Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif TGT dan Jigsaw dari Motivasi Belajar Siswa

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) dan Jigsaw Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa SMP di Kabupaten Blora

 

A. Latar Belakang

Rendahnya hasil nilai pendidikan matematika disebabkan karena guru dalam proses belajar mengajar yang selama ini yang dilakukan adalah dengan membiarkan siswa belajar secara pasif, mereka hanya dibiarkan menerima materi pelajaran tanpa diperhatikan daya kreatifnya. Konsekuensinya adalah siswa lebih dituntut untuk belajar hafalan, sehingga informasi bahan pelajaran yang sampai ke memori siswa tidak mampu bertahan lama atau mudah terlupakan. Ini akan menimbulkan dampak buruk pada siswa, mereka tidak bisa atau sulit menerapkan beberapa konsep dan rumus untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk memecahkan persoalan tersebut adalah dengan mengubah cara belajar siswa dengan memberikan suasana belajar yang baru yaitu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) dan Jigsaw. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat mengurangi kejenuhan belajar pada siswa. Pembelajaran lebih menekankan pada pendekatan kontekstual, yang mana matematika bersifat abstrak itu dapat disajikan dalam bentuk kontekstual, sehingga siswa dapat memahami konsep dengan mudah dan menyenangkan. Yang perlu diperhatikan di sini bahwa siswa diberi keleluasaan dalam belajar dalam arti siswa bisa menempatkan posisi belajar sesuai yang mereka inginkan tanpa ada penekanan dari guru. Diciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

Motivasi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan siswa dalam belajar. Motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan, pengalaman, motivasi juga mendorong dan mengarah minat belajar untuk tercapainya tujuan. Bagi siswa yang mempunyai motivasi tinggi akan bersungguh-sungguh dalam belajar sehingga akan dapat meningkatkan prestasi belajar.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw?
  2. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi dengan siswa mempunyai motivasi belajar sedang dan rendah?
  3. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang dengan siswa yang motivasi belajar rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) dengan model pembelajaran kooperatif tipe
  2. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi dengan siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang dan rendah? Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang dengan siswa yang mempunyai motivasi belajar rendah.

 

D. Kesimpulan

  1. Prestasi belajar matematika siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) sama dengan prestasi belajar matematika siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe
  2. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi lebih baik daripada siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang dan rendah.
  3. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang lebih baik daripada siswa yang mempunyai motivasi belajar rendah.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dan STAD dari Keingintahuan dan Gaya Kognitif

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) dan Student Teams Achievement Divisions (STAD) Ditinjau dari Keingintahuan dan Gaya Kognitif Peserta Didik

 

A. Latar Belakang

Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran kelompok yang menghendaki adanya kerja sama antar anggota kelompok dalam memahami suatu konsep. Melalui model pembelajaran kooperatif, peserta didik secara aktif mengkonstruksi pemahamannya secara berkelompok. Peserta didik secara kooperatif mengkonsultasikan kesulitan yang dialaminya kepada peserta didik lain sehingga melalui model pembelajaran kooperatif sangat dimungkinkan bagi peserta didik untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami. Rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik dimungkinkan tidak hanya dipengaruhi oleh model pembelajaran yang diterapkan di dalam kelas. Terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar matematika yang juga perlu mendapat perhatian dari guru. Faktor-faktor tersebut antara lain keingintahuan dan gaya kognitif peserta didik. Setiap peserta didik mempunyai kategori keingintahuan dan karakteristik gaya kognitif yang berbeda-beda.

Dalam  mempelajari matematika pun demikan, setiap peserta didik memiliki kategori keingintahuan yang berbeda-beda terhadap suatu konsep matematika. Ada peserta didik yang sangat antusias ingin mengetahui dan memahami suatu konsep matematika, namun ada pula peserta didik yang menganggap bahwa suatu konsep matematika itu tidak penting. Begitu juga untuk gaya kognitif, ada peserta didik yang terampil dalam menguraikan suatu hal-hal yang kompleks dan ada pula peserta didik yang lebih tertarik terhadap mata pelajaran sosial dibandingkan mata pelajaran matematika.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT atau STAD?
  2. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi, sedang, atau rendah?
  3. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent atau field independent?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT atau STAD.
  2. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik, peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi, sedang, atau rendah.
  3. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent atau field independent.

 

D. Simpulan

1. Prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah, dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.

3. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.

 

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Jigsaw pada Pokok Bahasan Bentuk Aljabar

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Jigsaw pada Pokok Bahasan Bentuk Aljabar Ditinjau dari Perhatian Orang Tua Siswa SMP

 

A. Latar Belakang

Tingkat keberhasilan penerapan model pembelajaran tipe Jigsaw dan STAD ini dapat dilihat dari kerjasama dan keaktifan siswa dalam kelompok yang sudah mulai tampak selama diskusi berlangsung. Lebihrinci keberhasilan tipe jigsaw dapat dilihat dari hasil pekerjaan siswa pada tes akhir dimana siswa sudah dapat menuliskan langkah-langkah menyelesaikan soal matematika dengan benar. Sedangkan keberhasilan tipe STAD dapat dilihat pada saat membandingkan jawaban dan  meluruskan jika ada anggota kelompok yang mengalami kesalahan konsep.

Salah stu penyebab kesulitan siswa dalam memecahkan masalahmasalah dalam belajar adalah siswa tidak diberikan kesempatan untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Maka tugas guru dituntut mencari alternatif untuk membantu siswa agar dapat memecahkan masalah dengan benar. Namun demikian terdapat faktor lain yang dapat menjadi penyebab menurunnya prestasi belajar siswa, yaitu perhatian orang tua dalam pendidikan putra-putrinya. Sebagian besar waktu anak tetaplah berada di rumah, sehingga keberhasilan upaya mengoptimalkan perkembangan anak tidak hanya dilihat dari sisi lembaga pendidikan. Keluarga lebih khusus orang tua, pada prinsipnya tetap memegang tanggung jawab terbesar dalam pendidikan anaknya.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah pembelajaran matematika pada pokok bahasan Bentuk Aljabar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik dari pada tradisional?
  2. Apakah kategori perhatian orang tua siswa yang berbeda-beda memberikan prestasi belajar matematika yang berbeda pula

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

Penelitian ini bertujuan:

  1. Untuk mengetahui apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD menyebabkan prestasi belajar yang lebih baik jika dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik dari tradisional pada materi bentuk aljabar siswa kelas VII SMP di Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2010/2011.
  2. Untuk mengetahui apakah kategori perhatian orang tua siswa yang berbeda-beda memberikan prestasi belajar matematika yang berbeda pula.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan landasan teori dan didukung hasil analisis yang telah dikemukakan dalam BAB IV serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa pada kelas VII SMP Negeri se- Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2010/2011:

1. Pada siswa-siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe STAD mendapatkan prestasi belajar yang sama dengan siswa-siswa yang diberikan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Siswa-siswa yang diberikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa-siswa yang diberikan model pembelajaran tradisional. Siswa-siswa yang diberikan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mendapatkan prestasi belajar yang sama dengan siswa-siswa yang diberikan model pembelajaran tradisional.

2. Siswa-siswa yang mendapatkan dukungan perhatian orang tua tinggi memperoleh prestasi belajar matematika yang sama dengan siswa-siswa yang mendapat dukungan perhatian orang tua sedang. Siswa-siswa yang mendapat dukungan perhatian orang tua tinggi memperoleh prestasi belajar matematika yang baik daripada siswa-siswa yang mendapat dukungan perhatian orang tua rendah. Sedangkan siswa-siswa yang mendapat dukungan perhatian orang tua sedang memperoleh prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa-siswa yang mendapat dukungan perhatian orang tua rendah.

 

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan NHT pada Pembelajaran Matematika

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan Numbered Heads Together (NHT) pada Pembelajaran Matematika Siswa SMA Kelas X Semester I di Kabupaten Wonogiri Ditinjau dari Kemampuan Awal Siswa Tahun Pelajaran 2010 – 2011

 

A. Latar Belakang

Matematika yang bersifat deduktif aksiomatik dan berangkat dari hal-hal yang abstrak, cenderung sulit diterima dan dipahami oleh siswa. Aksiomatik yang dimaksud adalah pembenaran pernyataan P1 dengan menggunakan pernyataan P2 yang sebelumnya telah diterima benar. Sedangkan pembenaran pernyataan P2 dengan menggunakan pernyataan P3 yang sebelumnya telah diterima benar pula. Demikian seterusnya sehingga sampai pada suatu pernyataan P0 yang tidak lagi perlu pembuktian. Pernyataan P0 inilah yang disebut aksioma.

Oleh karena aksioma digunakan selalu mempunyai sifat umum dan kemudian dapat diturunkan hingga memperoleh sifat-sifat khusus, maka struktur ini disebut pula berpola deduktif. Dan ini merupakan satu-satunya pola pikir yang diterima dalam matematika. Konsep matematika tersusun secara hierarkis, yang berarti bahwa  dalam mempelajari matematika konsep sebelumnya yang menjadi prasyarat harus benarbenar dikuasai agar dapat memahami konsep selanjutnya. Salah satu cara yang dilakukan oleh banyak pihak untuk meningkatkan keaktifan siswa di dalam kelas adalah dengan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggen and Kauchak dalam Trianto, 2007:42). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemakaian model pembelajaran kooperatif lebih baik daripada model pembelajaran konvensional.

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

  1. Apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat menghasilkan hasil belajar matematika yang lebih baik dari pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT?
  2. Apakah hasil belajar matematika siswa yang memiliki kemampuan awal yang tinggi lebih baik daripada siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang dan rendah? Apakah hasil belajar matematika siswa yang memiliki kemampuan awal yang sedang lebih baik daripada siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah?
  3. Manakah di antara model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan NHT yang memberikan hasil belajar yang lebih baik ditinjau dari tingkat kemampuan awal kategori tinggi, sedang maupun rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat menghasilkan hasil belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan tipe NHT.
  2. Apakah hasil belajar matematika siswa yang memiliki kemampuan awal yang tinggi lebih baik daripada siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah. Apakah hasil belajar matematika siswa yang memiliki kemampuan awal sedang lebih baik daripada siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah.

 

D. Kesimpulan

1. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD menghasilkan hasil belajar matematika siswa yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada materi sistem persamaan linear dan kuadrat.

2. Hasil belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang atau rendah, demikian pula hasil belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah pada materi sistem persamaan linear dan kuadrat.

3. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan hasil belajar yang lebih baik dari pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT jika ditinjau dari tingkat kemampuan awal kategori tinggi, sedang maupun rendah pada materi sistem persamaan linear dan kuadrat.

Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Make A Match Ditinjau dari Aktivitas Belajar Siswa

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Make A Match Ditinjau dari Aktivitas Belajar Siswa (Penelitian Pada Siswa SD Negeri Kelas V Kecamatan Pontianak Kota di Kota Pontianak Tahun Ajaran 2009/2010)

 

A. Latar Belakang Skripsi

Pada pembelajaran matematika di sekolah, sebagian besar guru masih mendominasi proses mengajar belajar dengan menerapkan pembelajaran yang menganut teori behaviorisme seperti model pembelajaran langsung (Direct Instruction). Umumnya guru memulai pembelajaran langsung pada pemaparan materi, kemudian pemberian contoh oleh guru dan selanjutnya mengevaluasi siswa melalui latihan soal. Padahal memahami pembelajaran matematika bukanlah hal mudah (Noraini Idris, 2009: 39). Banyak siswa gagal memahami konsep yang diberikan pada mereka. Siswa menerima pelajaran matematika secara pasif dan bahkan hanya menghafal rumus-rumus tanpa memahami makna dan manfaat dari apa yang dipelajari. Akibatnya prestasi belajar matematika di sekolah masih relatif rendah dan tidak mengalami peningkatan yang berarti .

Seiring diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diharapkan guru dapat meningkatkan prestasi siswa khususnya pada pelajaran matematika dengan berkreasi dan berinovasi menggunakan berbagai macam model pembelajaran yang berkembang saat ini. Penelitian ini memberikan alternatif teknik Make A Match sebagai salah satu teknik yang merupakan pengembangan dari belajar kooperatif dengan landasan filosofisnya adalah kontruktivisme yang menekankan pada aktivitas siswa untuk membangun pengetahuannya.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah prestasi belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik Make A Match lebih baik daripada menggunakan model pembelajaran Direct Instruction pada materi luas bangun datar (trapesium dan layang-layang)?
  2. Apakah siswa dengan aktivitas belajar tinggi memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar sedang dan rendah, dan apakah siswa dengan aktivitas belajar sedang memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar rendah pada materi luas bangun datar (trapesium dan layang-layang)?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik Make A Match lebih baik daripada menggunakan model pembelajaran Direct Instruction pada materi luas bangun datar (trapesium dan layang-layang).
  2. Mengetahui apakah siswa dengan aktivitas belajar tinggi memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar sedang dan rendah, dan apakah siswa dengan aktivitas belajar sedang memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar rendah pada materi luas bangun datar (trapesium dan layang-layang).

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik Make A Match lebih baik daripada menggunakan model pembelajaran Direct Instruction pada materi luas bangun datar (trapesium dan layang-layang).

2. Prestasi belajar matematika siswa yang memiliki aktivitas belajar tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki aktivitas belajar rendah, serta prestasi belajar matematika siswa yang memiliki aktivitas belajar sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang memiliki aktivitas rendah, sedangkan prestasi belajar matematika siswa dengan aktivitas belajar tinggi tidak terdapat perbedaan dengan prestasi belajar matematika siswa dengan aktivitas belajar rendah pada materi luas bangun datar (trapesium dan layang-layang).

 

Incoming search terms:

Pembelajaran Think-Pair-Share terhadap Peningkatan Partisipasi dan Prestasi Mahasiswa

Judul Skripsi : Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Think-Pair-Share dan Tugas Makalah Individu terhadap Peningkatan Partisipasi dan Prestasi Mahasiswa pada Mata Kuliah Konsep Dasar Keperawatan I

 

A. Latar Belakang Skripsi

Kurikulum Pendidikan S1 Keperawatan di Prodi S1 Keperawatan FIK UMSurabaya yang dikembangkan dari kurikulum Inti Tahap Akademik Pendidikan Ners pada tahun 1987 dimana mata kuliah Konsep Dasar Keperawatan I (KDK I) merupakan salah satu mata kuliah dasar keperawatan. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi sehingga setelah menyelesaikan cabang ilmu ini mahasiswa mampu memahami berbagai konsep dasar keperawatan dan mengintegrasikannya kedalam cabang ilmu keperawatan lain serta memodifikasi sesuai dengan perkembangan IPTEK keperawatan.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan dosen di Prodi S1 Keperawatan FIK UMSurabaya diperoleh data, bahwa metode pembelajaran yang digunakan sudah variatif yaitu, ceramah dimana proses pembelajaran hanya berjalan satu arah dan diskusi dalam kelompok. Sistem ceramah yaitu sistem yang bertumpu pada aktivitas dosen, dimana aktivitas dan minat mahasiswa bersifat pasif. Disini mahasiswa lebih cepat mengalami kejenuhan dan kebosanan sehingga mahasiswa lebih cenderung untuk melakukan aktivitas diluar proses belajar, seperti main handphone atau sekedar berbicara dengan teman mengenai hal-hal diluar teks pembelajaran. Diskusi kelompok besar adalah mahasiswa mempresentasikan tugas makalah kelompok dan mendiskusikannya dalam kelas.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah metode pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share dan tugas makalah individu efektif dalam meningkatkan partisipasi dan prestasi mahasiswa dalam pembelajaran mata kuliah Konsep Dasar Keperawatan I?”.

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk memperbaiki berbagai masalah yang timbul dalam mata kuliah Konsep Dasar Keperawatan 1, adapun tujuan penelitian ini sebagai berikut:

1. Tujuan Umum

Mengetahui efektifitas penerapan metode pembelajaran kooperatif Think-Pair- Share dan tugas makalah individu dalam meningkatkan partisipasi dan prestasi mahasiswa dalam pembelajaran mata kuliah KDK I.

2. Tujuan Khusus

  • Mengetahui efektifitas penerapan metode pembelajaran kooperatif Think– Pair-Share dan tugas makalah individu dalam meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam pembelajaran mata kuliah KDK I.
  • Mengetahui efektifitas penerapan metode pembelajaran kooperatif Think- Pair-Share dan tugas makalah individu dalam meningkatan prestasi mahasiswa dalam pembelajaran mata kuliah KDK I yang dilihat dari hasil tes individu dan hasil kesepakatan dalam pembelajaran.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Penerapan metode pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share dan tugas makalah individu efektif untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam pembelajaran pada mata kuliah KDK I.

2. Penerapan metode pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share dan tugas makalah individu efektif untuk meningkatkan prestasi mahasiswa dalam pembelajaran pada mata kuliah KDK I.

 

E. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat diberikan saran sebagai berikut:

1. Bagi dosen S1 Keperawatan dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dan sesuai dengan RPP, serta mampu memilih model pembelajaran yang sesuai sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran tercapai.

2. Metode pembelajaran Think-Pair-Share dan tugas makalah individu dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di S1 Keperawatan karena mampu meningkatkan prestasi dan partisipasi mahasiswa.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dan TTW Ditinjau dari Harga Diri Siswa

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dan TTW Ditinjau dari Harga Diri Siswa Kelas XI SMK

 

A. Latar Belakang

Pengaruh dari pembelajaran konvensional ini berlawanan dengan pengaruh pembelajaran kooperatif yang dinyatakan oleh Slavin (2010:122) yaitu, dampak psikologis dari pembelajaran kooperatif adalah pengaruhnya terhadap harga diri siswa. Keyakinan siswa bahwa mereka adalah pribadi yang penting dan bernilai merupakan sesuatu yang sangat penting untuk membangun kemampuan dalam menghadapi kekecewaan dalam hidup, untuk menjadi pembuat keputusan dengan percaya diri dan menjadi pribadi yang produktif dan bahagia.

Dalam kelompok diskusi, memungkinkan siswa untuk saling berkomunikasi dengan teman dan saling bertukar pikiran dengan saling menghargai pendapat. Keberhasilan suatu kelompok tidak hanya ditentukan oleh salah satu individu saja, melainkan oleh seluruh anggota kelompok, sehingga akan tercipta kerjasama dalam kelompok untuk mencapai keberhasilan. Hal ini memungkinkan bagi siswa untuk menikmati pembelajaran matematika sehingga dapat mempengaruhi prestasi belajarnya.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat menghasilkan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik daripada model pembelajaran kooperatif tipe TTW maupun model pembelajaran Konvensional? Apakah model pembelajaran kooperatif tipe TTW dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran Konvensional?
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri sedang maupun rendah? Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika.

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran kooperatif tipe TTW maupun model pembelajaran Konvensional, dan apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TTW memberikan prestasi matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran Konvensional.
  2. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri sedang maupun rendah dan apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri rendah.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika untuk penggunaan model pembelajaran yang berbeda, model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan model pembelajaran kooperatif tipe TTW menghasilkan prestasi belajar matematika yang sama baik, model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan model pembelajaran Konvensional menghasilkan prestasi belajar matematika yang sama baik, dan model pembelajaran kooperatif tipe TTW menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran Konvensional.

2. Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika untuk tingkat harga diri yang berbeda, siswa dengan tingkat harga diri tinggi dan siswa dengan tingkat harga diri sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang sama baik, siswa dengan tingkat harga diri tinggi mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan tingkat harga diri rendah, dan siswa dengan tingkat harga diri sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang sama baik dengan siswa yang mempunyai tingkat harga diri rendah.

Pembelajaran Kooperatif Tipe GI dan STAD Ditinjau dari Kreativitas dan Sikap Percaya Diri

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dan Student Teams Achievement Division (STAD) Ditinjau dari Kreativitas dan Sikap Percaya Diri Peserta Didik Kelas XI SMA Negeri Se-Kabupaten Lampung Utara Tahun Pelajaran 2011/2012

 

A. Latar Belakang

Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran kelompok yang dalam proses pembelajaran berpusat pada peserta didik sehingga dalam proses pembelajaran menghendaki peserta didik aktif dan adanya kerjasama antar anggota kelompok. Melalui pembelajaran kooperatif peserta didik secara aktif dan kooperatif bersama peserta didik yang lainnya mengkonstruksikan pengetahuannya melalui diskusi kelompok. Selain disebabkan oleh model pembelajaran konvensional yang masih diterapkan di berbagai sekolah, rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik dimungkinkan juga disebabkan oleh faktor lain yang mampu mempengaruhi prestasi belajar matematika. Faktor lain yang dimungkinkan juga mempengaruhi prestasi belajar matematika adalah kreativitas dan sikap percaya diri peserta didik. Setiap peserta didik memiliki kategori kreativitas dan sikap percaya diri yang berbeda.

Model pembelajaran tertentu mungkin cocok untuk tingkat kreativitas dan sikap percaya diri tertentu tetapi belum tentu untuk kategori kreativitas dan sikap percaya diri yang lain. Perbedaan tingkat kreativitas dan sikap percaya diri peserta didik juga harus menjadi pertimbangan bagi guru dalam menentukan model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran. Mengingat pentingnya matematika bagi peserta didik maka masalah rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik, kurang tepatnya model pembelajaran yang digunakan oleh guru sehingga peserta didik cenderung pasif dan hanya menerima penjelasan dari guru, dan guru kurang mempertimbangkan kreativitas dan sikap percaya diri peserta didik maka perlu diupayakan pemecahannya.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka peniliti merumuskan masalah penelitian sebagai berikut.

  1. Manakah model pembelajaran yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD atau tipe GI?
  2. Manakah kategori kreativitas peserta didik yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, peserta didik dengan kreativitas tinggi atau rendah?
  3. Manakah kategori sikap percaya diri peserta didik yang memberikan prestasi belajar lebih baik, peserta didik dengan sikap percaya diri tinggi atau rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui manakah model pembelajaran yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD atau tipe GI.
  2. Untuk mengetahui manakah kreativitas peserta didik yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, peserta didik dengan kreativitas tinggi atau rendah.
  3. Untuk mengetahui manakah sikap percaya diri peserta didik yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, peserta didik dengan sikap percaya diri tinggi atau rendah.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan kajian teori, hasil penelitian, adanya analisis serta mengacu pada perumusan masalah dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Prestasi belajar matematika peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GI lebih baik daripada prestasi belajar matematika peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2. Prestasi belajar matematika peserta didik dengan kreativitas tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika peserta didik dengan kreativitas rendah.

3. Prestasi belajar matematika peserta didik dengan sikap percaya diri tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika peserta didik dengan sikap percaya diri rendah

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dan STAD pada Materi Faktorisasi

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) dan Student Teams Achievement Division (STAD) pada Materi Faktorisasi Siswa Kelas SMP Ditinjau dari Minat Belajar Siswa

 

A. Latar Belakang Skripsi

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika unit Mathematics Playground pada tahun 2009 menyebutkan bahwa terdapat  perbedaan prestasi belajar pada siswa yang memiliki minat belajar yang berbeda, namun hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan secara umum karena sampel yang diambil hanya terdiri dari satu kelas siswa kelas VIII SMP yang mengunjungi unit Mathematics Playground. Dari hasil penelitian ini, dimungkinkan minat menjadi faktor penyebab perbedaan prestasi belajar matematika.

Hal ini juga sejalan dengan kenyataan bahwa pada diri siswa sering terjadi kejenuhan dalam belajar matematika. Untuk itu salah satu upaya yang dapat dilakukan guru adalah dengan memanfaatkan alat peraga pembelajaran. Dalam pemanfaatan alat peraga pembelajaran terkadang hanya untuk verbalisme saja sehingga sifat alat peraga yang digunakan hanya sebagai alat bantu siswa dan siswa hanya sebagai penonton dari alat peraga yang digunakan. Oleh karena itu, alat peraga yang akan digunakan sebaiknya bersifat sebagai alat bantu pembelajaran dan dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Alat peraga pembelajaran yang baik diharapkan dapat mencakup aspek visual, auditif dan motorik, hal ini bertujuan agar memudahkan siswa dalam belajar dan menanamkan konsep.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pemilihan masalah dan batasan masalah tersebut di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik, pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT atau pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas VIII SMP materi faktorisasi suku aljabar?
  2. Manakah yang memiliki prestasi belajar lebih baik, siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, minat belajar matematika sedang, atau minat belajar matematika tinggi pada siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas VIII SMP materi faktorisasi suku aljabar?

 

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini dapat dituliskan sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik, model pembelajaran kooperatif tipe NHT atau STAD.
  2. Untuk mengetahui manakah yang memiliki prestasi belajar matematika lebih baik, siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, minat belajar matematika sedang, atau minat belajar matematika tinggi.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan kajian teori dan didukung dengan adanya analisis serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan prestasi belajar matematika yang sama baik dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2. Siswa yang memiliki minat belajar matematika sedang memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik dibanding dengan siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, siswa yang memiliki minat belajar matematika tinggi memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik dibanding dengan siswa yang memiliki minat belajar matematika rendah, dan siswa yang memiliki minat belajar matematika sedang memiliki prestasi belajar matematika yang sama baik dengan siswa yang memiliki minat belajar matematika tinggi.

Incoming search terms: