Implementasi Pembelajaran Ekonomi di Sekolah Kategori Mandiri

Masalah Pembelajaran Ekonomi Untuk Rintisan Sekolah Kategori Mandiri

Dengan program RSKM diharapkan upaya pemerintah untuk memperbaiki kegiatan-kegiatan pelaksanaan pembelajaran dapat dipenuhi melalui kegiatan penyempurnaan standar isi dan standar proses pendidikan yang diimplementasikan ke semua mata pelajaran termasuk pelajaran ekonomi. Pelaksanaan Program RSKM dilaksanakan kegiatan penyusunan silabus, penyusunan rencana pembelajaran, penyusunan bahan ajar, penyusunan pedoman analisis penilaian, serta penyusunan program remidial berkelanjurtan untuk berbagai mapel termasuk mapel ekonomi yang terencana diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang terdapat pada masing-masing mata pelajaran.

Penyusunan program-program pembelajaran tersebut melibatkan sebagian besar guru yang ada sehingga semua guru mata pelajaran ekonomi diharapkan dapat mendesain kegiatan pembelajaran mulai dari penyusunan silabus, penyusuanan rencana program pembelajaran, menyiapkan bahan ajar, menyampaikan materi pembelajaran, sampai melaksanakan kegiatan evalusi, serta melaksanakan analisis hasil penilaian dan melaksanakan remidial yang berkelanjutan. Penyusunan program yang dilakukan oleh guru-guru berpedoman pada KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) sehingga kompetensi yang diajarkan disesuaikan dengan potensi yang ada tempat itu.

Perumusan Masalah

SMA 1 Bae Kudus merupakan Sekolah Menengtah Tingkat Atas di Kabupaten Kudus, mulai tahun pelajaran 2007/2008 ditunjuk sebagai Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (SKM) bersama sekolah lain di Indonesia. Berdasarkan.latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut :

  1. Bagaimana implementasi pembelajaran Ekonomi di SMA 1 Bae sebagai Rintisan Sekolah Kategori Mandiri?
  2. Kendala apa yang dialami dalam implementasi pembelajaran ekonomi di SMA 1 Bae sebagai Rintisan Sekolah Kategori Mandiri?
  3. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam implementasi Pembelajaran Ekonomi di SMA 1 Bae Kudus sebagai Rintisan Sekolah Kategori Mandiri?

Landasan Teori Pembelajaran

  1. Perencanaan Pembelajaran

Rancangan kegiatan pembelajaran (RKP) adalah seperangkat tulisan yang berisi rencana pembelajaran dan praktikum dari guru atau tenaga pengajar dalam memberikan pelajaran atau praktikum.

  1. Implementasi Pembelajaran Ekonomi Di Rintisan Sekolah Kategori Mandiri

Kegiatan pembelajaran ekonomi menurut standart isi dari Permendiknas No. 22/2006 tanggal 23 Mei 2006, sesuai kurikulum pembelajaran yang ada di SMA pembelajaran ekonomi berada pada kelas X, kelas XI IPS dan Kelas XII IPS.

Model pembelajaran cooperative learning yang sering digunakan antara lain :

  • Kelompok Siswa Berprestasi
  • Pendekatan Model Teka-Teki
  • Investigasi Kelompok
  • Pertukaran Tiga Putaran
  • Meringkas Kelompok
  • Metode penelitian.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di SMA 1 Bae Kudus dengan subjek penelitian guru-guru ekonomi dalam melaksanakan pembelajaran ekonomi. Semua guru ekonomi menjadi subjek penelitian ini.

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara mendalam, observasi dan analisis dokumen. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan langkah-langkah reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan. Peneliti mengumpulkan data sambil melakukan kegiatan analisis sampai penarikan simpulan.

Untuk menjamin keabsahan data, peneliti menggunakan validitas triangulasi sumber yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari data yang ditemukan di lapangan dan analisis perbadingan antara teori dengan temuan di lapangan memberikan jawaban atas permasalahan yang disampaikan pada penelitian ini, sehingga bertolak dari hasil temuan dan pembahasan secara ringkas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Implementasi pembelajaran ekonomi di SMA 1 Bae Kudus sebagai Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (RSKM) menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).
  2. Kendala–kendala dalam implementasi pembelajaran ekonomi di SMA 1 Bae Kudus sebagai Rintisan Sekolah Kategori Mandiri meliputi: belum terpenuhinya secara maksimal delapan standar Nasional Pendidikan yang meliputi : a. Standar Kelulusan, b. Standar isi, c. Standar proses, d. Standart pengelolaan, e. Standar sarana dan prasarana, f. Standar pendidik dan tenaga kependidikan, g. Standar penilaian, h. Standar pembiayaan.

Implementasi Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Untuk Meningkatkan Belajar Mandiri Siswa Dan Hasil Belajar IPS

Latar Belakang Masalah Model Pembelajaran Untuk Mata Pelajaran IPS

Pembelajaran kooperatif model jigsaw diharapkan mampu membuat siswa aktif dan membangun sendiri apa yang harus dikuasainya, siswa juga membangun aspek sosialisasi karena metode ini merupakan kerja kelompok. Dalam proses pembelajaran ini siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, bertanya, menyampaikan gagasan atau ide-idenya. Siswa juga dibiasakan untuk bertanggung jawab terhadap apa yang disampaikan pada orang lain sehingga dalam berbicara harus menggunakan dasar yang jelas, serta berani mempertahankan argumentasinya di depan orang banyak.

Belajar mandiri merupakan sikap atau perbuatan yang dilakukan oleh individu yang tumbuh dari dalam diri berupa tumbuhnya kesadaran akan pentingnya belajar. Dalam belajar mandiri seorang memiliki keyakinan apa yang dipelajari akan bermanfaat bagi kehidupannya. Pembelajaran yang demokratis dan menghargai perubahan sekecil apapun yang akan dicapai akan membuat anak percaya diri. Rasa percaya diri akan memunculkan motivasi untuk selalu ingin tahu, dan berusaha mencari makna dari hal-hal yang dipelajari.

 

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana implementasi pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan belajar mandiri siswa?
  2. Bagaimana imlementasi pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar IPS?

 

Kajian Teori

Diskripsi tersebut akan digunakan sebagai landasan bagi pemahaman konsep yang digunakan dalam penelitian ini:

  1. Pembelajaran Kooperatif
  2. Teori Teori Belajar
  • Teori Ausubel
  • Teori Piaget

Implikasi dari teori Piaget dalam pembelajaran (Slavin,1994:5) sebagai berikut:

  1. Memusatkan perhatian pada proses berpikir anak, bukan sekedar hasilnya.
  2. Menekankan pada pentingnya peran siswa berinisiatif sendiri dan keterlibatannya secara aktif dalam pembelajaran, Dalam pembelajaran di kelas pengetahuan tidak mendapat penekanan melainkan anak didorong menemukan sendiri melalui interaksi lingkungannya,
  3. Memaklumi adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. Guru harus melakukan upaya khusus untuk mengatur kegiatan kelas dalam bentuk individu-individu atau kelompok-kelompok kecil.
  • Teori Vygotsky

Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran yaitu prestasi akademik, penerimaan dan ketrampilan sosial (Arend, 1997:111).

  • Prestasi Akademik
  • Penerimaan
  • Pengembangan ketrampilan sosial

Model-Model Pembelajaran Kooperatif

  • Student Team Achievement Division (STAD)
  • Jigsaw
  • Group Investigation (GI)
  • Rotating Trio Exchange
  • Group Resume

Komponen kegiatan belajar mengajar meliputi kurikulum dengan materi yang terkandung di dalamnya, pendekatan dan strategi pembelajaran, metode dan media pembelajaran, siswa sebagai subyek didik, dan guru sebagai pendidik.

 

Metodologi Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dari hasil penelitian tindakan kelas (PTK) berupa perlakuan (treatment) khusus dengan pembelajaran kooperatif model jigsaw.

Subyek penelitian adalah siswa kelas VII A SMP N 1 Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, pada semester 1 tahun pelajaran 2009/2010 berjumlah 40 siswa yang terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan.

Data penelitian diperoleh dari peristiwa selama pembelajaran berlangsung, informan dari siswa, guru, kepala sekolah dan warga sekolah lainnya, pengamatan, dokumen arsip dan foto kegiatan.

Melalui tahapan planning, acting, observing dan reflecting, penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus dengan langkah-langkah pembelajaran kooperatif model jigsaw yang terdiri dari membaca, diskusi kelompok ahli, laporan kelompok dan kuis/ tes. Untuk memperlancar pembelajaran kooperatif model jigsaw dirancang skenario pembelajaran, media pendukung, alat dan bahan yang diperlukan dan instrumen penelitian tindakan.

 

Kesimpulan

  1. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw dalam Pembelajaran IPS dapat Meningkatkan Belajar Mandiri Siswa Kemampuan belajar mandiri siswa mengalami peningkatan dalam setiap siklus. Komponen belajar mandiri terdiri dari minat, motivasi, mengatasi masalah, rasa ingin tahu dan mengetahui makna belajar. Selama penelitian tindakan dari siklus pertama sampai siklus ke III keberhasilan belajar mandiri siswa terlihat nyata. Setelah melaksanakan PTK siswa lebih senang pada pelajaran IPS, IPS bukan pelajaran yang sulit dan membosankan, siswa selalu belajar jika besok pagi ada pelajaran IPS dan selalu mengerjakan tugas di rumah baik secara individu maupun kelompok.
  1. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw dalam Pembelajaran IPS dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pembelajaran kooperatif model jigsaw yang di desain dengan metode yang bervariasi mampu meingkatkan hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa diperoleh dari penilaian otentik (authentic assessment) selama proses pembelajaran, penilaian tugas dan penilaian hasil belajar pada tiap selesai siklus. Ketrampilan guru dalam memilih pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran akan meningkatkan minat, motivasi dan semangat belajar siswa. Dengan semangat belajar yang tinggi iklim belajar menjadi lebih kondusif dan hasil belajar meningkat. Setelah melakukan tindakan dalam tiga siklus rata-rata ulangan harian IPS siswa mencapai 72,50 dan ketuntasan klasikal sebesar 85%

Implementasi Pembelajaran Tematik Dalam Meningkatkan Kualitas Dan Hasil Pembelajaran

Latar Belakang Masalah Kualitas Pembelajaran Tematik

Sekolah Dasar Negeri Banjarsari 2 Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, merupakan Sekolah Dasar Negeri yang saat ini berusaha keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui berbagai upaya, yang salah satunya adalah menerapkan pembelajaran tematik, yaitu pembelajaran yang berdasarkan tema-tema tertentu. Penerapan pembelajaran tematik di Sekolah Dasar Negeri Banjarsari 2, dirasa penting karena peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama. Pemahaman materi lebih terkesan dan mendalam. Peserta didik mampu melihat hubungan yang bermakna antar mata pelajaran dan pembelajaran menjadi utuh sehingga peserta didik akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecahpecah.

Terkait dengan permasalahan di atas, maka dalam penelitian ini akan dikaji implementasi pembelajaran tematik di SD Negeri Banjarsari 2, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, dengan judul: “Implementasi Pembelajaran Tematik Dalam Meningkatkan Kualitas Dan Hasil Pembelajaran Kelas 1 Sekolah Dasar Negeri Banjarsari 2, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak ”.

 

Perumusan Masalah

  1. Bagaimana implementasi pembelajaran tematik dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas 1 Sekolah Dasar Negeri Banjarsari 2 di Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak?
  2. Bagaimana pembelajaran tematik dapat meningkatkan hasil pembelajaran di kelas 1 Sekolah Dasar Negeri Banjarsari 2 di Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak?
  3. Bagaimana cara mengatasi kendala dalam melaksanakan model pembelajaran tematik di kelas 1 Sekolah Dasar Negeri Banjarsari 2 di Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak?

 

Tinjauan Pustaka

Peserta didik/ siswa sekolah dasar pada kelas-kelas awal memandang dirinya sebagai pusat lingkungan yang merupakan suatu keseluruhan atau totalitas yang belum jelas unsur-unsurnya, dengan pemaknaan yang bersifat holistik yang berangkat dari hal-hal yang kongkrit.

Tujuan pembelajaran merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan pembelajaran. Keuntungan yang dapat diperoleh melalui penuangan tujuan pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut (Hamzah B. Uno, 2007: 34):

  • Waktu mengajar dapat dialokasikan dan dimanfaatkan secara tepat.
  • Pokok bahasan dapat dibuat seimbang, sehingga tidak ada materi pelajaran yang dibahas terlalu mendalam atau terlalu sedikit.
  • Guru dapat menetapkan berapa banyak materi pelajaran yang dapat atau sebaiknya disajikan dalam setiap jam pelajaran.

Pengertian Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan. Penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di kelas rendah oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ini tidak lepas dari perkembangan akan konsep pembelajaran terpadu.

Menilik perkembangan konsep pendekatan terpadu di Indonesia, pada saat ini model pembelajaran yang dipelajari dan berkembang adalah model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty.

 

Metodelogi Penelitian

Lokasi penelitian adalah SD Negeri Banjarsari 2 Kecamatan Gajah Kabupaten Demak.

Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu meliputi: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi.

 

Kesimpulan

  1. Perencanaan pembelajaran tematik yang diterapkan di Sekolah Dasar Negeri Banjarsari 02 Kecamatan Gajah Kabupaten Demak mengacu pada model pembelajaran tematik yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Dalam model tematik yang digunakan dilakukan dengan langkah-langkah: Pemetaan Kompetensi Dasar, Penentuan tema, Menetapkan Jaringan Tema, Penyusunan Silabus, Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
  2. Peningkatan hasil belajar pada pembelajaran tematik disebabkan adanya desain pembelajarannya. Persiapan yang matang, dan pelaksanaan yang baik. Kemampuan guru dalam mendesain pembelajaran sebagai koreksi terhadap hasil yang pernah dilakukan merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk kegiatan pembelajaran berikutnya sehingga dapat memberikan peningkatan hasil seperti yang diharapkan. Selain itu peningkatan hasil belajar tersebut tidak lepas dari ketepatan pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru.
  3. Untuk mengatasi kendala yang dihadapi untuk meningkatkan hasil belajar yang efektif adalah belajar sambil praktek langsung. Untuk mengatasi kesulitan dalam menyusun RPP guru dikumpulkan dalam suatu pertemuan (kegiatan Pusat Sumber Belajar Guru) kemudian secara bersama-sama menyusun, merancang pembelajaran yang menjadi persoalan dalam pembelajaran.

Implementasi Model Pembelajaran Terpadu Di Taman Kanak-Kanak Islam

Latar Belakang Masalah Perkenalan Pembelajaran Terpadu Di Taman Kanak-Kanak

Fenomena dunia pendidikan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir adalah berdirinya sekolah-sekolah dengan konsep islam terpadu. Berdirinya sekolah-sekolah tersebut didorong oleh keinginan masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya pada sekolah yang berkualitas. Kurikulum yang diterapkan pada sekolah-sekolah tersebut memadukan antara pendidikan materi umum sebagaimana yang tercantum dalam kurikulum Diknas dan pendidikan agama khas islam terpadu. Harapan masyarakat adalah dengan dimasukkannya kurikulum yang berbasis agama akan lebih meningkatkan kualitas pendidikan.

Berdasarkan berbagai permasalahan diatas, kemudian timbul pertanyaan bagaimana kemudian implementasi model pembelajaran terpadu pada sekolah taman kanak-kanak dengan konsep islam terpadu. Peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana implementasi model pembelajaran terpadu yang diterapkan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT) Mutiara Hati  Klaten. TKIT Mutiara Hati Klaten merupakan sekolah Taman Kanak-Kanak yang pertama berdiri dengan konsep islam terpadu di Kabupaten Klaten. Peneliti juga meneliti tentang hambatan-hambatan yang dihadapi dan cara mengatasi dalam implementasi model pembelajaran terpadu di TKIT Mutiara Hati Klaten.

 

Perumusan Masalah

  1. Bagaimana perencanaan model pembelajaran terpadu yang diterapkan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Mutiara Hati Klaten?
  2. Bagaimana pelaksanaan model pembelajaran terpadu yang diterapkan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Mutiara Hati Klaten?
  3. Bagaimana evaluasi model pembelajaran terpadu yang diterapkan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Mutiara Hati Klaten?
  4. Hambatan-hambatan apa yang dihadapi dan cara mengatasinya dalam implementasi model pembelajaran terpadu yang diterapkan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Mutiara Hati Klaten?

Landasan Teori

  1. Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran.

  1. Konsep Sekolah Islam Terpadu

Menurut Muhab, dkk (2006: 32) sekolah islam terpadu pada hakekatnya adalah sekolah yang mengimplementasikan konsep pendidikan islam berlandaskan Al-Qur’an dan As Sunnah

Model pembelajaran terpadu menurut Forgaty (1991: 3-95) terbagi menjadi sepuluh yaitu:

  • Fragmented (terpisah),
  • Connected (terhubung),
  • Nested (tersarang),
  • Sequenced (terurut,
  • Shared (berbagi),
  • Webbed (jaring laba-laba),
  • Threaded (galur),
  • Integrated (terpadu),
  • Immersed (terbenam),
  • Networked (jaringan)

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus. Sumber data yang diperoleh berasal dari nara sumber, peristiwa atau aktivitas, tempat atau lokasi, dan arsip atau dokumen.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan meneliti dokumen. Uji ketepercayaan data menggunakan teknik triangulasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis interaktif yang menggunakan tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, sajian data dan verifikasi.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:

  1. Perencanaan pembelajaran terpadu di TKIT Mutiara Hati Taman satu dan Taman dua saling bekerjasama dalam pengorganisasian kurikulum terpadu, pengidentifikasian kompetensi dasar dan indikator, pengidentifikasian dan pemetaan tema, dan pembuatan Rencana Kegiatan Mingguan (RKM) yang disusun bersama dalam satu tim kurikulum yang berasal dari perwakilan guru TKIT Mutiara Hati taman satu dan perwakilan guru TKIT Mutiara Hati taman dua, sedangkan dalam pembuatan Rencana Kegiatan Harian (RKH) guru diberikan kebijakan untuk menentukan sendiri kegiatan yang sesuai dengan RKM.
  2. Pelaksanaan pembelajaran terpadu di TK IT Mutiara Hati Taman satu dan Taman dua sama dalam langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Namun berbeda dalam hal bentukkegiatan yang dilaksanakan dan waktu pelaksanaan.
  3. Kriteria penilaian di TKIT Mutiara Hati Taman satu dan Taman dua sama yaitu BSB (Berkembang Sangat Baik), B (Berkembang), BB (Belum Berkembang). Sedangkan teknik atau alat penilaian yang digunakan antara lain unjuk kerja, pengamatan (observasi), catatan anekdot, hasil karya, penugasan, portofolio, tanya jawab dan hafalan.
  4. Hambatan yang dihadapi oleh TKIT Mutiara Hati Taman satu dan Taman dua yaitu hambatan guru dalam hal penulisan RKH dan kreativitas guru baru; hambatan sarana pembelajaran terutama alat permainan edukatif yang senantiasa menyusut setiap hari; hambatan siswa dalam kondisi yang tidak selalu sama baiknya setiap hari; dan hambatan kurikulum dimana target pembelajaran yang dibebankan cukup banyak sehingga menyebabkan pelaksanaan pembelajaran terkadang kurang sesuai dengan perencanaan yang dibuat.

Incoming search terms: