Novel Perempuan Berkalung Sorban Karya Abidah El Khalieqy dan Pintu Karya Fira Basuki (Kajian Intertekstualitas dan Nilai Pendidikan)

Latar Belakang Masalah Kajian Dua Novel

Dasar intertekstualitas adalah analisis struktur karya sastra dari unsur intrinsik dan ekstrinsiknya, kemudian menganalisis hubungan struktur karya sastra untuk menemukan persamaan dan perbedaan yang dijumpai di dalam kedua novel di atas. Analisis unsur ekstrinsik berupa nilai-nilai pesan antara lain nilai moral, nilai sosial budaya, nilai religi dan nilai falsafi yang disampaikan oleh pengarangnya (Jakob Sumardjo, 1999: 9).

Pendekatan intertekstualitas dalam penelitian ini untuk memperjelas pemahaman terhadap novel PBS karya Abidah El Khalieqy dan PT karya Fira Basuki yang di dalamnya sarat akan simbolisasi. Sehingga akan memberikan jawaban akan permasalahan-permasalahan yang ada pada kedua novel tersebut.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah struktur naratif novel PBS karya Abidah El Khalieqy dan PT karya Fira Basuki?
  2. Bagaimana unsur-unsur pembentuk struktur novel PBS karya Abidah El Khalieqy dan PT karya Fira Basuki?
  3. Apakah persamaan dan perbedaan unsur-unsur struktur novel PBS karya Abidah El Khalieqy dan PT karya Fira Basuki?

Kajian Teori, Penelitian Yang Relevan, Dan Kerangka Berpikir

  • Pendekatan Kajian Sastra

Pendekatan kajian yang dapat digunakan untuk menelaah novel sangat beragam, namun berikut ini disampaikan beberapa pendekatan kajian sastra. Hal ini dikandung maksud sebagai dasar kajian perlu mengetahui asumsi karya sastra sesuai pendekatan yang digunakan dalam mengkaji karya sastra.

  1. Pendekatan Struktural
  2. Pendekatan Intertekstualitas
  • Nilai Pendidikan dalam Novel
  1. Pengertian Nilai

Pada dasarnya yang maksud dengan nilai adalah sifat-sifat, hal-hal yang penting dan berguna bagi kemanusiaan. Dengan kata lain, nilai adalah aturan yang menentukan sesuatu benda atau perbuatan lebih tinggi, dikehendaki dari yang lain (Atar Semi, 1988:54).

  1. Pengertian Pendidikan

Dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I ketentuan umum pasal 1 disebutkan bahwa: ”Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (dalam Soedomo Hadi: 2003: 108). Dari beberapa pendapat tentang nilai pendidikan yang terdapat dalam karya sastra dapat disimpulkan bahwa ada beberapa nilai pendidikan yang bisa diperoleh dari sebuah cerita (dalam hal ini novel). Nilai pendidikan itu diantaranya adalah yang berhubungan dengan sosial, budaya, kemanusiaan, religi/agama, dan moral.

Metodelogi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif–deskriptif.

Teknik pengumpulan data yang digunakan: teknik interaktif meliputi observasi berperan dan focus group discussion. Teknik noninteraktif meliputi mencatat dokumen atau arsip (content analysis), observasi tak berperan, teknik simak dan catat, dan teknik riset pustaka.

Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti menyadari bahwa posisi dan peran utamanya adalah sebagai alat pengumpul data (human instrument), sehingga kualitas data yang diperoleh akan bergantung dari kualitas penelitinya.

Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan teknik analisis model analisis interaktif dengan tiga alur kegiatan: (1) reduksi data; (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Simpulan

  1. Struktur Naratif Novel PBS dan Pintu

Struktur naratif PBS mengisahkan kehidupan Annisa. Kisah ini didasarkan pada novel karya Abidah El Khalieqy, Kisah pengorbanan seorang perempuan, anak kyai salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri. Annisa (23 tahun), seorang perempuan dengan pendirian kuat, cantik dan cerdas. Annisa hidup dalam lingkungan keluarga kiai di pesantren yang kolot. Struktur naratif Pintu dimulai dari pernikahan tokoh aku (Bowo) dengan Aida mantan kekasihnya.

  1. Unsur-unsur Struktur Pembentuk Novel PBS dan Pintu

Tema dalam novel PBS secara umum pengarang ingin mengungkapkan bahwa perlunya pengakuan eksistensi perempauan. Sedangkan Tema novel Pintu,  menceritakan tentang kehidupan sosial tokoh utama dari masa sekolah dan para wanitanya. Budaya Jawa dalam novel ini sangat kental. Dengan demikian, tema sentral dalam novel ini adalah keluhuran budi pekerti seseorang yang tercabut dari akar budayanya. Alur novel PBS dan Pintu bila dikaji secara cermat menggunakan model alur yang sama, yaitu alur konvensional yang sama. Penokohan tokoh utama dalam novel PBS adalah Annisa Nuhaiyyah. Setting waktu novel PBS dan Pintu tidak ada persamaan, kecuali yang terkait dengan perubahan suasana misalnya penggambaran suasana pagi, siang, dan malam. Dalam novel PBS tidak secara tersirat maupun tersurat dijelaskan kapan peristiwa itu terjadi. Namun novel Pintu secara gamblang disebutkan waktunya. Sehingga dalam Pintu secara terperinci dapat dicermati dengan detail.

  1. Nilai Pendidikan dalam Novel PBS dan Pintu

Nilai pendidikan sosial dalam novel PBS, bahwa pendidikan sosial sebaiknya dan seharusnya ditanamkan sejak kecil seperti yang dilakukan oleh orang tua Nisa. Nilai pendidikan sosial dalam novel Pintu, bahwa pendidikan sosial sebaiknya ditanamkan sejak kecil seperti yang dilakukan oleh Papa-Mama Bowo. Dengan demikian, kedua novel tersebut selalau mengingatkan kepada manusia untuk selalu memiliki jiwa sosial, ingat kepada orang sekeliling kita.

 

Incoming search terms:

Antologi Puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus karya A. Mustofa Bisri

Judul Tesis : Antologi Puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus Karya A. Mustofa Bisri (Tinjauan Kritik Sosial, Nilai Religius, dan Nilai Pendidikan)

 

A. Latar Belakang Masalah

puisi-puisi A. Mustofa Bisri bagaimanapun pertama-tama adalah karya seorang ulama. Dalam perspektif ini, hal-hal yang bersifat individual dan sosial merupakan satu-kesatuan, bukan saja karena individu merupakan anggota sosial, melainkan terutama karena individu harus mengekspresikan dan merefleksikan dirinya secara sosial. Maka ibadah yang paling personal pun harus memberikan dampak sosial secara konkret. Secara teknis keagamaan sering dikatakan, iman hendaklah diikuti oleh amal saleh, dan shalat sejatinya mencegah seseorang dari maksiat apa pun.Kerja keulamaan seorang A. Mustofa Bisri memberikan dasar pada isi puisi; kerjakepenyairannya memberikan bentuk dengan mengelaborasi isi puisi itu sendiri dalam bahasa. Adanya muatan pesan yang sarat dengan kehikmahan sekaligus keunikan dalam pengungkapan bahasa dalam puisi-puisi A. Mustofa Bisri menjadi alasan khusus dalam penelitian ini. Utamanya tinjauan pada dimensi kritik sosial, nilai religius dan nilai pendidikan.

Dalam penelitian ini, penulis akan melakukan penelitian terhadap antologi puisi karya A. Mustofa Bisri yang berjudul Tadarus dan Pahlawan dan Tikus dengan tinjauan pada dimensi kritik sosial, nilai religius, dan nilai pendidikan. Oleh karena itu, penulis mengangkat judul penelitian ”Antologi Puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus Karya A. Mustofa Bisri (Tinjauan Kritik Sosial, Nilai Religius, dan Nilai Pendidikan)”.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah kritik sosial dalam hubungannya dengan sikap penyair dan tema dalam antologi puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus karya A. Mustofa Bisri?
  2. Bagaimanakah nilai religius dalam antologi puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus karya A. Mustofa Bisri?
  3. Bagaimanakah nilai pendidikan dalam antologi puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus karya A. Mustofa Bisri?

 

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

untuk mendeskripsikan dan menjelaskan kritik sosial, nilai religius, dan nilai pendidikan dalam antologi puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus karya A. Mustofa Bisri.

 

2. Tujuan Khusus

Adapun secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan:

  1. Kritik sosial dalam hubungannya dengan sikap penyair dan tema dalam antologi puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus karya A. Mustofa Bisri.
  2. Nilai religius dalam antologi puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus karya A. Mustofa Bisri.
  3. Nilai pendidikan dalam antologi puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus karya A. Mustofa Bisri.

 

D. Simpulan

  1. Kritik Sosial dalam Hubungannya dengan Sikap Penyair dan Tema dalam Antologi Puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus
  2. Nilai Religius dalam Antologi Puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus
  3. Nilai Pendidikan dalam Antologi Puisi Tadarus dan Pahlawan dan Tikus

 

E. Saran

  1. Bagi peserta didik hendaknya lebih banyak untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman terhadap apresiasi puisi.
  2. Bagi pendidik selalu berusaha membuat pengajaran apresiasi sastra khususnya puisi menjadi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.
  3. Bagi lembaga pendidikan (Departemen Pendidikan Nasional) untuk tetap memberikan porsi yang seimbang antara pengajaran bahasa (tata bentuk bahasa) dengan pengajaran apresiasi sastra (puisi, prosa, dan drama) dalam rangka penyusunan silabus pembelaran bahasa dan sastra Indonesia.
  4. Bagi para peneliti dan peminat penelitian di bidang pengkajian karya sastra (puisi, prosa, dan drama) dapat terus melakukan penelitian dan pengkajian terhadap karya sastra.

Aspek Sosial Budaya Belitung dalam Novel Dwilogi Padang Bulan

Judul Tesis : Aspek Sosial Budaya Belitung dalam Novel Dwilogi Padang Bulan Karya Andrea Hirata (Pendekatan Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan)

 

A. Latar Belakang

Kultur masyarakat Melayu sebagai salah satu fenomena sosial yang dipaparkan secara jujur dalam novel Cinta di dalam Gelas merupakan hal yang menarik yang diungkapkan dalam novel kedua Dwilogi Padang Bulan ini, kisah perjuangan hidup Enong lebih lengkap dituangkan dalam novel Cinta di Dalam Gelas yang merupakan kelanjutan dari kisah perjuangan Enong dalam Novel Padang Bulan.

Novel Cinta di dalam Gelas menampilkan kisah catur dan kebiasaan-kebiasaan unik orang Melayu kampung yakni gemar berkumpul, berinteraksi, dan bersosialisasi sambil minum kopi di warung. Salah satunya adalah warung kopi, berbagai kebiasaan, sifat, dan gaya hidup orang Melayu di sekitarnya dituturkan lewat secangkir kopi. Melalui riset sosial dan cultural, serta watak manusia dalam hubungannya yang dilakukan sendiri oleh Andrea Hirata. Riset tentang catur. Namun, novel ini sesungguhnya bukanlah tentang catur melainkan bagaimana seorang perempuan menegakkan martabatnya dengan cara yang elegan, tentang perspektif politik kaum marginal, dan tentang falsafah pendidikan yang dianut perempuan itu (Enong). “Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar,” kata perempuan yang bahkan tidak tamat SD itu.Belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan.Oleh karena itu, fokus pengkajian dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra, yakni kajian ilmiah tentang sejauh mana novel Dwilogi Padang Bulan dapat mengungkapkan kebenaran latar sosial budaya masyarakatnya yang menjadi fokus dalam peneilitian ini.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah aspek sosial budaya Belitung yang terungkap dalam novel Dwilogi Padang Bulan karya Andrea Hirata?
  2. Apa sajakah nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Dwilogi Padang Bulan karya Andrea Hirata.

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menjelaskan :

  1. Aspek sosial budaya masyarakat Belitung yang terungkap dalam novel Dwilogi Padang Bulan karya Andrea Hirata.
  2. Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Dwilogi Padang Bulan karya Andrea Hirata.

 

D. Simpulan

1. Sistem religi Islam merupakan agama yang paling dominan dianut oleh masyarakat Belitung, yakni suatu kepercayaan hanya kepada satu tuhan adalah Allah SWT.

2. Sistem pengetahuan masyarakat Belitung meliputi

  • pengetahuan tentang musim
  • pengetahuan tentang pendidikan formal
  • pengetahuan tentang kesehatan
  • sistem bahasa masyarakat yang terungkap dalam novel adalah bahasa Melayu, yang sekarang menjadi bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia.
  • sistem kesenian meliputi seni

3. Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Dwilogi Padang Bulan

  • Nilai spiritual yang mencakup nilai:nilai agama yang mengatur penganutnya
  • Nilai ajaran hidup yang terungkap

4. Nilai sosial dalam novel dapat pula dijadikan media pembelajaran sosiologi.

 

E. Saran-saran

Bagi Guru

Guru mampu menjadi agen informasi sosial budaya kepada anak didik melalui memberikan bacaan yang berlatar Belitung.

Bagi Siswa

Diharapkan dapat memilih bahan bacaan yang bermutu dan dapat memberikan informasi budaya secara tepat, cepat, dan detail.

Bagi Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Bangka Belitung Dengan cara melakukan lomba-lomba menulis cerpen atau novel yang berlatar Belitung.

 

 

Incoming search terms:

Aspek Sosial Budaya Masyarakat Pinggiran dalam Novel Rumah Tanpa Jendela

Judul Tesis : Aspek Sosial Budaya Masyarakat Pinggiran dalam Novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia (Kajian Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan)

 

A. Latar Belakang

Faktor sosial budaya dan latar belakang berisi alasan yang melatarbelakangi pengarang untuk menulis novel ini perlu dikaji lebih mendalam. Selain hal tersebut, berbagai macam aspek sosial yang digambarkan dalam novel ini juga perlu dikaji lebih dalam untuk mengetahui kesesuaian dengan realitas kehidupan yang ada dalam masyarakat, sekaligus pengaruh yang didapatkan pembaca melalui novel ini mengenai pandangan hidup dan perubahan yang bisa didapatkan setelah membaca novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia ini. Pembaca juga perlu mengetahui berbagai macam nilai pendidikan yang ada di dalamnya sebagai amanat yang disampaikaan penulis terhadap masyarakat.

Adapun alasan penulis memilih novel RTJ adalah sebagai berikut. Pertama, novel ini novel baru yang diterbitkan pada tahun 2011 dan segera difilmkan setelah penerbitannya. Kedua, sepengetahuan penulis belum ada yang meneliti karya tersebut. Ketiga, novel ini mengangkat realitas sosial yang terjadi pada masyarakat Indonesia, utamanya masyarakat yang tinggal di pinggiran Jakarta. Keempat, novel RTJ ini memiliki sarat nilai pendidikan yang sangat diperlukan untuk pembentukan karakter anak didik di sekolah seperti nilai agama, soial, dan moral. Dalam perkembangannya, novel ini telah difilmkan dan 100% hasil dari penjualan tiket bioskopnya ditujukan untuk misi sosial kemanusiaan bagi anak-anak Indonesia yang membutuhkan.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana latar belakang sosial pengarang novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia?
  2. Bagaimana aspek sosial budaya masyarakat pinggiran yang ada dalam novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia?
  3. Bagaimana pengaruh sosial novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia terhadap masyarakat?
  4. Bagaimana nilai pendidikan novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia?

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

untuk mendeskripsikan aspek sosial budaya dalam novel RTJ berdasarkan teori sosiologi sastra. Selain itu juga mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan yang ada dalam novel tersebut.

Tujuan Khusus

Secara khusus, tujuan penelitian ini adalah

  1. Untuk mendeskripsikan latar belakang sosial pengarang novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia;
  2. Untuk mendeskripsikan aspek sosial budaya masyarakat pinggiran yang ada dalam novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia;
  3. Untuk mendeskripsikan pengaruh sosial novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia terhadap masyarakat;
  4. Untuk mendeskripsikan nilai edukatif yang terdapat dalam Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia.

 

D. Simpulan

1. Latar Belakang Sosial Pengarang Novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia

Dekatnya pergaulan Asma dengan pendidikan anak-anak kurang mampu memberikan inspirasi bagi dirinya untuk menulis novel RTJ ini. Selain itu juga pengalamannya yang pernah mendalami kehidupan masyarakat pinggiran Jakarta, membuatnya menjatuhkan pilihan pada perkampungan kumuh Menteng Pulo sebagai latar cerita.

2. Aspek Sosial Budaya dalam Novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia

Masyarakat akan lebih dapat masuk ke dalam novel karena setidaknya ada penggambaran dasar dari lingkungan sekitarnya. Aspek sosial budaya yang ditampilkan dalam novel dapat dilihat dari segi pendidikan, pekerjaan, bahasa, tempat tinggal, kebiasaan, dan cara pandang masyarakat terhadap perspektif kehidupan.

3. Pengaruh Novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia terhadap Masyarakat

Novel ini memberikan pemahaman baru pada masyarakat bahwa dari golongan masyarakat yang demikianpun kita semua bisa belajar banyak tentang kehidupan untuk menjadi lebih bijak.

4. Nilai Pendidikan dalam Novel Rumah Tanpa Jendela Karya Asma Nadia

Nilai pendidikan dari sebuah cerita bisa dilihat dari hal-hal yang bersifat positif maupun negatif. Kedua hal tersebut perlu disampaikan agar kita dapat memperoleh banyak teladan yang bermanfaat. Nilai pendidikan tersebut terdiri dari nilai pendidikan agama, nilai pendidikan moral, nilai pendidikan sosial, dan nilai pendidikan budaya.

Incoming search terms:

Pendekatan Intertekstualitas dan Nilai Pendidikan Novel Karya A. Fuadi dan Andrea Hirata

Judul Skripsi : Kajian Novel Negeri Lima Menara Karya A. Fuadi dan Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata (Pendekatan Intertekstualitas dan Nilai Pendidikan)

 

A. Latar Belakang Masalah

Novel Negeri Lima Menara karya A. Fuadi menggambarkan secara detail proses pendidikan yang begitu menantang dan menyenangkan di dalam sebuah pondok pesantran modern yang ada di Ponorogo Jawa Timur. Sedangkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata menggambarkan keadaan pendidikan yang dialami seorang anak dan sekelompok anak yang ada di Pulau Belitong, yang menggambarkan bagaimana kenyatan pendidikan di daerah pedesaan dan jauh dari pusat pemerintahan yang terkendala keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan.

Penelitian ini akan mengkaji novel Negeri Lima Menara karya A. Fuadi dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dengan pendekatan intertekstualitas. Pengkajian terhadap dua novel tersebut dengan menganalisis struktur yang ada di dalam kedua novel tersebut kemudian menemukan benang merah berupa hubungan persamaan dan perbedaan dari novel Negeri Lima Menara karya A. Fuadi dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana hubungan intertekstualitas antara novel Negeri Lima Menara karya A. Fuadi dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata?
  2. Bagaimana novel Negeri Lima Menara karya A. Fuadi dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata memberikan nilai pendidikan?

 

C. Tujuan

  1. Menjelaskan hubungan intertekstualitas antara novel Negeri Lima Menara karya A. Fuadi dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
  2. Menjelaskan nilai pendidikan yang diberikan novel Negeri Lima Menara karya A. Fuadi dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

 

D. Simpulan Skripsi

1. Hubungan Intertekstualitas antara Novel Negeri Lima Menara Karya A. Fuadi dan Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata

Beberapa bagian yang menjadi point dalam kedua novel tersebut antara lain metode pendidikan yang ada di sekolah, pidato dari guru yang membangkitkan semangat dan memberikan motivasi para siswanya, tata tertib yang harus dipatuhi oleh siswa, cara mempelajari bahasa asing, sepeda sebagai sarana transportasi, kegiatan perlombaan atau pertandingan, bulutangkis, cita-cita dan impian, liburan sekolah atau liburan kelas, kisah cinta atau suka terhadap wanita, pengabdian seorang pendidik terhadap tugas dan profesinya sebagai seorang guru atau pendidik, jiwa kepemimpinan, pertunujukan seni, keputusan untuk keluar dari sekolah, suasana perpisahan dengan kawan yang sangat pandai dan disayangi.

2. Nilai Pendidikan yang Diberikan Novel Negeri Lima Menara Karya A. Fuadi dan Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata

  • Negeri Lima Menara

Nilai pendidikan yang ada di dalam novel Negeri Lima Menara antara lain nilai religius (agama) berkaitan dengan pondok pesantren dan ajaran yang ada di dalmnya. Nilai moral (etika) menyangkut baik dan buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, dan kewajiban. Nilai sosial , kepedulain terhadap lingkungan sekitar. Nilai budaya, menghormati dan menghargai orang tua, budaya khas Tanah Minang, Budaya berkaitan pemberian nama pada setiap nama orang-orang Minang, serta budaya yang ada di Pondok Madani.

  • Laskar Pelangi

Nilai pendidikan yang berkaitan dengan nilai agama sangat kental sekali di novel Laskar Pelangi. Novel ini memiliki latar belakang sekolah Islam, yaitu perguruan Muhammadiyah. Nilai moral yang ada di dalam novel Laskar Pelangi berkaitan dengan bagaimana memberikan pemahaman akan adanya sikap yang rendah hati dan tidak sombong, menggapai cita-cita dan perjuangan untuk menggapai harapan. Nilai sosial tersebut diajarkan guru kepada muridnya.

Kajian Intertekstual dan Nilai Pendidikan Novel Karya Remy Sylado dan Arthur Golden

Judul Skripsi : Kajian Intertekstual dan Nilai Pendidikan Antara Novel Memoirs Of A Geisha Karya Arthur Golden dengan Novel Kembang Jepun Karya Remy Sylado

A. Latar Belakang Masalah

Novel Kembang Jepun karya Remy Sylado mengisahkan tentang kehidupan seorang geisha asal Manado yang bertempat tinggal di Surabaya. Novel ini sangat menarik untuk dikaji karena di samping mempunyai kemiripan dengan Memoirs of A Geisha. Geisha tetapi juga menampilkan tiga zaman yaitu zaman kolonial, zaman Jepang, dan masa kemerdekaan.

Alasan peneliti tertarik meneliti novel Memoirs of A Geisha karya Arthur Golden dan Kembang Jepun karya Remy Sylado dengan kajian intertekstual karena

  • Antara novel Memoirs of A Geisha dengan Kembang Jepun memiliki banyak persamaan dan perbedaan dari segi struktur cerita dan
  • Antara novel Memoirs of A Geisha dan Kembang Jepun mengandung nilai pendidikan terutama nilai pendidikan moral dan nilai pendidikan budaya.

Oleh karena itu, peneliti mengkaji kedua novel tersebut dengan pendekatan intertekstual dan nilai pendidikan moral dan nilai pendidikan budaya yang terdapat dalam kedua novel tersebut.

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

  1. Bagaimanakah persamaan antara novel Memoirs of a Geisha karya Arthur Golden dan Kembang Jepun karya Remy Sylado?
  2. Bagaimanakah perbedaan antara novel Memoirs of a Geisha karya Arthur Golden dan Kembang Jepun karya Remy Sylado?
  3. Bagaimanakah hubungan intertekstual antara novel Memoirs of A Geisha karya Arthur Golden dengan novel Kembang Jepun karya Remy Sylado?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mendeskripsikan dan menjelaskan persamaan antara novel Memoirs of a Geisha karya Arthur Golden dan Kembang Jepun karya Remy Sylado.
  2. Mendeskripsikan dan menjelaskan perbedaan antara novel Memoirs of a Geisha karya Arthur Golden dan Kembang Jepun karya Remy Sylado.
  3. Mendeskripsikan dan menjelaskan hubungan intertekstual antara novel Memoirs of A Geisha karya Arthur Golden dengan novel Kembang Jepun karya Remy Sylado.

 

D. Simpulan

1. Penokohan dan perwatakan yang terdapat dalam novel Memoirs of A Geisha dengan Kembang Jepun terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya perwatakan pada kedua novel tersebut adalah sikap jujur, sabar, mandiri, percaya diri, setia (tepat janji), bekerja keras, optimis, rela berkorban, dan cerdik. Perbedaan perwatakan dalam kedua novel tersebut adalah tokoh tambahan Ketua sebagai pengusaha mempunyai watak pandai namun tidak berani mengungkapkan cinta, sedangkan tokoh Tjak Broto sebagai wartawan mempunyai watak yang berani mengungkapkan cintanya.

2. Setting pada novel Memoirs of A Geisha karya Arthur Golden dengan novel Kembang Jepun karya Remy Sylado terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya, kedua novel tersebut menggunakan Jepang sebagai latar. Perbedaannya, dalam novel Memoirs of A Geisha Kyoto (Jepang) sebagai pusat cerita, sedangkan dalam novel Kembang Jepun Jepang merupakan pengembangan cerita. Dalam novel Kembang Jepun kota Surabaya dan Blitar merupakan pusat cerita.

3. Setelah mengetahui persamaan dan perbedaan antara novel Memoirs of A Geisha dengan Kembang Jepun dari unsur strukturnya, maka dapat diketahui bahwa novel Memoirs of A Geisha memberikan pengaruh terhadap terciptanya novel Kembang Jepun. Dengan demikian, novel Memoirs of A Geisha karya Arthur Golden merupakan hipogram novel Kembang Jepun karya Remy Sylado. Dengan kata lain novel Kembang Jepun merupakan teks transformasi dari novel Memoirs of A Geisha.

Kajian Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan dlm Novel Tuan Guru Karya Salman Faris

Judul Skripsi : Kajian Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan dalam Novel Tuan Guru Karya Salman Faris

 

A. Latar Belakang Masalah

Segala sesuatu yang dilukiskan oleh sastrawan dalam sebuah novel merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dikesampingkan dalam melakukan sebuah analisis. Sosiologi sastra tidak bisa mengenyampingkan peran ilmu lain dalam analisisnya meskipun fokus kajian berbeda-beda, misalnya dalam menganalisis sosial budaya masyarakat, pasti diperlukan ilmu-ilmu sosial ataupun ilmu-ilmu budaya. Seperti yang dikemukakan oleh Goldman (1997: 493): “the sociologist of literature must—like any other sociologist—verify this fact and not admit straightaway that such and such a work or such and such a group of works which he is studying constitutes a unitary structure”.

Terkait dengan pandangan tersebut, dalam penelitian ini mengkaji tentang pandangan dunia pengarang, sosial budaya yang dilukiskan pengarang dalam novel, serta nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Tuan Guru karya Salman Faris. Pengambilain nilai pendidikan sebagai salah satu masalah yang dikaji dalam penelitian ini karena setiap karya pasti mengandung nilai-nilai kehidupan yang mendidik pembaca. Kajian terhadap nilai pendidikan tersebut akan menjadi nilai tambah penting bagi pembaca.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah pandangan dunia pengarang mengenai eksistensi Tuan Guru dalam novel Tuan Guru karya Salman Faris?
  2. Nilai-nilai pendidikan apa sajakah yang terkandung dalam novel Tuan Guru karya Salman Faris?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mendeskripsikan dan menjelaskan pandangan dunia pengarang mengenai eksistensi Tuan Guru dalam novel Tuan Guru karya Salman Faris.
  2. Mendeskripsikan dan menjelaskan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Tuan Guru karya Salman Faris.

 

D. Simpulan Skripsi

1. Pandangan Dunia Pengarang terhadap Eksistensi Tuan Guru dalam Novel Tuan Guru Pandangan Salman Faris mengenai eksistensi tuan guru dalam masyarakat Lombok yang dituangkan dalam novel Tuan Guru menyingkap bahwa sesungguhnya tuan guru merupakan manusia biasa yang tidak berbeda dengan masyarakat umumnya. Perbedaan terletak pada ilmu agama dan secara aplikatif tuan guru belum tentu bisa mengamalkan ilmunya secara total. Ia juga tidak luput dari kesalahan atau lebih halusnya kekhilafan seperti masyarakat lainnya. Tuan guru tidak boleh dikeramatkan apalagi disamakan derajatnya dengan nabi yang merupakan manusia pilihan Allah yang mulia.

2. Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Tuan Guru

  • Nilai Pendidikan Sosial

Nilai sosial yang digambarkan banyak menyiratkan tentang kesetiakawanan, penghormatan seorang istri kepada suami, kepatuhan seorang anak kepada orang tua, kehidupan bertetangga yang luhur, serta menghormati orang yang lebih tua.

  • Nilai Pendidikan Moral

Nilai pendidikan moral yang disuguhkan dalam novel Tuan Guru mencakup pendidikan moral dalam hubungan kemanusiaan, kehidupan beragama, dan kehidupan dengan alam.

  • Nilai Pendidikan Budaya

Nilai pendidikan budaya khususnya kebudayaan Lombok yang diungkapkan dalam novel Tuan Guru yakni tentang kebudayaan begibung; makan bersama dalam satu wadah. Hal ini memupuk rasa persaudaraan serta meniadakan kelas sosial di antara sesama anggota masyarakat. Dalam merumuskan aturan-aturan yang berlaku di perkampungan yang sifatnya tidak tertulis, kebudayaan masyarakat Lombok mengajarkan untuk memberikan mandat kepada sesepuh kampung atau desa yang dianggap punya pengaruh dan telah mengetahui seluk beluk kampung sehingga mampu menyusun aturan yang terbaik bagi masyarakat.

Incoming search terms:

Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi Analisis Psikologi Sastra dan Nilai Pendidikan

Latar Belakang Masalah Mengkaji Novel Karya Ahmad Fuadi

Sosok Ahmad Fuadi adalah salah satu pengarang dari Sumatra. Ia adalah mantan wartawan TEMPO dan VOA, penerima delapan beasiswa luar negeri, dan penyuka fotografi. Pernah tinggal di Kanada, Singapura, Amerika Serikat, dan Ingris. Alumni pondok moderen Gontor. Novel pertamanya yang berjudul Negeri 5 Menara telah mendapat penghargaan dan pengakuan di hati masyarakat.

Atas dasar uraian di atas dapat di jelaskan alasan dalam pemilihan judul, antara lain:

  1. Penulis novel ini merupakan penulis terfavorit, anugrah pembaca Indonesia 2010
  2.  Novel Ranah 3 Warna banyak menggugah hati pembaca sehingga sebagian royalti trilogi ini untuk membangun komunitas menara, sebuah yayasan sosial untuk membantu pendidikan orang yang tidak mampu, yang berbasiskan sukarelawan
  3.  Novel ini menceritakan seseorang lulusan dari pesantren tetapi juga memiliki kemauan keras untuk merambah kesetaraan pendidikan negri bahkan sampai ke luar negeri

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah struktur novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi?
  2. Bagaimanakah aspek-aspek psikologi watak tokoh dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi?
  3. Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi?

Kajian Teori, Penelitian Yang Relevan, Dan Kerangka Berpikir

  • Pengertian Psikologi Sastra

Psikologi sastra adalah model penelitian interdisiplin dengan menetapkan karya sastra sebagai memiliki posisi lebih dominan (Nyoman Kutha Ratna, 2004: 349).

  • Metode Penelitian Psikologi Sastra

Metode atau langkah kerja pada pendekatan psikologis menurut Semi dalam Suwardi Endraswara (1993: 80-81). Langkah kerja yang akan menuntun fokus penelitian psikologi sastra adalah sebagai berikut:

  1. Pendekatan psikologis menekankan analisis terhadap keseluruhan karya sastra, baik segi intrinsik maupun segi ekstrinsik.
  2. Segi ekstrinsik yang dipentingkan untuk dibahas adalah mengenai pengarang yang menyangkut masalah kejiwaannya, cita-cita, keinginan, falsafah hidup, obsesi, dan lain-lain.
  • Hakikat Nilai

Nilai ialah gagasan yang berpegang pada suatu kelompok individu dan menandakan pilihan di dalam situasi. Jenis-jenis yang digolongkan sebagai nilai-nilai, yakni:

  1. Nilai pendidikan
  2. Nilai sosial
  3. Nilai politik
  4. Nilai ekonomi
  5. Nilai biologis

Metodelogi Penelitian

Bentuk penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan strukturalisme dan aspek psikologi watak dengan metode deskriptif kualitatif dan strategi content analysis (analisis isi).

Hasil dari kegiatan tersebut dideskripsikan dalam bentuk kalimat-kalimat. Penelitian dilaksanakan selama lebih kurang lima bulan, yaitu bulan Oktober 2011 sampai dengan bulan Maret 2012.

Sumber data dalam penelitian ini adalah:

  1.  Teks, yaitu novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh penerbit PT Gramedia Pustaka Utama pada bulan Januari 2011
  2.  Catatan lapangan yang terdiri dua bagian, yaitu bagian deskripsi dan bagian refleksi. Bagian deskripsi merupakan usaha untuk merumuskan objek yang sedang diteliti, sedangkan bagian refleksi merupakan renungan pada saat penelaahan
  3.  Buku-buku literatur yang relevan.Teknik pengumpulan data dengan metode dokumentasi dan metode telaah

Simpulan

  • Struktur Novel Ranah 3 Warna

Struktur naratif novel Ranah 3 Warna dapat dikaji dari segi tema, peristiwa, plot atau alur, penokohan/ perwatakan, latar, sudut pandang, setting, dan amanat.

  • Aspek Psikologi Watak Tokoh

Aspek psikologi watak yang terdapat dalam novel Ranah 3 Warna meliputi;

  1. Kebutuhan fisiologi
  2. Kebutuhan rasa aman
  3. Kebutuhan dicinta atau disayangi
  4. Kebutuhan harga diri
  5. Kebutuhan aktualisasi diri. Seluruh aspek-aspek watak tersebut merupakan kondisi psikologi normal setiap individu terutama para tokoh yang ada dalam novel.
  • Nilai Pendidikan

Nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Ranah 3 Warna setidaknya meliputi empat macam, yaitu nilai pendidikan agama, nilai pendidikan moral, nilai pendidikan sosial, dan nilai pendidikan budaya.

 

Incoming search terms: