Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Tesis Branding : Analisis Elemen-Elemen Brand Equity pada Terasi Mamasuka

Judul Tesis : Analisis Elemen-Elemen Brand Equity pada Terasi Mamasuka

 

A. Latar Belakang Tesis

Pada awalnya pemahaman tentang merek adalah sebuah tanda agar konsumen bisa membedakan satu produk dengan produk lainnya, akan tetapi dalam perkembangannya, merek saat ini merupakan hal yang begitu penting dan telah menjadi bagian dalam kehidupan manusia. Merek tidak lagi hanya sebagai kata yang dihubungkan dengan barang atau jasa, tetapi merek saat ini berhubungan dengan proses dan strategi bisnis.

Dengan semakin banyaknya produk sejenis yang membanjiri konsumen, menyebabkan persaingan menjadi semakin ketat, dimana konsumen mempunyai banyak sekali pilihan merek, hal inilah yang menyebabkan merek tidak lagi dianggap sebagai sebuah nama saja, tetapi harus menjadi merek sejati yang memiliki arti khusus di hati konsumen. Merek sejati merupakan internalisasi sejumlah kesan yang diterima oleh para pelanggan dan konsumen yang mengakibatkan adanya suatu posisi khusus dalam ingatan mereka terhadap manfaat-manfaat emosional dan fungsional yang dirasakan (Knapp, 2000).

 

B. Perumusan Masalah

  1. Bagaimana brand awareness merek MamaSuka?
  2. Bagaimana brand association merek MamaSuka?
  3. Bagaimana perceived quality merek MamaSuka?
  4. Bagaimana brand loyalty merek MamaSuka?

 

C. Landasan Teori

Definisi Merek

Pada awalnya merek hanyalah sebuah nama untuk membedakan satu produk dengan produk yang lain, merek kemudian berkembang mewakili sebuah obyek maupun sifat seperti Aqua mewakili air mineral dalam kemasan, Odol mewakili pasta gigi, Indomie mewakili mie instan dan masih banyak lagi merek yang mewakili berbagai obyek maupun sifat – sifat tertentu.

Brand Equity

Brand equity didefinisikan sebagai seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang dapat menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para pelanggan perusahaan (Aaker, 1996). Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2008) mengemukakan bahwa brand equity adalah nilai tambah yang diberikan pada produk dan jasa. Nilai ini bisa dicerminkan dalam cara konsumen berpikir, merasa, dan bertindak terhadap suatu merek, harga, pangsa pasar dan profitabilitas yang dimiliki perusahaan.

Brand Saliance (Penonjolan Merek)

Berkenaan dengan aspek – aspek awareness sebuah merek, seperti seberapa sering dan mudah sebuah merek diingat dan dikenali dalam berbagai situasi. Faktor ini menyangkut seberapa bagus elemen merek menjalankan fungsinya sebagai pengidentifikasi produk. Terdapat dua atribut dalam membangun brand salience, yaitu : identifikasi kategori dan pemuasan kebutuhan.

Asosiasi Merek (Brand Association)

Menurut Aaker (1991) Asosiasi merek adalah segala kesan yang muncul dibenak seseorang yang terkait dengan ingatannya mengenai suatu merek. Kesan-kesan yang timbul dibenak konsumen akibat berbagai macam hal seperti komunikasi pemasaran suatu merek, pengalaman orang lain maupun diri sendiri dalam mengkonsumsi merek tersebut. Kesan – kesan tersebut akan terbentuk di dalam benak konsumen menjadi suatu jaringan sematik yang mempunyai hubungan asosiatif. Suatu simpul jaringan didalam benak konsumen bila diaktifkan secara otomatis akan menyebar dari suatu simpul ke simpul yang lain dalam suatu jaringan. Jaringan – jaringan dalam benak konsumen tersebut membentuk suatu image yang bila dipelihara secara berkelanjutan akan semakin kuat.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini diadakan di daerah Jakarta, dengan metode pengambilan sampel Purposive sampling.

Sedangkan untuk alat analisis, Skala likert, Skala semantic differential dan analisis deskriptif.

E. Kesimpulan

1. Brand awareness, terasi MamaSuka masih dibawah terasi ABC, dan sebagian besar konsumen mengetahui terasi MamaSuka dari iklan televisi, hal ini menunjukkan bahwa iklan melalui media televisi merupakan media yang tepat untuk meningkatkan awareness konsumen.

2. Asosiasi – asosiasi terasi MamaSuka menurut konsumen adalah dibuat dari udang asli yang merupakan hasil komunikasi yang dibuat oleh terasi MamaSuka yang dilakukan melalui iklan televisi maupun leaflet yang menyebutkan “Asli udang rebon 100%” sedangkan asosiasi harganya terjangkau, merupakan bentuk strategi harga yang dilakukan terasi MamaSuka dimana harga Rp. 3,000 dicantumkan atau tertera pada kemasan gusset size 4.5gr x 20 pcs yang merupakan harga yang lebih terjangkau dibandingkan kompetitornya yaitu terasi ABC.

3. Pada elemen perceived quality, konsumen menilai bahwa terasi MamaSuka adalah terasi yang mudah didapatkan yang merupakan komitmen dari PT. Jico Agung sebagai perusahaan distribusi untuk mendistribusikan secara merata baik itu di outlet modern market maupun tradisional market. Kesan kualitas rasanya enak, memperlihatkan bahwa kesan kualitas yang dibangun telah dibarengi dengan kualitas nyata, sehingga konsumen yang pernah mencoba mengatakan terasi MamaSuka mempunyai rasa yang enak. Dan kesan kualitas yang menyebutkan kualitasnya terjamin, merupakan bentuk keberhasilan perusahaan dalam membangun kesan kualitas melalui iklan televisi, yang materi iklannya membandingkan antara pembuatan terasi tradisional yang terkesan kotor /tidak higienis dengan terasi MamaSuka yang dikemas secara modern menggunakan mesin – mesin sehingga lebih higienis.

4. Brand loyalty terasi MamaSuka memiliki nilai 4.55 persen pada tingkatan switcher, hal ini menunjukkan bahwa konsumen yang berpindah karena faktor harga adalah sangat kecil. Tingkatan habitual buyer memiliki nilai sebesar 65.45 persen, yang menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen merasa puas atau setidaknya tidak pernah merasa kecewa dalam mengkonsumsi terasi MamaSuka. Tingkatan satisfied buyer memiliki nilai sebesar 66.36 persen, yang menunjukkan sebagian besar konsumen telah merasa puas dalam mengkonsumsi terasi MamaSuka. Tingkatan liking the brand memiliki nilai sebesar 54.55 persen, hal ini menunjukkan bahwa hanya sekitar setengah dari konsumen yang mengkonsumsi terasi MamaSuka didasarkan karena benar – benar menyukai terasi MamaSuka dan yang terakhir adalah tingkatan committed buyer memiliki nilai sebesar 54.55 persen, hal ini menunjukkan bahwa hanya sekitar setengah dari konsumen yang bersedia merekomendasikan kepada orang lain. Dari hasil persentase tingkatan brand loyalty dapat dikatakan bahwa terasi MamaSuka belum memperlihatkan bentuk piramida terbalik yang sempurna, hal ini menunjukkan bahwa brand loyalty terasi MamaSuka belum kuat.

 

Contoh Tesis  Branding

  1. Analisa Proses Pembentukan Loyalitas Konsumen Produk Lifestyle dengan Pendekatan Emotional Branding
  2. Analisis Brand Image Melalui Pengukuran Brand Awareness, Perceived Quality Dan Brand Loyalty Dari Es Krim Merk Wall’s di Indonesia
  3. Analisis Brand Loyalty Produk Kosmetik Berdasarkan Brand Awareness dan Sikap Konsumen Target terhadap Produk Tersebut Studi Kasus Kosmetik Wardah
  4. Analisis Citra Merek (Brand Image) Program Sarjana Ilmu Jurnalistik yang Mempengaruhi Preferensi Siswa SLTA dalam Memilih Perguruan Tinggi
  5. Analisis Elemen Elemen Brand Equity pada Terasi Mamasuka
  6. Analisis Pengaruh Faktor – Faktor Comunication Campaign Re-Branding Logo Perusahaan Terhadap Persepsi Audience Akan Citra Peruasahaan
  7. Pembentukan Brand Image pada Low Involvement Product Melalui Pendekatan Emotional Branding pada Iklan Tv (Studi Kasus Kampanye Iklan Talking House PT. Holcim Indoensia, Tbk)
  8. Peranan Emotional Branding dalam Memelihara Kepuasan Pelanggan Studi Kasus Program  Fun In The Air PT. Adam Air
  9. Tinjauan Yudiris Prinsip Kehati-Hatian (Prudential Principle) Kartu Kredit Co-Branding Garuda Indonesia-Bank BNI Sebagai Alat Pembayaran dengan Menggunakan