Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together

Masalah Model Pembelajaran Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) Terhadap Prestasi Belajar Ekonomi

Motivasi merupakan landasan yang kuat untuk belajar, anak yang mempunyai motivasi besar terhadap kegiatan belajar akan tekun dan berusaha keras untuk belajar, sedang anak yang kurang memiliki motivasi dalam belajar tidak akan antusias dalam belajar, sering membuat  kegaduhan dalam kelas, pesimis, dan bisa sering membolos. Hal ini akan teraplikasikan pada pencapaian tujuan pembelajaran yang menurun atau prestasi yang rendah. Sering terjadi, siswa tidak dapat berprestasi dengan maksimal bukan disebabkan kemampuan yang rendah tetapi karena tidak adanya motivasi, sehingga ia tidak menggunakan segala kemampuan yang dimilikinya.

Hasil penelitian terdahulu di SMA Negeri 1 Ponorogo oleh A’yun (2010) membuktikan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) lebih efektif dibandingkan dengan tipe Make A Match (MAM), motivasi berprestasi tinggi lebih baik dari pada motivasi berprestasi rendah. Untuk mengembangkan penelitian, maka penulis ingin meneliti tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe lain terhadap prestasi belajar dengan menetapkan judul “Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Terhadap Prestasi belajar Ekonomi Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa Kelas X SMAN 1 Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/2012”.

Perumusan Masalah

  1. Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar ekonomi antara siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan siswa yang diberi model pembelajaran ceramah?
  2. Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar ekonomi antara siswa yang mempunyai motivasi tinggi dan siswa yang mempunyai motivasi rendah?
  3. Apakah terdapat perbedaan peningkatan nilai pretest dan postest antara siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan siswa yang diberi model pembelajaran ceramah?

Landasan Teori Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)

  1. Pembelajaran Kooperatif

Slavin (2005:8) berpendapat bahwa “Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang beranggotakan 4-5 orang dengan struktur kelompok heterogen untuk menguasai materi yang disampaikan oleh guru”.

  1. Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)

Menurut Spencer Kagan dalam Chotimah & Dwitasri (2009:191) “Numbered Heads Together merupakan suatu strategi pembelajaran dengan cara setiap peserta didik diberi nomor, kemudian dibuat kelompok.

  1. Motivasi Belajar

Menurut Ngalim Purwanto (2010:71) “Motivasi adalah ‘pendorongan’ suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu”.

Metode Penelitian

  • Jenis Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen.
  • Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMAN 1 Ponorogo tahun pelajaran 2011/2012.
  • Dari populasi tersebut diambil 64 siswa sebagai sampel, yang terdiri dari 32 siswa sebagi kelompok eksperimen diberi pembelajaran model kooperatif Numbered Heads Together dan 32 siswa sebagai kelompok kontrol diberi pembelajaran model ceramah.
  • Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sampling.
  • Teknik pengumpulan data dengan metode tes untuk data prestasi belajar, dan metode angket untuk motivasi belajar.
  • Uji hipotesis menggunakan Analis varian dua jalan sel tidak sama dengan bantuan software SPSS.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dikemukakan, maka dapat dibuat kesimpulan untukModel Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) sebagai berikut :

  1. Hasil pengujian hipotesis diperoleh harga P-value = 0,000 karena P-value < 0,05 maka keputusan ujinya H01 di tolak dan H11 di terima sehingga ada pengaruh yang signifikan antara penggunaan metode kooperatif tipe NHT dan metode ceramah terhadap prestasi belajar ekonomi pada materi Konsumsi dan Investasi, di mana siswa yang di beri perlakuan menggunakan metode kooperatif tipe NHT memiliki rerata prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa yang di beri perlakuan menggunakan metode ceramah dengan rerata 7,90 untuk metode kooperatif tipe NHT dan 6,86 untuk metode Ceramah
  2. Hasil pengujian hipotesis diperoleh harga P-value = 0,000, karena P-value < 0,05 maka keputusan ujinya H02 di tolak dan H12 di terima sehingga ada pengaruh motivasi belajar (tinggi dan rendah) terhadap prestasi belajar ekonomi pada materi konsumsi pada Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT).

Tesis Akutansi: Komparasi Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw & Metode Konvensional

Judul Tesis : Studi Komparasi Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dan Metode Konvensional Pokok Bahasan Jurnal Khusus Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa Kelas II MAN Suruh

 

A. Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan pada saat ini sudah banyak berubah dengan adanya penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) sebagai upaya meningkatkan kualitas belajar siswa, agar sesuai dengan tuntutan zaman. Dengan kurikulum berbasis kompetensi ( KBK ) diharapkan dapat membawa perubahan dari paradigma lama kearah paradigma baru yang lebih baik. Paradigma lama tersebut tidak bisa lagi dipergunakan. Teori, penelitian, dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar membuktikan bahwa guru sudah harus mengubah paradigma pengajaran.

Dua hal penting yang merupakan bagian dari tujuan pembelajaran akuntansi adalah pembentukan sifat yaitu pola yang berfikir kritis dan kreatif. Untuk itu suasana kelas perlu didesain sedemikian rupa sehingga siswa mendapat kesempatan untuk saling berinteraksi.dalam interaksi ini siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka mencintai proses dan mencintai satu sama lain. Suasana belajar yang penuh dengan persaingan dan pengisolasian akan membentuk hubungan yang negatif dan mematikan semangat siswa. Hal ini akan menghambat pembentukan pengetahuan secara aktif. Oleh karena itu, pengajar perlu menciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga siswa perlu bekerjasama secara gotong-royong.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Diantara metode kooperatif tipe jigsaw dan metode konvensional manakah yang lebih efektif dan tepat diterapkan dalam pokok bahasan jurnal khusus pada siswa kelas II semester II Man Suruh Tahun pelajaran 2006/2007
  2. Apakah ada perbedaan hasil belajar akuntansi pada siswa, poko bahasan jurnal khusus antara metode pembelajaran kooperatif tipe JIGSAW dan metode pembelajaran konvensional pada siswa kelas II semester II MAN Suruh Tahun pelajaran 2006/2007

 

C. Landasan Teori

Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan. Tingkah laku yang baru secara keseluruhan , sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto:2003:2).

Metode Konvensional

Metode konvensional merupakan metode pembelajaran yang berpusat pada guru dimana hampir seluruh kegiatan pembelajaran dikendalikan oleh guru.jadi guru memegang peranan utama dalam menentukan isi dan proses belajar termasuk dalam menilai kemajuan siswa ( Oemar hamalik, 1991 )

 

Tinjauan Pembelajaran kooperatif

Suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompokkelompok kecil yang mempunyai tingkat kemampuan bebeda-beda. Pengajaran ini dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif – kontruktivisme. Salah satu teori Vigotsky, penekanan pada hakekat sosiokultural pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi-funsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerja sama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap kedalam individu tersebut. Pnerapan ini berimplikasi dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif.

 

D. Metode Peneltian

Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas II semeter II MAN Suruh yang terdiri dari 3 kelas.

Sampel yang digunakan adalah kelas 2 IPS 2 sebagai kelompok eksperimen dan kelas kelas 2 IPS I sebagai kelompok kontrol.

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan model pembelajaran konvensional sebagai variabel bebas dan hasil belajar siswa sebagai variabel terikat.

Metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, tes dan wawancara.

Analisis data menggunakan t test.

 

E. Kesimpulan

  1. Ada perbedaan yang signifikan hasil belajar akuntansi pokok bahasan jurnal khusus antara metode pembelajaran yang digunakan yaitu pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas II MAN Suruh tahun pelajaran 2005/2006.
  2. Metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih efektif daripada metode pembelajaran konvensional karena mampu meningkatkan hasil belajar akuntansi pokok bahasan jurnal khusus pada siswa kelas II MAN Suruh tahun pelajaran 2005/2006 mengarah pada ketercapaian belajar tuntas.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Analisis Tingkat Kepuasan Siswa Dalam Mempelajari Akuntansi
  2. Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan Laporan Keuangan
  3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Mahasiswa Prodi Pendidikan Akuntansi
  4. Kemadirian Belajar Akuntansi Dalam Implementasi Kurikulum 2004 Pada Siswa Kelas XI-IPS
  5. Komparasi Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan Metode Konvensional Pokok Bahasan Jurnal

 

 

Skripsi Pendidikan: Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Pengaruh trhdp Hasil Belajar

Judul Skripsi : Analisis Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Pengaruhnya terhadap Upaya Peningkatan Hasil Belajar Akuntansi dalam Pokok Bahasan Pencatatan Transaksi Perusahaan Dagang Mata Pelajaran Akuntansi pada Siswa Kelas II Semester I SMU Negeri 7 Purworejo

 

A. Latar Belakang

Mengingat begitu pentingnya pendidikan, tidak heran jika banyak pihak yang mulai menaruh perhatiannya pada dunia pendidikan. Sampai saat ini, mutu pendidikan di Indonesia jika dibandingkan dengan mutu pendidikan di negara-negara ASEAN lainnya masih relatif rendah. Padahal dalam kenyataanya, mutu pendidikan sangat mempengaruhi mutu siswa yang dikeluarkannya. Indikator tinggi rendahnya mutu pendidikan yang ada dilihat dari prestasi belajar siswa ( Arifin 1991 :4).

Menurut Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.053/U/2001 Tanggal 19 April 2001 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pendidikan Dasar Menengah, ialah setiap tamatan SMU diharapkan untuk mampu:

  1. Menguasai materi pembelajaran sebagaimana yang tercantum dalam program pembelajaran SMU.
  2. Memiliki pengetahuan dan ketrampilan dasar untuk hidup dalam
  3. Memiliki ahklak dan budi pekerti yang luhur.
  4. Memiliki kemampuan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. (Depdiknas 2003:63)

Sehingga salah satu cara meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan meningkatkan prestasi belajar siswa.

 

B. Rumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: adakah perbedaan yang signifikan dari prestasi belajar Akuntansi mengunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode pembelajaran konvensional dalam pokok bahasan pencatatan transaksi perusahaan dagang mata pelajaran Akuntansi pada siswa kelas II semester I SMU Negeri 7 Purworejo.

 

C. Landasan Teori

Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dengan belajar manusia mampu mengembangkan potensipotensi yang dibawanya sejak lahir sehingga nantinya mampu menyesuaikan diri demi pemenuhan kebutuhan. Pengertian belajar menurut Marris L Bigge dalam bukunya Darsono (2000:3) adalah suatu perubahan yang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak diwariskan secara genetis. Dalam hal ini perubahan yang dimaksud terjadi pada pemahaman, perilaku, persepsi, motivasi atau campuran dari semuanya secara sistematis sebagai akibat pengalaman dalam situasi-situasi tertentu.

 

Prestasi Belajar

Prestasi belajar merupakan hasil yang tercapai seseorang setelah melakukan suatu proses belajar. Prestasi belajar merupakan perubahan tingkah laku kognitif, tingkah laku afektif dan tingkah laku psikomotorik. Menurut Zaenal Arifin (1991:3) prestasi adalah kemampuan, keterampilan dan sikap seseorang dalam menyelesaikan sesuatu hal. Sedangkan menurut Poerwadarminto (1995:787) yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya (1995:787). Dalam hal ini, prestasi hanya dibatasi dalam bidang pendidikan khususnya pengajaran.

 

Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Konsep pembelajaran kooperatif merupakan ide pembelajaran yang telah lama di pikirkan. Ide ini bermula pada awal abad pertama, seseorang filosof berpendapat bahwa untuk dapat belajar seseorang harus memiliki pasangan atau teman.

 

D. Metode Penelitian Skripsi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II semester I SMU Negeri 7 Purworejo, yang berjumlah 320 siswa yang berasal dari kelas II.1 sampai dengan kelas II.8.

Sampel dalam penelitian ini berjumlah 2 kelas, dimana kelas II.3 untuk kelompok eksperimen dan kelas II.2 untuk kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel adalah mengunakan teknik One Stage Cluster Random Sampling.

Variabel penelitian ada dua yaitu variabel pembelajaran kooperatif tipe STAD (X1) dan metode Pembelajaran konvensional (X2) Data diambil, melalui teknik dokumentasi dan tes.

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis uji t.

 

E. Kesimpulan Skripsi

  1. Adanya perbedaan prestasi belajar Akuntansi antara siswa yang diajar mengunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode pembelajaran ceramah dalam pokok bahasan pencatatan transaksi perusahaan dagang pada siswa kelas II semester I SMU Negeri 7 Hal ini dapat dilihat dari hasil perolehan t hitung = 4,944 sedangkan t tabel =1,99 sehingga Ha diterima. Terjadinya perbedaan prestas belajar Akuntansi ini dikarenakan pada pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa dikondonsikan untuk berperan aktif menyumbangkan prestasi belajarnya untuk kemajuan kelompoknya.
  2. Metode pembelajaran kooperatif tipe STAD terbukti lebih meningkatkan prestasi belajar siswa dibandingkan dengan pembelajaran yang mengunakan metode ceramah. Hal ini didukung adanya kondisi dimana siswa lebih cepat memahami materi yang diajarkan dengan cara berdiskusi dengan teman sebayanya dalam satu kelompok.

 

Contoh Skripsi Pendidikan

  1. Penilaian Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK )
  2. Analisis Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad dan Pengaruhnya Terhadap Upaya Peningkatan Hasil Belajar Akuntansi Dalam Pokok Bahasan Pencatatan Transaksi Perusahaan Dagang Mata Pelajaran Akuntansi pada Siswa Kelas II Semester I SMU Negeri 7 Purworejo
  3. Analisis Motivasi Belajar Akuntansi dan Orientasi Pasca Lulus Serta Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi pada Siswa Kelas III Jurusan Akuntansi SMK Bisnis dan Manajemen Se-Kota Tegal Tahun Ajaran 2004/2005
  4. Penerapan Student Team Achievement Division (STAD) Sebagai Metode Pembelajaran pada Mata Pelajaran Ekonomi Pokok Bahasan Kebijakan Fiskal dan Moneter pada Siswa Kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Boja Tahun Pengajaran 2006/2007
  5. Pengaruh Penggunaan Metode Belajar Aktif Tipe Quiz Team terhadap Minat Belajar dan Hasil Belajar

 

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw yg Dimodifikasi dari Gaya Kognitif Siswa

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw yang Dimodifikasi Ditinjau dari Gaya Kognitif Siswa SMP Kelas VIII

 

A. Latar Belakang

Model pembelajaran konvensional yang digunakan oleh sebagian besar guru tidak sesuai dengan tuntutan jaman, karena pembelajaran yang dilakukan kurang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk aktif mengkonstruksi pengetahuannya. Salah satu model pembelajaran yang dimungkinkan mampu mengantisipasi kelemahan model pembelajaran konvensional adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Pembelajaran model ini lebih meningkatkan kerja sama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam suatu perencanaan kegiatan. Dalam pembelajaran ini setiap anggota kelompok diharapkan dapat bekerja sama dan bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun pada kelompoknya.

Penulis memilih memodifikasi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw karena pada penerapannya terdapat kelemahan-kelemahan diantaranya: penugasan anggota kelompok untuk menjadi ahli sering tidak sesuai antara kemampuan dengan kompetensi yang harus dipelajari, siswa yang mempunyai kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi ketika menjadi ahli, sehingga dimungkinkan terjadinya kesalahan. Pengembangan penelitian pembelajaran tipe Jigsaw tetap berdasar pada tipe Jigsaw yang sudah ada.

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

  1. Apakah pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dimodifikasi memberikan prestasi belajar lebih baik dibandingkan dengan tipe Jigsaw dan keduanya lebih baik daripada pembelajaran konvensional pada materi bangun ruang sisi datar?
  2. Apakah siswa dengan gaya kognitif field independent mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan gaya kognitif field dependent pada materi bahasan bangun ruang sisi datar?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dimodifikasi memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, dan keduanya lebih baik daripada pembelajaran konvensional.
  2. Untuk mengetahui apakah siswa dengan gaya kognitif field independent mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada gaya kognitif field dependent pada materi bangun ruang sisi datar.

 

D. Kesimpulan

1. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dimodifikasi memberikan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan keduanya lebih baik daripada pembelajaran konvensional pada materi bangun ruang sisi datar.Siswa dengan gaya kognitif field independent memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibanding siswa dengan gaya kognitif field dependent.

2. Pada siswa dengan gaya kognitif field independent maupun field dependent yang diberikan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dimodifikasi mempunyai prestasi belajar lebih baik dibandingkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan keduanya lebih baik daripada pembelajaran konvensional pada materi bangun ruang sisi datar.

 

E. Saran

1. Bagi Kepala Sekolah

Hendaknya kepala sekolah menyarankan kepada guru matematika agar dalam memberikan pembelajaran dapat memperoleh hasil yang maksimal harus memilih model pembelajaran yang sesuai dengan gaya kognitif siswa.

2. Kepada para guru matematika

Dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dimodifikasi dan tipe Jigsaw harus memperhatikan tingkat heterogenitas masing-masing kelompok asal, dan pemberian tugas kepada siswa yang akan menjadi tim ahli sesuai dengan kemampuan siswa.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan TPS pada Materi Pokok Persamaan Garis Lurus

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan Think Pair Share (TPS) Pada Materi Pokok Persamaan Garis Lurus Ditinjau dari Gaya Kognitif Siswa Kelas VIII SMP Negeri Se-Kabupaten Blora

A. Latar Belakang

Berdasarkan informasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan, hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010 menunjukkan bahwa siswa di SMP Negeri Se-Kabupaten Blora mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan konsep persamaan garis lurus. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya persentase penguasaan konsep siswa dalam menentukan gradien garis lurus dengan persamaan ax + by + c = 0 sebesar 53,67%, menentukan persamaan sebuah garis pada sebuah grafik sebesar 35,37%, dan menentukan grafik dari persamaan suatu garis sebesar 29,42%.

Informasi dari guru matematika menyebutkan bahwa secara garis besar keadaan pembelajaran matematika kelas VIII di SMP Negeri yang ada di Kabupaten Blora yaitu sebagai berikut.

(1) di ruang kelas siswa relatif tenang mendengarkan guru mengajar

(2) siswa sibuk mencatat

(3) tidak ada keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan

(4) siswa cenderung takut dan enggan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru

(5) kecenderungan siswa tidak mengkomunikasikan kesulitan yang dialaminya dengan siswa lain (jarang terjadi pemecahan masalah secara kooperatif).

Hal tersebut berdampak pada rendahnya prestasi belajar matematika siswa.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan model pembelajaran konvensional, serta model pembelajaran kooperatif tipe TPS memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan model pembelajaran konvensional?
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field dependent?
  3. Apakah pada siswa dengan gaya kognitif field independent, model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan model pembelajaran konvensional, serta model pembelajaran kooperatif tipe TPS memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan model pembelajaran konvensional?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

  1. Untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan model pembelajaran konvensional, serta model pembelajaran kooperatif tipe TPS memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan model pembelajaran konvensional.
  2. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field dependent.
  3. Untuk mengetahui apakah pada siswa dengan gaya kognitif field independent, model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan model pembelajaran konvensional, serta model pembelajaran kooperatif tipe TPS memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan model pembelajaran konvensional.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan model pembelajaran konvensional, serta model pembelajaran kooperatif tipe TPS memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan model pembelajaran konvensional.

2. Prestasi belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field dependent.

Incoming search terms:

Tipe STAD dan Quantum Learning Mind Mapping Terhadap Prestasi Belajar Matematika

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Quantum Learning Mind Mapping Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Kesiapan Belajar Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri di Kabupaten Magetan Tahun Ajaran 2009/2010

 

A. Latar Belakang Skripsi

Sampai sejauh ini pencapaian hasil belajar matematika di sekolah secara umum dapat dinyatakan masih belum sesuai dengan harapan. Hal ini dapat dilihat dari masih sulitnya siswa untuk mencapai hasil tertinggi dalam pencapaian belajar matematika. Ini terbukti dari nilai matematika pada ujian nasional pada semua tingkat dan jenjang pendidikan selalu terpaku pada angka yang rendah . Data Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur tahun 2009 untuk Kabupaten Magetan nilai matematika program IPA yang nilainya 10,00-9,00 adalah 17,72%, 8,00-8,99=20,20%, 7,00- 7,99=23,43%, 6,00-6,99=10,86%, 5,50-5,99=18,86%, 4,25-5,49=5,51%, 3,00-4,24=2,28% dan 2,00-2,99=1,14%. Hal ini masih tergolong rendah jika ketuntasan minimal ideal adalah 75. Untuk itu perlu bagi guru untuk terus mencari dan menerapkan metode baru untuk memudahkan siswa dalam proses pembelajaran dan memotivasi siswa agar selalu mempunyai kesiapan sebelum belajar matematika sehingga pembelajaran matematika menjadi lebih baik. Terutama sub pokok bahasan fungsi komposisi untuk mencari fungsi penyusunnya, yang hasilnya lebih rendah dari sub pokok bahasan-sub pokok bahasan yang lain.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah prestasi belajar matematika pada pembelajaran metode STAD lebih baik daripada metode pembelajaran Mind Mapping?
  2. Apakah siswa yang mempunyai kesiapan tinggi akan mempunyai prestasi belajar lebih baik dibanding dengan siswa yang mempunyai kesiapan sedang dan rendah serta siswa yang mempunyai kesiapan sedang akan mempunyai prestasi belajar lebih baik dari siswa yang mempunyai kesiapan rendah?
  3. Apakah terdapat interaksi antara penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dan Mind Mapping serta kesiapan siswa terhadap prestasi belajar ?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan metode STAD lebih baik dari pada pembelajaran metode Mind Mapping.
  2. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kesiapan tinggi lebih baik dari pada siswa yang mempunyai kesiapan sedang dan rendah serta apakah siswa yang mempunyai kesiapan sedang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai kesiapan rendah.

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika yang dilakukan dengan pembelajaran kooperatif type STAD lebih baik dari pada siswa dengan pembelajaran metode Mind Mapping.

2. Siswa yang mempunyai kesiapan belajar tinggi lebih baik dari pada kesiapan belajar sedang maupun rendah, dan siswa yang mempunyai kesiapan belajar sedang berbeda secara signifikan dengan siswa yang mempunyai kesiapan belajar rendah. Dengan kata lain siswa yang mempunyai kesiapan belajar sedang lebih baik dari pada kesiapan belajar rendah.

 

E. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi diatas, maka saran yang diberikan peneliti adalah sebagai berikut :

1. Kepada siswa

Pada saat diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa diharapkan memperhatikan penjelasan atau jawaban yang disampaikan oleh siswa lain, baik dalam diskusi kelompok maupun saat kelompok lain mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

2. Kepada Guru Mata Pelajaran Matematika

Guru hendaknya lebih banyak melibatkan peran siswa secara aktif dalam melaksanakan kegiatan belajar matematika, dimana siswa mengkontruksi pengetahuan mereka sendiri sehingga pelajaran lebih bermakna. Cara yang dilakukan antara lain, memilih metode pembelajaran yang lebih menekankan pada keterlibatan siswa secara optimal misalnya metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT – RPT Ditinjau dari Motivasi Berprestasi Siswa

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) dan Tipe Reciprocal Peer Tutoring (RPT) Ditinjau dari Motivasi Berprestasi Siswa Kelas VIII SMP Negeri di Kabupaten Sukoharjo Tahun Ajaran 2010/2011

A. Latar Belakang Skripsi

Dari implementasi RPT yang dilakukan, posisi siswa menjadi tutor (pengajar pribadi teman sebaya) ketika siswa membuat pertanyaan-pertanyaan untuk rekannya dan memberikan penjelasan pada rekannya yang tidak dapat menjawab item pertanyaan darinya dan posisi tutee (siswa pribadi) ketika siswa diberi pertanyaan dan penjelasan oleh rekannya. Menurut Griffin and Griffin (dalam Choudhury, 2002: 137) pada RPT, fungsi siswa sama yaitu sebagai tutor dan tutee. Ini memungkinkan siswa untuk memperoleh kedua keuntungan dari  persiapan dan instruksi yang digunakan tutor, dan dari instruksi yang diterima oleh tutee. Ditambahkan oleh Slavin (2011: 242) bahwa tutor dan tutee keduanya dapat diuntungkan: tutee dapat memelajari konsep akademis dan tutor memeroleh penerimaan dan pemahaman yang lebih baik terhadap siswa yang mempunyai ketidakmapuan.

Motivasi berprestasi siswa merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan pembelajaran matematika. Rao (2003:13) menjelaskan motivasi berprestasi adalah harapan untuk menemukan kepuasan dalam menguasai tantangan dan perbuatan yang sulit, motivasi untuk menampilkan tugas-tugas khusus untuk memiliki standar pesaing unggul dengan hasil yang dapat dinilai. Dengan motivasi berprestasi siswa dapat melakukan sesuatu sebaik-baiknya dan tekun dalam menyelesaikan permasalahan matematika hingga mencapai standar tertinggi.

 

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi, pemilihan, dan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan model pembelajaran kooperatif tipe RPT?
  2. Manakah yang memiliki prestasi belajar yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi, sedang dan rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik antar model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan model pembelajaran kooperatif tipe RPT.
  2. Untuk mengetahui manakah yang memiliki prestasi belajar yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi, sedang dan rendah.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada Bab I, dapat disimpulkan bahwa pada siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri semester genap tahun pelajaran 2010/2011 di Kabupaten Sukoharjo, khususnya pada materi bangun ruang sisi datar:

1. Pembelajaran dengan tipe TGT memberikan prestasi belajar matematika yang sama dengan menggunakan tipe RPT.

2. Siswa dengan motivasi berprestasi tinggi mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan motivasi berprestasi sedang maupun rendah. Di sisi lain, siswa dengan motivasi berprestasi sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang sama dengan siswa dengan motivasi berprestasi rendah.

 

E. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi penelitian di atas, maka dapat dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Bagi Guru

Guru dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan tipe RPT sebagai variasi pembelajaran untuk meningkatkan hasil prestasi matematika siswa, khususnya pada materi bangun ruang sisi datar: prisma tegak dan limas.

2. Bagi Para Peneliti

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam kegiatan penelitian yang relevan di masa yang akan datang, dengan materi belajar dan tingkat pendidikan yang berbeda.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Jigsaw dari Sikap Siswa Terhadap Matematika

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan Tipe Jigsaw pada Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Sikap Siswa Terhadap Matematika Siswa SMP di Kabupaten Magetan

 

A. Latar Belakang

Pembelajaran kooperatif menampakkan wujudnya dalam bentuk belajar kelompok. Dalam kelompok belajar kooperatif siswa tidak diperkenankan mendominasi atau menggantungkan diri pada siswa lain. Dalam kelompok belajar kooperatif ditanamkan norma bahwa sifat mendominasi orang lain adalah sama buruknya dengan sifat menggantungkan diri pada orang lain. Prestasi belajar seorang siswa dalam proses pembelajaran ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Salah satu faktor internal adalah sikap pada diri siswa yaitu sikap siswa pada matematika, sebagai reaksi afektif pada diri siswa dan diketahui sebagai kecenderungan mendekati atau menghindar dari matematika, dan diwarnai oleh unsur senang atau tidak senang terhadap matematika.

Sikap siswa terhadap matematika merupakan faktor yang mempengaruhi dalam prestasi belajar siswa. Dengan demikian, pembelajaran yang berlangsung hendaknya dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap matematika, sehingga akan diperoleh hasil yang optimal. Mengingat pentingnya kemampuan matematika bagi siswa dalam proses belajar selanjutnya, maka masalah rendahnya hasil belajar matematika siswa SMP perlu diupayakan pemecahannya.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) atau siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw?
  2. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang memiliki sikap terhadap matematika tinggi, sedang atau rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD atau siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
  2. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang memiliki sikap terhadap matematika tinggi, sedang atau rendah.

 

D. Kesimpulan Tesis

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Prestasi belajar matematika siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang memiliki sikap terhadap matematika tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika siswa yang memiliki sikap terhadap matematika sedang maupun rendah, dan prestasi belajar matematika siswa yang memiliki sikap terhadap matematika sedang lebih baik dibandingkann prestasi belajar matematika siswa yang memiliki sikap terhadap matematika rendah.

 

E. Saran

Agar prestasi belajar matematika pada umumnya dan persamaan garis lurus pada khususnya dapat ditingkatkan, maka disarankan

1. Kepada Guru

Pemahaman tentang model pembelajaran semakin berkembang, sehingga guru dapat memilih model pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran, khususnya model pembelajaran kooperatif Jigsaw dan STAD.

2. Kepada Siswa

Sudah saatnya para siswa sadar akan pentingnya prestasi belajar dan menyadari bahwa prestasi belajar bisa dicapai secara optimal jika siswa sendiri yang berusaha

Pengertian Pembelajaran Kooperatif dan Implementasi

Pembelajaran Kooperatif – Pembelajaran kooperatif sebagai salah satu strategi belajar mengajar adalah suatu cara mengajar dimana siswa dalam kelas dipandang sebagai kelompok atau dibagi dalam beberapa kelompok. Pembelajaran kooperatif berimplikasi pada terjadinya cognitive elaboration, peer collaboration (berupa tutorial teman sebaya), dan peer copying model, yang pada akhirnya mengarah kepada peningkatan prestasi akademik dan penghargaan diri, perbaikan sikap siswa (kecintaannya) terhadap teman sebaya, sekolahnya, serta mata pelajarannya, gurunya, dan lebih terdorong untuk belajar dan berpikir. Di samping itu, penerapan pembelajaran kooperatif dapat mempercepat perolehan beberapa keterampilan inti, seperti: keterampilan kognitif, keterampilan afektif, berpikir kritis, dan berdampak pada pengukuran prestasi dan sikap, pada tingkat pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Dengan landasan kerja student led discussion, khusus bagi siswa yang prestasinya rendah, kebermanfaatan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan motivasinya, prestasi akademiknya, dan nilai-nilai sosial seperti kepekaan dan toleransi.

Untuk mencapai hasil maksimal, ada lima unsur yang harus diterapkan dalam pembelajaran kooperatif yaitu :

1. Saling ketergantungan positif

Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif , pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. Guru menciptakan suasana yang mendorong siswa merasa saling dibutuhkan

2. Tanggung jawab perseorangan

Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran kooperatif membuatpersiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanankan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.

3 Tatap muka

Para anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk saling mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka dan interaksi pribadi. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing.

4. Komunikasi antar anggota

Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.

5. Evaluasi proses kelompok

Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan efektif.

Incoming search terms: