Kinerja Pustakawan dan Motivasi Belajar Siswa

Judul Skripsi : Hubungan Persepsi Siswa terhadap Kinerja Pustakawan dan Motivasi Belajar Siswa dengan Minat Baca di Perpustakaan Siswa SMP Negeri 1 Salatiga

A. Latar Belakang Masalah

Dalam rangka mengemban misi perpustakaan sekolah, guru, pustakawan selaku pengelola perpustakaan sekolah harus berusaha semaksimal mungkin membina kemampuan membaca siswa sehingga pada diri mereka tumbuh rasa senang membaca. Untuk dapat membina kemampuan membaca siswa, guru, pustakawan harus benar-benar memahami seluk beluk membaca, sehingga membaca menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan sekaligus bermanfaat. Sudah barang tentu pembinaan kemampuan membaca dalam rangka pembinaan dan pengembangan minat baca siswa akan berbeda-beda sesuai dengan tingkatan sekolahnya. Semakin tinggi tingkatan sekolah seseorang akan lebih mampu membaca.

Upaya pengembangan minat baca siswa sangat erat hubungannya dengan keberadaan perpustakaan sekolah. Sekarang ini harus kita akui bahwa minat baca di kalangan siswa masih rendah. Alasan klasik yang sering muncul adalah bahwa membaca belum membudaya di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat pelajar. Para siswa hanya menyempatkan diri berkunjung dan meminjam buku di perpustakaan rata-rata tiap bulannya bervariasi antara 5% – 30%, belum mencapai setengah dari jumlah seluruh siswa yang ada di sekolahan.Perpustakaan sekolah menjadi tidak bermutu dan tidak diminati para siswa (Djunaedi, 2009: 1).

 

B. Perumusan Masalah

  1. Adakah hubungan positif yang signifikan antara persepsi siswa terhadap kinerja pustakawan dengan minat membaca siswa SMP Negeri1 Salatiga?
  2. Adakah hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar siswa dengan minat membaca siswa SMP Negeri 1 Salatiga?
  3. Adakah hubungan positif yang signifikan antara persepsi siswa terhadap kinerja pustakawan, dan motivasi belajar siswa secara bersama-sama dengan minat membaca siswa SMP Negeri 1 Salatiga?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

  1. Menganalisis hubungan persepsi siswa terhadap kinerja pustakawan dengan minat baca di perpustakaan siswa SMP Negeri 1 Salatiga .
  2. Menganalisis hubungan motivasi belajar siswa dengan minat baca di perpustakaan siswa SMP Negeri 1 Salatiga .
  3. Menganalisis hubungan persepsi siswa terhadap kinerja pustakawan, dan motivasi belajar siswa secara bersama-sama dengan minat baca di perpustakaan siswa SMP Negeri 1 Salatiga .

 

D. Simpulan

1. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi siswa terhadap kinerja pustakawan dengan minat membaca siswa SMP Negeri 1 Salatiga.

2. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar siswa dengan minat membaca siswa siswa SMP Negeri 1 Salatiga.

3. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi siswa terhadap kinerja pustakawan dan motivasi belajar siswa dengan minat membaca siswa SMP Negeri 1 Salatiga.

 

E. Saran

1. Perlunya ditingkatkan kebijakan kepala sekolah mengenai pengelolaan perpustakaan. Ditingkatkannya kebijakan kepala sekolah dapat meningkatkan minat membaca siswa siswa SMP Negeri 1 Salatiga .

2. Sebagai pustakawan diharapkan meningkatkan kinerjanya, sebab denganmeningkatnya kinerja pustakawan dapat meningkatkan minat membaca siswa SMP Negeri 1 Salatiga .

3. Siswa diharapkan meningkatkan motivasi belajar, sebab dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan minat membaca siswa SMP Negeri 1 Salatiga sehingga prestasi belajar siswa dapat meningkat pula.

Eksperimentasi Realistic Mathematics Education Kemampuan Pemecahan Masalah

Judul Skripsi : Eksperimentasi Realistic Mathematics Education (RME) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah pada Materi Segiempat dan Segitiga Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa Kelas VII SMP Kabupaten Gunungkidul

 

A. Latar Belakang Masalah

Masih banyak sekolah yang menggunakan pendekatan pembelajaran mekanistik. Peserta didik diberi materi, contoh soal, dan latihan soal rutin. Pembelajaran seperti ini kurang mengembangkan kreativitas peserta didik dalam menyelesaikan soal. Penyelesaian soal hanyalah menggunakan cara atau langkah yang diberikan guru saja. Peserta didik tidak terbiasa menyelesaikan soal dengan berbagai alternatif pemecahan, sehingga kemampuan pemecahan masalah peserta didik tidak berkembang dengan baik.

Untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik, maka peserta didik harus mempunyai banyak alternatif penyelesaian soal. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah mengubah pendekata pembelajaran yang dipakai guru. Salah satu pendekatan yang dapat dipakai adalah pembelajaran dengan mengemukakan permasalahan dalam kehidupan nyata. Dengan pendekatan ini diharapkan peserta didik dapat menyelesaikan permasalahan sehari-hari dan kemampuan pemecahan masalah peserta didik dapat meningkat.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah kemampuan pemecahan masalah peserta didik yang menggunakan pendekatan pembelajaran RME lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah peserta didik yang menggunakan pendekatan pembelajaran mekanistik?
  2. Apakah kemampuan pemecahan masalah peserta didik yang mempunyai motivasi lebih tinggi lebih baik daripada peserta didik yang mempunyai motivasi lebih rendah?
  3. Apakah perbedaan kemampuan pemecahan masalah pada tiap-tiap kelompok motivasi konsisten untuk tiap-tiap pendekatan pembelajaran?
  4. Pada kelas yang menggunakan pendekatan pembelajaran RME, kelompok motivasi belajar manakah yang memiliki kemampuan pemecahan masalah paling tinggi?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui pendekatan pembelajaran yang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik diantara pendekatan pembelajaran RME dan pendekatan pembelajaran mekanistik.
  2. Untuk mengetahui kelompok motivasi yang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematika yang lebih baik diantara kelompok motivasi rendah, sedang, dan tinggi.
  3. Untuk mengetahui apakah perbedaan kemampuan pemecahan masalah pada tiap kelompok motivasi konsisten untuk tiap pendekatan pembelajaran.
  4. Untuk mengetahui kelompok motivasi mana yang memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik di kelas yang menggunakan pendekatan pembelajaran RME.

 

D. Kesimpulan

1. Penggunaan pendekatan pembelajaran RME menghasilkan kemampuan pemecahan masalah materi segiempat dan segitiga yang lebih baik jika dibandingkan dengan pendekatan pembelajaran mekanistik pada peserta didik kelas VII SMP di Kabupaten Gunungkidul tahun ajaran 2009/2010.

2. Peserta didik yang memiliki motivasi tinggi memiliki kemampuan pemecahan masalah materi segiempat dan segitiga yang lebih baik jika dibandingkan peserta didik yang memiliki motivasi rendah. Akan tetapi antara peserta didik dengan motivasi tinggi dan peserta didik dengan motivasi sedang, serta antara peserta didik dengan motivasi sedang dan peserta didik dengan motivasi rendah, memiliki kemampuan pemecahan masalah yang sama.

3. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan motivasi belajar peserta didik terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika. Dengan kata lain, profil kemampuan pemecahan masalah pada tiap-tiap kelompok motivasi konsisten untuk tiap-tiap pendekatan pembelajaran.

4. Pada kelas-kelas yang menggunakan pendekatan pembelajaran RME, kemampuan pemecahan masalah yang paling baik dimiliki oleh peserta didik dengan motivasi belajar tinggi, disusul peserta didik dengan motivasi belajar sedang dan rendah.

Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif TGT dan Jigsaw dari Motivasi Belajar Siswa

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) dan Jigsaw Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa SMP di Kabupaten Blora

 

A. Latar Belakang

Rendahnya hasil nilai pendidikan matematika disebabkan karena guru dalam proses belajar mengajar yang selama ini yang dilakukan adalah dengan membiarkan siswa belajar secara pasif, mereka hanya dibiarkan menerima materi pelajaran tanpa diperhatikan daya kreatifnya. Konsekuensinya adalah siswa lebih dituntut untuk belajar hafalan, sehingga informasi bahan pelajaran yang sampai ke memori siswa tidak mampu bertahan lama atau mudah terlupakan. Ini akan menimbulkan dampak buruk pada siswa, mereka tidak bisa atau sulit menerapkan beberapa konsep dan rumus untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk memecahkan persoalan tersebut adalah dengan mengubah cara belajar siswa dengan memberikan suasana belajar yang baru yaitu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) dan Jigsaw. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat mengurangi kejenuhan belajar pada siswa. Pembelajaran lebih menekankan pada pendekatan kontekstual, yang mana matematika bersifat abstrak itu dapat disajikan dalam bentuk kontekstual, sehingga siswa dapat memahami konsep dengan mudah dan menyenangkan. Yang perlu diperhatikan di sini bahwa siswa diberi keleluasaan dalam belajar dalam arti siswa bisa menempatkan posisi belajar sesuai yang mereka inginkan tanpa ada penekanan dari guru. Diciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

Motivasi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan siswa dalam belajar. Motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan, pengalaman, motivasi juga mendorong dan mengarah minat belajar untuk tercapainya tujuan. Bagi siswa yang mempunyai motivasi tinggi akan bersungguh-sungguh dalam belajar sehingga akan dapat meningkatkan prestasi belajar.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw?
  2. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi dengan siswa mempunyai motivasi belajar sedang dan rendah?
  3. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang dengan siswa yang motivasi belajar rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) dengan model pembelajaran kooperatif tipe
  2. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi dengan siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang dan rendah? Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang dengan siswa yang mempunyai motivasi belajar rendah.

 

D. Kesimpulan

  1. Prestasi belajar matematika siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) sama dengan prestasi belajar matematika siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe
  2. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi lebih baik daripada siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang dan rendah.
  3. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang lebih baik daripada siswa yang mempunyai motivasi belajar rendah.

Incoming search terms:

Kooperatif Tipe Jigsaw pada Materi Pokok Sistem Persamaan Linier dari Motivasi Belajar

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada Materi Pokok Sistem Persamaan Linier Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri Se – Kabupaten Tulungagung

 

A. Latar Belakang

Berdasarkan pada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP 2006) materi kajian matematika untuk SMA kelas X, meliputi: bentuk pangkat, akar, sistem persamaan linier, sistem persamaan campuran linier dan kuadrat dua variabel,logika, trigonometri, dan geometri. Sementara berdasar hasil observasi pendahuluan di lapangan terhadap beberapa guru matematika SMA, ternyata masih banyak siswa kelas X SMA mengalami kesulitan dalam belajar aljabar pada materti pokok sistem persamaan linier dua variabel (SPLDV).

Oleh karena itu perlu adanya usaha untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada materi pokok SPLDV dengan mengubah model pembelajaran yang dilakukan. Yaitu dari model pembelajaran langsung menuju pembelajaran kooperatif. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi pokok SPLDV diduga lebih efektif untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada materi pokok SPLDV. Hal ini sejalan dengan paradigma pembelajaran pada kurikulum 2004 yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang disempurnakan dengan kurikulum 2006 (KTSP); yaitu dari ”teaching” atau guru mengajar menjadi ”learning” atau siswa belajar. Artinya bahwa pusat pembelajaran era sekarang harus betul-betul terletak pada siswa. Guru bertindak selaku fasilitator, dinamisator, motivator, administrator dan mampu menciptakan atmosfir belajar yang menyenangkan (enjoy learning).

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

  1. Apakah prestasi belajar siswa pada meteri pokok sistem persamaan linier dua variabel (SPLDV) dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw lebih baik dari siswa yang menggunakan model pembelajaran langsung ?
  2. Apakah prestasi belajar siswa dengan motivasi lebih tinggi, lebih baik dibanding prestasi belajar siswa dengan motivasi belajar lebih rendah pada materi pokok sistem persamaan linear dua variabel ?

 

C. Tujuan Penelitian

Penulisan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

  1. Mana yang lebih baik antara prestasi belajar matematika pada materi pokok sistem persamaan linear dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan menggunakan model pembelajaran langsung.
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang memiliki motivasi lebih tinggi, lebih baik dari siswa yang memiliki motivasi lebih rendah pada materi pokok sistem persamaan linier dua variabel.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Prestasi belajar matematika pada materi pokok sistem persamaan linear yang mendapatkan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dari pada yang mendapatkan pembelajaran dengan model pembelajaran langsung.

2. Prestasi belajar matematika pada materi pokok sistem persamaan linear siswa yang mempunyai motivasi belajar lebih tinggi lebih baik dari siswa yang mempunyai motivasi belajar lebih rendah.

3. Tidak ada interaksi penggunaan model pembelajaran dan tingkat motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika pada materi pokok sistem persamaan linear.

 

E. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan penelitian, peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Saran bagi para guru

Seorang guru diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang model pembelajaran yang semakin berkembang, sehingga guru dapat memilih model pembalajaran yang tepat dalam proses pembelajaran.

2. Saran bagi Kepala Sekolah

Bagi Kepala Sekolah diharapkan dapat lebih intensif dan berkesinambu ngan dalam memantau dan mengarahkan guru dalam proses pembelajaran, mengingat guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan.