Model Pembelajaran yang Diawali dengan Senam Otak (Brain Gym) terhadap Prestasi Belajar

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran yang Diawali dengan Senam Otak (Brain Gym) terhadap Prestasi Belajar Matematika

 

A. Latar Belakang

Senam otak (brain gym) kiranya dapat dijadikan sebagai salah satu solusi penting, agar otak bisa difungsikan secara optimal. Karena bukan hanya tubuh yang bisa disehatkan, otak juga bisa disehatkan. ”Senam otak bermanfaat menjadikan otak bekerja lebih efesien. Sehingga, otak akan membutuhkan lebih sedikit energi ketika bekerja. Ini juga akan membuat otak bekerja lebih ringan, dan tidak mudah mengalami kelelahan,” begitu kata Mangunsong, Psikolog UI (Mathematical Intelegence, 2007: 39).

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis memberanikan diri untuk mengadakan penelitian dengan judul: ”Eksperimentasi Model Pembelajaran yang diawali dengan Senam Otak (Brain Gym) terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Kemampuan awal Siswa SMA Se- Kabupaten Kotawaringin Timur Sampit”.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah model pembelajaran yang di awali dengan senam otak (brain gym) memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional?
  2. Apakah kemampuan awal siswa yang berbeda-beda memberikan prestasi belajar matematika yang berbeda pula?
  3. Diantara pembelajaran yang di awali dengan senam otak (brain gym) dan pembelajaran konvensional, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik pada siswa dengan kemampuan awal tinggi, sedang dan rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Apakah pembelajaran yang diawali dengan senam otak (Brain Gym) memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.
  2. Apakah kemampuan awal siswa yang berbeda-beda memberikan prestasi belajar matematika yang berbeda pula.
  3. Manakah diantara pembelajaran yang di awali dengan senam otak (Brain Gym) dan pembelajaran konvensional, yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik pada siswa dengan kemampuan awal tinggi, sedang dan rendah?

 

C. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika siswa dengan pembelajaran yang diawali dengan senam otak (Brain Gym) memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang.

3. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah

4. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah.

5. Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran yang diawali dengan senam otak dengan kemampuan awal terhadap prestasi belajar matematika pada pokok bahasan statistika, sehingga prestasi belajar matematika siswa dengan kemampuan awal tinggi, yang menggunakan model pembelajaran yang diawali dengan senam otak tetap lebih baik daripada prestasi belajar matematika yang mempunyai kemampuan awal tinggi, pada model pembelajaran konvensional. Sedangkan prestasi belajar matematika siswa dengan kemampuan awal sedang, yang menggunakan model pembelajaran yang diawali dengan senam otak juga lebih baik daripada prestasi belajar matematika yang mempunyai kemampuan awal sedang, pada model pembelajaran konvensional. Demikian juga pada siswa dengan kemampuan awal rendah, yang menggunakan model pembelajaran yang diawali dengan senam otak lebih baik daripada prestasi belajar matematika yang mempunyai kemampuan awal rendah, pada model pembelajaran konvensional.

Pembelajaran Problem Solving pada Materi Lingkaran terhadap Prestasi Belajar

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem Solving pada Materi Lingkaran terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP Sragen

 

A. Latar Belakang Masalah

Model pembelajaran langsung maupun model pembelajaran pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan kemampuannya dalam pemecahan masalah, baik dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Model-model pembelajaran dan metode pembelajaran merupakan suatu sarana dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas, supaya dalam penyampaian materi pelajaran dapat mudah diterima siswa, dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Demikian juga media pembelajaran merupakan sarana yang digunakan dalam proses belajar mengajar matematika. Menurut Hamalik (Azhar Arsyad, 2007:15) mengemukakan bahwa penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan motivasi, keinginan dan minat yang baru dan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pembelajaran. (Azhar Arsyad, 2007:16) dalam buku media pembelajaran mengemukakan alat peraga atau media pembelajaran dapat membantu supaya siswa lebih mudah atau cepat memahami, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, cepat mengerti dan menguasai materi pelajaran yang diterima.Dengan menggunakan model-model pembelajaran, metode pembelajaran maupun media pembelajaran, guru tidak lagi bersusah payah dalam menerangkan materi pelajaran dan waktu yang digunakan tidak terlalu lama karena siswa cepat mengerti dan memahaminya.

 

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Apakah prestasi belajar siswa pada kegiatan belajar mengajar menggunakan model pembelajaran Pemecahan Masalah lebih baik daripada menggunakan model Pembelajaran Langsung ?
  2. Apakah prestasi belajar siswa yang memiliki motivasi belajar lebih tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki motivasi belajar dibawahnya?
  3. Apakah prestasi belajar siswa yang motivasi belajar tinggi maupun sedang pada model pembelajaran Pemecahan Masalah lebih baik dari model pembelajaran Langsung, tetapi apakah pada siswa yang motivasi belajarnya rendah prestasi belajar yang dicapai pada model pembelajaran Langsung lebih baik dari pada yang menggunakan model Pembelajaran Pemecahan Masalah ?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa dalam kegiatan belajar mengajar menggunakan model pembelajaran Pemecahan Masalah lebih baik daripada model pembelajaran Langsung.
  2. Untuk mengetahui apakah siswa yang motivasi belajarnya lebih tinggi prestasi belajar matematika yang dicapai lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang motivasi belajarnya dibawahnya.
  3. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang motivasi belajar tinggi maupun sedang pada model pembelajaran Pemecahan Masalah lebih baik dari model pembelajaran Langsung, tetapi pada siswa yang motivasi belajarnya rendah prestasi belajar yang dicapai pada model pembelajaran Langsung juga lebih baik dari pada yang menggunakan model Pembelajaran Pemecahan Masalah.

 

D. Kesimpulan

  1. Prestasi belajar matematika siswa pada kegiatan belajar mengajar menggunakan model pembelajaran pemecahan masalah lebih baik dari pada menggunakan model pembelajaran langsung .
  2. Prestasi belajar matematika siswa yang memiliki motivasi lebih tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki motivasi lebih rendah (dibawahnya).
  3. Prestasi belajar matematika siswa yang memiliki motivasi tinggi maupun sedang pada model pembelajaran pemecahan masalah lebih baik dari model pembelajaran langsung, sedangkan siswa yang motivasi belajar rendah prestasi belajar matematika yang dicapai pada model pembelajaran pemecahan masalah lebih baik daripada model pembelajaran langsung.

 

Tipe STAD dan Quantum Learning Mind Mapping Terhadap Prestasi Belajar Matematika

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Quantum Learning Mind Mapping Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Kesiapan Belajar Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri di Kabupaten Magetan Tahun Ajaran 2009/2010

 

A. Latar Belakang Skripsi

Sampai sejauh ini pencapaian hasil belajar matematika di sekolah secara umum dapat dinyatakan masih belum sesuai dengan harapan. Hal ini dapat dilihat dari masih sulitnya siswa untuk mencapai hasil tertinggi dalam pencapaian belajar matematika. Ini terbukti dari nilai matematika pada ujian nasional pada semua tingkat dan jenjang pendidikan selalu terpaku pada angka yang rendah . Data Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur tahun 2009 untuk Kabupaten Magetan nilai matematika program IPA yang nilainya 10,00-9,00 adalah 17,72%, 8,00-8,99=20,20%, 7,00- 7,99=23,43%, 6,00-6,99=10,86%, 5,50-5,99=18,86%, 4,25-5,49=5,51%, 3,00-4,24=2,28% dan 2,00-2,99=1,14%. Hal ini masih tergolong rendah jika ketuntasan minimal ideal adalah 75. Untuk itu perlu bagi guru untuk terus mencari dan menerapkan metode baru untuk memudahkan siswa dalam proses pembelajaran dan memotivasi siswa agar selalu mempunyai kesiapan sebelum belajar matematika sehingga pembelajaran matematika menjadi lebih baik. Terutama sub pokok bahasan fungsi komposisi untuk mencari fungsi penyusunnya, yang hasilnya lebih rendah dari sub pokok bahasan-sub pokok bahasan yang lain.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah prestasi belajar matematika pada pembelajaran metode STAD lebih baik daripada metode pembelajaran Mind Mapping?
  2. Apakah siswa yang mempunyai kesiapan tinggi akan mempunyai prestasi belajar lebih baik dibanding dengan siswa yang mempunyai kesiapan sedang dan rendah serta siswa yang mempunyai kesiapan sedang akan mempunyai prestasi belajar lebih baik dari siswa yang mempunyai kesiapan rendah?
  3. Apakah terdapat interaksi antara penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dan Mind Mapping serta kesiapan siswa terhadap prestasi belajar ?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan metode STAD lebih baik dari pada pembelajaran metode Mind Mapping.
  2. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kesiapan tinggi lebih baik dari pada siswa yang mempunyai kesiapan sedang dan rendah serta apakah siswa yang mempunyai kesiapan sedang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai kesiapan rendah.

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika yang dilakukan dengan pembelajaran kooperatif type STAD lebih baik dari pada siswa dengan pembelajaran metode Mind Mapping.

2. Siswa yang mempunyai kesiapan belajar tinggi lebih baik dari pada kesiapan belajar sedang maupun rendah, dan siswa yang mempunyai kesiapan belajar sedang berbeda secara signifikan dengan siswa yang mempunyai kesiapan belajar rendah. Dengan kata lain siswa yang mempunyai kesiapan belajar sedang lebih baik dari pada kesiapan belajar rendah.

 

E. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi diatas, maka saran yang diberikan peneliti adalah sebagai berikut :

1. Kepada siswa

Pada saat diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa diharapkan memperhatikan penjelasan atau jawaban yang disampaikan oleh siswa lain, baik dalam diskusi kelompok maupun saat kelompok lain mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

2. Kepada Guru Mata Pelajaran Matematika

Guru hendaknya lebih banyak melibatkan peran siswa secara aktif dalam melaksanakan kegiatan belajar matematika, dimana siswa mengkontruksi pengetahuan mereka sendiri sehingga pelajaran lebih bermakna. Cara yang dilakukan antara lain, memilih metode pembelajaran yang lebih menekankan pada keterlibatan siswa secara optimal misalnya metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TS-TS dan NHT Terhadap Prestasi Belajar

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay-Two Stray (TS-TS) dan Numbered Heads Together (NHT) Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP di Kabupaten Bantul Ditinjau dari Aktivitas Belajar

 

A. Latar Belakang Skripsi

Selain model pembelajaran kooperatif tipe TS-TS, alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Model pembelajaran ini memberi penekanan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. NHT sebagai model pembelajaran pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok. Adapun ciri khas dari NHT adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya. Dalam menunjuk siswa tersebut, guru tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok tersebut.

Menurut Muhammad Nur (2005: 78), dengan cara tersebut akan menjamin keterlibatan total semua siswa dan merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok. Selain itu model pembelajaran NHT memberi kesempatan kepada siswa untuk membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.

 

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi, pemilihan dan pembatasan masalah, dapatn dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik, pembelajaran dengan model kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TS-TS), model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) atau pembelajaran konvensional?
  2. Manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik, aktivitas belajar tinggi, sedang atau rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan perumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik di antara pembelajaran dengan model kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TS-TS), model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) atau pembelajaran konvensional.
  2. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik di antara siswa dengan aktivitas belajar tinggi, sedang atau rendah.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada Bab I, dapat disimpulkan bahwa pada siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kabupaten Bantul pada semester gasal tahun pelajaran 2011/2012, khususnya pada materi persamaan garis lurus :

1. Pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TS-TS) memberikan prestasi belajar matematika yang sama dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Di sisi lain, prestasi belajar matematika siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe TS-TS dan kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

2. Siswa dengan aktivitas belajar tinggi mempunyai prestasi belajar paling baik, sedangkan siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang lebih baik prestasinya daripada siswa dengan aktivitas belajar rendah

 

E. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi penelitian, maka dapat dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Bagi guru matematika

Hendaknya melakukan inovasi pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif tipe TS-TS dan NHT dalam upaya meningkatkan prestasi belajar matematika siswa khususnya pada materi persamaan garis lurus.

2. Bagi peneliti lain

Dapat melakukan kajian yang lebih mendalam tentang pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TS-TS, NHT dan pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar matematika siswa.

 

Incoming search terms:

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Jigsaw dari Sikap Siswa Terhadap Matematika

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan Tipe Jigsaw pada Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Sikap Siswa Terhadap Matematika Siswa SMP di Kabupaten Magetan

 

A. Latar Belakang

Pembelajaran kooperatif menampakkan wujudnya dalam bentuk belajar kelompok. Dalam kelompok belajar kooperatif siswa tidak diperkenankan mendominasi atau menggantungkan diri pada siswa lain. Dalam kelompok belajar kooperatif ditanamkan norma bahwa sifat mendominasi orang lain adalah sama buruknya dengan sifat menggantungkan diri pada orang lain. Prestasi belajar seorang siswa dalam proses pembelajaran ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Salah satu faktor internal adalah sikap pada diri siswa yaitu sikap siswa pada matematika, sebagai reaksi afektif pada diri siswa dan diketahui sebagai kecenderungan mendekati atau menghindar dari matematika, dan diwarnai oleh unsur senang atau tidak senang terhadap matematika.

Sikap siswa terhadap matematika merupakan faktor yang mempengaruhi dalam prestasi belajar siswa. Dengan demikian, pembelajaran yang berlangsung hendaknya dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap matematika, sehingga akan diperoleh hasil yang optimal. Mengingat pentingnya kemampuan matematika bagi siswa dalam proses belajar selanjutnya, maka masalah rendahnya hasil belajar matematika siswa SMP perlu diupayakan pemecahannya.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) atau siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw?
  2. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang memiliki sikap terhadap matematika tinggi, sedang atau rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD atau siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
  2. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang memiliki sikap terhadap matematika tinggi, sedang atau rendah.

 

D. Kesimpulan Tesis

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Prestasi belajar matematika siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang memiliki sikap terhadap matematika tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika siswa yang memiliki sikap terhadap matematika sedang maupun rendah, dan prestasi belajar matematika siswa yang memiliki sikap terhadap matematika sedang lebih baik dibandingkann prestasi belajar matematika siswa yang memiliki sikap terhadap matematika rendah.

 

E. Saran

Agar prestasi belajar matematika pada umumnya dan persamaan garis lurus pada khususnya dapat ditingkatkan, maka disarankan

1. Kepada Guru

Pemahaman tentang model pembelajaran semakin berkembang, sehingga guru dapat memilih model pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran, khususnya model pembelajaran kooperatif Jigsaw dan STAD.

2. Kepada Siswa

Sudah saatnya para siswa sadar akan pentingnya prestasi belajar dan menyadari bahwa prestasi belajar bisa dicapai secara optimal jika siswa sendiri yang berusaha

Efektivitas Model Pembelajaran Accelerated Teaching dgn Setting Cooperative Learning

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Accelerated Teaching dengan Setting Cooperative Learning Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Respon Siswa pada Pembelajaran Kelas X SMA Negeri Kabupaten Boyolali

 

A. Latar Belakang Masalah

Respon dapat diartikan sebagai tanggapan seseorang terhadap pengaruh atau reaksi dari luar sehingga mempengaruhi sikap dan tingkah laku. Respon siswa terhadap proses pembelajaran merupakan tanggapan siswa selama mengikuti proses pembelajaran, sehingga mempengaruhi sikap dan tingkah laku siswa dapat diungkapkan ke dalam bentuk pernyataan dari siswa tersebut. Dalam pembelajaran dengan metode Accelerated Teaching siswa dalam mengikuti proses pembelajaran akan banyak dihadapkan komponen-komponen pembelajaran, sehingga sangat dimungkinkan bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh respon siswa terhadap proses pembelajaran.

Mengingat pentingnya prestasi belajar matematika bagi siswa dalam proses belajar selanjutnya maka masalah rendahnya prestasi belajar matematika siswa, dan respon siswa terhadap proses pembelajaran matematika yang cenderung negatif perlu diupayakan pemecahannya.Berdasarkan uraian di atas, maka perlu adanya kajian tentang penerapan Model Accelerated Teaching di sekolah-sekolah lain di Boyolali dan sebagai alternatif model pembelajaran dalam pembelajaran matematika di SMA.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah model pembelajaran Accelerated Teaching dengan setting Cooperative Learning menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dari pada model pembelajaran Accelerated Teaching tanpa setting Cooperative Learning pada materi pokok Trigonometri
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai respon tinggi lebih baik daripada siswa yang mempunyai respon sedang, dan apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai respon sedang lebih baik daripada siswa yang mempunyai respon rendah pada materi pokok Trigonometri?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah cara penyajian materi dengan model Accelerated Teaching dengan setting Cooperative Learning dalam pembelajaran akan memberikan prestasi yang lebih baik pada materi pokok Trigonometri daripada cara penyajian materi dengan model Accelerated Teaching tanpa setting Cooperative Learning.
  2. Untuk mengetahui apakah prestasi balajar matematika siswa yang mempunyai respon tinggi lebih baik dari pada siswa yang mempunyai respon sedang dan siswa yang mempunyai respon sedang mempunyai prestasi yang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai respon rendah dalam mempelajari materi pokok Trigonometri.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran Accelerated Teaching dengan setting Cooperative Learning pada materi pokok Trigonometri menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran Accelerated Teaching tanpa setting Cooperative Learning.

2. Respon siswa pada pembelajaran berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika pada materi pokok Trigonometri. Prestasi belajar siswa yang mempunyai respon tinggi sama baiknya dengan siswa yang mempunyai respon sedang, prestasi belajar siswa yang mempunyai respon tinggi lebih baik daripada yang memiliki respon rendah dan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai respon sedang sama dengan prestasi belajar siswa yang mempunyai respon rendah.

 

E. Saran

1. Kepada guru mata pelajaran matematika

Dalam melakukan kegiatan pembelajaran matematika, hendaknya guru lebih banyak melibatkan keaktifan siswa, guru hanya sebagai fasilitator dan motivator saja. Misalnya dengan memilih dan menggunakan cara penyajian materi yang lebih banyak melibatkan aktivitas siswa, seperti pembelajaran yang menggunakan model Accelerated Teaching dengan setting Cooperative Learning.

2. Kepada siswa

Sebaiknya siswa selalu memperhatikan dengan sungguh-sungguh penjelasan guru tentang materi yang disampaikan dan memahami dengan baik ringkasan materi pembelajaran model Accelerated Teaching dengan setting Cooperative Learning.

Pengaruh Ketrampilan Hitung Terhadap Prestasi Belajar Matematika

Contoh Tesis Pendidikan Matematika ~ Pengaruh Ketrampilan Hitung Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Ditinjau Dari Interaksi Edukatif Siswa Kelas XI SMA

Latar Belakang Masalah dan Teori Belajar

Dalam bidang pendidikan timbul suatu proses interaksi antara individu dengan lingkungan sosial dan budaya. Interaksi berarti hal saling melakukan, aksi, berhubungan, mempengaruhi Sikap seorang guru di depan siswa didasarkan atas interaksi edukatif aktif sehingga kegiatan itu merangsang dan menantang siswa untuk ikut terlibat penuh. Interaksi edukatif adalah interaksi belajar mengajar sehingga harus dibedakan dari bentuk interaksi yang lain. Penguasaan berbagai strategi belajar mengajar, pembinaan hubungan guru dengan siswa dan siswa dengan siswa akan sangat membantu terselenggaranya pengelolaan kelas yang baik.

Teori Belajar
Teori Belajar

Pengelolaan kelas yang baik akan secara langsung memacu terjadinya interaksi belajar mengajar dari semua komponen yang terlibat di dalam proses belajar mengajar tersebut. Guru dan siswa mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari interaksi tersebut apabila diciptakan suatu hubungan atau interaksi yang mendasarkan pada tujuan pendidikan. Dengan demikian jelas bahwa hubungan aktif diperlukan dalam proses belajar mengajar sebagai salah  satu sarana yang menunjang tercapainya keberhasilan belajar siswa.

Jika siswa memiliki ketrampilan hitung yang tinggi dan didukung interaksi edukatif siswa tersebut kemungkinan akan memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik.

Hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Ketrampilan Hitung terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Ditinjau dari Interaksi Edukatif Siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar.

 

Identifikasi Masalah Pengaruh Ketrampilan Hitung Terhadap Prestasi Belajar Matematika

Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :

  1. Masih rendahnya tingkat keikutsertaan atau partisipasi para siswa dalam mengikuti pelajaran matematika yang menimbulkan rendahnya prestasi belajar matematika.
  2. Masih kurang lancarnya proses belajar matematika dalam mencapai tujuan pengajaran yang menimbulkan rendahnya prestasi belajar matematika.
  3. Masih kurangnya perhatian guru untuk menumbuhkan dan mengembangkan minat belajar matematika pada diri siswa yang menimbulkan rendahnya prestasi belajar matematika.
  4. Masih adanya guru matematika yang kurang memperhatilakan tingkat interaksi edukatif yang positif antara guru dan siswa yang mendukung keberhasilan proses pengajaran yang dapat menimbulkan rendahnya prestasi belajar matematika.
  5. Rendahnya prestasi belajar akan berakibat pada kemerosotan mutu lulusan sehingga perlu dikaji faktor-faktor penyebab dan upaya untuk mengantisipasi masalah tersebut.
  6. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam proses belajar. Dalam mempelajari matematika perlu dikaji faktor apa saja yang secara dominan mempengaruhi keberhasilannya.
  7. Sebelum mengikuti mata pelajaran setiap siswa telah memiliki kemampuan tertentu dalam bidang matematika yang tentunya berbeda-beda yang akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mempelajari matematika pada pokok bahasan saat itu.
  8. Kemampuan khusus lain akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mempelajari matematika sehingga perlu dikaji pengaruh dari ketrampilan hitung dalam menyelesaikan soal matematika.

 

Pembatasan Masalah

Hasil belajar matematika sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kognitif antara lain kemampuan umum, intelegensi, penalaran deduktif, penalaran induktif, kemampuan numerik, kemampuan verbal dan lain-lain. Dalam penelitian ini hanya akan diteliti faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika yaitu interaksi edukatif dan ketrampilan hitung. Agar penelitian terarah dan mudah dipahami maka perlu dibatasi permasalahannya sebagai berikut :

  1. Interaksi edukatif dibatasi pada interaksi antar guru bidang studi matematika dengan siswa dalam lingkungan sekolah atau dalam suasana edukatif/belajar.
  2. Ketrampilan hitung dibatasi pada ketrampilan hitung pada penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian.
  3. Prestasi belajar matematika diambil dari data nilai ujian akhir semester.

 

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah dikemukakan, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apakah siswa yang mempunyai ketrampilan hitung tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika pada ujian akhir semester yang lebih baik dibandingkan siswa yang memiliki ketrampilan hitung sedang dan rendah ? Apakah siswa yang mempunyai ketrampilan hitung sedang menghasilkan prestasi belajar matematika pada ujian akhir semester yang lebih baik dibandingkan siswa yang memiliki ketrampilan hitung rendah ?
  2. Apakah siswa yang mempunyai interaksi edukatif tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika pada ujian akhir semester yang lebih baik dibandingkan siswa yang memiliki interaksi edukatif rendah ?
  3. Apakah ada pengaruh bersama ketrampilan hitung dan interaksi edukatif siswa terhadap prestasi belajar matematika pada ujian akhir semester ?

Pengaruh Kemampuan Numerik, Logika Abstrak Dan Aktivitas Belajar Terhadap Prestasi

Contoh Tesis Pendidikan Matematika Pengaruh Kemampuan Numerik, Kemampuan Logika Abstrak Dan Aktivitas Belajar Matematika
Terhadap Prestasi Belajar Matematika
Siswa Kelas XI

Latar Belakang Masalah

Ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengetahuan dan pengalaman masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika hanya perhitungan yang mencakup tambah, kurang, kali dan bagi, tetapi ada pula yang melibatkan topik-topik seperti aljabar, geometri dan trigonometri. Banyak pula yang beranggapan bahwa matematika mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan berfikir logis. Salah satu kecenderungan yang menyebabkan sejumlah siswa gagal menguasai dengan baik pokok-pokok bahasan dalam matematika yaitu siswa kurang menggunakan logika dalam menyelesaikan soal atau persoalan matematika yang diberikan. Kesulitan siswa biasanya terletak pada aspek imajinasi, artinya siswa kurang bisa mengekspresikan imajinasi ke dalam bentuk nyata. Dari sini terlihat bahwa kemampuan logika abtrak itu diperlukan guna mencapai hasil yang lebih baik di dalam menyelesaikan suatu persoalan. Stephivan Goe dalam Filosofi Pendidikan mengatakan bahwa yang menjadi masalah besar dalam pendidikan matematika adalah membangkitkan rasa percaya diri siswa terhadap kemampuan numerik dan logika dan daya kreativitas siswa dalam memecahkan soal.

Prestasi belajar matematika dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Salah satu faktor internal selain kemampuan numerik dan kemampuan logika abstrak yaitu aktivitas. Pada proses belajar mengajar yang berlangsung di kelas, siswa dituntut aktivitasnya untuk mendengarkan, memperhatikan dan mencerna pelajaran yang diberikan oleh guru. Dalam perkembangannya kegiatan belajar mengajar saat ini berorientasi pada siswa (student center), jika siswa tidak terlibat aktif maka siswa akan mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar.

 

B. Identifikasi Masalah

Dari uraian latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, masalah- masalah yang timbul dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Rendahnya prestasi belajar matematika siswa, ada kemungkinan disebabkan 
adanya kekeliruan dalam pemahaman dan penerapan konsep.

2. Masih rendahnya prestasi belajar matematika, ada kemungkinan disebabkan masih rendahnya kemampuan numerik siswa, sehingga perlu diketahui apakah 
kemampuan numerik mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa.

3. Masih rendahnya prestasi belajar matematika, ada kemungkinan disebabkan masih rendahnya kemampuan logika abstrak siswa, sehingga diketahui apakah 
kemampuan logika abstrak mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa.

4. Ada kemungkinan perbedaan aktivitas belajar siswa dapat menyebabkan perbedaan prestasi belajar matematika siswa.

 

E. Perumusan Masalah

Berpijak pada identifikasi masalah dan pembatasan masalah maka untuk memperjelas permasalahan yang akan diteliti maka dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah kemampuan numerik yang lebih tinggi dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan numerik yang lebih rendah?
  2. Apakah kemampuan logika abstrak yang lebih tinggi dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan logika abstrak yang lebih rendah?
  3. Apakah aktivitas belajar matematika yang mendukung dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada Aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung?
  4. Adakah interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik dan kemampuan logika abstrak terhadap prestasi belajar matematika?
  5. Adakah interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik dan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika?
  6. Adakah interaksi yang signifikan antara kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika?
  7. Adakah interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik, kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika?

 

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui

  1. Apakah kemampuan numerik yang lebih tinggi dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan numerik yang lebih rendah
  2. Apakah kemampuan logika abstrak yang lebih tinggi dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan logika abstrak yang lebih rendah
  3. Apakah aktivitas belajar matematika yang mendukung dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung
  4. Ada atau tidak adanya interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik dan kemampuan logika abstrak terhadap prestasi belajar matematika
  5. Ada atau tidak adanya interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik dan aktivitas belajar mateamtika terhadap prestasi belajar matematika
  6. Ada atau tidak adanya interaksi yang signifikan antara kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika
  7. Ada atau tidak adanya interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik, kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika.

Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian kausal komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Jepon tahun pelajaran 2006/2007, yang terdiri dari tiga kelas dengan jumlah siswa sebanyak 128 siswa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari dua kelas yaitu kelas XI IS 1 dan XI IS 2 yang berjumlah 80 siswa dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan angket, yaitu tes kemampuan numerik dan tes kemampuan logika abstrak serta angket untuk aktivitas belajar matematika siswa.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. Sebagai persyaratan analisis data dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dengan menggunakan metode Lilliefors, diperoleh sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal karena harga semua Lobs bukan merupakan anggota daerah kritik. Uji homogenitas dengan menggunakan metode Bartlett, diperoleh sampel berasal dari populasi yang homogen karena semua harga c2obs bukan merupakan anggota daerah kritik.

Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

  1. Terdapat pengaruh yang signifikan kemampuan numerik terhadap prestasi belajar matematika (FA = 5.18 > 3.15=F0.05,2,62),
  2. Terdapat pengaruh yang signifikan kemampuan logika abstrak terhadap prestasi belajar matematika (FB = 12.45 > 3.15=F0.05,2,62),
  3. Terdapat pengaruh yang signifikan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika (FC = 35.05 > 4.00=F0.05,1,62),
  4. Tidak terdapat interaksi antara kemampuan numerik dan kemampuan logika abstrak terhadap prestasi belajar matematika (FAB = 0.73 < 2.52=F0.05,4,62),
  5. Tidak terdapat interaksi antara kemampuan numerik dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika (FAC = 0.89 < 3.15=F0.05,2,62),
  6. Terdapat interaksi antara kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika (FBC = 5.28 > 3.15=F0.05,2,62),
  7. Tidak terdapat interaksi antara kemampuan numerik, kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika (FABC = 0.29 < 2.52=F0.05,4,62).

Dari hasil uji komparasi ganda dapat disimpulkan bahwa:

  1. kemampuan numerik tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan numerik rendah (F1..-3..=7.34 > 6.30=2F0.05,2,62) dan kemampuan numerik sedang menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan numerik rendah (F2..-3..=6.86 > 6.30=2F0.05,2,62 ),
  2. kemampuan logika abstrak tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan logika abstrak rendah (F.1.-.3.=17.53 > 6.30 = 2F0.05,2,62)
  3. aktivitas belajar matematika yang mendukung menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung
  4. untuk siswa yang mempunyai aktivitas belajar matematika yang mendukung: siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampua logika abstrak sedang (F11-21=19.04 > 11.837=5F0.05,5,62) dan siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampua logika abstrak rendah (F11-31=19.68 > 11.837 = 5F0.05,5,62);
  5. untuk siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak tinggi, siswa yang memiliki aktivitas belajar matematika yang mendukung menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung (F11-12=32.87 > 11.837=5F0.05,5,62);
  6. untuk siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak tinggi dan aktivitas belajar matematika yang mendukung menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak sedang dan aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung (F11-22=27.61 > 11.837=5F0.05,5,62) dan juga menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak rendah dan aktivitas belajar matematika tidak mendukung (F11-32=55.92 > 11.837=5F0.05,5,62);
  7. untuk siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak sedang dan aktivitas belajar matematika yang mendukung menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak rendah dan aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung (F21-32=13.15 > 11.837=5F0.05,5,62).

Metode Pembelajaran Peta Konsep dlm Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika

Judul Skripsi : Efektivitas Metode Pembelajaran Peta Konsep dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Kreativitas Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri di Kota Palangka Raya

A. Latar Belakang Masalah 

Peta konsep memperlihatkan bagaimana konsep-konsep saling terkait. Untuk menyusun peta konsep diperlukan konsep-konsep dan kata-kata yang menghubungkan konsep-konsep menjadi proposisi yang bermakna. Metode peta konsep melatih siswa untuk membuat peta konsep sendiri. Untuk menghasilkan peta konsep, siswa tidak hanya sekedar membaca dan menghafal, tetapi juga berusaha untuk menemukan hubungan yang ada dalam materi yang sedang dipelajari.

Rendahnya prestasi belajar matematika siswa mungkin tidak hanya dipengaruhi oleh metode mengajar, tetapi mungkin dipengaruhi oleh kreativitas siswa dalam mempelajari mata pelajaran matematika. Tingginya kreativitas siswa mungkin dapat berakibat pada tingginya prestasi belajar matematika, begitu pula sebaliknya kreativitas siswa yang rendah dimungkinkan dapat berakibat pada rendahnya prestasi belajar matematika siswa.

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

  1. Apakah siswa yang diajarkan dengan metode peta konsep mempunyai prestasi belajar lebih baik dari siswa yang diajarkan dengan metode konvensional.
  2. Apakah siswa dengan kreativitas tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik dari siswa dengan kreativitas sedang dan kreativitas rendah; dan apakah siswa dengan kreativitas sedang mempunyai prestasi belajar lebih baik dari siswa dengan kreativitas rendah.

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui lebih baik tidaknya prestasi belajar matematika antara siswa yang diajarkan dengan metode peta konsep dan metode konvensional.
  2. Mengetahui lebih baik tidaknya prestasi belajar matematika antara siswa yang mempunyai kreativitas tinggi dibandingkan dengan siswa yang mempunyai kreativitas sedang dan kreativitas rendah; serta prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas sedang dibandingkan dengan siswa yang mempunyai kreativitas rendah.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

1. Prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan metode peta konsep lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan metode konvensional.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas sedang dan kreativitas rendah, prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas rendah.

 

E. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi hasil penelitian di atas maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut:

1. Kepada Guru Matematika

Kepada guru matematika disarankan agar pada materi pokok rumus-rumus trigonometri, pembelajaran dengan menggunakan metode peta konsep dapat dijadikan salah satu alternatif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

2. Kepada Siswa

Sudah saatnya para siswa sadar akan pentingnya prestasi belajar dan menyadari benar bahwa prestasi belajar akan dicapai secara optimal apabila siswa sendiri yang mengupayakan. Upaya mendasar yang paling tepat adalah meningkatkan kreativitas dalam belajar dan dalam mengikuti proses pembelajaran.

Incoming search terms: