Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dgn Tipe TGT dan STAD pada Materi Kubus dan Balok

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Tipe TGT dan STAD pada Materi Kubus dan Balok Bagi Siswa SMP

 

A. Latar Belakang Masalah

Dalam proses pembelajaran, keaktifan para siswa juga perlu menjadi perhatian. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

Materi kubus dan balok merupakan materi yang berkaitan erat dengan benda-benda dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga penguasaan terhadap materi tersebut penting bagi peserta didik. Mengingat pentingnya kemampuan matematika pada materi kubus dan balok maka masalah rendahnya prestasi belajar matematika, kurang tepatnya model yang dipilih oleh guru dalam proses belajar mengajar, dan kurangnya aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar perlu diupayakan pemecahannya.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan Teams-Games-Tournaments (TGT) lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran Student Team Achievement Divisions (STAD) pada materi pokok kubus dan balok?
  2. Apakah siswa dengan aktivitas belajar tinggi mempunyai prestasi yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar sedang atau rendah dan apakah siswa dengan aktivitas belajar sedang mempunyai prestasi yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar rendah?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

  1. Untuk mengetahui apakah peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan Teams-Games-Tournaments (TGT) lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan menggunakan model Student Team Achievement Divisions (STAD) pada materi pokok kubus dan balok.
  2. Untuk mengetahui apakah siswa dengan aktivitas belajar tinggi mempunyai prestasi yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar sedang atau rendah dan apakah siswa dengan aktivitas belajar sedang mempunyai prestasi yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar rendah.

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan kubus dan balok dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournaments) sama dengan prestasi belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Acvievement Divisions).

2. Prestasi belajar siswa pada pokok bahasan kubus dan balok yang mempunyai aktivitas tinggi sama prestasinya dengan siswa yang mempunyai aktivitas sedang, siswa yang mempunyai aktivitas sedang prestasinya lebih baik dari pada siswa yang mempunyai aktivitas rendah dan siswa yang mempunyai aktivitas tinggi prestasinya lebih baik dari pada siswa yang mempunyai aktivitas rendah.

 

E. Saran

Guru

  • Sebaiknya guru menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT atau STAD untuk materi kubus dan balok.
  • Guru harus memperhatikan aktivitas peserta didik dalam merancang pembelajaran matematika.
  • Guru dapat mengembangkan model pembelajaran lain yang lebih menarik, kreatif dan inovatif.

Sekolah

  • Memberi kesempatan guru agar aktif dalam mengikuti kegiatankegiatan yang sifatnya menambah pengetahuan, baik itu dari materi maupun metode pembelajaran.
  • Menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam menunjang penyelenggaraan pembelajaran secara efektif.

Missouri Mathematics Project ( MMP ) yang Dimodifikasi pada Pembelajaran Matematika

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project ( MMP ) yang Dimodifikasi pada Pembelajaran Matematika

 

A. Latar Belakang Skripsi

Ada kebiasan sebagian peserta didik jika menjawab pertanyaan tidak memperhitungkan secara matang jawabannya tersebut. Sehingga dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika, karena jawaban yang diberikan cenderung salah. Tidak setiap guru mengetahui adanya pengaruh gaya kognitif ini. Untuk meningkatkan hasil belajar, guru perlu mengetahui tentang pengaruh ini. Ada beberapa tipe gaya kognitif antara lain gaya kognitif reflektif dan impulsif.

Kedua gaya ini menunjukkan cara cepat dan lambatnya peserta didik dalam menjawab pertanyaan. Ada peserta didik yang menjawab cepat tetapi salah, cepat tapi benar, lambat tapi salah dan ada yang menjawab lambat tapi benar. Jika guru mengetahui dan paham tentang gaya kognitif ini, diharapkan guru dapat menerapkan model pembelajaran yang tepat pada proses pembelajaran hubungannya dengan gaya kognitif yang dimiliki peserta didik.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah hasil belajar peserta didik yang diberi model Missouri Mathematics Project (MMP) yang dimodifikasi unsur-unsur Student Teams Achievement Divisions (STAD) lebih baik daripada peserta didik yang diberi model Missouri Mathematics Project (MMP) dan konvensional, dan apakah peserta didik yang diberi model Missouri Mathematics Project (MMP) lebih baik daripada peserta didik yang diberi model konvensional?
  2. Apakah hasil belajar peserta didik yang mempunyai gaya kognitif reflektif lebih baik daripada gaya impulsif?
  3. Manakah di antara model pembelajaran MMP yang dimodifikasi, MMP dan Konvensional yang menghasilkan hasil belajar yang lebih baik jika ditinjau dari gaya kognitif reflektif dan impulsif?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik yang diberi model Missouri Mathematics Project (MMP) yang dimodifikasi unsur-unsur Student Teams Achievement Divisions (STAD) lebih baik daripada peserta didik yang diberi model Missouri Mathematics Project (MMP) dan konvensional, dan peserta didik yang diberi model Missouri Mathematics Project (MMP) lebih baik daripada peserta didik yang diberi model konvensional.
  2. Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik yang mempunyai gaya kognitif reflektif lebih baik daripada peserta didik yang mempunyai gaya impulsif.
  3. Untuk mengetahui di antara model pembelajaran MMP yang dimodifikasi, MMP dan Konvensional yang menghasilkan hasil belajar yang lebih baik jika ditinjau dari gaya kognitif reflektif- impulsif.

 

D. Kesimpulan

1. Model pembelajaran MMP modifikasi menghasilkan belajar matematika peserta didik yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran MMP dan konvensional, dan juga model pembelajaran MMP menghasilkan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan model konvensional.

2. Hasil belajar matematika peserta didik yang mempunyai gaya kognitif tipe reflektif lebih baik dari gaya kognitif tipe impulsif.

3. Pada pembelajaran dengan model MMP modifikasi, peserta didik bergaya reflektif hasil belajarnya lebih baik yang bergaya impulsif. Demikian juga untuk pembelajaran dengan model MMP. Sedangkan untuk pembelajaran konvensional, peserta didik yang bergaya reflektif hasil belajarnya sama dengan impulsif. Pada peserta didik bergaya reflektif, model pembelajaran MMP modifikasi dan MMP hasil belajarnya sama, model MMP modifikasi hasil belajarnya lebih baik daripada yang konvensional sedangkan model MMP hasil belajarnya lebih baik daripada yang konvensional. Pada peserta didik bergaya impulsif, pembelajaran dengan MMP modifikasi, MMP maupun konvensional hasil belajarnya sama.

Pembelajaran Matematika Menggunakan Pendekatan Quantum Learning dan Pendekatan CTL

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Matematika Menggunakan Pendekatan Quantum Learning dan Pendekatan CTL

 

A. Latar Belakang

Adanya pengajaran pada materi statistika yang menyajikan rumus demi rumus dalam bentuk akhir menyebabkan peserta didik semakin merasa bingung darimana rumus tersebut diperoleh, selain itu penyajian materi dalam bentuk akhir tanpa proses penemuan akan menyebabkan peserta didik mudah lupa. Walaupun kemampuan peserta didik berbeda-beda, tetapi yang harus diyakini setiap guru adalah bahwa setiap peserta didik mempunyai potensi untuk kreatif. Tinggal bagaimana seorang guru dapat menimbulkan semangat belajar  peserta didik, sehingga potensi kreatifnya akan muncul. Pengalaman yang diperoleh peserta didik saat belajar sangat penting bagi kehidupannya.

Dengan mengalami sendiri apa yang ia pelajari, hasilnya akan bermakna mendalam dan tahan lama dengan kata lain agar peserta didik dapat menangkap makna belajar, ia harus membangun sendiri makna itu. Karena itu digunaka pendekatan pembelajaran Quantum Learning dan pendekatan pembelajaran Contextual Learning and Teaching, dan penekanan kreativitas peserta didik selama prosese belajar mengajar. Peserta didik yang cerdas dapat membantu temannya yang lamban. Mengingat pentingnya kreativitas peserta didik dalam memahami materi dalam kegiatan belajar mengajar, maka guru diharapkan dapat menciptakan suasana belajar mengajar yang dapat menumbuhkan kreativitas peserta didik, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah pembelajaran matematika pada pokok bahasan statistika dengan pendekatan Quantum Learning dengan metode Discovery menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan pendekatan Contextual Teaching and Learning pada pokok bahasan statistika peserta didik SMA kelas XI IPA semester I ?
  2. Apakah peserta didik dengan kreativitas tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik dibandingkan dengan peserta didik dengan kreativitas sedang dan rendah, peserta didik dengan kreativitas sedang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik dengan kreativitas rendah ?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika pada pokok bahasan statistika dengan pendekatan Quantum Learning dengan metode Discovery menghasilkan prestasi belajar yang berbeda dibandingkan pendekatan CTL terhadap pokok bahasan statistika peserta didik SMA kelas XI IPA semester I.
  2. Untuk mengetahui apakah peserta didik dengan kreativitas tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik dibandingkan dengan kretivitas sedang dan rendah, peserta didik dengan kreativitas sedang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik dengan kreativitas rendah.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Quantum Learning dengan metode Discovery memperoleh prestasi yang lebih baik daripada peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning.

2. Peserta didik dengan kreativitas tinggi, sedang, maupun rendah memiliki prestasi yang sama

3. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan kreativitas terhadap prestasi belajar matematika peserta didik pada pokok bahasan statistika. Hal ini berarti :

4. Peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Quantum Learning dengan metode Discovery memperoleh prestasi yang lebih baik daripada peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan CTL baik untuk peserta didik dengan kreativitas tinggi, sedang maupun rendah.

5. Peserta didik dengan kreativitas tinggi, sedang, maupun rendah memiliki prestasi yang sama baik untuk peserta didik yang mengikuti pembelajaran pendekatan Quantum Learning dengan metode Discovery maupun pendekatan pembelajaran CTL

Matematika Melalui Pendekatan Realistics Mathematics Education (RME) dgn Pemecahan Masalah

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Realistics Mathematics Education (RME) dengan Pemecahan Masalah dan Pendekatan Realistics Mathematics Education (RME) Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa

A. Latar Belakang

RME dengan pemecahan masalah sebagai salah satu pendekatan baru dalam pembelajan matematika, juga mengajak siswa mematisasi kontekstual yaitu kegiatan pola pikir siswa yang dikembangkan dari hal-hal yang bersifat konkrit menuju hal-hal abstrak. Pembelajaran matematika dengan model realistik dengan pemecahan masalah pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang dipahami siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika yang lebih baik dari masa lalu. Realita yang dimaksud adalah hal-hal yang nyata atau konkrit yang dapat diamati dan dipahami siswa dengan membayangkan, sedangkan lingkungan adalah tempat dimana siswa berada (Soedjadi, 2003 :108).

Alternatif pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan RME. Menurut Ahmad Fauzan (2001) menyatakan bahwa RME memberikan kesempatan kepada kita untuk bertindak secara aktif mencari jawaban atas masalah yang dihadapi dan berusaha memeriksa, mencari dan menyimpulkan  sendiri secara logis, kritis, analitis dan sistematis. Cara ini akan mendorong siswa untuk meningkatkan penalaran dan berpikir secara bebas, terbuka dengan senang hati maka akan memperdalam pengetahuannya secara mandiri.Selain penggunaan pendekatan pembelajaran yang tepat, terdapat faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar matematika, diantaranya adalah gaya belajar siswa, gaya belajar adalah cara yang lebih disukai dalam melakukan kegiatan berpikir, memproses dan mengerti suatu informasi. Hasil riset menunjukkan bahwa murid yang belajar dengan gaya belajar mereka yang dominan, saat mengerjakan tes, akan mencapai nilai yang jauh lebih tinggi  dibandingkan bila mereka belajar dengan cara yang tidak sejalan dengan gayabelajar mereka (Adi W . Gunawan, 2004 :139), ada bermacam-macam gaya belajar siswa yaitu gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah siswa yang diberi pembelajaran matematika melalui pendekatan RME dengan pemecahan masalah lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa yang diberi pembelajaran matematika melalui pendekatan RME pada materi segi empat?
  2. Apakah ada perbedaan prestasi belajar berdasarkan pada gaya belajar siswa yaitu gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik?

 

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui apakah siswa yang diberi pembelajaran matematika melalui pendekatan RME dengan pemecahan masalah lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa yang diberi pembelajaran matematika melalui pendekatan RME pada materi segi empat?

2. Untuk mengetahui apakah gaya belajar yang dimiliki siswa memberikan pengaruh yang berbeda terhadap prestasi belajar matematika.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan bangun datar segi empat melalui pendekatan pembelajaran RME dengan pemecahan masalah lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa melalui pendektan pembelajaran RME.

2. Siswa pada pokok bahasan segi empat, antara masing-masing gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik mempunyai prestasi belajar yang sama.

 

E. Saran

1. Guru

Dalam proses pembelajaran pembelajaran, peran guru sebagai motivator dan fasilitator lebih dioptimalkan agar siswa lebih aktif sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

2. Peneliti yang lain

Menerapkan pendekatan pembelajaran RME dengan pemecahan masalah dan pendekatan RME untuk materi yang berbeda.

3. Kepada Pihak Sekolah

Memberi kebijakan-kebijakan yang dapat merangsang para guru agar bersedia mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

 

Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) Sebagai Pembelajaran Matematika

Latar Belakang Masalah Pembelajaran Matematika

Selama waktu pelajaran dalam kelas, semuanya dipenuhi dengan pemberian materi dan latihan saja. Sejak jam pembelajaran dimulai, siswa diharuskan mengkonsumsi materi pembelajaran matematika tanpa adanya kesempatan mengelak. Tak ada kesempatan untuk mempelajari hal-hal lain yang sama penting, atau jauh lebih penting daripada matematika itu sendiri. Bisa jadi inilah yang menyebabkan munculnya persepsi bahwa matematika itu ”menyeramkan”. Terlebih lagi jika cara penyampaian materinya sangat kaku dan membosankan.

Masalah diatas perlu kiranya dicarikan solusinya. Bagaimana seorang pengajar mampu menghilangkan citra buruk matematika di benak siswanya, dan tentu akan lebih baik lagi jika akhirnya nanti, perasaan cinta dan butuh terhadap matematika/ pembelajaran matematika benar-benar telah tumbuh berkembang dalam jiwa setiap siswanya. Erica McWilliam (1997) dalam jurnalnya mengemukakan bahwa,”Kita semua harus menjadi peserta didik sepanjang waktu, dan orang-orang dari kita yang mengajar siswa juga harus memahami diri untuk menjadi fasilitator pembelajaran”.

Perumusan Masalah

  1. Apakah pembelajaran matematika yang diajarkan dengan metode PPR lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran dengan metode konvensional terhadap prestasi belajar siswa pada materi pokok luas segitiga?
  2. Apakah siswa dengan aktivitas belajar tinggi lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa dengan aktivitas belajar sedang dan siswa dengan aktivitas belajar rendah, dan siswa dengan aktivitas belajar sedang lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa dengan aktivitas belajar rendah pada materi pokok luas segitiga?
  3. Apakah perbedaan prestasi belajar matematika dengan menggunakan metode PPR dan dengan metode konvensional konsisten pada tiap kategori aktivitas belajar siswa, dan apakah perbedaan prestasi belajar matematika antara tiaptiap kategori aktivitas belajar konsisten pada pembelajaran menggunakan metode PPR dan metode konvensional?

Landasan Teori

Thulus Hidayat,et al (1995:96) mengemukakan bahwa, “Belajar sebagai suatu proses atau aktivitas dipengaruhi oleh berbagai faktor yang secara garis besar dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

Faktor yang berasal dari luar diri pelajar (eksternal) yaitu:

  • Faktor non sosial seperti keadaan suhu, cuaca, waktu dan alat yang digunakan.
  • Faktor sosial yaitu faktor manusia

Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pelajar (internal)

  • Faktor-faktor fisiologis yaitu keadaan jasmani
  • Faktor-faktor psikologis

Prestasi Belajar Matematika Suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus dapat tercapai. Tujuan instruksional tersebut merupakan hasil belajar yang telah ditetapkan baik menurut aspek isi maupun aspek perilaku.

PPR (Paradigma Paedagogi Reflektif) adalah polapikir dalam menumbuh kembangkan pribadi siswa menjadi pribadi berkemanusiaan. PPR termasuk model pembelajaran inovatif alternatif yaitu kooperatif.

Metodelogi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode eksperimental semu dengan desain faktorial 2×3.

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA-SMA se Kabupaten Semarang Semester II tahun pelajaran 2008/2009.

Sampel penelitian ini adalah kelompok eksperimen (dengan metode PPR) terdiri dari SMA N 1 Ambarawa sebanyak 40 siswa dan SMAK Bhakti Awam sebanyak 40 siswa, jumlah kelompok eksperimen sebanyak 80 siswa. Sedangkan kelompok kontrol (metode konvensional) terdiri dari SMAN 1 Ambarawa sebanyak 40 siswa dan SMAK Bhakti Awam sebanyak 40 siswa, jumlah kelompok kontrol sebanyak 80 siswa. Jadi banyaknya sampel 160 siswa. Metode penarikan sampel menggunakan penarikan sampel berkelompok (Cluster Random Sampling) dengan cara undian. Data dikumpulkan dengan metode dokumentasi, angket dan tes.

Metode dokumentasi dari nilai UAN SMP digunakan untuk uji keseimbangan, metode angket digunakan untuk mengukur aktivitas belajar matematika dan metode tes digunakan untuk mengumpulkan data prestasi belajar matematika.

Analisis data dengan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, dilanjutkan dengan uji komparasi ganda metode Scheffe.

Kesimpulan

  1. Cara penyajian materi menggunakan metode PPR lebih baik daripada menggunakan pembelajaran Konvensional.
  2. Prestasi belajar siswa dengan aktivitas tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa dengan aktivitas belajar sedang, sedangkan siswa dengan aktivitas tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa dengan aktivitas rendah, dan prestasi belajar siswa dengan aktivitas sedang lebih baik daripada prestasi siswa dengan aktivitas rendah pada materi pokok luas segitiga.
  3. Prestasi belajar matematika dari masing-masing cara penyajian materi berlaku konsisten/ sama pada masing-masing kategori aktivitas siswa dan prestasi belajar matematika dari masing-masing kategori aktivitas belajar berlaku konsisten/ sama pada masing-masing cara penyajian materi.

 

Incoming search terms:

Pelaksanaan Pembelajaran Matematika di SD Negeri Kalangan

Latar Belakang Masalah Belajar Aritmatika Pada Sekolah Dasar

Penggunaan media dalam pengajaran matematika merupakan bagian dari strategi pengajaran matematika, maka media dalam pengajaran matematika yang memadai adalah media yang dikaitkan dengan tujuan pengajaran matematika. Disinilah seorang guru sekolah dasar harus terus menerus belajar dan berupaya meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam mengajar, sehingga mampu merumuskan berbagai macam alternatif dan cara-cara menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar peran guru dan siswa adalah sama-sama penting terlebih lagi untuk pembelajaran di sekolah dasar. Strategi pengajaran yang diterapkan guru dalam kegiatan belajar mengajar khususnya mata pelajaran matematika akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dalam penelitian ini peneliti akan mengangkat persoalan tentang pelaksanaan pembelajaran matematika di pendidikan dasar yaitu di Sekolah Dasar Negeri Kalangan, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah tahun 2009.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Pelaksanaan Belajar Mengajar Matematika di Kelas V Sekolah Dasar Negeri Kalangan?
  2. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan belajar mengajar matematika di Kelas V Sekolah Dasar Negeri Kalangan?
  3. Bagaimana prestasi belajar matematika siswa Sekolah Dasar Negeri Kalangan?

Landasan Teori

  1. Definisi Belajar

Belajar adalah proses yang terjadi dalam diri seseorang yang melibatkan komponen-komponen dalam diri berupa kognitif, psikomotor dan apektif yang ditandai dengan adanya perubahan dalam diri pebelajar. Sedangkan pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari.

  1. Ruang lingkup Matematika Sekolah Dasar.

Menurut Sahertian (2001) tugas dan tanggung jawab guru adalah mengajar, melatih, membimbing, membina dan mendidik. Tetapi nampaknya guru lebih menekankan kepada tanggungjawab mengajar, artinya guru lebih banyak bertanggung jawab pada aspek pengetahuan saja, dan kurang memperhatikan aspek apektif anak ini terlihat dari kurangnya perhatian guru mendidik keperibadian anak, misalnya mendidik dalam hal disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian. Peters dalam Sujana, (2001) mengatakan ada tiga tugas dan tanggung jawab guru, yaitu:

  1. Guru sebagai pengajar
  2. Guru sebagai pembimbing
  3. Guru sebagai administrator kelas

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif naturalistik. Data diperoleh dengan observasi aktif, wawancara dan dokumentasi.

Sumber data meliputi

  1. Pemberi informasi seperti, guru kelas V, kepala sekolah,  dan siswa kelas V
  2. Peristiwa atau aktifitas di lingkungan pembelajaran berupa belajar mengajar termasuk fasilitas pembelajaran atau media
  3.  Tempat atau lokasi yaitu kondisi lingkungan sekolah secara keseluruhan terutama ruang kelas
  4.  Arsip dan dokumen yang mencakup perangkat pembelajaran seperti silabus dan hasil belajar siswa.

Untuk menjamin keabsahan data peneliti menggunakan triangulasi metode dan triangulasi sumber.

Kesimpulan

Pelaksanaan belajar mengajar matematika Kelas V di SDN Kalangan Pelaksanaan belajar mengajar matematika kelas V di SDN Kalangan sudah berjalan sebagai mana mestinya. Dalam melaksanakan pembelajaran matematika guru menggunakan langkah-langkah atau prosedur umum dalam proses belajar mengajar yaitu membuka pelajaran, kemudian diikuti dengan review atau pemanasan (warming up), kemudian melakukan pemaparan materi sebagai inti pembelajaran dan diakhiri dengan penutup.

Kendala-kendala yang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar Matematika Kelas V Sekolah Dasar Negeri Kalangan

  1. Motivasi sebagian siswa dalam belajar matematika masih rendah
  2. Kemampuan siswa dalam menangkap materi yang disampaikan berbeda-beda, sehingga dapat menghambat kelancaran proses belajar mengajar
  3. Ketersediaan buku paket sebagai pegangan untuk latihan bagi siswa masih kurang

Prestasi belajar siswa.

Prestasi yang pernah diraih oleh siswa SD Negeri Kalangan cukup banyak baik dibidang akademik atau pun non akademik. Untuk prestasi akdemik Sekolah Dasar Negeri Kalangan telah mampu menghantar semua siswanya dalam ujian akhir nasional dengan kelulusan yang sangat membanggakan terlebih lagi pada bidang studi matematika.

Evaluasi Proses Pembelajaran Matematika Kelompok Belajar Paket C

Judul Skripsi : Evaluasi Proses Pembelajaran Matematika Kelompok Belajar Paket C Harapan Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen

A. Latar Belakang Masalah

Peserta didik di Kejar Paket C sangat sulit memahami dan menguasai konsep matematika dengan baik, hal ini dapat dilihat dari ketidakmampuan dan ketidakmandirian mereka dalam mengerjakan soal-soal matematika yang diberikan oleh guru. Kesulitan tersebut menjadi terus bertambah karena kurangnya motivasi peserta didik, keluarga dan lingkungan sekitar, sehingga pembelajaran matematika di Kejar Paket C kurang optimal. Beragam motivasi untuk mengikuti Kejar paket C juga mengakibatkan beragam karakterikstik siswa, siswa dengan motivasi mencari ijazah untuk bekerja tentu akan berbeda dengan siswa yang motivasinya untuk melanjutkan pendidikan.

Dalam pembelajaran matematika banyak guru yang mengeluh kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung bagi terciptanya pembelajaran matematika yang lebih baik. Hal ini terlihat dari sarana kelas yang apa adanya, bahkan kelas Kejar Paket C PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Harapan Kecamatan Gemolong sering meminjam di rumah– rumah penduduk untuk proses pembelajaran. Pada proses pembelajaran matematika guru memegang peranan yang sentral. Dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang ada bagaimana guru dapat melakukan inovasi dan kreatifitas sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan peserta didik. Perbedaan intelektual dan penguasaan materi peserta didik dari sekolah formal dan non formal juga harus diperhatikan, kurikulum yang digunakanpun berbeda, proses pembelajaran juag harus berbeda. Dengan demikian pada Kejar Paket C ini dibutuhkan guru yang profesional dalam bidangnya dalam mengajarkan konsep-konsep matematika pada peserta didik, karena memang peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda dengan siswa di sekolah formal.

 

B. Rumusan Masalah Skripsi

  1. Bagaimanakah proses pembelajaran matematika Kejar Paket C setara SMA di PKBM Harapan Kecamatan Gemolong ?
  2. Bagaimanakah pelaksanaan kurikulum Kejar Paket C setara SMA di PKBM Harapan Kecamatan Gemolong ?
  3. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam proses pembalajaran matematika di Kejar Paket C setara SMA PKBM Harapan Kecamatan Gemolong ?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran matematika di Kejar Paket C PKBM Harapan Kecamatan Gemolong.
  2. Untuk melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran matematika di Kejar Paket C PKBM Harapan Kecamatan Gemolong.
  3. Untuk mengetahui kendala-kendala dalam proses pembelajaran matematika di Kejar Paket C PKBM Harapan Kecamatan Gemolong.

 

D. Kesimpulan

1. Proses Pembelajaran di Kejar Paket C Harapan Kecamatan Gemolong Variasi model pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih kurang sehingga terkesan pembelajaran berjalan secara monoton dan membosankan. Guru belum secara khusus menggunakan metode yang dapat menggali kompetensi siswa, hal ini dipengaruhi oleh terbatasnya waktu untuk pelaksanaan pembelajaran.

2. Pelaksanaan Kurikulum Kejar Paket C Harapan Kecanatam Gemolong Pengelola Kejar Paket C Harapan Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen telah melaksanakan kurikulum pembelajaran matematika di Kejar Paket C Harapan Kecamatan Gemolong telah sesuai dengan petunjuk dan panduan Pedoman Penyelenggaraan Program Paket C Umum sebagaimana diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Kesetaraan.

3. Kendala-kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran matematika di Kejar Paket C Harapan Kecamatan Gemolong

  1. Suasana kelas pada saat pembelajaran masih kurang kondusif.
  2. Sarana dan prasrana kurang memadai terutama buku pegangan siswa.
  3. Variasi model pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih kurang.
  4. RPP yang dibuat oleh guru kurang lengkap.

 

Eksperimentasi Penggunaan Program Wingeom dan Alat Peraga Konkret

Judul Skripsi : Eksperimentasi Penggunaan Program Wingeom dan Alat Peraga Konkret dalam Pembelajaran Matematika

 

A. Latar Belakang Masalah Skripsi

Obyek matematika yang abstrak ditambah dengan kondisi psikologis siswa yang amsih berada pada tahap berfikir transisi, sangat membutuhkan perhatian yang serius dan sungguh-sungguh dari guru, seperti yang dikemukakan Dienes (Rusefendi, 1999) yaitu bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk konkret akan dapat dipahami oleh siswa. Siswa belajar melalui dunia nyata, symbol bagi anak tidaklah menarik. Pembelajaran matematika hendaknya diupayakan agar konsep-konsep yang diajarkan dikembalikan dalam model-model nyata yang dapat berupa alat peraga.

Alat peraga yang digunakan untuk membantu memberikan penjelasan mengenai konsep matematika dapat berupa gambar atau benda konkret. Alat peraga yang berupa benda konkret juga memberikan keuntungan yaitu dapat dimodifikasi dan dipindah, sementara kelemahannya tidak dapat disajikan dalam bentuk tulisan, untuk mensiasatinya dibuat gambar. Gambar dalam pembelajaran geometri dapat diperoleh dengan menggunakan program wingeom. Dengan pembelajaran yang optimal diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik antara pembelajaran geometri dengan program wingeom, pembelajaran geometri dengan menggunakan alat peraga konkret atau pembelajaran geometri tanpa menggunakan alat peraga?
  2. Pada pembelajaran matematika pokok bahasan geometri, manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik antara siswa dengan minat belajar tinggi, siswa dengan minat belajar sedang, atau siswa dengan minat belajar rendah?
  3. Pada pembelajaran matematika pokok bahasan geometri dengan menggunakan program wingeom, manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik antara siswa dengan minat belajar tinggi, siswa dengan minat belajar sedang, atau siswa dengan minat belajar rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui pembelajaran matematika pokok bahasan geometri, manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik, pembelajaran geometri dengan menggunakan program wingeom, menggunakan alat peraga konkret atau tanpa menggunakan alat peraga.
  2. Untuk mengetahui pada pembelajaran matematika pokok bahasan geometri, manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik, siswa dengan minat belajar tinggi, siswa dengan minat belajar sedang atau siswa dengan minat belajar rendah.

 

D. Kesimpulan

1. Pada pembelajaran matematika pokok bahasan geometri, siswa pada pembelajaran menggunakan program wingeom memberikan prestasi lebih baik dibandingkan siswa dengan pembelajaran menggunakan alat peraga konkret, siswa pada pembelajaran menggunakan program wingeom memberikan prestasi lebih baik dibandingkan siswa dengan pembelajaran tanpa menggunakan alat peraga, siswa pada pembelajaran menggunakan alat peraga konkret memberikan prestasi sama dengan siswa pada pembelajaran tanpa menggunakan alat peraga.

2. Pembelajaran matematika pada pokok bahasan geometri, siswa dengan minat belajar matematika tinggi memberikan prestasi belajar lebih baik dibandingkan siswa dengan minat belajar sedang, siswa dengan minat belajar matematika tinggi memberikan prestasi belajar sama dengan siswa minat belajar rendah, siswa dengan minat belajar matematika sedang memberikan prestasi belajar lebih baik dibandingkan siswa dengan minat belajar rendah.

3. Pada pembelajaran matematika pokok bahasan geometri dengan menggunakan program wingeom, siswa dengan minat belajar tinggi memberikan prestasi belajar yang sama dengan siswa minat belajar sedang dan rendah sedangkan siswa dengan minat belajar sedang memberikan prestasi belajar lebih baik dibandingkan siswa dengan minat belajar rendah.

 

 

Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dgn Model Pembelajaran TTW – NHT

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Model Pembelajaran TTW – NHT Ditinjau dari Adversity Quotients Siswa

A. Latar Belakang Masalah

Pada peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan banyak kebijakan dan peraturan. Diantaranya, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16 Tahun 2007. Dalam PP tersebut dijabarkan tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Setiap guru diharapkan memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian, maka diharapkan guru dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif untuk mencapai tujuan pendidikan. Metode atau pendekatan pembelajaran yang bermacam-macam sekarang ini, mungkin harus dicoba oleh setiap guru agar terjadi proses interaksi antara guru dan siswa serta pembelajaran di kelas menjadi tidak monoton. Selain itu agar siswa menjadi lebih kreatif, inovatif, berani mengemukakan pendapat dan berkembang otaknya, sehingga menjadi sumber daya manusia yang bermutu dikemudian hari. Alokasi waktu yang kurang berimbang dengan banyaknya materi pelajaran yang harus disampaikan mungkin menjadi kendala guru untuk menjadi lebih kreatif menentukan metode mengajarnya.

Sikap siswa dalam merespon atau menyelesaikan soal matematika mungkin juga menjadi faktor yang menyebabkan prestasi siswa yang rendah. Setiap siswa mempunyai sikap yang berbeda dalam menyelesaikan soal matematika. Sebagian siswa mungkin menyerah sebelum mencoba menyelesaikannya, tetapi ada beberapa siswa yang berhenti di tengah jalan dan ada beberapa siswa yang mungkin berusaha untuk tetap menyelesaikannya agar mendapatkan jawaban soal tersebut.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV), manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, model pembelajaran TTW atau model pembelajaran NHT?
  2. Pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan SPLDV, manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, siswa yang termasuk kelompok climbers, kelompok campers, atau kelompok quitters?
  3. Pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan SPLDV, pada siswa yang termasuk kelompok climbers, manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik, model pembelajaran TTW atau model pembelajaran NHT?

 

C. Tujuan

  1. Untuk mengetahui pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV), manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, model pembelajaran TTW atau model pembelajaran NHT.
  2. Untuk mengetahui pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan SPLDV, manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, siswa yang termasuk kelompok climbers, kelompok campers, atau kelompok
  3. Untuk mengetahui pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan SPLDV, pada siswa yang termasuk kelompok climbers, manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik, model pembelajaran TTW atau model pembelajaran NHT.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan kajian teori dan didukung dengan analisis variansi serta mengacu pada rumusan masalah yang telah diuraikan di awal, dapat disimpulkan bahwa :

1. Pada pembelajaran matematika, Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV), prestasi belajar siswa yang diberi model pembelajaran TTW sama dengan prestasi belajar siswa yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran NHT.

2. Pada pembelajaran matematika, SPLDV, prestasi belajar matematika siswa kelompok climbers lebih baik dibandingkan kelompok campers dan kelompok quitters, sedangkan prestasi belajar matematika siswa kelompok campers sama dengan kelompok

3. Pada siswa kelompok climbers, model pembelajaran TTW maupun NHT menghasilkan prestasi belajar matematika yang sama.

Analisis Proses Pembelajaran Matematika di SMA Negeri Surakarta

Judul Skripsi : Analisis Proses Pembelajaran Matematika di SMA Negeri Surakarta (Penelitian dilaksanakan di kelas X SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 4 Surakarta)

 

A. Latar Belakang

karakteristik pembelajaran yang diharapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam proses pembelajaran di SMA, sebagai berikut:

  1. Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
  2. Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar (penyelesaian soal dengan berbagai cara).
  3. Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman kongkrit dan mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari (Contextual Teaching and Learning).
  4. Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya interaksi dan kerjasama dengan orang lain atau lingkungannya.
  5. Memanfaatkan berbagai media sehingga pembelajaran efektif.
  6. Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga pembelajaran matematika menjadi menarik dan menyenangkan. Pembelajaran siswa SMA di Surakarta masih ada yang belum mencapai tujuan tersebut. Salah satu penyebabnya adalah ketidaktepatan pendekatan pembelajaran yang digunakan guru. Banyak guru masih menggunakan pembelajaran konvesional yang berorientasi pada tahap pembukaan, penyajian, dan penutup (Mulyati, 2009).

 

B. Rumusan Masalah Skripsi

  1. Bagaimanakah proses pembelajaran matematika di kelas X SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 4 Surakarta?
  2. Apakah SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 4 Surakarta sudah melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Centered Learning)?
  3. Apakah pembelajaran matematika yang diberikan di kelas X SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 4 Surakarta sudah sesuai dengan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning)?
  4. Apakah pembelajaran matematika yang diberikan di kelas X SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 4 Surakarta sudah sesuai dengan pembelajaran konstruktivistik?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran matematika di kelas X SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 4 Surakarta.
  2. Untuk mengetahui apakah SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 4 Surakarta sudah melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Centered Learning).
  3. Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika yang diberikan di kelas X SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 4 Surakarta sudah sesuai dengan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning).
  4. Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika yang diberikan di kelas X SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 4 Surakarta sudah sesuai dengan pembelajaran konstruktivistik.

 

C. Kesimpulan

  1. Proses pembelajaran matematika di SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 4 Surakarta sudah berlangsung dengan baik. Sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran yakni perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi dan tindak lanjut.
  2. Guru kelas X SMA Negeri 1 Surakarta dan Guru kelas X SMA Negeri 4 Surakarta sudah berusaha melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Centered Learning), tetapi hasilnya masih belum sesuai dengan yang diharapkan.
  3. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) di SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 4 Surakarta sudah terlaksana tetapi belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
  4. Pembelajaran konstruktivistik di SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 4 Surakarta belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam proses pembelajaran matematika, guru matematika kelas X SMA Negeri 1 Surakarta guru matematika kelas X SMA Negeri 4 Surakarta masih menekankan pada hasil akhir bukan pada proses. Dalam mengerjakan soal siswa masih mengacu pada rumus yang sudah diberikan oleh guru.

Incoming search terms: