Motivasi Belajar, Pemanfaatan Fasilitas Belajar dan Lingkungan Belajar dgn Prestasi

Judul Tesis : Hubungan Motivasi Belajar, Pemanfaatan Fasilitas Belajar dan Lingkungan Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa Tingkat II DIII Kebidanan STIKES Insan Cendekia Medika Jombang

 

A. Latar Belakang Masalah

Berdasarkan hasil study pendahuluan pada 22 orang mahasiswa Tingkat II DIII Kebidanan STIKES ICME Jombang, diperoleh informasi bahwa terdapat penurunan indeks prestasi (IP) pada semester III dibandingkan semester sebelumnya. Kondisi seperti ini tentu bertolak belakang dengan harapan institusi yang menginginkan mahasiswanya mempunyai prestasi belajar yang tinggi sebaliknya lingkungan yang tidak kondusif akan menurunkan motivasi mahasiswa untuk belajar sehingga dapat menurunkan prestasi belajarnya (Mudjiman, 2007:41).

Merujuk pada pendapat beberapa ahli dalam kajian teoritis, prestasi belajar mahasiswa dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, diantaranya motivasi belajar,  tingkat pemanfaatan fasilitas belajar dan lingkungan belajar. Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Hubungan Motivasi Belajar, Pemanfaatan Fasilitas Belajar dan Lingkungan Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa Tingkat II DIII Kebidanan STIKES Insan Cendekia Medika Jombang”.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Adakah hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Tingkat II DIII Kebidanan STIKES ICME Jombang?
  2. Adakah hubungan antara tingkat pemanfaatan fasilitas belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Tingkat II DIII Kebidanan STIKES ICME Jombang?
  3. Adakah hubungan antara lingkungan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Tingkat II DIII Kebidanan STIKES ICME Jombang?
  4. Adakah hubungan antara motivasi belajar, tingkat pemanfaatan fasilitas belajar dan lingkungan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Tingkat II DIII Kebidanan STIKES ICME Jombang?

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Menganalisis hubungan antara motivasi belajar, tingkat pemanfaatan fasilitas belajar dan lingkungan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Tingkat II DIII Kebidanan STIKES ICME Jombang.

Tujuan khusus

  1. Menganalisis hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Tingkat II DIII Kebidanan STIKES ICME Jombang.
  2. Menganalisis hubungan antara tingkat pemanfaatan fasilitas belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Tingkat II DIII Kebidanan STIKES ICME Jombang.

 

D. Simpulan

1. Motivasi belajar mempunyai hubungan korelasi positif yang sangat kuat dan signifikan secara statistik dengan IPK. Semakin tinggi motivasi belajar mahasiswa maka akan berdampak pada IPK yang semakin tinggi.

2. Pemanfaatan fasilitas belajar mempunyai hubungan korelasi positif yang sangat kuat dan signifikan secara statistik dengan IPK. Semakin baik tingkat pemanfaatan fasilitas belajar maka akan berdampak pada IPK yang semakin tinggi.

3. Lingkungan belajar mempunyai hubungan korelasi positif yang sangat kuat dan signifikan secara statistik dengan IPK. Semakin positif lingkungan belajar maka akan berdampak pada IPK yang semakin tinggi.

4. Motivasi belajar, pemanfaatan fasilitas belajar dan lingkungan belajar secara bersama-sama mempunyai hubungan regresi (pengaruh) positif yang signifikan secara statistik terhadap IPK. Semakin tinggi motivasi belajar, semakin baik pemanfaatan fasilitas belajar dan semakin positif lingkungan belajar maka akan berdampak pada IPK yang semakin tinggi.

Self-Efficacy, Prestasi dan Lingkungan Belajar dengan Kinerja Praktek

Latar Belakang Masalah Pembelajaran Dengan Praktek MahasiswaDi Lapangan Kerja

Kemampuan akademik seorang mahasiswa dapat dilihat dari prestasi akademik mahasiswa yang bersangkutan. Individu yang dapat mencapai prestasi tinggi, cenderung mempunyai wawasan luas, terutama mata kuliah di akademi. Pretasi belajar yang tinggi dapat diartikan bahwa mahasiswa tersebut sudah memiliki dasar ilmu yang baik, sehingga dimungkinkan kinerja praktek mahasiswa yang baik dipengaruhi oleh prestasi belajar atau hasil belajar ketika proses pembelajaran yang sering disebut dengan istilah kapabilitas (Briggs, et al, 2006).

Kinerja Praktek
Kinerja Praktek

Berdasarkan uraian tersebut dengan adanya self-efficacy yang tinggi, prestasi belajar yang tinggi dan lingkungan belajar klinik yang kondusif dapat memberikan energi yang positif sehingga mahasiswa dapat menunjukan kinerja praktek klinik kebidanan I secara optimal dan baik sesuai dengan potensi yang individu miliki, sehingga mereka mampu bersaing di dalam kehidupan global. Yang pada kenyataannya kwalitas sumber daya manusia sangat penting dan menduduki posisi sentral, baik sebagai sarana maupun tujuan pembangunan itu sendiri.

Rumusan Masalah

  1. Apakah ada hubungan antara self-efficacy dengan kinerja mahasiswa praktek klinik kebidanan I?
  2. Apakah ada hubungan antara prestasi belajar dengan kinerja mahasiswa praktek klinik kebidanan I?
  3. Apakah ada hubungan antara lingkungan belajar klinik dengan kinerja mahasiswa praktek klinik kebidanan I?
  4. Apakah ada hubungan self-efficacy, prestasi belajar, dan lingkungan belajar klinik dengan kinerja praktek klinik kebidanan I mahasiswa Akademi Kebidanan Mitra Husada Karanganyar?

Tinjauan Pustaka

  1. Pengertian Self-efficacy

Self-efficacy adalah pertimbangan subjektif individu terhadap kemampuannya untuk menyusun tindakan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas khusus yang dihadapi.

  1. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar terdiri dari kata “Prestasi” dan “Belajar”. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar.

  1. Lingkungan Belajar Klinik

Pembelajaran klinik sangat penting untuk mahasiswa kebidanan. Keberhasilan pembelajaran klinik atau prakek klinik kebidanan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah lingkungan belajar klinik (clinical learning environment). Lingkungan belajar klinik merupakan salah satu bentuk iklim pembelajaran pada pembelajaran medis (Boor et al, 2008).

Metodelogi

Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan penelitian cross sectional. Sampel terdiri atas 60 mahasiswa semester III Akademi Kebidanan Mitra Husada Karanganyar, yang melaksanakan praktek klinik kebidanan I, dipilih dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data diperoleh dari bagian akademik untuk indeks prestasi mahasiswa, sedangkan untuk variabel self-efficacy, lingkungan belajar klinik dan kinerja mahasiswa praktek klinik kebidanan I dilakukan pengumpulan data dengan memberi kuesioner pertanyaan yang telah di uji validitas dan realibilitasnya. Analisis data diolah dengan uji regresi berganda.

Kesimpulan

  1. Ada hubungan yang positif dan signifikan antara self-efficacy dengan kinerja mahasiswa praktek klinik kebidanan I di Akbid Mitra Husada Karanganyar.
  2. Ada hubungan yang postif dan signifikan antara prestasi belajar dengan kinerja mahasiswa praktek klinik kebidanan I di Akbid Mitra Husada Karanganyar.
  3. Ada hubungan yang positif dan signifikan antara lingkungan belajar klinik dengan kinerja mahasiswa praktek klinik kebidanan I di Akbid Mitra Husada Karanganyar.
  4. Ada hubungan bersama-sama yang positif dan signifikan antara variabel bebas (self-efficacy, prestasi belajar dan lingkungan belajar klinik) dengan variabel terikat (kinerja mahasiswa praktek klinik kebidanan I ).

Hubungan Locus Of Control, Prestasi Belajar dan Lingkungan Belajar dgn Kematangan Karir

Judul Skripsi : Hubungan Locus Of Control, Prestasi Belajar dan Lingkungan Belajar dengan Kematangan Karir Mahasiswa Akademi Kebidanan Mitra Husada Karanganyar

 

A. Latar Belakang Masalah

Seseorang dengan locus of control internal cenderung menganggap bahwa ketrampilan (skill), kemampuan (ability), dan usaha (efforts) lebih menentukan pencapaian dalam hidup mereka, termasuk pencapaian karirnya. Seseorang akan mengembangkan usahanya untuk meningkatkan ketrampilan kerja dan kemampuan akademik yang mereka miliki dalam rangka meraih karir yang mereka inginkan, serta berusaha mengatasi hambatan yang mereka hadapi dalam rangka pencapaian karir. Kemampuan akademik dan ketrampilan kerja yang tinggi akan membuat siswa membentuk aspirasi karir yang mantap. Aspirasi karir yang mantap, akan membuat individu lebih serius dalam mencari informasi mengenai karir dan menyesuaikan antara kemampuan dan minat yang dimiliki dengan pemahaman mengenai karir, sehingga akhirnya mampu membuat keputusan karir yang tepat. Kesesuaian antara kemampuan dengan karir yang diinginkan merupakan salah satu karakteristik kematangan karir yang positif (Zulkaida dkk, 2007). Siswa yang terlibat memilih suatu jurusan pendidikan dengan mempertimbangkan kemampuan, minat dan kepribadian yang dimilikinya cenderung dapat memilih jurusan yang tepat untuk dirinya. Pemilihan jurusan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan, minat dan kepribadian siswa dapat mengakibatkan siswa semangat, lebih serius dan termotivasi dalam belajar.

Berdasarkan data yang diperoleh dari bidang Kemahasiswaan Akbid Mitra Husada Karanganyar bulan Desember tahun 2011 rata- rata lulusan yang terserap dilapangan pekerjaan dengan waktu tunggu mendapat pekerjaan paling cepat yaitu 0 bulan, tetapi masih juga diperoleh data alumni yang belum mendapatkan pekerjaan sampai lebih dari 6 bulan dan diperoleh juga alumni yang melanjutkan lagi kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Oleh karena itu penting kiranya untuk mengetahui hubungan locus of control, prestasi belajar dan lingkungan belajar dengan kematangan karir mahasiswa Akademi Kebidanan Mitra Husada Karanganyar.

 

B. Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan locus of control, prestasi belajar dan lingkungan belajar dengan kematangan karir mahasiswa Akademi Kebidanan?

 

C. Tujuan Penelitian

Meneliti hubungan locus of control, prestasi belajar dan lingkungan belajar dengan kematangan karir mahasiswa AKBID Mitra Husada Karanganyar

 

D. Simpulan

Penelitian ini menyimpulkan, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara locus of control terhadap kematangan karir (b = 1.28 ; CI 95% 0.74 hingga 1.83). Setiap peningkatan 1 skor locus of control akan meningkatkan sebesar 1.2 skor kematangan karir. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara indeks prestasi belajar terhadap kematangan karir (b = 6.86 ; CI 95% 3.03 hingga 10.69) Setiap peningkatan 1 skor indeks prestasi belajar akan meningkatkan sebesar 6.8 skor kematangan karir . Penelitian ini juga menyimpulkan terdapat pengaruh positif dan signifikan antara lingkngan belajar terhadap kematangan karir (b = 0.73 ; CI 95 % 0.37 hingga 1.08) Setiap peningkatan 1 skor lingkungan belajar akan meningkatkan sebesar 0.7 skor kematangan

Kedisiplinan Belajar dgn Prestasi Belajar Mahasiswa Akademi Kebidanan

Judul Skripsi : Hubungan Antara Lingkungan Belajar dan Kedisiplinan Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa Akademi Kebidanan Mitra Husada Karanganyar

 

A. Latar Belakang Masalah

Untuk prestasi mahasiswa Akbid Mitra Husada melalui study dokumentasi dapat dilihat bahwa sebagian besar mahasiswa mempunyai prestasi belajar yang cukup, Pencapaian prestasi belajar pada sebagian mahasiswa yang masih dalam kategori cukup ini kemungkinan dipengaruhi oleh lingkungan belajar dan kedisiplinan belajar yang kurang. Prestasi belajar akan meningkat apabila kedisiplinan belajar mahasiswa meningkat serta lingkungan belajar yang mendukung, Sebab dengan lingkungan belajar yang mendukung maka akan meningkatkan kedisiplinan belajar mahasiswa yang akan membuat mahasiswa belajar sesuai dengan rencana belajar dan akan mentaati semua peraturan sekolah. Dengan kedisiplinan belajar maka akan dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa.

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti Hubungan Antara Lingkungan Belajar dan Kedisiplinan Belajar Dengan Prestasi Belajar Mahasiswa Akademi Kebidanan Mitra Husada Karanganyar.

 

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

  • Apakah ada hubungan antara lingkungan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa?
  • Apakah ada hubungan antara kedisiplinan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa?
  • Apakah ada hubungan antara lingkungan belajar dan kedisiplinan belajar secara bersama-sama dengan prestasi belajar mahasiswa Akademi Kebidanan Mitra Husada Karanganyar?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

Tujuan Umum

Menganalisis hubungan lingkungan belajar dan kedisiplinan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Akademi Kebidanan Mitra Husada Karanganyar.

Tujuan Khusus

  1. Menganalisis hubungan lingkungan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa.
  2. Menganalisis hubungan kedisiplinan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa.
  3. Menganalisis hubungan lingkungan belajar dan kedisiplinan belajar secara bersama-sama dengan prestasi belajar mahasiswa Akademi Kebidanan Mitra Husada Karanganyar.

 

D. Simpulan

1. Ada hubungan positif yang signifikan antara lingkungan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Akbid Mitra Husada Karanganyar. Adanya lingkungan belajar yang mendukung proses belajar mahasiswa akan berpengaruh terhadap motivasi belajar mahasiswa.

2. Ada hubungan positif yang signifikan antara kedisiplinan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa Akbid Mitra Husada Karanganyar. Kedisiplinan belajar yang baik maka akan dapat meningkatkan prestasi belajar. Sebab dalam kedisiplinan yang dilakukan mahasiswa didalamnya terdapat dasar motivasi yang kuat.

3. Ada hubungan yang signifikan antara lingkungan belajar dan kedisiplinan belajar secara bersama – sama dengan prestasi belajar mahasiswa Akbid Mitra Husada Karanganyar. Lingkungan belajar yang mendukung serta melalui kedisiplinan belajar yang tinggi dapat meningkatkan prestasi belajar.

 

E. Saran

1. Bagi institusi pendidikan

Mampu mewujudkan lingkungan belajar yang baik, dengan cara menjalin kerjasama dengan orangtua, masyarakat sekitar kampus dan meningkatkan sarana-prasarana kampus. Untuk kedisiplinan institusi diharapkan para dosen juga dapat memerikan contoh yang baik dalam kedisiplinan baik dalam mengajar ataupun dalam tatatertib.

2. Bagi mahasiswa

Diharapkan mampu menjalin hubungan yang baik dengan orangtua sehingga akan terwujud hubungan yang harmonis dalam keluarga, lebih teliti dalam memilih teman dan lingkungan kost yang lebih mendukung proses belajar, dan memanfaatkan sarana-prasarana yang disediakan kampus secara optimal sehingga akan menimbulkan motivasi yang kuat

Hubungan Kemampuan Metakognitif dan Lingkungan Belajar

Judul Skripsi : Hubungan Kemampuan Metakognitif dan Lingkungan Belajar Rumah Sakit dengan Kemampuan Pemecahan Masalah Asuhan Keperawatan pada Mahasiswa (Akademi Keperawatan Lumajang)

 

A. Latar Belakang Masalah Skripsi

Program profesi merupakan suatu proses sosialisasi peserta didik dalam mendapatkan pengalaman nyata untuk mencapai kemampuan ketrampilan profesional: intelektual, sikap dan teknis dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien. Hasil akhir yang diharapkan mahasiswa dari program profesi adalah memiliki kemampuan profesional salah satunya dapat melaksanakan asuhan keperawatan dari masalah yang sederhana sampai yang kompleks secara tuntas melalui pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan tindakan keperawatan, implementasi dan evaluasi (Nursalam, 2003). Tentunya pelaksanaan asuhan keperawatan bisa dilaksanakan selama mahasiswa praktik di fasilitas pelayanan kesehatan sehingga dibutuhkan lingkungan belajar tempat praktik. Tempat praktik adalah suatu institusi di masyarakat dimana peserta didik berpraktik pada situasi yang nyata melalui penumbuhan dan pembinaan ketrampilan intelektual, teknik dan interpersonal (Nursalam, 2003).

Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan diatas, maka dikatakan metakognisi memiliki peranan penting dalam mengatur dan mengontrol proses-proses kognitif seseorang dalam belajar dan berfikir terutama dalam kemampuan pemecahan masalah khususnya dalam pemecahan masalah asuhan keperawatan pada mahasiswa diploma keperawatan ketika praktik di rumah sakit serta lingkungan belajar apakah dapat digunakan dalam pemecahan masalah keperawatan.

 

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian sebagai berikut:

  1. Adakah hubungan kemampuan metakognisi dengan kemampuan pemecahan masalah asuhan keperawatan pada mahasiswa keperawatan?
  2. Adakah hubungan lingkungan belajar seperti rumah sakit dengan kemampuan pemecahan masalah asuhan keperawatan pada mahasiswa keperawatan?
  3. Jika ada, seberapa besar kekuatan kemampuan metakognisi, lingkungan belajar dengan kemampuan pemecahan masalah asuhan keperawatan pada mahasiswa keperawatan?

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Mempelajari hubungan kemampuan metakognisi dan lingkungan belajar dengan kemampuan pemecahan masalah asuhan keperawatan pada mahasiswa keperawatan.

 

Tujuan khusus

  1. Mempelajari hubungan kemampuan metakognisi dengan kemampuan pemecahan masalah asuhan keperawatan pada mahasiswa keperawatan.
  2. Mempelajari hubungan lingkungan belajar rumah sakit dengan kemampuan pemecahan masalah asuhan keperawatan pada mahasiswa keperawatan.
  3. Meneliti kekuatan hubungan kemampuan metakognisi dan lingkungan belajar rumah sakit dengan kemampuan pemecahan masalah asuhan keperawatan pada mahasiswa keperawatan.

 

D. Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan terdapat hubungan yang secara statistik signifikan antara kemampuan metakognitif dan kemampuan pemecahan masalah asuhan keperawatan pada mahasiswa keperawatan, semakin tinggi kemampuan metakognitif pebelajar, semakin tinggi pula kemampuan pemecahan masalah asuhan keperawatan (b = 0.3, CI 95 % 0.2 sampai 0.4) Terdapat hubungan yang secara statistik signifikan antara lingkungan belajar dan kemampuan pemecahan masalah asuhan keperawatan, semakin ideal atau baik lingkungan belajar,semakin tinggi pula kemampuan pemecahan masalah asuhan keperawatan pada mahasiswa keperawatan (b = 0.4, CI 95 % 0.2 sampai 0.7)

 

E. Saran

  1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan kemampuan pemecahan masalah asuhan keperawatan dengan variabel-variabel lain seperti motivasi, tingkat emosional pebelajar, metode pembelajaran, karakteristik ruangan.
  2. Institusi rumah sakit khususnya ruang tempat praktik perlu dikelola tidak hanya sekedar sebagai tempat praktik tetapi sekaligus menjadikan sebagai lingkungan belajar yang ideal bagi proses pembelajaran klinik keperawatan.

Incoming search terms:

Lingkungan Belajar dgn Prestasi Belajar

Judul Skripsi : Hubungan Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Intelektual, dan Lingkungan Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa DIII Kebidanan Universitas Respati Yogyakarta

A. Latar Belakang Masalah

Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Prestasi belajar merupakan tolok ukur yang utama untuk mengetahui keberhasilan belajar seseorang. Prestasi belajar juga dapat digunakan sebagai indikator mutu pendidikan. Slameto (2010), Prestasi belajar dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu

(1) Faktor internal yaitu fisiologi dan psikologi, fisiologi terdiri dari kondisi fisik secara umum dan kondisi panca indera. Psikologi terdiri dari kecerdasan siswa, minat, minat (motivasi) serta kemampuan kognitif tingkat kecerdasan atau inteligensi, sikap, bakat, minat, dan motivasi belajar

(2) Faktor eksternal merupakan faktor yang muncul dari luar diri siswa, seperti faktor lingkungan, metode mengajar dan sistem evaluasi (Hadikusumo, 1996).

Lingkungan yang baik perlu diusahakan agar dapat memberi pengaruh yang positif terhadap anak atau siswa sehingga dapat belajar dengan sebaik-baiknya. Slameto (2003), Lingkungan pendidikan dibedakan menjadi tiga bagian yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat (Ahmadi dan Uhbiyanti, 1992).

 

B. Rumusan Masalah

Apakah ada Hubungan Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Intelektual, dan Lingkungan Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa DIII Kebidanan Universitas Respati Yogyakarta?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

Tujuan Umum

Untuk mengetahui Hubungan Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Intelektual, Dan Lingkungan Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa DIII Kebidanan Universitas Respati Yogyakarta.

Tujuan Khusus

  1. Mengidentifikasi hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar mahasiswa DIII Kebidanan.
  2. Mengidentifikasi hubungan kecerdasan intelektual dengan prestasi belajar mahasiswa DIII Kebidanan. Mengidentifikasi hubungan lingkungan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa DIII Kebidanan.
  3. Mengidentifikasi hubungan lingkungan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa DIII Kebidanan.
  4. Mengidentifikasi hubungan kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, Dan lingkungan belajar dengan prestasi belajar mahasiswa DIII Kebidanan Universitas Respati Yogyakarta.

 

D. Simpulan

1. Terdapat pengaruh positif dan secara statistik signifikan tentang lingkungan kecerdasan emosional terhadap indeks prestasi belajar (b = 0.02; p = 0.007) pengaruh tersebut secara substantif signifikan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar, karena 10 kali peningkatan kecerdasan emosional menyumbang 0,2 IPK. Pengaruh tersebut telah mengendalikan pengaruh kecerdasan emosional dengan lingkungan belajar.

2. Terdapat pengaruh positif dan secara statistik signifikan kecerdasan intelektual terhadap indeks prestasi belajar (b = 0.02; p = <0.001) pengaruh tersebut secara substantif signifikan antara kecerdasan intelektual dengan prestasi belajar, karena 10 kali peningkatan kecerdasan intelektual menyumbang 0,2 IPK. Pengaruh tersebut telah mengendalikan pengaruh kecerdasan emosional dengan lingkungan belajar.

3. Tidak terdapat pengaruh dan secara statistik tidak signifikan antara lingkungan belajar dengan indeks prestasi belajar (b = <-0.01; p = 0.61).