Pandangan Strukturalisme Genetik dan Nilai Pendidikan dalam Novel

Latar Belakang Masalah Pandangan Aspek-aspek dalam Novel

Karya sastra yang dipilih sebagai objek kajian dengan pendekatan strukturalisme genetik adalah novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo dengan alasan:

  1. Kuntowijoyo seorang sastrawan besar pencetus sastra profetik,
  2. Novel-novel tersebut merupakan cermin realitas masyarakat; dan
  3. Kajian strukturalisme genetik dan nilai pendidikan terhadap ketiga karya sastra tersebut belum pernah dilakukan Judul yang diambil dalam penelitian ini adalah “Pandangan Profetik Kuntowijoyo dalam Novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah (Kajian Strukturalisme Genetik dan Nilai Pendidikan)”.

Judul yang diambil dalam penelitian ini adalah “Pandangan Profetik Kuntowijoyo dalam Novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah (Kajian Strukturalisme Genetik dan Nilai Pendidikan)”.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pandangan dunia pengarang yang melatarbelakangi novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo?
  2. Bagaimana struktur sosial budaya masyarakat dalam novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo?
  3. Mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan dalam novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo?

Landasan Teoretis

  • Pengertian Novel

Novel dalam arti umum berarti cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas yaitu cerita dengan plot dan tema yang kompleks, karakter yang banyak dan setting cerita yang beragam.

  • Unsur-unsur Novel

Penelitian terhadap novel bertolak pada unsur yang terdapat di dalam novel itu. Berkenaan dengan unsur intrinsik, Burhan Nurgiyantoro (2002: 23) menyebutkan beberapa unsur, yaitu peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, dan bahasa atau gaya bahasa.

  • Cara Mengukur Adanya Nilai Pendidikan dalam Novel

Cara mengukur atau menganalisis nilai pendidikan yang ada di dalam novel adalah dengan membaca novel-novel tersebut secara berulangulang, memahami sacara mendalam, dan mencatat kalimat-kalimat mana sajakah yang penting dan dianggap dapat mendukung sebuah nilai pendidikan di dalamnya. Setalah dapat memahami isi teks novel tersebut, kemudian dikaji tema dan amanat yang ada di dalam ketiga novel tersebut. Dengan adanya tema yang dimunculkan di dalamnya, dapat diketahui apakah nilai-nilai yang ada di dalam novel tersebut dapat digunakan sebagai landasan pendidikan atau tidak.

Metodelogi Penelitian

Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode content analysis atau analisis isi.

Sumber data penelitian ini adalah novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo, karya-karya Kuntowijoyo yang lain, biografi penulis, komentar pengarang-pengarang lain, dan artikel dari buku, surat kabar, internet yang menunjang permasalahan penelitian.

Teknik analisis cuplikan penelitian ini menggunakan purposive sampling. Validitas data penelitian ini menggunakan metode triangulasi teori.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis jalinan atau mengalir (flow model of analysis) yang meliputi tiga komponen, yaitu:

  1. Reduksi data (data reduction)
  2. Sajian data (data display)
  3. Penarikan simpulan (conclution drawing)

Prosedur penelitian yang peneliti lakukan melalui tiga tahap mencakup:

  1.  Tahap eksplorasi dan memperoleh gambaran umum
  2.  Tahap eksplorasi fokus
  3.  Tahap pengecekan dan keabsahan data

Simpulan

Pandangan dunia Kuntowijoyo adalah pandangan religius profetik. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Kuntowijoyo dalam maklumat sastra profetik. Dikatakannya bahwa sastra adalah sebagai bagian dari ibadah. Ini adalah bukti pandangan religiusnya. Akan tetapi, pandangan religius tersebut bukanlah religius sufistik yang hanya mengedepankan hubungan manusia dengan Tuhan. Pandangannya adalah religius profetik karena ada humanisasi, leiberasi, dan transendensi.

Pak Mantri dideskripsikan sebagai tokoh hero yang dikenal karena interaksi sosialnya yang baik kepada masyarakat baik pedagang maupun pejabat pemerintah. Tokoh Pak Mantri diwujudkan sebagai sosok yang religius, jujur, setia sopan, dan tahu diri. Struktur sosial budaya masyarakat dalam novel Pasar, Mantra Pejinak Ular (MPU), dan Wasripin dan Satinah (WS) berkaitan erat dengan kenyataan sosial budaya masyarakat Jawa.

Analisis nilai-nilai pendidikan dalam novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah meliputi analisis nilai pendidikan:

  1. Agama
  2. Moral
  3. Adat/budaya
  4. Sosial
  5. Kepahlawanan

Novel Suparto Brata’s Omnibus Karya Suparto Brata (Pendekatan Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan)

Latar Belakang Masalah Kajian Sosiologi dan Nilai Pendidikan dalam Novel

Di setiap novelnya memiliki kekhasan masing-masing. Seperti halnya dalam novel clemang-clemong, terdapat beberapa kata yang bagi sebagian orang dianggap tabu. Dalam novel Astirin Mbalela kita bisa melihat keberanian Astirin dalam menentang tradisi kawin paksa dan petualangannya saat pergi ke Surabaya. Selanjutnya Suparto Brata menyajikan adegan menegangkan dengan gaya khas detektif dalam novel Bekasi Remengremeng. Semuanya dikemas dengan tangan dingin Suparto Brata. Pembaca juga disuguhkan dengan alur cerita yang menawan. Tidak mudah ditebak! Pembaca akan terus dibuat penasaran dan bertanya-tanya tentang peristiwa selanjutnya. Istilah seperti suspense dan surprise juga dihadirkan dalam cerita Astirin Mbalela. Suspense yang membuat pembaca penasaran dan ingin terus membacanya, sedangkan surprise adalah hal yang memberi kejutan bagi pembaca dalam cerita tersebut.

Penelitian ini mengambil judul Novel Suparto Brata‟s Omnibus karya Suparto Brata (Tinjauan Sosiologi Sastra dan Nilai-nilai Pendidikan). Penelitian ini dimulai dengan sebuah kajian struktural yang menganalisis tentang tema, alur, penokohan, setting, dan sudut pandang dilanjutkan dengan kajian sosiologi sastra, dan nilai-nilai pendidikan yang meliputi nilai pendidikan agama, karakter dan sosial budaya.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah unsur-unsur struktural yang meliputi tema, alur, penokohan, latar, dan sudut pandang yang terdapat dalam SBO?
  2. Bagaimanakah aspek sosial dan budaya yang terdapat dalam SBO?
  3. Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan dalam SBO?

Landasan Teori, Penelitian Yang Relevan, Kerangka Berpikir

  • Pendekatan Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra adalah suatu telaah obyektif dan ilmu tentang manusia dalam masyarakat dan proses sosialnya (Sapardi Djoko Damono, 1979: 17). Penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra memperlihatkan kekuatan yakni: sastra dipandang sebagai sesuatu hasil budaya yang amat diperlukan masyarakat. Suatu pendekatan sosiologi sastra mencakup tiga komponen pokok menurut pendapat Warren dan Wellek dalam Djoko Damono (1979: 3) ketiganya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Sosiologi pengarang
  2. Sosiologi karya sastra
  3. Sosiologi sastra
  • Hakikat Nilai Pendidikan

Herman J. Waluyo (2009:27) menyatakan bahwa nilai sastra berarti kebaikan yang ada dalam makna karya sastra bagi kehidupan. Nilai sastra dapat berupa nilai medial (menjadi sarana). Nilai final (yang dikejar seseorang), nilai cultural, nilai kesusilaan, dan nilai agama. Dari pendapat tersebut, peneliti menyimpulkan ada tiga macam nilai yang terdapat dalam Suparto Brata‟s Omnibus. Nilai-nilai pendidikan yang dimaksud yaitu nilai pendidikan agama, pendidikan karakter, dan pendidikan sosial budaya.

Metodelogi Pendidikan

Bentuk penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.

Sumber data penelitian ini dapat dipilah menjadi dua, yaitu dokumen dan informan. Dokumennya adalah Suparto Brata‟s Omnibus tahun 2007. Informannya adalah pengarang Suparto Brata‟s omnibus.

Berdasarkan sumber data penelitian, maka data penelitiannya adalah teks di dalam Suparto Brata‟s omnibus yang mengandung tema, alur, penokohan, setting, sudut pandang, aspek sosial budaya, dan nilai-nilai pendidikan.

Simpulan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap Suparto Brata‟s Omnibus, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

  1. Suparto Brata‟s Omnibus meliputi tiga novel, yaitu Astirin Mbalela, Clemang-clemong, dan Bekasi Remeng-remeng. Ditinjau dari analisis struktural, novel Astirin Mbalela merupakan salah satu novel yang bertemakan perjuangan. Aspek penokohan dalam novel Astirin Mbalela menampilkan tokoh-tokoh dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda. Alur yang digunakan dalam novel Astirin Mbalela adalah alur maju, karena menceritakan kejadian dari awal hingga akhir.Setting tempat, setting waktu, dan setting sosial digarap dengan apik dan menarik. Sudut pandang yang digunakan oleh pengarang dalam novel Astirin Mbalela adalah sudut pandang orang ketiga. Aspek penokohan dalam novel tersebut juga menampilkan tokoh-tokoh dengan komplek, dan sebagian tokoh mengalami perubahan nasib.
  2. Bagaimanapun juga aspek sosial budaya tidak bisa dilepaskan dari karya sastra terutama karya rekaan. Segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan, pendidikan, agama, adat-istiadat, bahasa, suku dan tempat tinggal selalu berhubungan dengan karya tersebut. Tidak terkecuali dalam Suparto Brata‟s Omnibus yang meliputi Astirin Mbalela, Clemang-clemong, dan Bekasi Remeng-remeng.
  3. Nilai-nilai pendidikan yang meliputi nilai pendidikan agama, pendidikan karakter, dan pendidikan sosial budaya yang terdapat dalam Suparto Brata‟s Omnibus sangat bermanfaat bagi penikmat karya sastra dimanapun berada.

 

Incoming search terms:

Novel Ular Keempat Karya Gus TF Sakai (Tinjauan Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan)

Latar Belakang Masalah Kajian Sosiologi dan Nilai Pendidikan Pada Novel

Dikembangkan alasan secara rinci dilakukan penelitian ini adalah:

  1. Novel Ular Keempat mempunyai banyak keistimewaan, salah satunya adalah mengajarkan tentang nilai-nilai pendidikan yang kompleks dan menarik untuk dikaji;
  2. Sepanjang pengetahuan penulis novel Ular Keempat belum pernah diteliti dengan pendekatan sosiologi sastra;
  3. Analisis terhadap novel Ular Keempat diperlukan guna menentukan kontribusi pemikiran dalam memahami masalah-masalah nilai pendidikan di masyarakat.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, penulis tertarik untuk menganalisis novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai dengan judul: ”Novel Ular Keempat Karya Gus TF Sakai (Tinjauan Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan).

Perumusan Masalah

  1. Bagaimanakah relevansi novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai dengan situasi sosiologi pengarang dalam unsur sosial karya tersebut?
  2. Bagaimanakah situasi sosiologi yang ditampilkan dalam novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai?
  3. Bagaimanakah nilai pendidikan dalam novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai?

Landasan Teori

  1. Pengertian Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang hidup dan kehidupan manusia dalam masyarakat yang diwujudkan dalam karya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Wellek dan Austin, 1993: 68).

  1. Nilai-nilai Pendidikan Sosiologi Sastra

Nilai adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subjek. Suleman (1995: 40) berpendapat bahwa pendidikan sebagai keseluruhan yang kompleks berhubungan dengan akal budi dalam kehidupan seseorang yang menekankan pada tiga unsur (akal, perasaan, dan kehendak) secara bersamaan sehingga individu dapat membedakan perbuatan baik dan buruk. Berkaitan dengan moral dan macam budaya tersebut, maka macam pendidikan moral dapat masuk dalam 5 kelompok tersebut dengan penjelasannya sebagai berikut.

  • Nilai Pendidikan Bidang Religius atau Agama
  • Nilai Pendidikan Bidang Ilmu Pengetahuan
  • Nilai Pendidikan Bidang Sosial
  • Nilai Pendidikan Bidang Ekonom
  • Nilai Pendidikan Bidang Politik
  • Nilai Pendidikan Budaya

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologis.

Data dalam penelitian ini berupa kata, frasa, dan kalimat yang terdapat dalam novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai, diterbitkan oleh Kompas, Jakarta, tahun terbit 2005 dengan tebal 196 halaman.

Teknik pengumpulan data menggunakan metode pustaka.

Uji validasi melalui triangulasi teori.

Analisis data secara heuristik dan hermeneutik dilanjutkan dengan analisis interaktif.

Simpulan

  1. Relevansi Novel Ular Keempat Karya Gus TF Sakai dengan Situasi Sosiologi

Pengarang dalam Unsur Sosial Pandangan Gus TF Sakai terhadap novel Ular Keempat, merupakan gambaran kehidupan yang percaya kepada Tuhan. Keyakinan kepada Tuhan yang terdapat pada seorang individu akan berpengaruh terhadap perilaku individu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Agama sebagai wujud ajaran keyakinan kepada Tuhan memuat ajaran yang penting dilakukan dan ajaran yang dilarang, dengan melakukan tindakan sesuai ajaran agama dapat mempengaruhi perilaku individu pada perbuatan baik dan buruk.

  1. Situasi Sosiologis yang Ditampilkan dalam Novel Ular Keempat Karya Gus Tf Sakai
  • Kesejatian dalam beragama

Novel yang mengangkat fakta sejarah mengenai kisruh perjalanan haji tahun 1970 sebagai latar cerita. Secara konvensional, urutan peristiwa disusun kronologis. Di antara itu, pengarang memanfaatkan tokoh utama untuk memasukkan alam pikiran bawah sadar berjalin kalidah dan dengan mitos, dan halusinasi.

  • Kesejatian hidup orang secara individual

Ular keempat menceriterakan sifat tokoh utama (Janir) yang individualistis, yang tidak ingat siapa pun, hanya ingat kehormatan diri sendiri, kemajuan diri pribadi, kemakmuran sendiri-sendiri. Janir menumpuk uang untuk berhaji dan dilakukan berkali-kali. Janir melupakan induk semangnya, tetangganya yang papa, para fakir, kaum duafa. Sosok Janir merefleksikan mengelabangnya individualitas dan ketamakan mengejar kehormatan diri pribadi

  1. Nilai Pendidikan dengan Tinjauan Sosiologis dalam Novel Ular Keempat Karya Gus TF Sakai
  • Nilai Pendidikan Ilmu Pengetahuan
  • Nilai Pendidikan Religius atau Agama
  • Nilai Pendidikan Sosial
  • Nilai Pendidikan Ekonomi
  • Nilai Pendidikan Politik
  • Nilai Pendidikan Budaya

 

Incoming search terms:

Kajian Novel Karya Ahmad Tohari dan Karya Purwadmadi Admadipurwa

Judul Skripsi : Kajian Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari dan Novel Sinden Karya Purwadmadi Admadipurwa

A. Latar Belakang Masalah 

Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan novel Sinden karya Purwadmadi Admadipurwa, merupakan dua novel yang menggambarkan warna kehidupan sosial budaya masyarakat golongan bawah. Novel Ronggeng Dukuh Paruk diterbitkan tahun 1982 mengisahkan tentang pergulatan penari ronggeng yang terletak di dusun terpencil pada pedukuhan Paruk pada masa pergolakan komunis. Di mana tanpa disadari seni ronggeng dimanfaatkan dalam berpolitik. Begitu juga dalam novel Sinden yang mengisahkan sosok perempuan yang ingin menjadi sinden sejati yang mumpuni dalam perjuangannya terjadi tindak penganiayaan untuk keluarganya oleh penguasa yaitu seorang priyayi.

Penulis tertarik mengkaji novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan novel Sinden karya Purwadmadi Admadipurwa dengan pendekatan intertekstualitas. Pengkajian kedua novel tersebut dengan menganalisis struktur kedua novel kemudian menemukan benang merah berupa persamaan dan perbedaan dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan novel Sinden karya Purwadmadi Admadipurwa, serta mencari nilai-nilai pendidikan yang terkandung pada kedua novel tersebut. Sehingga akan memberikan jawaban dari permasalahan dan mempermudah dalam memahami novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan novel Sinden karya Purwadmadi Admadipurwa, sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap karya sastra.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah persamaan dan perbedaan unsur pembangun novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan novel Sinden karya Purwadmadi Admadipurwa ?
  2. Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan novel Sinden karya Purwadmadi Admadipurwa ?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

  1. Mendeskripsikan dan menjelaskan persamaan dan perbedaan unsur pembangun novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan novel Sinden karya Purwadmadi Admadipurwa.
  2. Mendeskripsikan dan menjelaskan nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan novel Sinden karya Purwadmadi Admadipurwa.

 

D. Simpulan

1. Hubungan intertekstual berdasarkan keterkaitan unsur pembangun novel, novel Ronggeng Dukuh Paruk sebagai hipogram dan novel Sinden sebagai transformasinya. Persamaan dan perbedaan unsur-unsur struktur novel. Persamaan: tema pada kedua novel yaitu sosial budaya, perjuangan wong cilik sebagai penari ronggeng dan pesinden, penokohannya menggunakan tokoh wanita muda belia yang cantik belia, alur kedua novel menggunakan alur maju, setting waktu sekitar tahun 1960-an. Perbedaan: penokohan pada novel Ronggeng Dukuh Paruk tokoh utama Srintil menjadi ronggeng karena panggilan, sedangkan untuk novel Sinden tokoh uatama Tumi karena cita-cita, latar tempat pada novel Sinden menggunakan latar desa yang agak maju (dibawah pimpinan Priyayi) sebagai latar primer yaitu desa Sumberwungu, sedangkan novel Ronggeng Dukuh Paruk menggunakan latar pedukuhan terpencil, miskin, terbelakang yaitu dukuh Paruk, setting sosial novel Ronggeng Dukuh Paruk menghadirkan sosial kemasyarkatan masyarakat pedesaan dengan penuh keluguan dan kesederhanaan, sedangkan segi sosial novel Sinden menghadirkan latar suasana masyarakat campuran antara wong cilik dan priyayi yang penuh keangkuhan.

2. Nilai pendidikan novel Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Sinden ialah nilai pendidikan religius, nilai pendidikan budaya, nilai pendidikan sosial, dan nilai pendidikan moral. Keempat nilai pendidikan tersebut terintegrasi dan diwujudkan dalam kedua novel masing-masing melalui penggambaran perwatakan para tokoh-tokohnya.

 

Pendekatan Intertekstual dan Nilai Pendidikan novel Bekisar Merah dgn Wasripin dan Satinah

Judul Skripsi : Kajian Novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo (Pendekatan Intertekstual dan Nilai Pendidikan)

A. Latar Belakang Masalah

Novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo merupakan dua novel yang menggambarkan fenomena kehidupan kaum bawah. Kedua novel ini menggambarkan gejala-gejala alam termasuk segala sesuatu yang terjadi dalam masyarakatnya khususnya kehidupan rakyat kalangan bawah. Tidak hanya menampilkan fenomena alam dan gejala masyarakat baik berupa tingkat sosial ekonomi, kedudukan, jabatan, tetapi kedua novel ini memiliki nilai-nilai religius. Ahmad Tohari menuangkan nilai-nilai religius dalam Bekisar Merah secara halus, bagaimana kehidupan kaum bawah yang ikhlas menjalankan kehidupan ini. Sedangkan Kuntowijoyo dalam menceritakan novel Wasripin dan Satinah lebih menonjolkan pada sisi kehidupan manusia yang tidak bisa lepas hubungannya dengan Tuhan dan makhluk sosial yang tidak bisa lepas hubungannya dari masyarakat.

Penulis tertarik mengkaji novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo dengan pendekatan intertekstualitas. Pengkajian terhadap kedua novel tersebut dengan menganalisis struktur yang ada dalam kedua novel tersebut kemudian menemukan benang merah berupa hubungan persamaan dan perbedaan dari novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo serta mencari nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam kedua novel tersebut. Sehingga akan memberikan jawaban permasalahan dan mempermudah dalam memahami novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo. Sebagai salah satu bentuk suatu apresiasi terhadap karya sastra.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana kepaduan struktur pembangun novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari?
  2. Bagaimana persamaan dan perbedaan novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo?
  3. Nilai-nilai pendidikan apakah yang terkandung di dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

  1. Menjelaskan kepaduan struktur pembangun novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari
  2. Menjelaskan persamaan dan perbedaan novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo.

 

D. Simpulan

1. Keeratan struktur kedua novel tersebut karena disatukan dalam tema yang sama yaitu masalah penindasan dan pemberontakan kaum wong cilik terhadap kekuasaan pemerintah.

2. Persamaannya perwatakan pada tokoh protagonis kedua novel tersebut adalah baik hati dan berbakti kepada orang tua. Sedangkan perbedaannya adalah tokoh Lasi (Bekisar Merah) memiliki

3. Persamaan ke dua novel ini sama-sama menggunakan penunjuk waktu tahun, bulan, hari, serta keadaan siang dan malam. Namun terdapat perbedaan yaitu pada novel Bekisar Merah menggunakan setting pedesaan dan kehidupannya sebagai seorang penderas kelapa sedangkan novel Wasripin dan Satinah menggunakan setting di TPI dengan kehidupannya sebagai seorang nelayan.

4. Dari segi kepengarangannya, kedua novel ini memiliki perbedaan. Ahmad Tohari memiliki pemikiran Nadhatul Ulama yang cerderung pemikiran yang apatis, sedangkan Kuntowijoyo memiliki pemikiran Muhammadiyah. Sehingga, dalam penuangan tema, tokoh, dan penceritaanya sangat berbeda. Walaupun pada akhirnya memiliki tema yang sama yaitu menyuarakan kehidupan kaum wong cilik.

5. Novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari merupakan hipogram novel Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo. Dengan kata lain novel Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo merupakan teks transformasi dari novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari.

Incoming search terms:

Kajian Intertekstualitas dan Nilai Pendidikan Karya Ahmad Tohari dan Arswendo Atmowiloto

Judul Skripsi : Kajian Intertekstualitas dan Nilai Pendidikan Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari dan Novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto

 

A. Latar Belakang Masalah

Dasar interteks dalam penelitian ini adalah analisis struktur karya sastra dari unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Langkah berikutnya menganalisis hubungan struktur karya sastra untuk menemukan persamaan dan perbedaaan yang dijumpai di dalam kedua novel yang diintertekskan. Persamaan dan perbedaan bisa dikaji dari pendiskripsian latar kedua novel juga ciri-ciri kultural (warna lokal) yang terdapat dalam kedua novel yang diintertekskan. Sisi lain yang menarik dari kajian novel adalah menganalisis nilai-nilai pendidikan yang ada di dalamnya. Nilai pendidikan moral, sosial budaya, dan religius merupakan objek kajian yang sangat tepat untuk diteliti dan dianalisis dalam sebuah novel. Dengan memaknai dan memahami nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam sebuah karya sastra akan mengubah pribadi seseorang menjadi lebih baik atau berkualitas apabila orang tersebut bisa memetik hikmahnya.

Penulis tertarik mengkaji novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto dengan pendekatan intertekstualitas karena kedua novel tersebut dibangun dengan struktur yang kuat utamanya struktur latar yang berupa warna lokal Jawa yang dominan dalam kedua novel tersebut.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah persamaan dan perbedaan kandungan warna lokal dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Canting sesuai kajian sastra dengan pendekatan intertekstualitas?
  2. Nilai pendidikan apakah yang terkandung di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Canting?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Menjelaskan persamaan dan perbedaan kandungan warna lokal dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Canting.
  2. Menjelaskan nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Canting.

 

D. Simpulan

Persamaan dan Perbedaan Kandungan Warna Lokal Novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Novel Canting

  1. Perbedaan: Hasil interteks kedua novel tersebut yang berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat Jawa menyebutkan bahwa kondisi masyarakat pedesaan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk menampilkan warna lokal yang berupa: menjunjung kebersamaan, suka kemitraan, pertimbangan religius, cinta seni, dan dekat alam. Sedangkan, kondisi masyarakat perkotaan dalam novel Canting menampilkan warna lokal yang berupa: anonimitas, jarak sosial, keteraturan, dan kepribadian kota.
  2. Persamaan: Pandangan hidup orang Jawa yang ditampilkan dalam kedua novel tersebut meliputi sikap terpuji sebagai orang Jawa yang disebut Panca-sila, yaitu: rila, narimo, temen, sabar, dan budi luhur. Kelima sikap tersebut dimiliki oleh tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Ronggeng Duku

Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Novel Canting

  • Nilai Pendidikan Sosial Budaya
  1. Nilai Pendidikan Sosial Budaya Novel Ronggeng Dukuh Paruk: Etika dalam kehidupan sosial yang harus diikuti agar mendapatkan keberhasilan hidup tersebut adalah mengikuti wiradat (upaya diri) dan rajin bekerja.
  2. Nilai Pendidikan Sosial Budaya Novel Canting: Etika dalam kehidupan sosial yang harus diikuti agar mendapatkan keberhasilan dan keselarasan hidup tersebut adalah rajin bekerja dan membantu ketenteraman negara.
  • Nilai Pendidikan Religius
  1. Nilai Pendidikan Religius Novel Ronggeng Dukuh Paruk: Sebagai bentuk religiusitas karena orang-orang Dukuh jarang bersentuhan dengan dunia selain Dukuh Paruk.
  2. Nilai Pendidikan Religius Novel Canting: Pada prinsipnya dalam novel Canting tidak ada penuturan secara eksplisit yang menyatakan religiusitas yang berkaitan hubungan manusia dengan Tuhan.

Incoming search terms:

Skripsi Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan dlm Novel Rumah di Seribu Ombak Karya Erwin Arnada

Judul Skripsi : Kajian Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan dalam Novel Rumah di Seribu Ombak Karya Erwin Arnada

 

A. Latar Belakang Masalah 

Erwin Arnada melalui riset yang telah dilakukan pada tahun 2008, menemukan bahwa terdapat anak-anak yang kehilangan hak pendidikannya dan perlindungan keselamatannya karena faktor ekonomi berupa kemiskinan. Selain itu, banyak anak yang menjadi korban pedofilia dari pria dewasa. Selama ini hanya diomong-omongin saja dan tidak diungkap secara jelas.Melalui novel ini, Erwin Arnada telah mengungkap faktor penyebab kasus tersebut. Novel Rumah di Seribu Ombak telahdibuat film layar lebar yang disutradarai dan diproduseri oleh Erwin Arnada serta masuk beberapa nominasi di Malam Puncak Anugrah Festival Film Indonesia 2012, yang di selenggarakan di Beteng Vredeburg Jogjakarta Sabtu 8 Desember 2012. Dua kategori film terbaik yang masuk nominasi di Festival Film Indonesia 2012 adalah Rumah di Seribu Ombak dan Tanah Surga. Katanya. Nominasi yang disandang film Rumah di Seribu Ombak yaitu, penata suara terbaik, penyuting gambar terbaik, dan penghargaan khusus yang diraih oleh Dedey Rusma sebagai pemeran tokoh Wayan Manik dalam film Rumah di Seribu Ombak. Peneliti juga sudah bisa wawancara dengan pengarang.

Dari alasan-alasan tersebut peneliti memilih novel Rumah di Seribu Ombak sebagai objek penelitian dengan judul “Kajian Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan dalam Novel Rumah di Seribu Ombak Karya Erwin Arnada”.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah unsur intrinsik dalam novel Rumah di Seribu Ombak karya Erwin Arnada?
  2. Bagaimanakah sikap toleransi antarumat beragama (masyarakat) dalam novel Rumah di Seribu Ombak karya Erwin Arnada?
  3. Bagaimanakah nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Rumah di Seribu Ombak karya Erwin Arnada?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mendeskripsikan dan menjelaskan unsur intrinsik dalam novel Rumah di Seribu Ombak karya Erwin Arnada.
  2. Mendeskripsikan dan menjelaskan sikap toleransi antarumat beragama (masyarakat) dalam novel Rumah di Seribu Ombak karya Erwin Arnada.
  3. Mendeskripsikan dan menjelaskan nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Rumah di Seribu Ombak karya Erwin Arnada.

 

D. Simpulan

1. Unsur-unsur intrinsik dalam novel Rumah di Seribu Ombak meliputi, tema yaitu persahabatan bocah Muslim dan bocah Hindu. Alur/Plot yang digunakan yaitu sorot balik (flashback). Penokohan dan perwatakan meliputi tokoh protagonis, tokoh antagonis. Latar/ setting yang digunakan yaitu di kawasan Singaraja, kabupaten Buleleng. Sudut pandang yang digunakan yaitu sudut pandang persona pertama “aku” tokoh utama atau “first-person participant” yaitu tokoh Samihi. Dan teknik penceritaan “aku” tokoh tambahan yaitu tokoh Wayan Manik.

2. Sikap toleransi antarumat beragama (masyarakat) dalam novel Rumah di Seribu Ombak yaitu masyarakat Singaraja di desa Kalidukuh dan Kaliasem saling bertoleransi antarumat beragama. Toleransi adalah satu peristiwa yang kasat mata dalam kehidupan sehari-hari di dua desa tersebut. Harmoni antara masyarakat Muslim yang minoritas dan Hindu yang mayoritas merupakan salah satu sikap toleransi antarumat beragama di Singaraja. 3. Sosiokultural masyarakat dalam novel Rumah di Seribu Ombak meliputi, pendidikan, pekerjaan, bahasa (menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Bali, dan bahasa Inggris), tempat tinggal, adat dan kebiasaan, agama (Hindu dan Muslim), kepercayaan dan keyakinan, dan Suku (suku Bali, suku Sumatra, dan suku Jawa).

3. Nilai-nilai pendidikan dalam novel Rumah di Seribu Ombak meliputi nilai pendidikan adat-istiadat/budaya, pendidikan pluralisme, pendidikan agama, pendidikan sosial, dan pendidikan moral.

Incoming search terms: