Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization- Iringan Musik

Judul Skripsi  : Eksperimentasi Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization- Iringan Musik Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa

 

A. Latar Belakang Masalah

Musik dapat mempengaruhi suasana lingkungan yang menyenangkan dan mampu mempengaruhi cara kerja otak yang diakibatkan dari suasana harmonis dan menyenangkan. Mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dari beberapa permasalahan yang timbul perlu adanya model pembelajaran yang sesuai dengan pokok materi yang diajarkan.

Untuk menjawab pertanyaan itu penulis ingin meneliti seberapa jauh efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe TAI pada pelajaran matematika yang diiringi musik pada kompetensi dasar Bangun Ruang Sisi Datar pada kelas VIII SMP Negeri di Kabupaten Karanganyar. Pembelajaran ini diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar peserta didik.

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah tersebut di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Manakah prestasi belajar matematika peserta didik yang lebih baik antara pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan iringan musik atau pembelajaran kooperatif tipe TAI tanpa iringan musik?
  2. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika peserta didik yang lebih baik antara peserta didik yang mempunyai gaya belajar visual, auditorial atau kinestetik?
  3. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik antara pembelajaran dengan model pembelajaran TAI tanpa iringan musik atau model pembelajaran TAI dengan iringan musik pada masing-masing gaya belajar visual, auditorial, atau kinestetik?
  4. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik antara gaya belajar visual, auditorial, atau kinestetik pada model pembelajaran TAI tanpa iringan musik?

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui mana yang lebih lebih baik, prestasi peserta didik dengan pembelajaran kooperatif tipe TAI tanpa iringan musik ataukah pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan iringan musik.
  2. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik antara peserta didik yang mempunyai gaya belajar visual, auditorial, atau kinestetik.
  3. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik antara pembelajaran dengan model pembelajaran TAI tanpa iringan musik atau model pembelajaran TAI dengan iringan musik pada masing-masing gaya belajar visual, auditorial, atau kinestetik.
  4. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik antara gaya belajar visual, auditorial, atau kinestetik pada model pembelajaran TAI tanpa iringan musik.

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika peserta didik yang diberikan pendekatan pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan iringan musik lebih baik daripada prestasi belajar matematika peserta didik yang diberikan pendekatan pembelajaran kooperatif tipe TAI tanpa iringan musik.

2. Peserta didik dengan gaya belajar kinestetik, auditorial, dan visual mempunyai prestasi belajar matematika yang sama.

3. Pada masing-masing gaya belajar peserta didik, model pembelajaran TAI dengan ringan musik memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran TAI tanpa iringan musik.

4. Pada model pembelajaran TAI tanpa iringan musik, peserta didik dengan gaya belajar kinestetik, auditorial dan visual mempunyai prestasi belajar matematika yang sama.

Snow Balling pada Pokok Bahasan Relasi – Fungsi Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Snow Balling pada Pokok Bahasan Relasi – Fungsi Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa

 

A. Latar Belakang Skripsi

Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan model pembelajaran yang tepat. Guru harus mempunyai strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien. Oleh karena itu pemilihan model pembelajaran yang tepat sangat penting, karena tidak semua pendekatan dapat digunakan pada tiap pokok bahasan. Model pembelajaran adalah pola hubungan interaksi guru siswa – lingkungan belajar untuk dijadikan contoh dan diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran. Diantaranya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Snow Balling, yang mana penerapan model ini siswa dilatih untuk saling bertukar pikiran dengan temannya dan bekerja sama dalam kelompok untuk memecahkan suatu permasalahan serta dengan model

Penemuan Terbimbing memungkinkan siswa aktif, guru aktif. Guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing dimana siswa mengalami kesulitan. Selain model pembelajaran, keberagaman gaya belajar dan kemampuan siswa dalam menerima pembelajaran juga turut andil dalam penentuan pendekatan pembelajaran yang akan digunakan oleh guru. Siswa yang belajar dengan gaya belajar mereka yang dominan saat mengerjakan tes, akan mencapai nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan bila mereka belajar dengan cara yang tidak sejalan dengan gaya belajar mereka. Dengan demikian model pembelajaran Snow Balling dan model penemuan terbimbing dengan memperhatikan gaya belajar siswa diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika yaitu dengan meningkatnya prestasi balajar matematika.

 

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, pemilihan masalah dan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

  1. Pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan relasi dan fungsi, apakah model pembelajaran penemuan terbimbing dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan pengajaran dengan menggunakan model snow balling?
  2. Pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan relasi dan fungsi, apakah model pembelajaran snow balling dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan pengajaran dengan menggunakan model konvensional?
  3. Pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan relasi dan fungsi, apakah model penemuan terbimbing dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan pengajaran dengan menggunakan model konvensional?

 

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris tentang perbedaan prestasi belajar matematika peserta didik karena pengaruh model pembelajaran yang digunakan, dan gaya belajar siswa. Secara operasional penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang:

  1. Pengaruh model pembelajaran penemuan terbimbing dan model snow balling terhadap prestasi belajar matematika siswa.
  2. Pengaruh model pembelajaran snow balling dan pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar matematika siswa.
  3. Pengaruh model pembelajaran penemuan terbimbing dan pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar matematika siswa.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan kajian teori dan didukung dengan analisis variansi serta mengacu pada rumusan masalah yang telah diuraikan di awal, dapat disimpulkan bahwa :

1. Peserta didik yang menggunakan model pembelajaran snow balling dan penemuan terbimbing memberikan prestasi belajar matematika yang sama pada pokok bahasan relasi dan fungsi.

2. Peserta didik yang menggunakan model pembelajaran snow balling memberikan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

3. Peserta didik yang menggunakan model pembelajaran penemuan terbimbing memberikan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

Matematika Melalui Pendekatan Realistics Mathematics Education (RME) dgn Pemecahan Masalah

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Realistics Mathematics Education (RME) dengan Pemecahan Masalah dan Pendekatan Realistics Mathematics Education (RME) Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa

A. Latar Belakang

RME dengan pemecahan masalah sebagai salah satu pendekatan baru dalam pembelajan matematika, juga mengajak siswa mematisasi kontekstual yaitu kegiatan pola pikir siswa yang dikembangkan dari hal-hal yang bersifat konkrit menuju hal-hal abstrak. Pembelajaran matematika dengan model realistik dengan pemecahan masalah pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang dipahami siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika yang lebih baik dari masa lalu. Realita yang dimaksud adalah hal-hal yang nyata atau konkrit yang dapat diamati dan dipahami siswa dengan membayangkan, sedangkan lingkungan adalah tempat dimana siswa berada (Soedjadi, 2003 :108).

Alternatif pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan RME. Menurut Ahmad Fauzan (2001) menyatakan bahwa RME memberikan kesempatan kepada kita untuk bertindak secara aktif mencari jawaban atas masalah yang dihadapi dan berusaha memeriksa, mencari dan menyimpulkan  sendiri secara logis, kritis, analitis dan sistematis. Cara ini akan mendorong siswa untuk meningkatkan penalaran dan berpikir secara bebas, terbuka dengan senang hati maka akan memperdalam pengetahuannya secara mandiri.Selain penggunaan pendekatan pembelajaran yang tepat, terdapat faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar matematika, diantaranya adalah gaya belajar siswa, gaya belajar adalah cara yang lebih disukai dalam melakukan kegiatan berpikir, memproses dan mengerti suatu informasi. Hasil riset menunjukkan bahwa murid yang belajar dengan gaya belajar mereka yang dominan, saat mengerjakan tes, akan mencapai nilai yang jauh lebih tinggi  dibandingkan bila mereka belajar dengan cara yang tidak sejalan dengan gayabelajar mereka (Adi W . Gunawan, 2004 :139), ada bermacam-macam gaya belajar siswa yaitu gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah siswa yang diberi pembelajaran matematika melalui pendekatan RME dengan pemecahan masalah lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa yang diberi pembelajaran matematika melalui pendekatan RME pada materi segi empat?
  2. Apakah ada perbedaan prestasi belajar berdasarkan pada gaya belajar siswa yaitu gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik?

 

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui apakah siswa yang diberi pembelajaran matematika melalui pendekatan RME dengan pemecahan masalah lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa yang diberi pembelajaran matematika melalui pendekatan RME pada materi segi empat?

2. Untuk mengetahui apakah gaya belajar yang dimiliki siswa memberikan pengaruh yang berbeda terhadap prestasi belajar matematika.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan bangun datar segi empat melalui pendekatan pembelajaran RME dengan pemecahan masalah lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa melalui pendektan pembelajaran RME.

2. Siswa pada pokok bahasan segi empat, antara masing-masing gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik mempunyai prestasi belajar yang sama.

 

E. Saran

1. Guru

Dalam proses pembelajaran pembelajaran, peran guru sebagai motivator dan fasilitator lebih dioptimalkan agar siswa lebih aktif sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

2. Peneliti yang lain

Menerapkan pendekatan pembelajaran RME dengan pemecahan masalah dan pendekatan RME untuk materi yang berbeda.

3. Kepada Pihak Sekolah

Memberi kebijakan-kebijakan yang dapat merangsang para guru agar bersedia mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

 

Pendidikan Matematika Realistik Indonesia dan Inkuiri pada Pokok Bahasan Bangun Ruang

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dan Inkuiri pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Se-Kabupaten Bojonegoro

 

A. Latar Belakang Masalah Skripsi

Materi-materi matematika dapat menjadi aktivitas siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan matematika melalui aktifitas yang dilakukan sendiri dan sesuai dengan tingkat kognitif siswa. Sehingga pembelajaran lebih bermakna bagi siswa, artinya materi-materi tersebut dapat dibayangkan oleh siswa. Siswa yang terbiasa berpikir konkret akan lebih mudah memahami matematika jika diberikan materi yang konkret. Dan pada akhirnya seluruh siswa mampu memahami materi yang diajarkan guru, sehingga keberhasilan proses pembelajaran dapat dicapai.

Pembelajaran konvensional yang cenderung memberikan materi melalui ceramah akan memudahkan bagi siswa dengan gaya belajar auditori karena dengan mendengarkan siswa dapat dengan mudah memahami materi yang dipelajari, tetapi belum tentu bagi siswa dengan belajar visual yang maupun kinestetik, yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan memahami materi yang sedang dipelajari karena materi tidak dapat dilihat dan tidak memerlukan keterlibatan siswa secara langsung. Pembelajaran inkuiri yang memberikan kebebasan siswa mengajukan pertanyaan sebagai permasalahan pada awal pembelajaran akan memudahkan siswa dengan gaya belajar auditori yang fasih berbicara, tetapi belum tentu memberikan kemudahan bagi siswa dengan gaya belajar visual maupun kinestetik yang cenderung tidak fasih berbicara. Hal ini yang menarik untuk dibandingkan dengan pembelajaran PMRI dimana permasalahan diberikan kepada guru sehingga siswa dengan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik akan lebih mudah dalam memulai pembelajaran dan berlatih mengutarakan pertanyaan terhadap masalah yang belum dipahami.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Manakah pembelajaran yang menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik, pada siswa dengan pendekatan pembelajaran inkuiri, PMRI atau konvensional?
  2. Manakah yang menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa dengan gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik?
  3. Pada pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran PMRI, manakah yang menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik, siswa yang memiliki gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Manakah pembelajaran yang menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik, pada siswa dengan pendekatan pembelajaran inkuiri, PMRI atau siswa dengan pembelajaran konvensional.
  2. Manakah yang menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa dengan gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik.
  3. Pada pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran PMRI, siswa dengan gaya belajar mana yang menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik, siswa yang memiliki gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik.

 

D. Simpulan

1. Siswa-siswa dengan pendekatan pembelajaran PMRI mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa-siswa dengan pendekatan pembelajaran inkuiri maupun konvensional. Sedangkan prestasi belajar siswa dengan pendekatan inkuiri lebih baik daripada konvensional.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tipe gaya belajar auditori lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tipe gaya belajar visual maupun kinestetik. Prestasi belajar matematika antara siswa yang mempunyai tipe gaya belajar visual dan siswa yang mempunyai tipe gaya belajar kinestetik adalah sama.

3. Pada pendekatan pembelajaran PMRI, prestasi belajar matematika pada masing-masing tipe gaya belajar adalah sama.

 

Pendidikan Matematika Realistik dan Problem Based Learning pada Operasi Bilangan Bulat

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik dan Problem Based Learning pada Operasi Bilangan Bulat Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa Kelas V SD Negeri Se-Kecamatan Dander Bojonegoro

 

A. Latar Belakang Masalah

Dalam pemahaman guru tentang perbedaan gaya belajar siswa dapat memudahkan guru memberi perlakuan atau solusi terhadap setiap kesulitan belajar pada pembelajaran konvensional, PMR maupun pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran konvensional yang cenderung memberikan materi melalui ceramah akan memudahkan bagi siswa dengan gaya belajar auditori karena dengan mendengarkan siswa dapat dengan mudah memahami materi yang dipelajari, tetapi belum tentu bagi siswa dengan belajar visual maupun kinestetik, yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan memahami materi yang sedang dipelajari karena materi tidak dapat dilihat dan tidak memerlukan keterlibatan siswa secara langsung. Pembelajaran berbasis masalah memberikan orientasi siswa sebagai permasalahan pada awal pembelajaran akan memudahkan siswa dengan gaya belajar auditori yang fasih berbicara, tetapi belum tentu memberikan kemudahan bagi siswa dengan gaya belajar visual maupun kinestetik yang cenderung tidak fasih berbicara. Hal ini menarik untuk dibandingkan dengan pembelajaran PMR dimana permasalahan diberikan kepada guru sehingga siswa dengan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik akan lebih mudah dalam memulai pembelajaran dan berlatih mengutarakan pertanyaan terhadap masalah yang belum dipahami.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik diantara Pendekatan pembelajaran PMR, pembelajaran berbasis masalah dan konvensional?
  2. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa dengan gaya belajar visual, auditori atau kinestetik?
  3. Pada masing-masing pendekatan pembelajaran (pendekatan pembelajaran Matematika Realistik (PMR), Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah, Pendekatan Pembelajaran Konvensional), manakah prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik, siswa yang memiliki gaya visual, auditori atau kinestetik?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui Pembelajaran yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik, pada siswa dengan pembelajaran PMR, pembelajaran berbasis masalah atau pembelajaran konvensional.
  2. Mengetahui gaya belajar siswa yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik, pada siswa dengan gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik.

 

D. Simpulan Skripsi

1. Pada siswa dengan pendekatan pembelajaran PMR mempunyai prestasi belajar matematika sama baiknya dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah. Keduanya lebih baik daripada konvensional.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya belajar auditori lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya belajar visual maupun kinestetik. Prestasi belajar matematika antara siswa yang mempunyai gaya belajar visual dan siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik adalah sama.

3. Pada siswa dengan pendekatan pembelajaran PMR, prestasi belajar matematika siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik lebih baik daripada prestasi siswa yang memiliki gaya belajar visual, prestasi matematika siswa yang memiliki gaya belajar visual dan auditori sama, sedangkan prestasi matematika siswa yang memiliki gaya belajar auditori dan kinestetik sama. Pada siswa dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah, prestasi belajar matematika siswa yang memiliki gaya belajar auditori lebih baik daripada prestasi siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik, prestasi matematika siswa yang memiliki gaya belajar visual dan auditori sama, sedangkan prestasi matematika siswa yang memiliki gaya belajar visual dan kinestetik sama. Pada siswa dengan pendekatan pembelajaran konvensional, siswa dengan gaya belajar visual, auditori dan kinestetik mempunyai prestasi belajar matematika yang sama.

 

Incoming search terms:

Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Realistik

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Realistik Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa Kelas V SD di Kecamatan Leuwisari Tasikmalaya

 

A. Latar Belakang Masalah

Keberhasilan belajar matematika, di antaranya gaya belajar matematika. Gaya belajar matematika merupakan cara yang khas dan konsisten dilakukan oleh siswa dalam menyerap informasi. Menurut Deporter dan Hernacki (2000:112–113) gaya belajar matematika dikelompokkan menjadi tiga tipe, yaitu tipe auditorial, tipe visual, dan tipe kinestetik. Orang yang bertipe visual lebih mudah menyerap informasi jika menggunakan indra penglihatan, orang yang bertipe auditorial memiliki ciri – ciri tidak suka membaca dan lebih suka bertanya untuk mendapatkan informasi, sedangkan orang yang bertipe kinestetik selalu ingin bergerak.

Kebanyakan siswa belum mengenal persis gaya belajar yang dimilikinya, sehingga mereka belum dapat menerapkannya secara optimal. Menurut Nurita Putranti gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar siswa. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, siswa dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar.Dengan demikian, pendekatan pembelajaran realistik dan gaya belajar diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa pada soal matematika, yang akhirnya bermuara pada peningkatan prestasi belajar matematika siswa.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah pendekatan realistik dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan pendekatan konvensional?
  2. Apakah terdapat pengaruh gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika dalam menyelesaikan soal matematika pada pokok bahasan geometri?
  3. Apakah ada interaksi antara penggunaan pendekatan pembelajaran dan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika siswa dalam menyelesaikan soal matematika pada pokok bahasan geometri?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

  1. Untuk mengetahui apakah penggunaan pendekatan realistik dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan pendekatan konvensional (ceramah bervariasi/ ekspositori).
  2. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika siswa.
  3. Untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara penggunaan pendekatan pembelajaran dan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika.

 

D. Kesimpulan

1. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan reliastik maupun pendekatan konvensional memberikan pengaruh yang sama terhadap prestasi belajar matematika pada pokok bahasan geometri, ini tidak sesuai dengan kajian teori yang menyatakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik lebih baik daripada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional. Hal ini dapat terjadi karena belum terbiasanya siswa dalam kegiatan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik.

2. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa gaya belajar siswa untuk kategori auditorial, visual, maupun kinestetik memberikan pengaruh yang sama terhadap prestasi belajar matematika pada pokok bahasan geometri. Hal ini dapat terjadi karena dalam penelitian ini peneliti hanya menggunakan tes angket untuk mengetahui gaya belajar siswa, mungkin dalam pengisian angket tersebut siswa tidak benar-benar mengisi angket dengan keadaan yang sebenarnya.

3. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan geometri.

 

E. Saran

Kepada guru dan calon guru matematika, hendaknya memperhatikan pendekatan pembelajaran yang tepat dan menarik agar siswa lebih mudah memahami matematika sehingga menghasilkan prestasi yang lebih baik. Selain pendekatan pembelajaran yang perlu diperhatikan dalam menyelesaikan soal matematika juga faktor-faktor yang lain yang bisa mempengaruhi prestasi belajar matematika.