Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments Menggunakan Alat Peraga

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments Menggunakan Alat Peraga 2 Dimensi dan 3 Dimensi

 

A. Latar Belakang Masalah

Hasil UN Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Kulon Progo menunjukkan bahwa salah satu pokok materi yang tingkat daya serapnya rendah adalah Dimensi tiga. Meskipun daya serap siswa pada kompetensi menghitung jarak titik ke garis atau titik ke bidang pada bangun ruang mencapai 65%, namun daya serap untuk kompetensi menentukan nilai perbandingan trigonometri sudut antara garis dan bidang pada bangun ruang sangat rendah, yaitu 18,93% (BSNP, 2010).

Adanya fakta hasil pembelajaran matematika tersebut dan mengingat akan pentingnya matematika dalam pengembangan ilmu pengetahuan, maka peneliti ingin meneliti tentang proses pembelajaran matematika pada jenjang SMA di Kabupaten Kulon Progo. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil yang bermanfaat untuk peningkatan proses pembelajaran matematika. Dengan adanya peningkatan penguasaan matematika, diharapkan hal ini akan menjadi salah satu sarana penunjang untuk mempelajari mata pelajaran lain sehingga tujuan dari pembelajaran bisa tercapai secara optimal.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Manakah yang menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik, siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan menggunakan alat peraga 2 dimensi atau 3 dimensi?
  2. Manakah yang menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik, siswa dengan tingkat kecerdasan spasialnya tinggi, sedang atau rendah?
  3. Manakah yang menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik, siswa dengan tingkat kreativitas tinggi, sedang atau rendah?

 

C. Tujuan Penelitian Skipsi

  1. Untuk mengetahui manakah yang menghasilkan prestasi belajar lebih baik, siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan menggunakan alat peraga 2 dimensi atau 3 dimensi.
  2. Untuk mengetahui siswa dengan tingkat kecerdasan spasial manakah yang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik.
  3. Untuk mengetahui siswa dengan tingkat kreativitas manakah yang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik.

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar dari siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan menggunakan alat peraga 3D lebih baik daripada pretasi belajar dari siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan menggunakan alat peraga 2D

2. Siswa-siswa dengan tingkat kecerdasan spasial tinggi mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan siswa-siswa dengan tingkat kecerdasan spasial sedang maupun rendah, dan siswa-siswa dengan tingkat kecerdasan spasial sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang sama dengan prestasi belajar matematika siswa-siswa dengan tingkat kecerdasan spasial rendah.

3. Siswa-siswa dengan tingkat kreativitas tinggi mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan siswa-siswa dengan tingkat kreativitas sedang maupun rendah, dan siswa-siswa dengan tingkat kreativitas sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang sama dengan prestasi belajar matematika siswa-siswa dengan tingkat kreativitas rendah.

 

E. Saran

Bagi Guru

Pada pembelajaran matematika, khususnya pada pokok bahasan dimensi tiga, guru hendaknya dapat menggunakan alat peraga yang tepat guna meningkatkan kemampuan siswa baik kemampuan kognitif maupun afektif.

Bagi peneliti lain

Diharapkan peneliti lain dapat mengembangkan penelitian dengan membandingkan efektivitas alat peraga 3 dimensi pada model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournaments (TGT) dengan model pembelajaran lainnya.

Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dgn Tipe TGT dan STAD pada Materi Kubus dan Balok

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Tipe TGT dan STAD pada Materi Kubus dan Balok Bagi Siswa SMP

 

A. Latar Belakang Masalah

Dalam proses pembelajaran, keaktifan para siswa juga perlu menjadi perhatian. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

Materi kubus dan balok merupakan materi yang berkaitan erat dengan benda-benda dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga penguasaan terhadap materi tersebut penting bagi peserta didik. Mengingat pentingnya kemampuan matematika pada materi kubus dan balok maka masalah rendahnya prestasi belajar matematika, kurang tepatnya model yang dipilih oleh guru dalam proses belajar mengajar, dan kurangnya aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar perlu diupayakan pemecahannya.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan Teams-Games-Tournaments (TGT) lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran Student Team Achievement Divisions (STAD) pada materi pokok kubus dan balok?
  2. Apakah siswa dengan aktivitas belajar tinggi mempunyai prestasi yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar sedang atau rendah dan apakah siswa dengan aktivitas belajar sedang mempunyai prestasi yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar rendah?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

  1. Untuk mengetahui apakah peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan Teams-Games-Tournaments (TGT) lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan peserta didik yang diberi pembelajaran matematika dengan menggunakan model Student Team Achievement Divisions (STAD) pada materi pokok kubus dan balok.
  2. Untuk mengetahui apakah siswa dengan aktivitas belajar tinggi mempunyai prestasi yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar sedang atau rendah dan apakah siswa dengan aktivitas belajar sedang mempunyai prestasi yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar rendah.

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan kubus dan balok dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournaments) sama dengan prestasi belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Acvievement Divisions).

2. Prestasi belajar siswa pada pokok bahasan kubus dan balok yang mempunyai aktivitas tinggi sama prestasinya dengan siswa yang mempunyai aktivitas sedang, siswa yang mempunyai aktivitas sedang prestasinya lebih baik dari pada siswa yang mempunyai aktivitas rendah dan siswa yang mempunyai aktivitas tinggi prestasinya lebih baik dari pada siswa yang mempunyai aktivitas rendah.

 

E. Saran

Guru

  • Sebaiknya guru menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT atau STAD untuk materi kubus dan balok.
  • Guru harus memperhatikan aktivitas peserta didik dalam merancang pembelajaran matematika.
  • Guru dapat mengembangkan model pembelajaran lain yang lebih menarik, kreatif dan inovatif.

Sekolah

  • Memberi kesempatan guru agar aktif dalam mengikuti kegiatankegiatan yang sifatnya menambah pengetahuan, baik itu dari materi maupun metode pembelajaran.
  • Menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam menunjang penyelenggaraan pembelajaran secara efektif.

Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dgn Metode Problem Solving – Problem Posing

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Metode Problem Solving – Problem Posing Ditinjau dari Kreativitas Belajar Siswa SMK

 

A. Latar Belakang

Kompetensi bentuk pangkat, akar dan logaritma peserta didik merasa kesulitan dalam pembelajaran. Menghadapi kesulitan pada kompetensi tersebut, umumnya peserta didik hanya diam dan tidak menanyakan kepada peserta didik lainnya atau guru yang mengajar, sehingga kesulitan peserta didik tersebut semakin melekat pada diri peserta didik. Oleh karena itu digunakan metode pembelajaran dengan metode Problem Solving dan metode Problem Posing dan penekanan terhadap kreativitas peserta didik selama proses belajar mengajar. Mengingat pentingnya kreativitas peserta didik dalam memahami materi dalam proses belajar mengajar, guru diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang dapat menumbuhkan kreativitas peserta didik. Apabila proses berpikir kreatif dapat dikembangkan dengan baik maka dapat menunjang dalam berprestasi yang optimal.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti termotivasi untuk menerapkan metode Problem Solving dan metode Problem Posing kepada peserta didik yang memiliki tingkat kreativitas yang berbeda-beda dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan Bentuk Pangkat, Akar dan Logaritma.

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

  1. Apakah prestasi belajar matematika peserta didik pada kompetensi bentuk pangkat, akar dan logaritma dengan menggunakan metode Problem Solving berbeda dengan prestasi belajar peserta didik dengan menggunakan metode Problem Posing?
  2. Apakah peserta didik yang mempunyai kreativitas belajar tinggi prestasi belajarnya lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang mempunyai kreativitas belajar sedang dan rendah, peserta didik yang mempunyai kreativitas belajar sedang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang mempunyai kreativitas belajar rendah?
  3. Apakah perbedaan prestasi belajar matematika peserta didik dari masingmasing metode pembelajaran konsisten pada masing-masing tingkat kreativitas belajar peserta didik dan apakah perbedaan prestasi belajar matematika peserta didik dari masing-masing tingkat kreativitas konsisten pada masing-masing metode pembelajaran?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui tentang pembelajaran matematika pada pokok bahasan Bentuk Pangkat, Akar dan Logaritma dengan menggunakan metode Problem Solving menghasilkan prestasi belajar matematika yang berbeda dengan pembelajaran dengan menggunakan metode Problem Posing.
  2. Mengetahui tentang peserta didik yang mempunyai kreativitas tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik daripada peserta didik yang mempunyai kreativitas sedang dan rendah, peserta didik yang mempunyai kreativitas sedang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik daripada peserta didik yang mempunyai kreativitas rendah.
  3. Mengetahui perbedaan prestasi belajar peserta didik dari masing-masing metode pembelajaran konsisten pada masing-masing tingkat kreativitas belajar dan apakah perbedaan prestasi belajar matematika peserta didik dari masing-masing tingkat kreativitas konsisten pada masing-masing metode pembelajaran.

 

D. Kesimpulan

1. Pembelajaran dengan menggunakan metode Problem Solving menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran yang menggunakan metode Problem Posing pada kompetensi bentuk pangkat, akar, dan logaritma.

2. Peserta didik dengan kreativitas belajar tinggi mempunyai prestasi belajar yang sama dengan yang mempunyai kreativitas belajar sedang dan rendah, dan Peserta didik dengan kreativitas belajar sedang mempunyai prestasi belajar yang sama dengan peserta didik yang mempunyai kreativitas belajar rendah.

3. Tidak ada interaksi antara penggunaan metode pembelajaran dan kreativitas belajar peserta didik. Artinya pada tiap-tiap kategori kreativitas belajar peserta didik, pembelajaran dengan menggunakan metode Problem Solving menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran yang menggunkan metode Problem Posing.

Matematika Berbasis Komputer dgn Metode STAD pada Kompetensi Pecahan

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Berbasis Komputer dengan Metode STAD pada Kompetensi Pecahan

 

A. Latar Belakang Masalah Skripsi

Penggunaan media dalam pembelajaran dipandang penting, terlebih dengan adanya perkembangan teknologi informasi. Pemerintah saat ini juga telah mengupayakan pembelajaran dengan media ini. Penerbitan e-book dan perkembangan e-learning, beredarnya berbagai software pembelajaran matematika, berbagai pengetahuan matematika yang tersebar di dunia maya, dan sebagainya dapat digunakan untuk proses pembelajaran berbasis komputer. Beberapa langkah inovativ ini dapat digunakan oleh guru untuk mengembangkan pembelajaran demi terselenggaranya pendidikan yang lebih berkualitas.

Proses pembelajaran yang berlangsung di kelas tidak dapat dilepaskan dari peran motivasi belajar siswa. Motivasi dapat dikatakan sebagai sebuah mesin penggerak pada diri seseorang untuk melakukan sesuatu termasuk diantaranya belajar. Pada diri seseorang yang memiliki motivasi belajar yang kuat tentunya akan memberikan keberhasilan dalam belajarnya. Tetapi sebaliknya jika motivasi belajar pada diri seseorang tersebut kurang atau bahkan tidak ada sama sekali sudah barang tentu keberhasilan dalam belajarnya pun akan sama sekali tidak ada. Oleh karena itu peran serta dari guru, orang tua, dan masyarakat dalam memberikan dorongan motivasi belajar terhadap anak perlu dilakukan dengan cara yang tepat sehingga keberhasilan belajar yang dicita-citakan bersama dapat berhasil tercapai.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah prestasi belajar matematika siswa kompetensi pecahan dengan pembelajaran berbasis komputer dengan metode STAD akan lebih baik jika dibandingkan pembelajaran dengan metode ekspositori?
  2. Apakah prestasi siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar sedang? Apakah prestasi siswa yang memiliki motivasi belajar sedang lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar rendah?
  3. Apakah prestasi siswa yang dikenai pembelajaran berbasis komputer dengan metode STAD pada siswa dengan motivasi belajar tinggi lebih baik dari siswa dengan motivasi belajar sedang?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika kompetensi pecahan pada siswa yang dikenai pembelajaran berbasis komputer dengan metode STAD akan lebih baik jika dibandingkan dengan pembelajaran dengan metode ekspositori.
  2. Untuk mengetahui apakah prestasi siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar sedang dan apakah prestasi siswa yang memiliki motivasi belajar sedang lebih baik daripada siswa dengan motivasi belajar rendah.
  3. Untuk mengetahui apakah prestasi siswa yang dikenai pembelajaran berbasis komputer dengan metode STAD pada siswa dengan motivasi belajar tinggi lebih baik dari siswa dengan motivasi belajar sedang.

 

D. Kesimpulan

1. Siswa yang dikenai pembelajaran berbasis komputer dengan metode STAD mempunyai prestasi belajar matematika yang secara signifikan lebih baik dibandingkan dengan siswa yang diberi pengajaran dengan metode ekspositori.

2. Prestasi belajar siswa dengan motivasi belajar tinggi sama dengan siswa dengan motivasi belajar sedang. Prestasi belajar siswa dengan motivasi belajar tinggi lebih baik dari pada siswa dengan motivasi belajar rendah. Prestasi belajar siswa dengan motivasi belajar sedang sama dengan siswa dengan motivasi belajar rendah

3. Pada siswa yang dikenai pembelajaran berbasis komputer dengan metode STAD prestasi siswa dengan motivasi belajar tinggi sama baik dengan siswa bermotivasi belajar sedang, sedangkan prestasi belajar siswa dengan motivasi tinggi lebih baik dari pada siswa dengan motivasi rendah.

Eksperimentasi Pembelajaran dgn Metode Cooperative Learning pada Materi Trigonometri

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran dengan Metode Cooperative Learning pada Materi Trigonometri Ditinjau dari Motivasi Belajar

 

A. Latar Belakang Masalah

Pada umumnya metode yang digunakan dalam menyusun pengajaran matematika di sekolah-sekolah adalah metode konvensional, yang cenderung masuk dalam golongan otoriter yang tidak memberi kebebasan bagi siswa untuk menerima pelajaran, yang menyebabkan proses belajar mengajar tidak berjalan dengan baik, karena siswa merasa tertekan. Untuk itu alternatif yang dapat ditempuh untuk meningkatkan prestasi belajar siswa adalah melalui kreativitas yang dimiliki guru dalam memilih metode mengajar. Melalui kreativitas yang dimiliki oleh para guru dan keinginan untuk selalu mencari metode yang tepat agar selalu menarik minat dan motivasi siswa dalam belajar maka tujuan yang diharapkan akan tercapai.

Motivasi mempunyai fungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi dan motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa adanya usaha yang tekun yang didasari adanya motivasi maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajar.Pengajaran matematika pada pokok bahasan “trigonometri dan rumus-rumus segitiga” selama ini kurang memuaskan, hal tersebut terlihat dari hasil ulangan siswa pada pokok bahasan ini. Hal ini kurangnya pemahaman siswa dalam menggunakan metode belajar yang tidak tepat. Oleh karena itu penggunaan metode cooperative learning sangat dimungkinkan dapat memberi suntikan keterarahan belajar siswa. Dengan model seperti ini dimungkunkan motivasi akan dapat berperan seperti dalam teorinya.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah pembelajaran dengan menggunakan metode cooperative learning akan menghasilkan prestasi belajar lebih baik dari pembelajaran dengan metode konvensional pada pokok bahasan trigonometri dan rumus-rumus segitiga?
  2. Apakah siswa dengan motivasi belajar tinggi menghasilkan prestasi belajar lebih baik dari pada siswa dengan motivasi belajar sedang dan rendah pada pokok bahasan trigonometri dan rumus-rumus segitiga?
  3. Apakah ada interaksi antara pemakaian metode cooperative learning pada pokok bahasan trigonometri dan rumus-rumus segitiga dengan motivasi siswa terhadap prestasi belajar siswa?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Ingin mengetahui pengajaran dengan menggunakan metode cooperative learning akan menghasilkan prestasi belajar lebih baik dari pada pengajaran dengan menggunakan metode konvensional pada pokok bahasan trigonometri dan rumusrumus segitiga.
  2. Ingin mengetahui siswa dengan motivasi belajar tinggi menghasilkan prestasi belajar lebih baik dari pada siswa dengan motivasi belajar sedang dan rendah pada pokok bahasan trigonometri dan rumus-rumus segitiga.
  3. Ingin mengetahui interaksi antara pemakaian metode cooperative learning pada pada pokok bahasan trigonometri dan rumus-rumus segitiga dengan motivasi siswa terhadap prestasi belajar siswa.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Pembelajaran matematika pokok bahasan trigonometri dan rumus-rumus segitiga dengan metode cooperative learning menghasilkan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik dari pada dengan menggunakan metode konvensional.

2. Siswa dengan tingkat motivasi belajar tinggi mempunyai prestasi belajar matematika pokok bahasan trigonometri dan rumus-rumus segitiga yang lebih baik dari pada pada siswa dengan tingkat motivasi sedang dan rendah.

3. Terdapat interaksi yang signifikan antara penggunaan metode pembelajaran dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar matematika pokok bahasan trigonometri dan rumus-rumus segitiga.

 

Eksperimentasi Pembelajaran Berbasis Masalah- Diskusi Kelas yang Ditinjau dari IQ Siswa

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Berbasis Masalah – Diskusi Kelas yang Ditinjau dari IQ Siswa pada Materi Logika pada Siswa SMK Magetan

 

A. Latar Belakang Pembelajaran

Kecerdasan intelektual merupakan salah satu faktor yang cukup penting yang berpengaruh pada prestasi belajar siswa. Dengan adanya perbedaan tingkat IQ pada siswa maka prestasi belajar siswa akan memperoleh hasil yang berbeda. Siswa yang mempunyai IQ tinggi akan mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai IQ sedang dan IQ rendah. Kecerdasan intelektual (IQ) merupakan karakteristik yang melekat pada setiap siswa, karena IQ merupakan sifat bawaan atau keturunan dari keluarga yang dibawa sejak lahir.

Beberapa macam model pengajaran interaktif diharapkan mampu mengatasi permasalahan dalam pembelajaran matematika. Dua diantaranya adalah Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah) dan Classroom Discussion (Diskusi Kelas). Oleh karena itu guru dituntut untuk mendorong siswa agar mereka dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Guru dituntut untuk mendorong siswa belajar secara aktif dan dapat meningkatkan kemampuan dalam memahami suatu konsep dalam matematika.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, pembelajaran berbasis masalah atau diskusi kelas?
  2. Apakah siswa yang mempunyai IQ tinggi mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai IQ sedang, dan siswa yang mempunyai IQ sedang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai IQ rendah?
  3. Pada IQ tinggi, model pengajaran manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik, pada IQ sedang model pengajaran manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik sedangkan pada IQ rendah model pengajaran manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik.

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui model pembelajaran yang lebih baik antara pembelajaran Berbasis Masalah dengan Diskusi Kelas.
  2. Untuk mengetahui pengaruh IQ terhadap prestasi belajar matematika siswa.
  3. Untuk mengetahui pada siswa yang mempunyai IQ tinggi model pengajaran mana yang lebih baik, pada siswa yang mempunyai IQ sedang model pengajaran mana yang lebih baik, dan pada siswa yang mempunyai IQ rendah, model pengajaran mana yang lebih baik.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diajar dengan menggunakan Pembelajaran Berbasis Masalah dan Diskusi Kelas, karena kedua model pembelajaran tersebut memberikan rataan prestasi belajar yang sama.

2. Siswa yang mempunyai IQ tinggi mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai IQ sedang dan siswa yang mempunyai IQ rendah. Siswa yang mempunyai IQ sedang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai IQ rendah.

3. Pada siswa yang mempunyai IQ tinggi, Pembelajaran berbasis masalah memberikan rataan prestasi belajar matematika yang sama dengan Diskusi Kelas

4. Pada siswa yang mempunyai IQ sedang, Pembelajaran berbasis masalah memberikan rataan prestasi belajar matematika yang sama dengan Diskusi Kelas

5. Pada siswa yang mempunyai IQ rendah, Diskusi Kelas memberikan rataan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada Pembelajaran berbasis masalah

Model Struktural “Think- Pair-Share” pada Materi Bentuk Akar-pangkat

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Model Struktural “Think- Pair-Share” pada Materi Bentuk Akar-pangkat ditinjau dari Gaya Belajar

 

A. Latar Belakang Masalah

Dalam materi dibutuhkan pemahaman dan penguasaan konsep serta ketelitian yang lebih dibandingkan dengan materi yang lain. Materi ini dianggap sulit oleh sebagian besar siswa, hal ini dapat dilihat dari hasil ulangan harian siswa pada materi pokok bentuk akar, pangkat dan logaritma kelas X semester I tahun ajaran 2008/2009 SMA Raudlatul Fallah Pati dari interval 0-100 rata-rata nilainya hanya 44,2 dengan jumlah siswa 40 anak. Pada umumnya kesulitan yang dihadapi siswa adalah dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan bentuk akar dan pangkat, selain itu siswa hanya mengorganisir sendiri apa yang diperoleh tanpa mengkomunikasikan dengan siswa lain atau guru yang mengajar, oleh karenanya diperlukan keaktifan siswa selama proses belajar mengajar. Sehingga siswa yang aktif dapat membantu proses pemahaman bagi siswa yang kurang aktif, dengan saling bertukar pikiran. Oleh sebab itu, maka salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam mengatasi masalah tersebut adalah model pembelajaran struktural “Think-Pair-Share”.

Model pembelajaran struktural “Think-Pair-Share” merupakan suatu model pembelajaran cooperative learning (pembelajaran kooperatif) yang memberikan penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola kreatif siswa, dan memberikan waktu kepada siswa untuk berpikir dan merespon serta saling membantu antara satu dengan yang lain dalam  menyelesaikan permasalahan tertentu. Model pembelajaran ini dapat meningkatkan penguasaan akademis siswa. Selain itu, dengan model pembelajaran ini siswa tidak akan cepat merasa bosan dalam belajar matematika. Rendahnya prestasi belajar siswa tidak mutlak disebabkan model pembelajaran yang tidak cocok karena ada faktor lain yang mempengaruhinya seperti gaya belajar siswa.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah model pembelajaran struktural “Think-Pair-Share” dapat menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik daripada penggunaan model pembelajaran langsung pada materi pokok bentuk akar, pangkat dan logaritma?
  2. Apakah ada perbedaan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya belajar tipe visual, auditorial, dan kinestetik pada materi pokok bentuk akar, pangkat dan logaritma?

 

C. Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui apakah model pembelajaran struktural “Think-Pair-Share” dapat menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik daripada penggunaan model pembelajaran langsung pada materi pokok bentuk akar, pangkat dan logaritma.
  2. Mengetahui apakah ada perbedaan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai gaya belajar tipe visual, auditorial, dan kinestetik pada materi pokok bentuk akar, pangkat dan logaritma.
  3. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik antara model pembelajaran struktural “Think-Pair-Share” atau model pembelajaran langsung, pada gaya belajar tipe auditorial.

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan akar, pangkat dan logaritma dengan menggunakan model pembelajaran struktural “Think-Pair- Share” lebih baik dari pada prestasi belajar matematika siswa dengan menggunakan pembelajaran langsung.

2. Prestasi belajar siswa pada pokok bahasan akar, pangkat dan logaritma yang mempunyai gaya belajar auditorial lebih baik prestasinya daripada siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik, siswa yang mempunyai gaya belajar visual prestasinya lebih baik daripada siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik, dan siswa yang mempunyai gaya belajar auditorial prestasinya lebih baik daripada siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik .

 

 

Incoming search terms: