Tesis Bentuk Perlawanan: Ragam Bentuk Perlawanan Orang Rimba Makekal Hulu

Judul Tesis : Alim Rajo Disembah, Piado Alim Rajo Disanggah: Ragam Bentuk Perlawanan Orang Rimba Makekal Hulu terhadap Kebijakan Zonasi Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi

 

A. Latar Belakang dan Permasalahan

Penelitian etnografi ini ingin mengungkap respon komunitas Orang Rimba yang mendiami kawasan hutan Bukit Duabelas terhadap kebijakan zonasi Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) di Jambi. Secara khusus, penelitian ini ingin menggambarkan bagaimana respon dalam bentuk perlawanan yang ditujukan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penerapan kebijakan zonasi TNBD tersebut diwujudkan dalam keseharian Orang Rimba dan ke hadapan publik luas.

Berawal dari sebuah pertemuan adat Orang Rimba di Simpang Meranti Makekal Hulu yang menghasilkan sebuah keputusan bahwa Orang Rimba menolak dan akan melakukan perlawanan terhadap aturan zonasi TNBD. Hasil pertemuan adat tersebut adalah titik awal ketertarikan saya untuk mendalami lebih jauh bagaimana respon perlawanan tersebut mewujud sebagai strategi dan taktik Orang Rimba dalam memperjuangkan kepentingannya dalam isu penerapan kebijakan zonasi di TNBD.

B. Tujuan

  1. Strategi dan motif pihak yang berkepentingan dengan sumber daya dan konservasi saat melakukan penguasaan terhadap kawasan hutan Bukit Duabelas.
  2. Strategi dan ragam bentuk perlawanan Orang Rimba saat merespon penerapan kebijakan zonasi TNBD.
  3. Motif, tujuan, dan faktor yang mempengaruhi ragam bentuk perlawanan Orang Rimba ketika diwujudkan ke dalam tindakan keseharian dan ke hadapan publik luas.

 

C. Tinjauan Pustaka

Pilihan Istilah Orang Rimba dan Imaji-Imaji Tentang “Mereka”

Ketika saya menyepakati panggilan kerja dari LSM Warsi42 melalui sebuah panggilan telepon di akhir tahun 2002, reaksi pertama ibu saya adalah meluncurnya kata nasehat bernada mengingatkan. Tentang lokasi kerja yang berada hutan, ibu saya tak pernah menguatirkannya karena beliau paham bahwa saya sudah terbiasa pergi kehutan dan gunung tatkala saya masih aktif di sebuah perkumpulan pecinta alam semasa kuliah dulu. Beliau hanya risau karena saya akan berada di hutan yang dihuni sebuah kelompok etnik yang secara tradisional tinggal di dalamnya.

Bukit Setan dan Kabar Perubahan dari Rimba Makekal Hulu

Penguwar Tampung, salah seorang Bujang Orang Rimba di Makekal Hulu, di bulan Juni 2010, menelpon saya dari sebuah tempat di Bukit Duabelas Jambi dan membilang bahwa bapaknya yang bergelar Kepala Adat (Bepak Pengusai), ingin berbicara dengan saya. Saya sedang di Jakarta kala itu dan Bepak Pengusai menelpon saya untuk menanya kabar dan menceritakan pengalaman dirinya saat menghadiri undangan sosialisasi skema global tentang REDD, yang diselenggarakan oleh sebuah LSM Konservasi di Jambi. Menurut beliau pihak pengundangnya mengatakan bahwa hutan kawasan Bukit Duabelas berfungsi menyimpan karbon dan menjadi kawasan penting karena merupakan paru-paru bagi bumi dan Orang Rimba diminta menjaga keutuhannya. Ketika saya bertanya apakah beliau paham maksudnya, beliau menjawab tidak, baginya makna hutan Bukit Duabelas adalah wilayah adat dan tempatnya menyandarkan kehidupan,.

Ragam Versi Asal Usul Orang Rimba

Satu hipotesis menyebutkan bahwa asal-usul Orang Rimba tak lain dari sekelompok penduduk yang tak ingin dikuasai oleh kekuatan asing dari kerajaan Chola ketika wilayah Sriwijaya pada abad 11 dan pedalamannya diserang dan dikuasai. Pada sekitar tahun 1025 kerajaan Chola menyerang Sriwijaya dan menguasai wilayah-wilayah kekuasaannya, dan kemudian kelompok penduduk yang tidak ingin dikuasai melarikan diri dan mengungsi ke hutan-hutan, dan mereka itulah yang disebut Orang Kubu. (Andaya, 2001:315).

 

E. Kesimpulan

1. Ragam Struktur Penguasaan : Komoditi, Tenaga Kerja, Teritori, dan Aspek Kehidupan

Beragam struktur penguasaan dari masa kesultanan, kolonial, pemerintahan Indonesia, hingga penguasaan atas nama konservasi telah hadir dalam dinamika kehidupan Orang Rimba di Bukit Duabelas. Ragam struktur penguasaan tersebut menyiratkan beroperasinya rasionalisasi governmental, yakni bentuk penguasaan persuasif melalui beragam taktik yang diterapkan secara hybrid dengan menggunakan perangkat kultural, aturan dan hukum, dan berbagai motif lain dibalik penguasaannya. Terdapat beberapa objek penguasaan di tiap struktur penguasaan yakni: komoditi, tenaga kerja (manusia), serta penguasaan teritorial. Khususnya pada struktur penguasaan konservasi alam maka penguasaan teritorial ditambahkan dengan penguasaan kepada aspek-aspek kehidupan (mata pencaharian, pengetahuan, dan tingkah laku).

2. Proyek Konservasi dan Penguasaan Aspek Kehidupan

 Terlepas dari tujuan awal KKI-Warsi (Warsi) yakni memperjuangkan perluasan kawasan Cagar Biosfer bukan Taman Nasional, maka implementasi proyek konservasi dengan advokasi, kampanye, dan program pemberdayaannya telah mengilustrasikan peranan Warsi sebagai pihak yang secara politis paling memahami pengaturan sebuah bentang alam dan mengetahui apa yang terbaik bagi kehidupan Orang Rimba di masa depan. Oleh Li (2007:5) posisi tersebut disebutkan sebagai „trustees‟ yang identik melekat pada aparat kolonial dan missionaris, biroikrat dan politikus, lembaga donor internasional, spesialis kesehatan dan pertanian, lembaga konservasi, serta NGO dalam berbagai bentuknya. Peranan pihak Warsi dalam konteks tersebut disebabkan cara-caranya dalam praktek konservasi menerapkan rasionalisasi governmental.

3. Ragam Bentuk Perlawanan dan Ragam Kepentingan Aktor

Perlawanan Orang Rimba terhadap kebijakan zonasi TNBD diwujudkan dalam tindakan keseharian maupun kehadapan publik luas: dalam bentuk perlawanan berbasis kultural dan perlawanan hasil pengartikulasian dan kolaborasi. Perlawanan berbasis kultural terinspirasi oleh cara pandang Scott (1985:xvi-xvii) di mana perlawanan dicirikan sebagai aksi tanpa kordinasi dan perencanaan, menggunakan pemahaman implisit, informal, menghindari konfrontasi, dan dilakukan secara terselubung dibelakang layar kehidupan, yang ditujukan untuk mengurangi atau menolak suatu klaim dari kelompok kelas superordinat.

 

Contoh Tesis Bentuk Perlawanan

  1. Alim Rajo Disembah, Piado Alim Rajo disanggah Ragam Bentuk Perlawanan Orang Rimba Makekal Hulu terhadap Kebijakan Zonasi Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi