Saing dan Kinerja Ekspor Produk Manufaktur dlm Kerangka ACFTA

Judul Tesis : Analisis Daya Saing dan Kinerja Ekspor Produk Manufaktur Indonesia dalam ACFTA Kerangka Asean-China Free Trade Area (ACFTA)

 

A. Latar Belakang

ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) merupakan kesepakatan antara negara-negara anggota ASEAN dengan Cina untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan menghilangkan atau mengurangi hambatan-hambatan perdagangan dan memperdalam hubungan ekonomi antar negara anggotanya. Tujuan akhir dari ACFTA adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN dan Cina. Namun sejak awal dicanangkannya kesepakatan ini telah menimbulkan pro dan kontra, terutama mengenai manfaatnya terhadap perekonomian Indonesia.

Dengan adanya perjanjian perdagangan bebas, maka semua negara anggota ACFTA sepakat untuk menurunkan tarif bea masuk impor ke negaranya dari negara anggota ACFTA lainnya. Seperti terlihat pada Gambar 1.1, rata-rata tarif bea masuk impor Cina dari negara ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand) dan juga rata-rata tarif bea masuk impor negara ASEAN- 5 dari Cina sama-sama mengalami penurunan. Melalui penurunan tarif tersebut diharapkan volume perdagangan kedua belah pihak bisa mengalami peningkatan.

 

B. Rumusan Masalah

Park et.al (2008) menyatakan bahwa dalam jangka pendek ACFTA akan membawa perubahan struktural yang merugikan terhadap industri manufaktur karena negara-negara ASEAN memiliki comparative advantage yang rendah. Sejak awal perjanjian ACFTA produk-produk manufaktur Indonesia memang dikhawatirkan tidak mampu bersaing dengan produk-produk Cina karena dianggap masih memiliki daya saing yang rendah.

Menurut Kementerian Perindustrian ada sembilan sektor industri manufaktur Indonesia yang terkena dampak negatif kesepakatan ACFTA. Sembilan sektor tersebut antara lain industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri alas kaki (sepatu), industri elektronik, industri mebel kayu dan rotan, industri mainan anak, industri permesinan, industri besi dan baja, industri makanan dan minuman, serta industri jamu dan kosmetik.

 

C. Tinjauan Pustaka

Teori Perdagangan Internasional

Appleyard (2010) dalam bukunya International Economics secara garis besar membagi teori perdagangan internasional menjadi beberapa kelompok yaitu teori perdagangan awal, teori perdagangan klasik, teori perdagangan neoklasik, dan teori perdagangan paska Hecksher-Ohlin. Teori perdagangan awal berisi pandangan mengenai merkantilisme, respon klasik dari David Hume serta Adam Smith. Selanjutnya teori perdagangan klasik berisi pandangan dari David Ricardo, sedangkan teori perdagangan neoklasik berisi pandangan dari Hecksher Ohlin. Karena salah satu isu yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah keunggulan komparatif, maka dalam subbab ini tidak akan dibahas secara mendalam mengenai teori perdagangan awal. Subbab ini akan langsung menjelaskan teori keunggulan komparatif David Ricardo dan teori Hecksher Ohlin.

Teori Permintaan Ekspor

Blanchard (2006) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor adalah pendapatan negara tujuan ekspor dan nilai tukar. Tingginya pendapatan negara tujuan ekspor berarti tinggi juga permintaan negara tersebut terhadap semua barang baik domestik maupun luar negeri. Sehingga semakin tinggi pendapatan negara tujuan ekspor maka semakin tinggi ekspor. Ekspor juga dipengaruhi oleh nilai tukar, karena semakin tinggi harga dari barang domestik dibandingkan harga barang luar negeri maka akan semakin rendah permintaan luar negeri terhadap barang domestik.

Penelitian Mengenai ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA)

ACFTA adalah salah satu bentuk FTA yang diikuti secara bersama-sama oleh Indonesia dan seluruh negara ASEAN lainnya. Gradziuk (2010) menyatakan bahwa ACFTA merupakan FTA terbesar ketiga di dunia setelah European Union (EU) dan North American Free Trade Area (NAFTA). Selama ini telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh ACFTA bagi negaranegara anggotanya baik sebelum maupun sesudah ACFTA diimplementasikan. Sebagian besar penelitian yang dilakukan sebelum ACFTA diimplementasikan menyimpulkan bahwa ACFTA akan membawa keuntungan bagi semua anggotanya, seperti penelitian yang dilakukan oleh Chirathivat (2002), Yue (2004) serta Liu dan Luo (2004).

 

D. Metode Penelitian Tesis

Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data impor Cina dari lima negara ASEAN yang diteliti yaitu Indonesia, Malaysia, Filiphina, Singapura dan Thailand.

Dalam melakukan analisis daya saing penelitian ini akan menggunakan indeks daya saing dinamis (RCA dinamis) seperti yang digunakan oleh Edwards dan Schoer (2001).

Di dalam ekonometrika dikenal tiga jenis data yaitu data deret waktu (time series), data cross section dan data panel.

 

E. Kesimpulan

  1. Analisis Daya Saing Dinamis (Dynamic RCA)
  2. Setelah implementasi ACFTA, posisi daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar Cina banyak mengalami perubahan.
  3. Hasil temuan yang diperoleh adalah bahwa sebelum pelaksanaan ACFTA tidak ada produk ekspor Indonesia yang berada pada posisi lost opportunity;  namun setelah pelaksanaan ACFTA terdapat empat produk yang berada pada posisi lost opportunity. Produk yang mengalami penurunan posisi daya saingtersebut adalah produk dengan kode SITC 55, 58, 79, dan 83.
  4. Analisis Regresi Data Panel
  5. Berdasarkan hasil analisis regresi data panel diperoleh kesimpulan bahwa daya saing dinamis mempengaruhi kinerja ekspor negara ASEAN-5 secara positif dan signifikan. Koefisien daya saing dinamis negara ASEAN-5 yang terbesar adalah Malaysia kemudian berturut-turut Singapura, Thailand, Indonesia dan terakhir Filipina.
  6. Penurunan tarif bea masuk impor ke Cina dari masing-masing negara ASEAN-5 tidak seluruhnya mempengaruhi kinerja ekspor produk manufaktur negara-negara tersebut ke pasar Cina secara signifikan. Pengaruh yang signifikan hanya terhadap kinerja ekspor produk manufaktur Indonesia, Filipina dan Singapura.

Contoh Tesis Daya Saing

  1. Analisis Pengaruh Premi dan Klaim Terhadap Nilai Tambah Ekonomi Sebagai Indikator Daya Saing Kasus Perusahaan
  2. Analisis Ecolabelling terhadap Daya Saing Produk Kayu Indonesia di Pasar Internasional
  3. Analisis Daya Saing Kakao dan Kakao Olahan Indonesia
  4. Analisis Daya Saing Produk Alas Kaki Indonesia di Pasar Amerika Serikat
  5. Analisis dan Strategi Peningkatan Daya Saing Industri Elektronika
  6. Analisis Daya Saing Buah-Buahan Indonesia di Pasar Internasional
  7. Analisis Daya Saing dan Kinerja Ekspor Produk Manufaktur Indonesia dalam Kerangka Asean China Free Trade Area (ACFTA)
  8. Analisis Daya Saing dan Kinerja Ekspor Produk Manufaktur Indonesia dalam Kerangka Asean China Free Trade Area (ACFTA)
  9. Analisis Daya Saing Industri Penerbitan Buku dalam Penetapan Strategi Bersaing PT. Pustaka Sinar Harapan
  10. Analisis Dampak Kebijakan Tarif Impor Beras terhadap Daya Saing dan Profitabilitas Usahatani Padi Sawah di Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan Periode 2002-2003
  11. Analisa Daya Saing dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Udang Indonesia ke Amerika Serikat
  12. Analisa Daya Saing Industri Sepatu Indonesia – Studi Kasus PT. Sepatu Bata