Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Realistik pada Materi Segi Empat

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Realistik pada Materi Segi Empat Ditinjau dari Aktivitas Belajar Siswa Kelas VII SMP

 

A. Latar Belakang Masalah

Proses pembelajaran matematika realistik menggunakan masalah kontekstual sebagai titik awal dalam belajar matematika. Masalah kontekstual yang dimaksud adalah masalah-masalah yang nyata dan konkrit yang dekat dengan lingkungan siswa dan dapat diamati atau dipahami oleh siswa dengan membayangkan. Dalam hal ini siswa melakukan aktivitas matematika horisontal, yaitu siswa mengorganisasikan masalah dan mencoba mengidentifikasi aspek matematika yang ada pada masalah tersebut. Siswa bebas mendeskripsikan, dan menyelesaikan masalah konstektual dengan caranya sendiri dengan pengetahuan awal yang dimiliki, kemudian dengan atau tanpa bantuan guru menggunakan matematika vertikal (melalui abstraksi dan formulasi), sehingga tiba pada tahap pembentukan konsep. Sehingga penggunaan pendekatan matematika realistik diduga akan meningkatkan kemampuan akademik siswa yaitu prestasi belajar siswa.

Rendahnya prestasi belajar matematika siswa mungkin tidak hanya dipengaruhi pendekatan pembelajaran dalam proses pembelajaran, tetapi mungkin dipengaruhi oleh aktivitas belajar siswa dalam mempelajari pelajaran matematika. Tingginya aktivitas belajar matematika siswa mungkin dapat berakibat pada tingginya prestasi belajar matematika, begitu pula sebaliknya aktivitas belajar matematika siswa yang rendah dimungkinkan dapat berakibat pada rendahnya prestasi belajar matematika siswa. Dengan demikian aktivitas belajar pada saat belajar matematika mungkin dapat dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika.

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

  1. Apakah prestasi belajar matematika siswa dalam pembelajaran matematika realistik lebih baik dibandingkan pembelajaran dengan pendekatan mekanistik pada pokok bahasan segi empat?
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang dan rendah, serta apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar rendah?
  3. Apakah pembelajaran matematika realistik menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan pembelajaran dengan pendekatan mekanistik pada siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang dan tinggi, serta apakah pembelajaran matematika realistik maupun pembelajaran dengan pendekatan mekanistik pada siswa yang mempunyai aktivitas belajar rendah tidak ada perbedaan prestasi belajar matematikanya?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa dalam pembelajaran matematika realistik lebih baik dibandingkan pembelajaran dengan pendekatan mekanistik pada pokok bahasan segi empat.
  2. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang dan rendah, serta apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar rendah.

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika siswa dalam pembelajaran matematika realistik lebih baik dibandingkan pembelajaran dengan pendekatan mekanistik pada pokok bahasan segi empat.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang dan rendah, sedangkan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang sama dengan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar rendah.

3. Pembelajaran matematika realistik menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan pembelajaran dengan pendekatan mekanistik untuk setiap kategori aktivitas belajar yang dimiliki siswa.

Pembelajaran Matematika Realistik dgn Metode Penemuan

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Realistik dengan Metode Penemuan Ditinjau dari Kreativitas Belajar Matematika Siswa

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pembelajaran matematika realistik. Pembelajaran yang dikembangkan dan diteliti di Belanda selama kurang lebih 38 tahun (dimulai tahun 1970) dikenal sebagai Realistic Mathematics Education (RME) menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Laporan dari TIMSS (Trend International Mathematics and Science Study) tahun 2007 menyebutkan bahwa berdasarkan penilaian TIMSS, siswa di Belanda memperoleh hasil yang memuaskan baik dalam keterampilan komputasi maupun kemampuan pemecahan masalah. Oleh karena itu pembelajaran matematika realistik diharapkan dapat memberikan inspirasi siswa dalam mengembangkan kreativitas dan lebih termotivasi yang pada gilirannya dapat meningkatkan prestasi belajar.

Rendahnya prestasi belajar matematika siswa tidak hanya dipengaruhi oleh metode mengajar saja, tetapi juga bagaimana kreativitas siswa dalam mempelajari mata pelajaran matematika. Tingginya kreativitas belajar siswa dapat berakibat pada tingginya prestasi belajar matematika, begitu pula sebaliknya kreativitas belajar siswa yang rendah dapat berakibat pada rendahnya prestasi belajar matematika siswa. Dengan demikian kreativitas pada saat belajar matematika sangat penting dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika.

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

  1. Apakah pembelajaran matematika realistik dengan metode penemuan menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik daripada pembelajaran ekspositori pada pokok bahasan luas dan volume?
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas belajar matematika tinggi lebih baik daripada siswa yang mempunyai kreativitas belajar matematika lebih rendah pada pokok bahasan luas dan volume?
  3. Apakah pembelajaran matematika realistik dengan metode penemuan menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik daripada penggunaan metode ekspositori pada siswa yang mempunyai kreativitas belajar matematika tinggi dan sedang serta apakah pada siswa yang mempunyai kreativitas belajar matematika rendah tidak ada perbedaan prestasi belajar matematika baik dengan pembelajaran matematika realistik dengan metode penemuan maupun metode ekspositori?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Apakah pembelajaran matematika realistik dengan metode penemuan dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada penggunaan metode ekspositori pada pokok bahasan luas dan volume.
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kreativitas belajar matematika tinggi lebih baik dari siswa yang mempunyai kreativitas belajar matematika rendah pada pokok bahasan luas dan volume.

 

D. Kesimpulan

1. Pembelajaran matematika realistik dengan metode penemuan menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan metode ekspositori pada pokok bahasan luas dan volume.

2. Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang memiliki kreativitas belajar matematika tinggi dengan siswa yang memiliki kreativitas belajar matematika sedang, terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang memiliki kreativitas belajar matematika tinggi dengan siswa yang memiliki kreativitas belajar matematika rendah serta terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang memiliki kreativitas belajar matematika sedang dengan siswa yang memiliki kreativitas belajar matematika rendah pada pokok bahasan luas dan volume.

3. Pembelajaran matematika realistik dengan metode penemuan menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik daripada penggunaan metode ekspositori pada siswa yang mempunyai kreativitas belajar matematika tinggi, sedang dan rendah.

Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Realistik

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Realistik Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa Kelas V SD di Kecamatan Leuwisari Tasikmalaya

 

A. Latar Belakang Masalah

Keberhasilan belajar matematika, di antaranya gaya belajar matematika. Gaya belajar matematika merupakan cara yang khas dan konsisten dilakukan oleh siswa dalam menyerap informasi. Menurut Deporter dan Hernacki (2000:112–113) gaya belajar matematika dikelompokkan menjadi tiga tipe, yaitu tipe auditorial, tipe visual, dan tipe kinestetik. Orang yang bertipe visual lebih mudah menyerap informasi jika menggunakan indra penglihatan, orang yang bertipe auditorial memiliki ciri – ciri tidak suka membaca dan lebih suka bertanya untuk mendapatkan informasi, sedangkan orang yang bertipe kinestetik selalu ingin bergerak.

Kebanyakan siswa belum mengenal persis gaya belajar yang dimilikinya, sehingga mereka belum dapat menerapkannya secara optimal. Menurut Nurita Putranti gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar siswa. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, siswa dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar.Dengan demikian, pendekatan pembelajaran realistik dan gaya belajar diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa pada soal matematika, yang akhirnya bermuara pada peningkatan prestasi belajar matematika siswa.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah pendekatan realistik dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan pendekatan konvensional?
  2. Apakah terdapat pengaruh gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika dalam menyelesaikan soal matematika pada pokok bahasan geometri?
  3. Apakah ada interaksi antara penggunaan pendekatan pembelajaran dan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika siswa dalam menyelesaikan soal matematika pada pokok bahasan geometri?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

  1. Untuk mengetahui apakah penggunaan pendekatan realistik dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan pendekatan konvensional (ceramah bervariasi/ ekspositori).
  2. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika siswa.
  3. Untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara penggunaan pendekatan pembelajaran dan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika.

 

D. Kesimpulan

1. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan reliastik maupun pendekatan konvensional memberikan pengaruh yang sama terhadap prestasi belajar matematika pada pokok bahasan geometri, ini tidak sesuai dengan kajian teori yang menyatakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik lebih baik daripada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konvensional. Hal ini dapat terjadi karena belum terbiasanya siswa dalam kegiatan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan realistik.

2. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa gaya belajar siswa untuk kategori auditorial, visual, maupun kinestetik memberikan pengaruh yang sama terhadap prestasi belajar matematika pada pokok bahasan geometri. Hal ini dapat terjadi karena dalam penelitian ini peneliti hanya menggunakan tes angket untuk mengetahui gaya belajar siswa, mungkin dalam pengisian angket tersebut siswa tidak benar-benar mengisi angket dengan keadaan yang sebenarnya.

3. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan geometri.

 

E. Saran

Kepada guru dan calon guru matematika, hendaknya memperhatikan pendekatan pembelajaran yang tepat dan menarik agar siswa lebih mudah memahami matematika sehingga menghasilkan prestasi yang lebih baik. Selain pendekatan pembelajaran yang perlu diperhatikan dalam menyelesaikan soal matematika juga faktor-faktor yang lain yang bisa mempengaruhi prestasi belajar matematika.

Incoming search terms:

Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dgn Pendekatan Quantum Learning

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Quantum Learning dan Pendekatan PMRI Ditinjau dari Kreativitas Belajar

 

A. Latar Belakang Masalah Skripsi

Guru dalam pembelajarannya di kelas tidak mengkaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa. Siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika mereka dengan mengkaitkan pengalaman kehidupan nyata. Akibatnya kreativitas belajar siswa tidak tampak. Menurut Van den Heuvel-Panhuizen (1998), bila anak belajar matematika terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari, maka anak akan cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika.

Hal ini mendorong agar pembelajaran matematika di kelas ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari. Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Teori pendekatan PMRI sejalan dengan teori belajar yang berkembang saat ini, seperti konstruktivisme dan pembelajaran kontekstual. Namun, baik konstruktivisme maunpun kontekstual mewakili teori belajar secara umum, sedangkan pendekatan PMRI adalah suatu teori pembelajaran yang dikembangkan khusus untuk pelajaran matematika. Konsep PMRI sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan matematika di Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Manakah pembelajaran yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik, pada siswa dengan pendekatan Quantum Learning, PMRI atau dengan pembelajaran konvensional?
  2. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa dengan kreativitas belajar tinggi, siswa dengan kreativitas belajar sedang, dan siswa dengan kreativitas belajar rendah?
  3. Pada pendekatan Quantum Learning, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa dengan kreativitas belajar tinggi, sedang atau rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Pembelajaran yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik, pada siswa dengan pendekatan Quantum Learning, siswa dengan pendekatan PMRI atau siswa dengan pembelajaran konvensional.
  2. Pembelajaran yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik, pada siswa dengan kretivitas belajar tinggi, siswa dengan kreativitas belajar sedang, dan siswa dengan kreativitas belajar rendah.
  3. Pada pendekatan Quantum Learning, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yaang lebih baik, siswa dengan kreativitas belajar tinggi, sedang atau rendah

 

D. Kesimpulan

1. Siswa dengan pembelajaran Quantum Learning mempunyai prestasi belajar matematika yang sama dengan siswa-siswa yang belajar dengan pendekatan pembelajaran PMRI. Sedangkan prestasi belajar siswa yang belajar dengan pendekatan Quantum Learning lebih baik daripada prestasi belajar siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional. Prestasi belajar siswa yang belajar dengan pendekatan PMRI lebih baik daripada prestasi belajar siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional.

2. Siswa dengan kreativitas belajar tinggi memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas belajar sedang maupun rendah. Siswa dengan kreativitas belajar sedang memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas belajar rendah.

3. Pada pendekatan Quantum Learning, prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas belajar tinggi lebih baik daripada prestasi belajar siswa dengan kreativitas belajar sedang maupun rendah. Prestasi belajar matematika siswa dengan kreativitas belajar sedang lebih baik daripada prestasi belajar siswa dengan kreativitas belajar rendah.

Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dgn Pendekatan PMRI

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan PMRI Dimodifikasi dengan Pembelajaran Kooperatif Group Discussion

 

A. Latar Belakang Masalah

Matematika saat ini lebih dikenal dengan pelajaran yang sulit dan tidak jelas tujuannya. Padahal pelajaran matematika merupakan salah satu ujung tombak perkembangan teknologi. Siswa sering menganggap bahwa matematika hanya berupa rumus – rumus yang digunakan untuk menyelesaikan soal. Setelah menerima pelajaran matematika, seringkali siswa tidak mengetahui bagaimana aplikasinya dalam kehidupan sehari – hari. Hal ini menyebabkan motivasi belajar matematika siswa rendah sehingga prestasi belajar matematikanya juga rendah.  Dalam mempelajari matematika, seorang siswa dapat memahami suatu topik jika siswa tersebut telah memahami topik sebelumnya atau prasyaratnya, karena pelajaran matematika disusun berdasarkan urutan tertentu. Penguasaan topik baru oleh seorang siswa tergantung kemampuan penguasaan topik sebelumnya atau dapat dikatakan sebagai kemampuan awalnya.

Saat ini di Indonesia telah dikembangkan suatu pendekatan pembelajaran matematika yang dikenal dengan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). PMRI sejalan dengan Realistic Mathematics Education (RME) yang telah dikembangkan di Belanda. Pembelajaran matematika yang sesuai dengan karakteristik PMRI diharapkan dapat mengubah pola pembelajaran matematika. Perubahan pola pembelajaran matematika dari pembelajaran matematika konvensional menjadi pembelajaran dengan pendekatan PMRI diharapkan dapat mengetahui konsep dalam matematika serta mengetahui aplikasi matematika dalam kehidupan sehari – hari. Sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

  1. Apakah prestasi belajar matematika siswa dengan PMRI dimodifikasi dengan pembelajaran kooperatif tipe Group Discussion lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar matematika siswa dengan pendekatan PMRI saja?
  2. Apakah perbedaan prestasi belajar dari masing–masing pendekatan pembelajaran, konsisten pada masing–masing tingkat kemampuan awal dan perbedaan prestasi belajar pada masing–masing tingkat kemampuan awal, konsisten pada masing–masing pendekatan pembelajaran ?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah model pembelajaran matematika dengan pendekatan PMRI dimodifikasi dengan pembelajaran kooperatif tipe Group Discussion menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada pembelajaran matematika dengan pendekatan PMRI.
  2. Untuk mengetahui apakah perbedaan prestasi belajar dari masing–masing pendekatan pembelajaran, konsisten pada masing–masing tingkat kemampuan awal dan perbedaan prestasi belajar pada masing–masing tingkat kemampuan awal, konsisten pada masing– masing pendekatan pembelajaran.

 

D. Kesimpulan

1. Pendekatan PMRI yang dimodifikasi dengan Group Discussion menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan dengan pendekatan PMRI pada siswa kelas X untuk materi logika matematika.

2. Pada pendekatan PMRI yang dimodifikasi dengan Group Discussion, prestasi belajar siswa dengan tingkat kemampuan awal tinggi memberikan efek yang sama dengan siswa berkemampuan awal sedang, tetapi lebih baik dari siswa dengan tingkat kemampuan awal rendah. Pada pendekatan PMRI, prestasi belajar siswa dengan kemampuan awal tinggi lebih baik dari siswa dengan kemampuan awal sedang dan rendah, siswa dengan kemampuan awal sedang lebih baik dari siswa dengan kemampuan awal rendah. Pada tingkat kemampuan awal sedang, pendekatan PMRI yang dimodifikasi dengan Group Discussion menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dari pendekatan PMRI. Pada tingkat kemampuan awal tinggi dan rendah, PMRI yang dimodifikasi dengan Group Discussion memberikan efek yang sama dengan pendekatan PMRI.

Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dgn Pendekatan Contextual Teaching And Learning

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Contextual Teaching And Learning Ditinjau dari Keaktifan Belajar Siswa

A. Latar Belakang Masalah Skripsi

Dalam matematika, siswa biasanya memecahkan soal-soal yang diberikan oleh guru atau yang sudah terdapat di dalam buku. Akan tetapi siswa akan lebih memahami suatu materi apabila mereka memformulasikan soal sendiri berdasarkan pengalaman mereka.

Selain dengan pendekatan pembelajaran yang tepat, keaktifan siswa selama proses pembelajaran juga perlu mendapat sorotan. Sistem kurikulum sekarang ini menuntut siswa aktif baik rohani maupun jasmani. Jadi dalam belajar matematika agar bermakna tidak cukup hanya dengan mendengar dan melihat tetapi harus melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi). Dengan pembelajaran yang menuntut keaktifan siswa diharapkan dapat mempengaruhi cara berfikir siswa sehingga berujung pada peningkatan prestasi belajarnya.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) menghasilkan prestasi yang lebih baik daripada pembelajaran dengan pendekatan Problem Posing?
  2. Apakah siswa-siswa dengan keaktifan belajar tinggi mempunyai prestasi yang lebih baik daripada siswa-siswa dengan keaktifan belajar sedang dan rendah serta apakah siswa-siswa dengan keaktifan belajar sedang mempunyai prestasi yang lebih baik daripada siswa-siswa dengan keaktifan belajar rendah?
  3. Apakah pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan pendekatan Problem Posing pada siswa dengan keaktifan belajar tinggi, sedang dan rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) menghasilkan prestasi yang lebih baik dari pada pembelajaran dengan pendekatan Problem Posing.
  2. Untuk mengetahui apakah siswa-siswa dengan keaktifan belajar tinggi mempunyai prestasi yang lebih baik dari pada siswa-siswa dengan keaktifan belajar sedang dan rendah serta apakah siswa-siswa dengan keaktifan belajar sedang mempunyai prestasi yang lebih baik dari pada siswa-siswa dengan keaktifan belajar rendah.
  3. Untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan pendekatan Problem Posing pada siswa dengan keaktifan tinggi, sedang dan rendah.

 

D. Kesimpulan

Prestasi belajar matematika siswa yang diberi pembelajaran dengan pendekatan CTL sama baiknya dengan siswa yang diberi pembelajaran dengan pendekatan Problem Posing.

1. Prestasi belajar matematika siswa yang memiliki keaktifan belajar tinggi sama baiknya dengan siswa yang memiliki keaktifan belajar sedang, prestasi belajar siswa yang memiliki keaktifan belajar sedang lebih baik dibandingkan dengan dengan siswa yang memiliki keaktifan belajar rendah. Prestasi siswa yang memiliki keaktifan belajar tinggi lebih baik dibandingkan dengan siswa yang memiliki keaktifan belajar rendah.

2. Pada siswa dengan keaktifan belajar rendah, pembelajaran CTL menghasilkan prestasi belajar yang sama dengan pembelajaran Problem Posing, pada siswa dengan keaktifan belajar sedang, pembelajaran CTL dan Problem Posing menghasilkan prestasi belajar yang sama, begitu pula pada keaktifan belajar tinggi pembelajaran CTL dan Problem Posing menghasilkan prestasi belajar yang sama.

 

Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dgn Model Pembelajaran TTW – NHT

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika dengan Model Pembelajaran TTW – NHT Ditinjau dari Adversity Quotients Siswa

A. Latar Belakang Masalah

Pada peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan banyak kebijakan dan peraturan. Diantaranya, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16 Tahun 2007. Dalam PP tersebut dijabarkan tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Setiap guru diharapkan memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian, maka diharapkan guru dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif untuk mencapai tujuan pendidikan. Metode atau pendekatan pembelajaran yang bermacam-macam sekarang ini, mungkin harus dicoba oleh setiap guru agar terjadi proses interaksi antara guru dan siswa serta pembelajaran di kelas menjadi tidak monoton. Selain itu agar siswa menjadi lebih kreatif, inovatif, berani mengemukakan pendapat dan berkembang otaknya, sehingga menjadi sumber daya manusia yang bermutu dikemudian hari. Alokasi waktu yang kurang berimbang dengan banyaknya materi pelajaran yang harus disampaikan mungkin menjadi kendala guru untuk menjadi lebih kreatif menentukan metode mengajarnya.

Sikap siswa dalam merespon atau menyelesaikan soal matematika mungkin juga menjadi faktor yang menyebabkan prestasi siswa yang rendah. Setiap siswa mempunyai sikap yang berbeda dalam menyelesaikan soal matematika. Sebagian siswa mungkin menyerah sebelum mencoba menyelesaikannya, tetapi ada beberapa siswa yang berhenti di tengah jalan dan ada beberapa siswa yang mungkin berusaha untuk tetap menyelesaikannya agar mendapatkan jawaban soal tersebut.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV), manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, model pembelajaran TTW atau model pembelajaran NHT?
  2. Pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan SPLDV, manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, siswa yang termasuk kelompok climbers, kelompok campers, atau kelompok quitters?
  3. Pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan SPLDV, pada siswa yang termasuk kelompok climbers, manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik, model pembelajaran TTW atau model pembelajaran NHT?

 

C. Tujuan

  1. Untuk mengetahui pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV), manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, model pembelajaran TTW atau model pembelajaran NHT.
  2. Untuk mengetahui pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan SPLDV, manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik, siswa yang termasuk kelompok climbers, kelompok campers, atau kelompok
  3. Untuk mengetahui pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan SPLDV, pada siswa yang termasuk kelompok climbers, manakah yang memberikan prestasi yang lebih baik, model pembelajaran TTW atau model pembelajaran NHT.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan kajian teori dan didukung dengan analisis variansi serta mengacu pada rumusan masalah yang telah diuraikan di awal, dapat disimpulkan bahwa :

1. Pada pembelajaran matematika, Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV), prestasi belajar siswa yang diberi model pembelajaran TTW sama dengan prestasi belajar siswa yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran NHT.

2. Pada pembelajaran matematika, SPLDV, prestasi belajar matematika siswa kelompok climbers lebih baik dibandingkan kelompok campers dan kelompok quitters, sedangkan prestasi belajar matematika siswa kelompok campers sama dengan kelompok

3. Pada siswa kelompok climbers, model pembelajaran TTW maupun NHT menghasilkan prestasi belajar matematika yang sama.