Tesis Manajemen: Pengaruh Kebijakan Moneter trhdp Pertumbuhan Ekonomi

Judul Tesis : Pengaruh Kebijakan Moneter terhadap Pertumbuhan Ekonomi Pasca Krisis di Indonesia (Januari 1999 – Desember 2003)

 

A. Latar Belakang Tesis

Penurunan nilai tukar rupiah yang tajam disertai dengan terputusnya akses ke sumber dana luar negeri menyebabkan turunnya kegiatan produksi secara drastis sebagai akibat tingginya ketergantungan produsen domestik pada barang dan jasa impor. Para pengusaha mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban luar negeri yang segera harus dipenuhinya.

Untuk mengatasi dampak krisis, yang dapat dilakukan segera adalah melakukan restrukturisasi perbankan. Rangkaian kebijakan tersebut diharapkan dapat kembali membangun kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap sistem keuangan dan perekonomian kita, mengupayakan agar perbankan kita menjadi lebih solvable sehingga dapat kembali berfungsi sebagai lembaga perantara yang mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sekaligus meningkatkan efektifitas pelaksanaan kebijakan moneter.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi?
  2. Bagaimana pengaruh kurs terhadap pertumbuhan ekonomi?
  3. Bagaimana pengaruh tingkat suku bunga SBI terhadap pertumbuhan ekonomi?

 

C. Landasan Teori

Pengertian Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter merupakan kebijakan otoritas moneter atau bank sentral dalam bentuk pengendalian besaran moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan. Dalam praktek, perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan tersebut adalah stabilitas ekonomi makro yang antara lain dicerminkan oleh stabilitas harga (rendahnya laju inflasi), membaiknya perkembangan output riil (pertumbuhan ekonomi), serta cukup luasnya lapangan/kesempatan kerja yang tersedia.

Kurs Atau Nilai Tukar

Kebijaksanaan nilai tukar di Indonesia diarahkan untuk memelihara stabilitas neraca pembayaran dengan cara mempertahankan dan memperbaiki tingkat daya saing ekonomi nasional dengan senatiasa memelihara stabilitas pasar financial domestik serta memperhatikan perkembangan pasar international. Nilai tukar adalah merupakan harga didalam pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, maka akan terdapat perbandingan nilai/harga antara kedua mata uang tersebut. Perbandingan inilah yang sering disebut dengan kurs (exchange rate) (Nopirin, 1994:163).

Jumlah Uang Beredar Atau Jub

Uang yang beredar adalah seluruh uang kartal ditambah uang giral yang tersedia dan digunakan oleh masyarakat. Uang kartal adalah uang tunai yang dikeluarkan pemerintah atau bank sentral yang langsung dibawah kekuasaan masyarakat umum untuk menggunakannya. Sedangkan uang giral adalah seluruh nilai saldo rekening koran (giro) yang dimiliki masyarakat pada bank-bank umum (Boediono, 1993 : 86).

 

D. Metode Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif dengan mengambil data sekunder.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.

Dalam penelitian ini data yang akan digunakan adalah data time series yang merupakan data sekunder.

Seluruh data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang berbentuk time series.

Penelitian ini akan menggunakan model analisis Error Corection Model (ECM) atau model koreksi kesalahan untuk menganalisis pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen.

 

E. Kesimpulan

Hasil uji model koreksi kesalahan

  1. Berdasarkan hasil analisis koefisien dari variabel inflasi dalam jangka panjang mempunyai tanda positif dan tidak signifikan yang berarti tidak sesuai dengan hipotesis. Kondisi ini disebabkan karena dengan peningkatan laju inflasi maka harga barang akan meningkat. Hal ini mendorong produsen untuk memproduksi barang lebih banyak sehingga permintaan akan faktor produksi meningkat. Peningkatan faktor produksi ini berarti penyerapan tenaga kerja Hal ini akan berpengaruh pada pendapatan perkapita yang kemudian akan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Sedangkan untuk koefisien variabel inflasi jangka pendek negatif  dan signifikan menunjukkan hasil yang sesuai dengan hipotesis yang diajukan diawal penelitian.
  2. Berdasarkan hasil analisis variabel Kurs dalam jangka pendek maupun jangka panjang memiliki tanda koefisien negatif dan signifikan. Hal ini berarti sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan di awal penelitian, dimana kurs mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
  3. Berdasarkan hasil analisis variabel JUB dalam jangka pendek mempunyai tanda negatif dan tidak signifikan yang berarti sesuai dengan hipotesis di awal penelitian. Sedangkan dalam jangka panjang memiliki tanda koefisien positif dan signifikan. Hal ini berarti tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan diawal penelitian. Hal ini disebabkan dengan peningkatan JUB maka masyarakat akan mengalokasikan sebagian dananya untuk konsumsi sehingga mendorong produsen untuk memproduksi barang lebih banyak sehingga permintaan akan faktor produksi meningkat. Peningkatan faktor produksi ini berarti penyerapan tenaga kerja meningkat. Hal ini akan berpengaruh pada pendapatan perkapita yang kemudian akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Contoh Tesis Manajemen

  1. Pengaruh Kebijakan Moneter terhadap Pertumbuhan Ekonomi Pasca Krisis di Indonesia
  2. Analisis Hubungan Gaya Kepemimpinan Transformasional, Fungsi Mentoring, dan Stres Kerja (Studi pada PT. Danliris Sukoharjo)
  3. Penerapan Bauran Promosi ( Promotional Mix ) Dalam Usaha Meningkatkan Jumlah Pelanggan Kartu Flexi pada PT. Telkom Kandatel Solo
  4. Strategi Promosi PT. Telkom Kandatel Solo Dalam Meningkatkan Volume
  5. Peranan Public Relations dalam Memberikan Pelayanan Prima di Pt. Telkom

Tesis Manajemen: Pengaruh Kebijakan Moneter trhdp Pertumbuhan Ekonomi

Judul Tesis : Pengaruh Kebijakan Moneter terhadap Pertumbuhan Ekonomi Pasca Krisis di Indonesia (Januari 1999 – Desember 2003)

 

A. Latar Belakang

Krisis ekonomi dan moneter yang dialami Indonesia telah memberikan pelajaran berharga pada peran yang seharusnya dilakukan oleh Bank Sentral dalam perekonomian dan status kelembagaanya dalam suatu negara. Pembangunan ekonomi yang telah berlangsung cukup lama di Indonesia menuntut berbagai prasyarat untuk mencapai keberhasilannya. Salah satunya adalah keterlibatan sektor moneter dan perbankan, yang merupakan salah satu unsur penting dalam proses pembangunan tersebut. Disatu sisi hal ini dapat dipahami mengingat sektor moneter dan perbankan memang mempunyai fungsi yang mampu memberi pelayanan pada bekerjanya sektor riil, baik kegiatan investasi, produksi, distribusi maupun konsumsi.

Oleh karena itu, pembahasan maupun perumusan kebijakan moneter perbankan harus senantiasa ditempatkan pada konteksnya sebagai bagian dari kebijakan ekonomi nasional. Pemahaman ini menjadi semakin penting dalam kaitannya dengan arah kebijakan nasional kita dewasa ini yang diarahkan pada upaya pemulihan ekonomi pasca krisis dengan menitikberatkan pada program stabilisasi dan reformasi ekonomi.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi?
  2. Bagaimana pengaruh kurs terhadap pertumbuhan ekonomi?
  3. Bagaimana pengaruh tingkat suku bunga SBI terhadap pertumbuhan ekonomi?

 

C. Landasan Teori

Pengertian Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter merupakan kebijakan otoritas moneter atau bank sentral dalam bentuk pengendalian besaran moneter untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan. Dalam praktek, perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan tersebut adalah stabilitas ekonomi makro yang antara lain dicerminkan oleh stabilitas harga (rendahnya laju inflasi), membaiknya perkembangan output riil (pertumbuhan ekonomi), serta cukup luasnya lapangan/kesempatan kerja yang tersedia.

Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator yang amat penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Karena pada dasarnya aktivitas perekonomian adalah suatu proses penggunaan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan output, maka proses ini pada gilirannya akan menghasilkan suatu aliran balas jasa terhadap faktor produksi yang dimiliki oleh masyarakat.

Pengertian Inflasi

Nopirin mengemukakan bahwa inflasi merupakan proses kenaikan harga barang-barang secara umum yang berlaku terusmenerus (Nopirin, 1992 : 25). Ini tidak berarti bahwa harga berbagai macam barang itu naik dengan persentase yang sama. Mungkin dapat terjadi kenaikan harga umum barang secara terus-menerus selama periode tertentu. kenaikan yang terjadi hanya sekali saja (meskipun dengan persentase yang cukup besar) bukan merupakan inflasi.

 

D. Metode Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan bulanan Bank Indonesia, laporan tahunan BPS, data lain yang bersumber dari referensi studi kepustakaan melalui makalah, jurnal, artikel dan bahan lain dari berbagai situs website yang mendukung.

 

E. Kesimpulan Tesis

  1. Hasil uji model koreksi kesalahan
  2. Berdasarkan hasil analisis koefisien dari variabel inflasi dalam jangka panjang mempunyai tanda positif dan tidak signifikan yang berarti tidak sesuai dengan hipotesis. Kondisi ini disebabkan karena dengan peningkatan laju inflasi maka harga barang akan meningkat. Hal ini mendorong produsen untuk memproduksi barang lebih banyak sehingga permintaan akan faktor produksi meningkat. Peningkatan faktor produksi ini berarti penyerapan tenaga kerja meningkat. Hal ini akan berpengaruh pada pendapatan perkapita yang kemudian akan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Sedangkan untuk koefisien variabel inflasi jangka pendek negatif dan signifikan menunjukkan hasil yang sesuai dengan hipotesis yang diajukan diawal penelitian.
  3. Berdasarkan hasil analisis variabel Kurs dalam jangka pendek maupun jangka panjang memiliki tanda koefisien negatif dan signifikan. Hal ini berarti sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan di awal penelitian, dimana kurs mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
  4. Berdasarkan hasil analisis variabel JUB dalam jangka pendek mempunyai tanda negatif dan tidak signifikan yang berarti sesuai dengan hipotesis di awal penelitian. Sedangkan dalam jangka panjang memiliki tanda koefisien positif dan signifikan. Hal ini berarti tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan diawal penelitian. Hal ini disebabkan dengan peningkatan JUB maka masyarakat akan mengalokasikan sebagian dananya untuk konsumsi sehingga mendorong produsen untuk memproduksi barang lebih banyak sehingga permintaan akan faktor produksi meningkat. Peningkatan faktor produksi ini berarti penyerapan tenaga kerja meningkat. Hal ini akan berpengaruh pada pendapatan perkapita yang kemudian akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

 

Contoh Tesis Manajemen

  1. Pengaruh Sistem Bagi Hasil terhadap Keputusan Nasabah Membeli Produk Bank
  2. Analisis Anggaran Biaya sebagai Alat Pengendalian Manajemen pada Kantor
  3. Analisis Hubungan Kondisi Kerja dan Persepsi Upah terhadap Persepsi Produktivitas
  4. Pengaruh Kebijakan Moneter terhadap Pertumbuhan Ekonomi Pasca Krisis Di Indonesia
  5. Analisis Hubungan Gaya Kepemimpinan Transformasional, Fungsi Mentoring, dan Stres Kerja (Studi Pada Pt. Danliris Sukoharjo)

 

Analisis Faktor-Faktor yg Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

Judul Skripsi : Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Ngawi

 

A. Latar Belakang  Masalah

Pengeluaran pembiayaan Anggaran Pembangunan Belanja Daerah di kabupaten Ngawi sebagai upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. Pembiayaan tersebut berupa pengeluaran pemerintah daerah baik rutin maupun pembangunan. Peningkatan pengeluaran pemerintah diharapkan kemampuan dalam menciptakan sarana dan prasarana pembangunan yang meningkat dan pada akhirnya akan mendorong aggregate demand juga akan meningkat, sehingga dapat merangsang kegiatan produksi daerah, yang selanjutnya dapat meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi.

Pengeluaran pemerintah daerah terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Pada umumnya, baik pengeluaran pembangunan maupun pengeluaran rutin selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan semakin meningkatnya kebutuhan untuk pembangunan di daerah tersebut. Namun pertumbuhan pengeluaran pemerintah baik pengeluaran pembangunan maupun pengeluaran rutin mengalami pertumbuhan yang berbeda. Pengeluaran pemerintah merupakan salah satu objek penelitian yang banyak menarik minat dari para peneliti, hal ini tercermin dari banyaknya teori teori yang membahas dan mengkaji tentang pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi. Penelitian tentang sejauhmana pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi telah banyak dilakukan baik secara internasional maupun nasional bahkan regional, berdasarkan latar belakang dan uraian di atas study ini berjudul : ”Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Ngawi”.

 

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka dapat dirumuskan beberapa masalah, yaitu :

  1. Apakah pengeluaran belanja aparatur (belanja tidak langsung) pemerintah daerah berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Ngawi?
  2. Apakah pengeluaran belanja pengeluaran pelayanan publik (belanja langsung) pemerintah daerah berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Ngawi?
  3. Apakah pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi tahun berjalan di Kabupaten Ngawi?

 

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini secara umum adalah :

  1. Menganalisa pengaruh pengeluaran belanja aparatur (belanja tidak langsung) pemerintah daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Ngawi.
  2. Menganalisa pengaruh pengeluaran belanja pengeluaran pelayanan publik (belanja langsung) pemerintah daerah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Ngawi.
  3. Menganalisa pengaruh pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya terhadap pertumbuhan ekonomi tahun berjalan di Kabupaten Ngawi.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan kajian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Pengeluaran belanja aparatur (belanja tidak langsung) pemerintah daerah tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Ngawi.
  2. Pengeluaran belanja pengeluaran pelayanan publik (belanja langsung) pemerintah daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Ngawi.
  3. Pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi tahun berjalan di Kabupaten Ngawi.

 

E. Saran

Dari hasil analisis yang dilakukan maka saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut :

  1. Pengeluaran belanja aparatur terbukti tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten ngawi. Oleh karena itu perlu dikaji efektifitas pemberian Anggaran belanja aparatur ini atau dikurangi untuk dialihkan pada belanja yang lain.
  2. Pengeluaran belanja pengeluaran pelayanan publik terbukti berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Ngawi. Hal ini membuktikan pengeluaran belanja pelayanan publik benar-benar dimanfaatkan oleh publik untuk lebih membangun ekonominya sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah Kabupaten Ngawi. Oleh karena itu sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan alokasi anggaran pengeluaran belanja pelayanan publik ini demi terciptanya ekonomi Kabupaten Ngawi yang lebih baik.

Skripsi Ekonomi: Faktor Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi DIY

Judul Skripsi : Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi DIY Tahun 1990-2004

 

A. Latar Belakang

Penerimaan investasi dalam negeri maupun investasi asing merupakan salah satu pos penerimaan negara yang memberikan kontribusi cukup potensial dalam hal pembiayaan anggaran dan belanja negara. Laju pertumbuhan perekonomian yang didasarkan pada alur investasi positif menggambarkan gerak pacu positif dengan dukungan beberapa faktor penunjang lainnya. Pertumbuhan ekonomi dan hubungannya dengan keberlanjutan pembangunan diketahui bahwa peningkatan output sektor-sektor ekonomi riil dapat dibentuk melalui mekanisme pertambahan kapasitas produksi.

Dalam suatu pembangunan sudah pasti diharapkan terjadinya pertumbuhan. Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan sarana dan prasarana, terutama dukungan dana yang memadai. Disinilah peran serta investasi mempunyai cakupan yang cukup penting karena sesuai dengan fungsinya sebagai penyokong pembangunan dan pertumbuhan nasional melalui pos penerimaan negara sedangkan tujuannya adalah untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah penanaman modal dalam negeri (PMDN) DIY berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi DIY ?
  2. Apakah Ekspor berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi DIY ?
  3. Apakah Pariwisata berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi DIY ?

 

C. Landasan Teori

Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Prof. Simon Kuznets, mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai ”kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak jenis barang-barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, dan penyesuaian kelembagaan dan idiologis yang diperlukannya. Definisi ini mempunyai 3 (tiga) komponen: pertama, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa terlihat dari meningkatnya secara terus-menerus persediaan barang; kedua, teknologi maju merupakan faktor dalam pertumbuhan ekonomi yang menentukan derajat pertumbuhan kemampuan dalam penyediaan aneka macam barang kepada penduduk; ketiga, penggunaan teknologi secara luas dan efisien memerlukan adanya penyesuaian di bidang kelembagaan dan idiologi sehingga inovasi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan umat manusia dapat dimanfaatkan secara tepat (Jhingan, 2000:57).

Teori Investasi

Investasi adalah penambahan barang modal secara netto yang positif. Investasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu investasi riil dan investasi finansial. Yang dimaksud dengan investasi riil adalah investasi terhadap barang-barang tahan lama (barang-barang modal) yang akan digunakan dalam proses produksi. Sedangkan investasi finansial adalah investasi terhadap surat-surat berharga, misalnya pembelian saham, obligasi, dan surat bukti hutang lainnya.

 

Ekspor

Kegiatan ekspor adalah sistem perdagangan dengan cara mengeluarkan barang-barang dari dalam negeri keluar wilayah pabean Indonesia dengan memenuhi ketentuan yang berlaku. Ekspor merupakan total barang dan jasa yang dijual oleh sebuah negara ke negara lain, termasuk diantara barang-barang, asuransi, dan jasa-jasa pada suatu tahun tertentu (Sasandara, 2005).

 

D. Metode Penelitian

Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari satu variabel terikat yaitu Pertumbuhan Ekonomi dan empat variabel bebas yaitu Penanaman Modal Dalam Negeri, Ekspor, Pariwisata dan Jumlah Perusahaan Disektor Industri. Data sekunder ini bersumber dari Badan Pusat Statistik dan Dinas Pariwisata DIY.

Analisis data yang dilakukan dengan Metode Regresi Kuadrat Terkecil/OLS (ordinary least square), dengan fungsi Produk Domestik Regional Bruto = f (PMDN, Ekspor, Pariwisata dan Jumlah Perusahaan Disektor Industri).

Pemilihan model regresi ini menggunakan uji Mackinnon, White and Davidson (MWD) yang bertujuan untuk menentukan apakah model yang akan di gunakan berbentuk linier atau log linier.

E. Kesimpulan

  1. Hasil pengujian secara individual menunjukkan bahwa variabel pariwisata berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  2. Hasil pengujian secara individual menunjukkan bahwa variabel jumlah perusahaan disektor industri berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  3. Hasil pengujian secara bersama-sama menunjukkan bahwa variabel Penanaman Modal Dalam Negeri, Ekspor, Pariwisata dan Jumlah Perusahaan Disektor Industri signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Contoh Skripsi Ekonomi

  1. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Konsumen Terhadap Listrik Pad
  2. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang Di Indonesia Sebelum Dan Setelah Krisis Moneter (1990 : 1 – 2005 : 4)
  3. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Diy Tahun 1990-2004
  4. Analisis Hubungan Antara Profesionalisme Auditor dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas dalam Proses Pengauditan Laporan Keuangan di Jogjakarta
  5. Analisis Hubungan Set Kesempatan Investasi dengan Pendanaan Perusahaan dan Kebijakan Deviden pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEJ

 

Incoming search terms:

Skripsi Ekonomi: Analisis Faktor-Faktor yg Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

Judul : Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi DIY Tahun 1990-2004

 

A. Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi mencerminkan kegiatan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat bernilai positif dan dapat pula bernilai negatif. Jika pada suatu periode perekonomian mengalami pertumbuhan positif, berarti kegiatan ekonomi pada periode tersebut mengalami peningkatan. Sedangkan jika pada suatu periode perekonomian mengalami pertumbuhan negatif, berarti kegiatan ekonomi pada periode tersebut mengalami penurunan.

Pertumbuhan ekonomi merupakan kunci dari tujuan ekonomi makro. Hal ini didasari oleh tiga alasan. Pertama, penduduk selalu bertambah. Bertambahnya jumlah penduduk ini berarti angkatan kerja juga selalu bertambah. Pertumbuhan ekonomi akan mampu menyediakan lapangan kerja bagi angkatan kerja. Jika pertumbuhan ekonomi yang mampu diciptakan lebih kecil daripada pertumbuhan angkatan kerja, hal ini mendorong terjadinya pengangguran. Kedua, selama keinginan dan kebutuhan selalu tidak terbatas, perekonomian harus selalu mampu memproduksi lebih banyak barang dan jasa untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan tersebut. Ketiga, usaha menciptakan kemerataan ekonomi (economic stability) melalui retribusi pendapatan (income redistribution) akan lebih mudah dicapai dalam periode pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah penanaman modal dalam negeri (PMDN) DIY berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi DIY ?
  2. Apakah Ekspor berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi DIY ?

 

C. Tinjauan Pustaka

Teori Investasi

Investasi adalah penambahan barang modal secara netto yang positif.  Investasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu investasi riil dan investasi finansial. Yang dimaksud dengan investasi riil adalah investasi terhadap barang-barang tahan lama (barang-barang modal) yang akan digunakan dalam proses produksi. Sedangkan investasi finansial adalah investasi terhadap surat-surat berharga, misalnya pembelian saham, obligasi, dan surat bukti hutang lainnya.

 

Pengaruh Pariwisata terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Kepariwisataan adalah suatu lingkup usaha yang terdiri atas ratusan komponen usaha, sebagiannya besar sekali, tetapi sebagian besar usaha kecil, termasuk di dalamnya angkutan udara, kapal-kapal pesiar (cruise), kereta api, agen-agen penyewaan mobil, pengusaha tour dan biro perjalanan, penginapan, restoran dan pusat-pusat konvensi. Pariwisata mempunyai hubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi, artinya ketika pariwisata mengalami kenaikan maka pertumbuhan ekonomi juga mengalami kenaikan dan sebaliknya apabila pariwisata mengalami penurunan maka pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan.

 

Pengaruh Ekspor terhadap Pertumbuhan ekonomi

Ekspor mempunyai hubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi, artinya ketika ekspor mengalami kenaikan maka pertumbuhan ekonomi juga mengalami kenaikan dan sebaliknya apabila ekspor mengalami penurunan maka pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan.

 

D. Metodelogi Penelitian

Data yang digunakan adalah data sekunder.

Definisi Variable pada penelitian ini yaitu pertumbuhan ekonomi, penanaman modal dalam negeri, jumlah perusahaan disektor industry.

Analisis data yang dilakukan dengan Metode Regresi Kuadrat Terkecil/OLS.

Penaksir-penaksir yang bersifat BLUE (best liniar unbiased estimator) yang diperoleh dari penaksir liniar kuadrat terkecil (ordinary least square) maka harus memenuhi seluruh asumsi-asumsi klasik.

 

E. Kesimpulan

  1. Hasil pengujian secara individual menunjukkan bahwa variabel pariwisata berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  2. Hasil pengujian secara individual menunjukkan bahwa variabel jumlah perusahaan disektor industri berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Contoh Skripsi Ekonomi

  1. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Uang di Indonesia  Sebelum dan Setelah Krisis Moneter
  2. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi DIY Tahun 1990-2004
  3. Analisis Hubungan Antara Profesionalisme Auditor dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas dalam proses Pengauditan Laporan Keuangan di Jogjakarta
  4. Analisis Hubungan Set Kesempatan Investasi dengan Pendanaan Perusahaan dan Kebijakan Deviden Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEJ
  5. Analisis Pendapatan Pengusaha Ayam Potong (Studi Kasus Kota Jakarta Selatan)

Tesis Analisa Pertumbuhan Ekonomi: Studi Pro Poor Growth di Provinsi Kalimantan Tengah

Judul Tesis : Analisa Keterkaitan Pertumbuhan Ekonomi, Ketimpangan Pendapatan dan Pengurangan Kemiskinan : Studi Pro Poor Growth di Provinsi Kalimantan Tengah

 

A. Latar Belakang

Pengurangan kemiskinan merupakan salah satu target pencapaian dalam proses pembangunan ekonomi baik di tingkat nasional maupun regional. Kakwani et al. (2004) menyatakan bahwa tujuan terpenting dari pembangunan adalah pengurangan kemiskinan yang dapat dicapai melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan atau dengan distribusi pendapatan yang lebih merata. Dengan kata lain, penduduk miskin lebih banyak menerima manfaat pertumbuhan ekonomi dibanding penduduk tidak miskin dan ini berarti rata-rata pendapatan penduduk miskin meningkat lebih tinggi daripada penduduk tidak miskin. Hal ini akan berdampak semakin banyak penduduk miskin yang mengalami peningkatan pendapatan melampaui garis kemiskinan dan bergeser menjadi tidak miskin.

Kondisi seperti inilah yang diharapkan dalam proses pembangunan ekonomi yaitu pertumbuhan ekonomi yang terjadi dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan pendapatan atau bersifat pro poor growth. Bank Dunia mendefinisikan pro poor growth sebagai hubungan timbal balik antara tiga unsur: pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Tingkat kemiskinan tidak hanya dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi tetapi juga dipengaruhi oleh level dan perubahan ketimpangan distribusi pendapatan. Definisi Bank Dunia tentang pro poor growth ini diperkuat oleh Kakwani dan Pernia (2000) dan Son (2003) yang menuliskan pro poor growth ditandai dengan tingkat kemiskinan yang semakin berkurang dan distribusi pendapatan yang lebih merata. Pada prinsipnya pengurangan kemiskinan bergantung pada dua faktor yaitu pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan antara penduduk miskin dan kaya. Lain halnya dengan Ravallion (2004) yang mendefinisikan pro poor growth sebagai peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) yang menurunkan kemiskinan. Menurut definisi ini, maka pertumbuhan yang diikuti dengan penurunan kemiskinan termasuk pro poor growth meskipun tidak terjadi perbaikan distribusi pendapatan.

 

B. Rumusan Masalah Tesis

  1. Apakah pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah selama periode 2004-2010 sudah pro poor atau belum melalui metode Growth Incidence Curve (GIC)?
  2. Apakah pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah selama periode 2004-2010 sudah pro poor atau belum melalui metode Pro Poor Growth Index (PPGI)?
  3. Dari sembilan sektor ekonomi dalam pembangunan, sektor-sektor ekonomi manakah yang mempunyai pengaruh dalam pengurangan kemiskinan di Provinsi Kalimantan Tengah selama periode 2004-2010?

 

C. Tinjauan Pustaka

Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan

Distribusi pendapatan merupakan porsi pendapatan yang diperoleh setiap individu atau rumah tangga dalam suatu wilayah. Pendapatan tersebut tergantung pada tingkat produktivitas dan peranan individu atau rumah tangga dalam perekonomian. Ukuran yang sering dipakai dalam mengukur distribusi adalah distribusi ukuran pendapatan, kurva Lorenz dan Gini Ratio. Ketimpangan pendapatan terjadi jika sebagian besar penduduk mendapatkan pendapatan yang kecil dan sebagian kecil penduduk menerima pendapatan yang besar.

Pertumbuhan Ekonomi dan Pengurangan Kemiskinan

Tambunan (2009) menyatakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama atau suatu prasyarat keharusan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan (pengurangan kemiskinan). Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan (pengurangan kemiskinan) merupakan hal yang saling berkaitan. Keterkaitan keduanya menurut Todaro dan Smith (2006) dapat diidentifikasi sebagai berikut. Pertama, pendapat yang menuturkan bahwa pertumbuhan yang cepat akan berdampak buruk pada kaum miskin karena kaum miskin tersebut akan tergilas dan terpinggirkan oleh perubahan struktural pertumbuhan modern.

 

Pertumbuhan Ekonomi, Ketimpangan Pendapatan dan Pengurangan Kemiskinan

Pada pembahasan sebelumnya hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan pendapatan bisa berkorelasi positif (Wodon, 1999; Hidayat dan Patunru, 2007; Hajiji, 2010) dan bisa juga berkorelasi negatif (Ravallion dan Datt, 1996). Sedangkan pada bagian ini hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan pengurangan kemiskinan berkorelasi negatif, yang berarti semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka semakin berkurang tingkat kemiskinannya.

 

Pro Poor Growth

Pro poor growth menurut Asian Development Bank (ADB, 1999) adalah pertumbuhan ekonomi yang menyerap tenaga kerja dan dibarengi dengan kebijakankebijakan dan program-program yang mengurangi ketimpangan dan mendorong pendapatan serta partisipasi kerja kelompok miskin, khususnya perempuan dan kelompok terpinggirkan lainnya. Sedangkan Bank Dunia mendefinisikan pro poor growth sebagai perubahan distribusi pendapatan relatif melalui proses pertumbuhan yang berpihak pada kemiskinan.

 

D. Metode Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang berasal dari Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI) dan BPS Provinsi Kalimantan Tengah.

Data berasal dari pengeluaran per kapita yang diperoleh dari persentil hasil Susenas Tahun 2004 dan 2010, sumber BPS RI.

Identifikasi pro poor growth di Provinsi Kalimantan Tengah dilakukan melalui dua metode yaitu GIC dan PPGI.

 

E. Kesimpulan

Dalam pembahasan identifikasi pro poor growth melalui metode Pro Poor Growth Index (PPGI), pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai Provinsi Kalimantan Tengah selama tahun 2004-2010 telah bersifat pro poor growth yang di tandai dengan nilai PPGI sebesar 0,904. Hasil ini sesuai dengan temuan Hajiji (2010) yang meneliti pro poor growth di Provinsi Riau dengan menggunakan data PDRB dan Susenas tahun 2002-2008. Dimana dengan menggunakan metode yang sama (PPGI), Hajiji menyimpulkan pertumbuhan ekonomi yang dicapai Provinsi Riau selama tahun 2002-2008 telah pro poor growth, yang ditandai dengan hasil penghitungan PPGI yang menghasilkan angka indek 0,973.

 

Contoh Tesis Pertumbuhan Ekonomi

  1. Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kemiskinan di Provinsi Lampung = Analysis of Economic Growth On Poverty in Lampung Province
  2. Analisis Pengaruh Penerimaan Negara dari Sektor Pajak terhadap Pertumbuhan Ekonomi
  3. Analisis Pengaruh Pembangunan Infrastruktur terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional di Indonesia
  4. Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Ketidakmerataan Pendapatan dan Kemiskinan di Jawa Timur
  5. Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Ketidakmerataan Pendapatan dan Kemiskinan di Jawa Timur
  6. Analisis Pengaruh Perkembangan Perbankan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional di Indonesia (Metode Pendekatan Panel)FE-UI
  7. Analisis Disparitas Antar Daerah Kabupaten Kota dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional di Provinsi Banten
  8. Analisis Dampak Keterbukaan Ekonomi dan Stabilitas Makroekonomi Terhadap Pertumbuhan Total Faktor Productivity Indonesia
  9. Analisa Pengaruh Dana Perimbangan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Disparitas Pendapatan Daerah Pasca Penerapan Desentralisasi Fiscal di Indonesia
  10. Analisa Mengenai Peranan Stok Modal, Tenaga Kerja, dan Ekspor Dari Sektor Industri Manufaktur, Serta Impor Barang Modal dalam Pertumbuhan Ekonomi (Tahun 1971-2002)
  11. Analisa Keterkaitan Pertumbuhan Ekonomi, Ketimpangan Pendapatan dan Pengurangan Kemiskinan – Studi Pro Poor Growth di Provinsi Kalimantan Tengah

 

Analisis Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Sragen Tahun 2004-2009

Judul Skripsi : Analisis Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Sragen Tahun 2004-2009 (Studi Kasus di 20 Kecamatan Kabupaten Sragen)

 

A. Latar Belakang

Pertumbuhan perekonomian Kabupaten Sragen tercermin dari perubahan PDRB, yang memperlihatkan gerak cukup dinamis dari tahun ke tahun. Selama kurun waktu 5 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi selalu dapat dipertahankan pada angka positif, yaitu 4,93 – 5,69%. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Sragen atas dasar harga konstan pada tahun 2008 sebesar 2.729.450,33 juta rupiah dan atas dasar harga berlaku sebesar Rp 5.170.914,12 rupiah, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,69 persen. Sedangkan pendapatan perkapita pada tahun 2008 atas dasar harga berlaku Rp 5.945.205,84 dan atas dasar harga konstan sebesar Rp 3.138.157,71 sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar terhadap PDRB, pada tahun 2008 besaran andil yang diberikan atas dasar harga berlaku yaitu 35.11 % dan atas dasar harga konstan sebesar 34.01%. Sedangkan pada tahun2007 kontribusi yang diberikan atas dasar harga berlaku sebesar 35,59% dan atas dasar harga konstan sebasar 34,74%. Bila dilihat dari pertumbuhannya pada tahun 2007 sebesar 3,94% dan pada tahun 2008 turun menjadi 3,46%. Sektor-sektor yang mengalami pertumbuhan secara signifikan berturut-turut adalah sektor jasa-jasa, perdagangan dan listrik yang masing-masing yaitu 8,06%, 6,08% dan 67,77% di Tahun 2007 naik menjadi 8,50%, 6,46% dan 7,08%

Dari latar belakang permasalahan tersebut, penulis menyadari pentingnya pengembangan ekonomi lokal sebagai salah satu untuk mengurangi kesenjangan dengan memperkuat basis ekonomi wilayah sesuai dengan karakteristik wilayah (endogenous development) seperti yang terdapat dalam kebijakan kecamatan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Di dalam implemmentasinya maka perlu dilakukan evaluasi berdasarkan karakteristik wilayah dan program pengembangan kecamatan sebagai pusat pertumbuhan. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas maka penulis mangangkat topik dalam penelitian ini dengan judul “Analisis Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Sragen Tahun 2004-2009 (Studi Kasus di 20 Kecamatan Kabupaten Sragen)”.

 

B. Perumusan Masalah

Permasalahan pokok dalam penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah belum terkajinya kondisi kesejahteraan masyarakat di 20 kecamatan-kecamatan Kabupaten Sragen atas program/kegiatan yang selama ini telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Sragen. Berdasarkan masalah di atas, perumusan masalah yang ditanyakan dalam studi ini, adalah :

  1. Bagaimana klasifikasi struktur perekonomian di 20 Kecamatan Kabupaten Sragen berdasarkan tingkat pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita Kecamatan tahun 2004-2009
  2. Bagaimana tingkat ketimpangan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi di 20 Kecamatan Kabupaten Sragen tahun 2004-2009
  3. Sektor unggulan manakah yang harus dikembangkan sebagai penggerak perekonomian di 20 Kecamatan Kabupaten Sragen.

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini :

  1. Untuk mengklasifikasikan kecamatan berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan PDRB perkapita kecamatan di 20 Kecamatan Kabupaten Sragen tahun 2004-2009;
  2. Untuk menganalisis seberapa besar tingkat pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan pendapatan di 20 Kecamatan Kabupaten Sragen tahun 2004-2009;
  3. Mengidentifikasikan sektor unggulan yang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian di 20 Kecamatan Kabupaten Sragen dalam mendukung program Kecamatan sebagai Pusat Pertumbuhan.

 

D. Kesimpulan

1. Struktur Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Tipologi Klassen menunjukkan bahwa Kabupaten Sragen diklasifikasikan menjadi empat klasifikasi, yaitu daerah cepat maju dan cepat tumbuh (high growth dan high income).

2. Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi Antar Kecamatan Berdasarkan analisis Indeks Entropy Theil selama kurun waktu tahun 2004 – 2009.

 

Incoming search terms: