Tesis Akuntansi: Analisis Rasio Keuangan utk Memprediksi Potensi Kebangkrutan

Judul Tesis: Analisis Rasio Keuangan Untuk Memprediksi Potensi Kebangkrutan pada Perusahaan Perbankan Go Public di Indonesia

 

A. Latar Belakang

Kondisi perbankan yang sehat merupakan kepentingan semua pihak yang terkait, baik pemilik dan pengelola bank, masyarakat pengguna jasa bank maupun BI selaku Pembina dan pengawas bank. Pada masa sebelum deregulasi perbankan di Indonesia 27 Oktober 1988, penilaian tingkat kesehatan bank di Indonesia didasarkan SK BI No. 10/63/KEP/DIR/UPPB dan SE BI No.10/5/UPPB tanggal 31 Agustus 1977. Sejalan dengan perkembangan deregulasi perbankan, BI telah menyempurnakan Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank melalui SK BI N0.23/81/KEP/DIR dan SE BI No.23/21/BPPP tanggal 28 Februari 1991, disempurnakan lagi dengan SK BI No.26/2/KEP/DIR dan SE BI No.26/5/BPPP tanggal 29 Mei 1993, serta disempurnakan lagi dengan Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004tanggal 12 April 2004 dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP/2004tanggal 31 Mei 2004.

Kondisi yang membuat para investor dan kreditur merasa khawatir jika perusahaan mengalami kesulitan keuangan (financial distress) yang bisa mengarah kebangkrutan. Tingkat kekhawatiran investor ini makin bertambah dengan munculnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 1 Tahun 1998 yang mengatur kepailitan. Menurut Perpu No. 1, debitur yang terkena default (gagal bayar) dapat dipetisikan bangkrut oleh dua kreditur saja.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kesehatan bank yang diproksikan menurut rasio CAMELS antara bank yang sehat dengan bank yang gagal pada perusahaan perbankan go public di Indonesia?
  2. Proksi rasio keuangan manakah yang dominan mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan bank pada perusahaan perbankan go public di Indonesia?
  3. Bagaimana tingkat ketepatan prediksi yang dihasilkan oleh persamaan diskriminan dalam melihat kegagalan dan keberhasilan bank pada perusahaan perbankan go public di Indonesia?

 

C. Landasan Teori

Pengukuran Kinerja Keuangan

Kinerja perusahaan dapat dinilai melalui berbagai macam indikator. Sumber utama indikator yang dijadikan dasar penilaian adalah laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan. Berdasarkan laporan ini dapat dihitung sejumlah rasio keuangan yang lazim dijadikan dasar penilaian kinerja perusahaan (Payamta dan Machfoedz, 1999).

Pengetian Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan laporan peristiwa masa lalu yang berkelanjutan dari sumber, kewajiban, dan aktivitas ekonomi perusahaan (yang mengubah sumber dan kewajiban tersebut), serta dikuantitaskan dalam satuan uang, yang hasil akhir dari proses akuntansi meliputi neraca, laporan rugi-laba, dan laporan perubahan posisi keuangan.

Laporan Keuangan Bank

Laporan keuangan perbankan merupakan salah satu sumber informasi keuangan yang dikeluarkan oleh bank. Laporan keuangan yang baik harus memiliki daya prediksi sesuai dengan karakteristik dari laporan keuangan. Laporan keuangan bank yang dikeluarkan secara rutin seharusnya dapat menjadi alat dalam memperkirakan akan adanya kesulitan keuangan yang dialami oleh bank yaitu melalui rasio-rasio keuangan yang dimilikinya.

 

D. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah perusahaan perbankan go public di Indonesia yang terkena likuidasi maupun yang tidak terlikuidasi pada tahun 2000.

Dalam penelitian ini, sampel yang diambil secara purposive untuk perusahaan.

Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari data sekunder yang berupa laporan keuangan tahunan (neraca, laporan rugi laba, dan perkiraan administratif bank).

 

E. Kesimpulan

  1. Hasil pengujian univariat dengan uji-t menunjukkan bahwa dari 12 (dua belas) rasio keuangan yang diteliti, yaitu pada periode 1996 tidak terdapat satu rasiopun yang signifikan membedakan dalam memprediksi potensi kebangkrutan antara perusahaan bank yang sehat dengan perusahaan bank yang gagal. Pada periode 1997 terdapat enam rasio yang signifikan membedakan dalam memprediksi potensi kebangkrutan antara perusahaan bank yang sehat dengan perusahaan bank yang gagal yaitu rasio CAR, RORA, NPM, OPM, ROA, dan, BOPO. Pada periode 1998 terdapat tiga rasio yang signifikan membedakan dalam memprediksi potensi kebangkrutan antara perusahaan bank yang sehat dengan perusahaan bank yang gagal yaitu rasio RORA, ROA, dan IRRR.
  2. Hasil pengujian multivariat dengan multiple discriminant analysis menunjukkan bahwa dari 12 (dua belas) rasio keuangan yang diteliti selama periode 1996-1998 yaitu pada periode 1996 tidak terdapat satu rasiopun yang dominan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan bank Pada periode 1997 terdapat dua rasio yang dominant mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan bank yaitu rasio OPM dan BOPO. Pada periode 1998 terdapat satu rasio yang dominan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan bank yaitu rasio RORA. Pada periode 1996-1998 terdapat satu rasio yang dominan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan bank yaitu rasio CAR. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat empat rasio yang dominan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan bank yaitu rasio CAR, RORA, OPM, dan BOPO.
  3. Persamaan fungsi diskriminan yang dihasilkan untuk melihat kegagalan dan keberhasilan suatu bank selama periode 1996-1998 yaitu pada periode 1996 tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan mengenai rasio keuangan yang dapat mendominasi kondisi suatu bank atau dengan kata lain semua rasio relatif sama dalam mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan bank. Hal tersebut mungkin terjadi karena pengaruh permainan window dressing pada laporan keungan yang disajikan.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Evaluasi Sistem Akuntansi Pembelian Barang Dagangan pada Supermarket Asia Makmur Boyolali
  2. Evaluasi Sistem Informasi Akuntansi Penerimaan dan Pengeluaran Kas
  3. Evaluasi Ketepatan Penentuan Tarif Sewa Bed Per Hari Pada Rumah Sakit Nirmala Suri Sukoharjo
  4. Analisis Rasio Keuangan untuk Memprediksi Potensi Kebangkrutan pada Perusahaan

 

 

Tesis Akutansi: Analisis Penggunaan Z-Score Altman utk Menilai Potensi Kebangkrutan

Tesis Akutansi: Analisis Penggunaan Z-Score Altman untuk Menilai Potensi Kebangkrutan Perusahaan

 

A. Latar Belakang

Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan salah satu sumber informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, kinerja serta perubahan posisi keuangan perusahaan, yang sangat berguna untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat. Agar informasi yang tersaji menjadi lebih bermanfaat dalam pengambilan keputusan, data keuangan harus dikonversi menjadi informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan ekonomis. Hal ini ditempuh dengan cara melakukan analisis laporan keuangan. Model yang sering digunakan dalam melakukan analisis tersebut adalah dalam bentuk rasio-rasio keuangan. Foster (1986) menyatakan empat hal yang mendorong analisis laporan keuangan dilakukan dengan model rasio keuangan yaitu:

  1. Untuk membuat data menjadi lebih memenuhi asumsi alat statistik yang digunakan.
  2. Untuk menginvestigasi teori yang terkait dengan dengan rasio keuangan.
  3. Untuk mengkaji hubungan empirik antara rasio keuangan dan estimasi atau prediksi variabel tertentu, seperti kebangkrutan atau financial distress (Luciana & Kristijadi, 2003).

Penelitian mengenai rasio keuangan sebagai prediktor kebangkrutan perusahaan telah banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu. Penelitian mengenai potensi kebangkrutan perusahaan dilakukan oleh Altman (1986) telah menemukan ada 5 rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi kebangkrutan perusahaan beberapa saat sebelum perusahaan tersebut bangkrut, kelima rasio tersebut terdiri dari : Cash Flow to Total Debt, Net Income to Total Assets, Total Debt to Total Assets, Working Capital to Total Assets, dan Current Ratio. Altman juga menemukan bahwa rasio-rasio tertentu terutama likuiditas dan leverage memberikan sumbangan terbesar dalam rangka mendeteksi dan memprediksi kebangkrutan perusahaan.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah metode Z-Score Altman dapat diimplementasikan dalam memprediksi potensi bangkrut atau sehat pada perusahaan manufaktur di BEI?
  2. Apakah terdapat kemungkinan kesalahan klasifikasi model prediksi kebangkrutan pada perusahaan manufaktur di BEI?

 

C. Landasan Teori

Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan dan ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan inilah yang menjadi bahan informasi bagi para pemakainya sebagai salah satu bahan dalam proses pengambilan keputusan. Disamping sebagai informasi, laporan keuangan juga sebagai pertanggungjawaban atau accountability dan juga dapat menggambarkan indikator kesuksesan suatu perusahaan mencapai tujuannya (Zaki Baridwan, 2000:17).

Pengertian Rasio Keuangan

Analisis keuangan harus mencakup pertimbangan tentang perkembangan strategis dan ekonomis yang harus diikuti perusahaan demi keberhasilan jangka panjangnya. Untuk beberapa situasi daftar rasio keuangan yang lebih rinci mungkin akan berguna dan untuk keputusan lain beberapa rasio saja sudah mencukupi (Weston dan Copeland, 1995).

Potensi Kebangkrutan Usaha

Kemampuan dalam memprediksi kebangkrutan akan memberikan keuntungan banyak pihak, terutama kreditur dan investor. Perusahaan sendiri dalam proses kebangkrutan akan menanggung biaya yang tidak sedikit, oleh karena itu dengan mengetahui indikator kebangkrutan sejak dini akan banyak pihak yang bisa diselamatkan (Farid Harianto & Siswanto Sudomo, 1998:233).

 

D. Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan merupakan studi empiris.

Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufaktur di BEI yang dibedakan menjadi dua kelompok yaitu perusahaan yang bangkrut dan perusahaan yang tidak bangkrut.

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada periode 2002-2007.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa laporan keuangan perusahaan manufaktur yang diambil dari ICMD (Indonesian Capital Market Directory) yang terdapat di pojok BEI.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi dan studi pustaka.

Model analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis diskriptif.

 

E. Kesimpulan

  1. Berdasarkan analisis perhitungan altman terhadap seluruh sampel perusahaan manufaktur di BEI, menunjukkan bahwa dari 13 sampel perusahaan yang bangkrut, 10 perusahaan manufaktur (39%) diantaranya masuk kategori bangkrut menurut Score altman, 3 perusahan manufaktur (11%) masuk dalam grey area, sedangkan yang masuk dalam kategori tidak bangkrut menurut perhitungan Altman tidak ada. Untuk 13 sampel perusahaan yang tidak bangkrut, 6 perusahaan manufaktur (23%) diantaranya masuk kategori tidak bangkrut menurut Score altman, 7 perusahaan manufaktur (27%) masuk dalam grey area, sedangkan yang masuk dalam kategori bangkrut menurut perhitungan Altman tidak ada.
  2. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa metode Altman dapat digunakan dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan manufaktur di BEI. Hasil uji Score Altman menunjukkan adanya kesalahan klasifikasi model sebesar 0% untuk kesalahan tipe I dan 0% untuk kesalahan tipe II yang muncul dari hasil prediksi kebangkrutan.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Pengaruh Kebijakan Hutang, Kebijakan Investasi, Dan Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan Manufaktur Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2003-2007
  2. Evaluasi Sistem Pengendalian Persediaan Material Pada Pt. Pln (Persero) Area Pelayanan Dan Jaringan Surakarta
  3. Evaluasi Sistem Pengendalian Intern Penerimaan Kas Dari Rawat Inap Pada Puskesmas Sambirejo
  4. Pemahaman Staff Instansi Daerah Dan Mahasiswa Akuntansi Terhadap Standar Akuntansi
  5. Analisis Penggunaan Z-Score Altman Untuk Menilai Potensi Kebangkrutan Perusahaan

 

Incoming search terms:

Tesis Akutansi: Rasio Keuangan trhdp Kondisi Financial Distress pd Perusahaan Property

Judul Tesis : Prediksi Rasio Keuangan terhadap Kondisi Financial Distress pada Perusahaan Property yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

 

A. Latar Belakang

Para investor dan kreditur sebelum menanamkan dananya pada suatu perusahaan akan selalu melihat terlebih dahulu kondisi keuangan perusahaan tersebut. Oleh karena itu, analisis dan prediksi atas kondisi keuangan suatu perusahaan adalah sangat penting. Financial distress adalah suatu konsep luas yang terdiri dari beberapa situasi di mana suatu perusahaan menghadapi masalah kesulitan keuangan. Istilah umum untuk menggambarkan situasi tersebut adalah kebangkrutan, kegagalan, ketidakmampuan melunasi hutang, dan default. Insolvency dalam kebangkrutan menunjukkan kekayaan bersih negatif. Ketidakmampuan melunasi utang menunjukkan kinerja negatif dan menunjukkan adanya masalah likuiditas. Default berarti suatu perusahaan melanggar perjanjian dengan kreditur dan dapat menyebabkan tindakan hukum.

Menurut Platt dan Platt (2002), financial distress adalah tahap penurunan kondisi keuangan yang dialami oleh suatu perusahaan, yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi. Kondisi ini pada umumnya ditandai antara lain dengan adanya penundaan pengiriman, kualitas produk yang menurun, dan penundaan pembayaran tagihan dari Bank. Apabila kondisi financial distress ini diketahui, diharapkan dapat dilakukan tindakan untuk memperbaiki situasi tersebut sehingga perusahaan tidak akan masuk pada tahap kesulitan yang lebih berat seperti kebangkrutan ataupun likuidasi.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah ada perbedaan rasio keuangan antara perusahaan yang mengalami financial distress dan perusahaan yang tidak mengalami financial distress?
  2. Apakah rasio keuangan dapat digunakan untuk memprediksi probabilitas kondisi financial distress suatu perusahaan?

 

C. Landasan Teori

Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan sebuah sarana mengkomunikasikan informasi keuangan kepada pihakpihak di luar perusahaan. Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) dalam PSAK No. 1 menyatakan laporan keuangan sebagai bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan disusun untuk membantu investor dan kreditor sekarang serta pemakai lain dalam menilai jumlah, waktu, dan kepastian dari penerimaan kas dari dividen atau bunga dan hasil dari penjualan, penarikan, atau jatuh tempo dari sekuritas dari pinjaman.

Analisis Rasio Keuangan

Analisis rasio ini dapat memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka tersebut dibandingkan dengan angka rasio yang digunakan sebagai standar (Munawir, 2004 : 64).

Financial Distress

Kesulitan keuangan atau yang lebih dikenal dengan financial distress hampir pasti pernah dialami oleh setiap perusahaan. Kondisi ini merupakan ciri khas yang dialami oleh perusahaan sebagai akibat dari beberapa kondisi yang terjadi dari dalam perusahaan, seperti manajemen yang tidak mampu mengelola perusahaannya dengan baik maupun faktor yang berasal dari luar perusahaan yang tidak mungkin mampu dikendalikan perusahaan.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian pada dasarnya dilakukan dengan sensus, survei sampel, atau studi kasus.

Penelitian ini menggunakan teknik survei sampel karena menguji rasio keuangan perusahaan dalam memprediksi kondisi financial distress perusahaan sehingga perhitungannya hanya dilakukan pada bagian populasi.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan property yang laporan keuangannya terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2003-2007.

Metode pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling.

Penelitian ini menggunakan data sekunder.

 

E. Kesimpulan

  1. Terdapat perbedaan rata-rata variabel rasio keuangan perusahaan property yang meliputi variabel rasio efisiensi, rasio profitabilitas, rasio financial leverage dan rasio yang terdapat dalam laporan arus kas, baik dari aktivitas operasi, aktivitas pendanaan, maupun aktivitas investasi di antara perusahaan property yang mengalami financial distress dan perusahaan property non distress. Ratarata variabel keuangan perusahaan property yang berbeda tersebut meliputi variabel CAT, PM, FATA, dan LTF. Sementara itu, untuk variabel keuangan lainya yaitu: TAT, ROE, TDTC, ETTA, CFOCL, CFOTL, FATF, dan NDTF tidak mempunyai ratarata yang berbeda di antara perusahaan property yang mengalami financial distress dan perusahaan property yang tidak mengalami financial distress.
  2. Informasi yang terkandung dalam laporan keuangan perusahaan property mempunyai nilai prediksi terhadap kondisi financial distress perusahaan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Simpulan ini didasarkan pada hasil pengujian model penelitian dengan binary logistic regression yang menunjukkan bahwa variabel LTF dan CAT berpengaruh terhadap financial distress perusahaan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sementara untuk varaibel keuangan FATA dan PM tidak dapat digunakan sebagai prediktor atas kondisi financial distress perusahaan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu dapat dinyatakan bahwa LTF dan CAT merupakan prediktor atas financial distress perusahaan property Bursa Efek Indonesia, sementara itu, FATA dan PM bukan merupakan prediktor kondisi financial distress perusahaan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Evaluasi Sistem Penerimaan Kas Dari Sambungan Barudan Tagihan Rekening Air
  2. Reaksi Pasar Terhadap Pengumuman Pergantian Chief Executive Officer (Ceo) Diukur
  3. Evaluasi Penentuan Harga Pokok Produksi Pada Pembuatan Tahu Fajar Di Jumantono
  4. Evaluasi Sistem Pemberian Kredit Pada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Badan
  5. Prediksi Rasio Keuangan Terhadap Kondisi Financial Distress Pada Perusahaan Property

 

Incoming search terms:

Tesis Akutansi: Pengaruh Ukuran Perusahaan, Ukuran Dewan Komisaris, trhdp CSRD pd Perusahaan

Judul Tesis : Pengaruh Ukuran Perusahaan, Ukuran Dewan Komisaris, Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Asing, dan Umur Perusahaan terhadap Corporate Social Responsibility Disclosure pada Perusahaan Property dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

 

A. Latar Belakang

Tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi yang transparan, organisasi yang accountable serta tata kelola perusahaan yang semakin bagus (good corporate governance) semakin memaksa perusahaan untuk memberikan informasi mengenai aktivitas sosialnya. Masyarakat membutuhkan informasi mengenai sejauh mana perusahaan sudah melaksanakan aktivitas sosialnya sehingga hak masyarakat untuk hidup aman tenteram, kesejahteraan karyawan, dan keamanan mengkonsumsi makanan dapat terpenuhi (Anggraini, 2006).

Perusahaan sebagai lembaga usaha tidak lepas dengan masalahmasalah sosial yang berkaitan dengan masalah kesejahteraan pegawai, pengelolaan lingkungan terutama di sekitar pabrik, pemantauan produksi, dan masalah masyarakat sekitar perusahaan. Menurut Gray et. al. dalam Sembiring (2005), tumbuhnya kesadaran publik akan peran perusahaan di tengah masyarakat melahirkan kritik dan kekhawatiran karena menciptakan masalah sosial, polusi, sumber daya, limbah, mutu produk, tingkat safety produk, serta hak dan status tenaga kerja. Tekanan dari berbagai pihak memaksa perusahaan untuk menerima tanggung jawab atas dampak aktivitas bisnisnya terhadap masyarakat. Tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) itu sendiri dapat digambarkan sebagai ketersediaan informasi keuangan dan non-keuangan berkaitan dengan interaksi organisasi dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya, yang dapat dibuat dalam laporan tahunan perusahaan atau laporan sosial terpisah (Guthrie dan Mathews 1985 dalam Sembiring 2005).

 

B. Rumusan Masalah Tesis

  1. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap corporate social responsibility disclosure pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di BEI?
  2. Apakah ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap corporate social responsibility disclosure pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di BEI?
  3. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh terhadap corporate social responsibility disclosure pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di BEI?

 

C. Landasan Teori

Laporan Keuangan

Menurut Heary dan Palepu dalam Nofandrilla (2008), laporan keuangan merupakan mekanisme yang penting bagi manajer untuk berkomunikasi dengan investor luar. Ditinjau dari sudut pandang manajemen, laporan keuangan merupakan media bagi mereka untuk mengkomunikasikan kinerja keuangan perusahaan yang dikelolanya kepada pihak-pihak yang berkepentingan, sedangkan ditinjau dari sudut pandang pemakai, diharapkan dapat digunakan untuk mengambil keputusan yang rasional dalam praktik bisnis yang sehat.

Pengungkapan (disclosure)

Suwardjono (2005) berargumen bahwa pengungkapan (disclosure) berkaitan dengan cara pembeberan atau penjelasan hal-hal informatif yang dianggap penting dan bermanfaat bagi pemakai selain apa yang dapat dinyatakan melalui statement keuangan utama. Secara umum, tujuan pengungkapan adalah menyajikan informasi yang dipandang perlu untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan dan untuk melayani berbagai pihak yang mempunyai kepentingan berbeda-beda.

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility)

Robbins dan Coutler dalam Nofandrilla (2008) mendefinisikan tanggung jawab sosial adalah suatu kewajiban perusahaan, di luar tanggung jawab yang diminta oleh hukum dan ekonomi, untuk mengejar sasaran jangka panjang yang baik bagi masyarakat. Pertanggungjawaban sosial merupakan konsep yang lebih “manusiawi”, dimana suatu organisasi dipandang sebagai agen moral. Oleh karena itu, dengan atau tanpa aturan hukum, sebuah organisasi, termasuk di dalamnya organisasi bisnis, wajib menjunjung tinggi moralitas.

 

D. Metode Penlitian

Dalam penelitian ini desain yang dipilih adalah sampel survey, di mana hasil pegukuran sampel akan digeneralisasikan untuk populasinya.

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2005 sampai dengan 2007.

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.

 

E. Kesimpulan

  1. Bahwa secara bersama-sama kelima variabel independen (ukuran perusahaan, ukuran dewan komisaris, kepemilikan institusional, kepemilikan asing, dan umur perusahaan) berpengaruh terhadap corporate social responsibility disclosure pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2007.
  2. Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap corporate social responsibility disclosure pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2007.
  3. Ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap corporate social responsibility disclosure pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2007.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Pengaruh Kepemilikan Institusional, Corporate Governance Perception Index, Dan Ukuran
  2. Evaluasi Penentuan Harga Pokok Produksi Dengan Metode Job Order Costing Pada Perusahaan
  3. Analisa Pengaruh Kepemilikan Manajerial Dan Kepemilikan Institusional Terhadap Kebijakan Pengaruh Kepemilikan Institusional, Likuiditas Aset Dan Tangibility Terhadap Struktur Modal Perusahaan Manufaktur Dalam Bidang Food And Baverage Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2007 Dengan Ukuran Perusahaan Sebagai Variabel Kontrol
  4. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Ukuran Dewan Komisaris, Kepemilikan Institusional
  5. Reaksi Pasar Terhadap Pengumuman Stock Split Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

 

 

Skripsi Akutansi: Penggunaan Informasi Keuangan utk Memprediksi Laba n Arus Kas

Judul Skripsi : Penggunaan Informasi Keuangan untuk Memprediksi Laba dan Arus Kas Perusahaan Go Public di Indonesia

 

A. Latar Belakang

Analisis laporan keuangan biasanya didasarkan pada laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan dan informasi ekonomi lainnya tentang perusahaan. Keberhasilan dalam mencapai suatu tingkat laba tertentu tidak lepas dari keberhasilan kinerja manajemen perusahaan. Untuk mengetahui seberapa baik kinerja manajemen perusahaan, dapat dilakukan dengan melihat dan mengevaluasi jumlah laba yang dihasilkan perusahaan sehingga bisa memperkirakan return yang diperoleh investor atas investasinya.

Informasi laba yang merupakan komponen dari laporan keuangan memiliki potensi yang sangat penting baik bagi pihak intern maupun ekstern. Menurut Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1, informasi laba memiliki manfaat sebagai berikut : menilai kinerja manajemen; membantu mengestimasi kemampuan laba yang representatif dalam jangka panjang; memprediksi laba dan menaksir resiko dalam investasi atau kredit.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah perubahan laba, piutang, sediaan, biaya administrasi dan penjualan, ratio laba kotor terhadap penjualan serta arus kas merupakan prediktor laba di masa mendatang ?
  2. Apakah perubahan laba, piutang, sediaan, biaya administrasi dan penjualan, ratio laba kotor terhadap penjualan serta arus kas merupakan prediktor arus kas di masa mendatang ?

 

C. Landasan Teori

Karakteristik Informasi Akuntansi

Informasi akuntansi merupakan bagian terpenting dari seluruh informasi yang diperlukan oleh manajemen. Informasi akuntansi terutama berhubungan dengan data keuangan perusahaan, agar data keuangan yang ada dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manajemen maupun pihak eksternal perusahaan.

Pengertian Laporan Keuangan

Menurut IAI (2002) laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Disamping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya, informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga.

Laporan Arus Kas

Laporan arus kas merupakan suatu laporan yang dapat memberikan informasi tentang penerimaan dan pengeluarn kas dalam periode tertentu. Laporan arus kas adalah laporan yang berisi informasi mengenai kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan kas atau setara kas selama satu periode tertentu.

 

E. Metode Penelitian

Populasi yang diteliti adalah perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) selama lima periode yaitu mulai tahun 1999-2004.

Dalam penelitian ini secara keseluruhan merupakan data kuantitatif yaitu data yang diukur dalam suatu skala numerik (angka).

Pengolahan data yang dipersiapkan untuk analisis regresi menggunakan program SPSS 11.0.

Pengujian dikatakan valid jika memenuhi asumsi klasik, yaitu tidak adanya unsur multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.

 

E. Kesimpulan Skripsi

  1. Hasil pengujian melalui teknik regresi linier berganda untuk memprediksi perubahan laba satu tahun ke depan secara bersama menunjukkan bahwa variabel informasi keuangan (perubahan laba, perubahan piutang, perubahan sediaan, perubahan biaya administrasi dan penjualan, perubahan Gross Profit to Sales, dan perubahan arus kas) adalah signifikan sebagai prediktor dengan tingkat kesalahan 5%. Prediksi perubahan laba satu tahun ke depan secara parsial menunjukkan bahwa variabel perubahan laba dan perubahan Gross Profit to Sales berpengaruh secara signifikan, sedangkan variabel perubahan piutang, perubahan sediaan, perubahan biaya administrasi dan penjualan, serta perubahan arus kas tidak signifikan atau gagal diterima.
  2. Hasil pengujian melalui teknik regresi linier berganda untuk memprediksi perubahan laba dua tahun ke depan secara bersama menunjukkan bahwa variabel informasi keuangan (perubahan laba, perubahan piutang, perubahan sediaan, perubahan biaya administrasi dan penjualan, perubahan Gross Profit to Sales, dan perubahan arus kas) adalah signifikan sebagai prediktor dengan tingkat kesalahan 5%. Prediksi perubahan laba dua tahun ke depan secara parsial menunjukkan bahwa variabel perubahan Gross Profit to Sales berpengaruh secara signifikan, sedangkan variabel perubahan laba, perubahan piutang, perubahan sediaan, perubahan biaya administrasi dan penjualan, serta perubahan arus kas tidak signifikan atau gagal diterima.
  3. Hasil pengujian melalui teknik regresi linier berganda untuk memprediksi perubahan laba tiga tahun ke depan secara bersama maupun secara parsial menunjukkan bahwa variabel informasi keuangan (perubahan laba, perubahan piutang, perubahan sediaan, perubahan biaya administrasi dan penjualan, perubahan Gross Profit to Sales, dan perubahan arus kas) adalah tidak signifikan sebagai prediktor dengan tingkat keyakinan 5%.

 

Contoh Skripsi Akutansi

  1. Penggunaan Informasi Keuangan untuk Memprediksi Laba dan Arus Kas Perusahaan Go Public di Indonesia
  2. Analisis Pengaruh Faktor Fundamental dan Kurs Valuta Asing terhadap Return Saham Sektor Telekomunikasi
  3. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Underpricing pada Perusahaan yang Go Public
  4. Analisis Pengaruh Rasio-Rasio Keuangan dalam Memprediksi Perubahan Laba pada Perusahaan Manufaktur
  5. Hubungan Antara Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban dengan Efektivitas Pengendalian Biaya

Skripsi Akutansi: Laporan Keuangan pd Perusahaan Daerah Air Minum

Judul Skripsi : Analisis Laporan Keuangan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kudus

 

A. Latar Belakang

Agar laporan keuangan dapat berarti bagi pihak-pihak yang berkepentimgan maka perlu mengadakan analisa hubungan dari berbagai pos-pos dalam suatu laporan keuangan yang sering disebut analisis laporan keuangan. Dalam hal ini analisa rasio dapat dipakai dalam memberikan gambaran keadaan keuangan yang sebenarnya mengenai perkembangan perusahaan dan sehat tidaknya perusahaan tersebut melakukan usahanya.

Analisa rasio adalah menggambarkan suatu perbandingan antara jumlah tertentu (dari neraca atau rekening rugi laba) dengan jumlah yang lain. Dengan menggunakan analisa rasio dimungkinkan untuk dapat menentukan tingkat likuiditas, rentabilitas dan aktivitas suatu badan usaha.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah PDAM Kabupaten Kudus dapat memenuhi kewajibankewajiban jangka pendeknya ?
  2. Bagaimana tingkat rentabilitas PDAM Kabupaten Kudus ?
  3. Bagaimana tingkat efektifitas dan kondisi PDAM Kabupaten Kudus dalam menggunakan sumber dananya ?

 

C. Landasan Teori Skripsi

Likuiditas

Likuiditas adalah berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansiilnya yang segera harus dipenuhi (Bambang Riyanto,2001:25). Sedangkan menurut (Muslich, 2003:47) likuiditas menunjukkan tingkat kemudahan relatif suatu aktiva untuk segera dikonversikan ke dalam kas yang sedikit atau tanpa penurunan nilai, serta tingkat kepastian tentang jumlah kas yang dapat diperoleh.

Rentabilitas

Rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Bambang Riyanto,2001:35). Sedangkan menurut Munawir,1995:86 Rentabilitas adalah menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.

Aktivitas

Menurut Riyanto (2001:331) Rasio aktivitas yaitu rasio yang dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar efektivitas perusahaan dalam menggunakan dananya. Untuk mengukur rasio aktivitas dapat digunakan antara lain:

  • Total Asset Turnover

Yaitu kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva yang berputar dalam perusahaan dalam satu periode tertentu atau kemampuan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan revenue.

  • Working Capital Turnover

Yaitu kemampuan modal kerja berputar dalam satu periode.

 

D. Metode Penelitian

Metode yang digunakan meliputi lokasi penelitian yaitu Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kudus yang terletak dijalan Mejobo No 34 Kudus.Objek kajian adalah rasio likuiditas, rasio rentabilitas dan rasio aktivitas.

Populasi dalam penelitian ini laporan keuangan yang meliputi neraca dan laporan rugi laba dan sampel dalam penelitian ini sama dengan populasi. Metode pengumpulan data adalah dokumentasi dan wawancara.

Metode analisis data adalah secara deskriptif kuantitatif yaitu analisis didasarkan pada perhitungan

 

E. Kesimpulan

  1. Likuiditas PDAM Kabupaten Kudus dilihat dari current ratio maka PDAM Kabupaten Kudus dalam keadaan likuid. Dari tahun 2001-2004 menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Apabila sewaktuwaktu ditagih utangnya maka PDAM akan segera dapat melunasi, tetapi masih adanya dana yang mengganggur dalam aktiva lancar.
  2. Likuiditas PDAM Kabupaten Kudus dilihat dari acid test ratio maka PDAM Kabupaten Kudus dalam keadaan likuid. Dari tahun 2001-2004 menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Perbedaan tingginya current ratio dengan acid test ratio tidaklah terlalu jauh berbeda , hal ini menunjukkan aktiva lancar yang diinvestasikan dalam persediaan rendah. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi PDAM Kabupaten Kudus karena persediaan tidak mudak dicairkan dan paling sering mengalami fluktuasi harga. Apabila dihubungkan dengan standar rasio perusahaan maka PDAM Kabupaten Kudus dalam keadaan likuid.

 

Contoh Skripsi Akutansi

  1. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Audit Delay pada Perusahaan Go Publik
  2. Ta Analisis Laporan Keuangan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kudus
  3. Analisis Tingkat Efisiensi Penggunaan Modal Melalui Pendekatan Sistem DU Pont
  4. Kemampuan Rasio Keuangan Sebagai Alat untuk Memprediksi Peringkat Obligasi Perusahaan Manufaktur
  5. Pengaruh Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Dan Total Assets Turn Over

 

 

 

Incoming search terms: