Model Pembelajaran yang Diawali dengan Senam Otak (Brain Gym) terhadap Prestasi Belajar

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran yang Diawali dengan Senam Otak (Brain Gym) terhadap Prestasi Belajar Matematika

 

A. Latar Belakang

Senam otak (brain gym) kiranya dapat dijadikan sebagai salah satu solusi penting, agar otak bisa difungsikan secara optimal. Karena bukan hanya tubuh yang bisa disehatkan, otak juga bisa disehatkan. ”Senam otak bermanfaat menjadikan otak bekerja lebih efesien. Sehingga, otak akan membutuhkan lebih sedikit energi ketika bekerja. Ini juga akan membuat otak bekerja lebih ringan, dan tidak mudah mengalami kelelahan,” begitu kata Mangunsong, Psikolog UI (Mathematical Intelegence, 2007: 39).

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis memberanikan diri untuk mengadakan penelitian dengan judul: ”Eksperimentasi Model Pembelajaran yang diawali dengan Senam Otak (Brain Gym) terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Kemampuan awal Siswa SMA Se- Kabupaten Kotawaringin Timur Sampit”.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah model pembelajaran yang di awali dengan senam otak (brain gym) memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional?
  2. Apakah kemampuan awal siswa yang berbeda-beda memberikan prestasi belajar matematika yang berbeda pula?
  3. Diantara pembelajaran yang di awali dengan senam otak (brain gym) dan pembelajaran konvensional, manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik pada siswa dengan kemampuan awal tinggi, sedang dan rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Apakah pembelajaran yang diawali dengan senam otak (Brain Gym) memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.
  2. Apakah kemampuan awal siswa yang berbeda-beda memberikan prestasi belajar matematika yang berbeda pula.
  3. Manakah diantara pembelajaran yang di awali dengan senam otak (Brain Gym) dan pembelajaran konvensional, yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik pada siswa dengan kemampuan awal tinggi, sedang dan rendah?

 

C. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika siswa dengan pembelajaran yang diawali dengan senam otak (Brain Gym) memberikan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang.

3. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah

4. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah.

5. Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran yang diawali dengan senam otak dengan kemampuan awal terhadap prestasi belajar matematika pada pokok bahasan statistika, sehingga prestasi belajar matematika siswa dengan kemampuan awal tinggi, yang menggunakan model pembelajaran yang diawali dengan senam otak tetap lebih baik daripada prestasi belajar matematika yang mempunyai kemampuan awal tinggi, pada model pembelajaran konvensional. Sedangkan prestasi belajar matematika siswa dengan kemampuan awal sedang, yang menggunakan model pembelajaran yang diawali dengan senam otak juga lebih baik daripada prestasi belajar matematika yang mempunyai kemampuan awal sedang, pada model pembelajaran konvensional. Demikian juga pada siswa dengan kemampuan awal rendah, yang menggunakan model pembelajaran yang diawali dengan senam otak lebih baik daripada prestasi belajar matematika yang mempunyai kemampuan awal rendah, pada model pembelajaran konvensional.

Teams Games Tournaments dgn Pemanfaatan Media pada Materi Trigonometri

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Teams Games Tournaments dengan Pemanfaatan Media pada Materi Trigonometri

 

A. Latar Belakang Masalah

Inteligensi sebagai unsur kognitif dianggap memegang peranan yang cukup penting. Bahkan kadang-kadang timbul anggapan yang menempatkan inteligensi dalam peranan yang melebihi proporsi yang sebenarnya. Sebagian orang bahkan menganggap bahwa hasil tes inteligensi yang tinggi merupakan jaminan kesuksesan dalam belajar sehingga bila terjadi kasus kegagalan belajar pada anak yang memiliki IQ tinggi akan menimbulkan reaksi berlebihan berupa kehilangan kepercayaan pada institusi yang mengagalkan anak tersebut atau kehilangan kepercayaan pada pihak yang telah memberi diagnosa IQ-nya.

Pembelajaran TGT menuntut semua siswa aktif di meja turnamen, sehingga siswa dengan IQ tinggi akan cepat merespon dan menerima model pembelajaran tersebut, karakteristik siswa bermacam-macam kebanyakan siswa yang kurang memahami model pembelajaran TGT adalah mereka yang mempunyai IQ rendah.

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

Dari latar belakang masalah dan pembatasan masalah di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Apakah penggunaan model pembelajaran TGT dengan pemanfataan media pembelajaran memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dari pada model pembelajaran tipe TGT?
  2. Apakah siswa yang berinteligensi tinggi prestasi belajarnya lebih baik daripada siswa yang berinteligensi sedang dan rendah, dan apakah siswa yang berinteligensi sedang lebih baik dari pada siswa yang berinteligensi rendah?
  3. Manakah yang lebih baik prestasi belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dengan pemanfaatan media pembelajaran atau pembelajaran matematika dengan model Teams Games Tournament (TGT) di tinjau dari inteligensi tinggi, sedang atau rendah pada materi Trigonometri kelas X SMA Negeri di Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2010/2011.

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan media pembelajaran menghasilkan prestasi lebih baik dari pada model pembelajaran tipe TGT.
  2. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh inteligensi siswa terhadap prestasi belajar matematika pada kompetensi dasar trigonometri.
  3. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik antara siswa yang mempunyai inteligensi tinggi, sedang dan rendah pada pembelajaran matematika model TGT dengan media pembelajaran atau pembelajaran matematika dengan model TGT.

 

D. Kesimpulan

1. Model pembelajaran tipe Teams Games Tournament (TGT) dengan pemanfaatan media pembelajaran dan model pembelajaran tipe Teams Games Tournament (TGT) memberikan efek yang sama terhadap prestasi belajar matematika pada materi trigonometri.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai inteligensi tinggi sama dengan siswa yang mempunyai inteligensi sedang dan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai inteligensi sedang sama dengan siswa yang mempunyai inteligensi rendah sedangkan prestasi belajar siswa yang mempunyai inteligensi tinggi lebih baik dari pada siswa yang mempunyai inteligensi rendah.

3. Pada masing-masing model pembelajaran prestasi belajar matematika yang mempunyai inteligensi tinggi sama dengan siswa yang mempunyai inteligensi sedang dan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai inteligensi sedang juga sama dengan siswa yang mempunyai inteligensi rendah sedangkan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai inteligensi tinggi lebih baik dari pada siswa yang mempunyai inteligensi rendah pada materi trigonometri.

Pembelajaran Problem Solving pada Materi Lingkaran terhadap Prestasi Belajar

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Problem Solving pada Materi Lingkaran terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP Sragen

 

A. Latar Belakang Masalah

Model pembelajaran langsung maupun model pembelajaran pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan kemampuannya dalam pemecahan masalah, baik dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Model-model pembelajaran dan metode pembelajaran merupakan suatu sarana dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas, supaya dalam penyampaian materi pelajaran dapat mudah diterima siswa, dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Demikian juga media pembelajaran merupakan sarana yang digunakan dalam proses belajar mengajar matematika. Menurut Hamalik (Azhar Arsyad, 2007:15) mengemukakan bahwa penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan motivasi, keinginan dan minat yang baru dan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pembelajaran. (Azhar Arsyad, 2007:16) dalam buku media pembelajaran mengemukakan alat peraga atau media pembelajaran dapat membantu supaya siswa lebih mudah atau cepat memahami, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, cepat mengerti dan menguasai materi pelajaran yang diterima.Dengan menggunakan model-model pembelajaran, metode pembelajaran maupun media pembelajaran, guru tidak lagi bersusah payah dalam menerangkan materi pelajaran dan waktu yang digunakan tidak terlalu lama karena siswa cepat mengerti dan memahaminya.

 

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Apakah prestasi belajar siswa pada kegiatan belajar mengajar menggunakan model pembelajaran Pemecahan Masalah lebih baik daripada menggunakan model Pembelajaran Langsung ?
  2. Apakah prestasi belajar siswa yang memiliki motivasi belajar lebih tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki motivasi belajar dibawahnya?
  3. Apakah prestasi belajar siswa yang motivasi belajar tinggi maupun sedang pada model pembelajaran Pemecahan Masalah lebih baik dari model pembelajaran Langsung, tetapi apakah pada siswa yang motivasi belajarnya rendah prestasi belajar yang dicapai pada model pembelajaran Langsung lebih baik dari pada yang menggunakan model Pembelajaran Pemecahan Masalah ?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa dalam kegiatan belajar mengajar menggunakan model pembelajaran Pemecahan Masalah lebih baik daripada model pembelajaran Langsung.
  2. Untuk mengetahui apakah siswa yang motivasi belajarnya lebih tinggi prestasi belajar matematika yang dicapai lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang motivasi belajarnya dibawahnya.
  3. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang motivasi belajar tinggi maupun sedang pada model pembelajaran Pemecahan Masalah lebih baik dari model pembelajaran Langsung, tetapi pada siswa yang motivasi belajarnya rendah prestasi belajar yang dicapai pada model pembelajaran Langsung juga lebih baik dari pada yang menggunakan model Pembelajaran Pemecahan Masalah.

 

D. Kesimpulan

  1. Prestasi belajar matematika siswa pada kegiatan belajar mengajar menggunakan model pembelajaran pemecahan masalah lebih baik dari pada menggunakan model pembelajaran langsung .
  2. Prestasi belajar matematika siswa yang memiliki motivasi lebih tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki motivasi lebih rendah (dibawahnya).
  3. Prestasi belajar matematika siswa yang memiliki motivasi tinggi maupun sedang pada model pembelajaran pemecahan masalah lebih baik dari model pembelajaran langsung, sedangkan siswa yang motivasi belajar rendah prestasi belajar matematika yang dicapai pada model pembelajaran pemecahan masalah lebih baik daripada model pembelajaran langsung.

 

Penemuan Terbimbing dan Missouri Mathemetics Project (MMP) terhadap Prestasi Belajar

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing dan Missouri Mathemetics Project (MMP) terhadap Prestasi Belajar SMK

 

A. Latar Belakang Masalah

Kemampuan awal sering dikenal sebagai pengetahuan awal adalah semua pengetahuan yang telah ada dalam otak pembelajar sebelum mereka mempelajari pengetahuan baru dan akan mempengaruhi proses belajar pengetahuan baru tersebut. Apabila pengetahuan baru dari belajar tersebut sesuai dengan konsep yang telah dimilikinya akan terjadi proses penguatan dan jika tidak sesuai maka siswa dapat memperbaiki konsep memorinya. Hasil belajar dapat meningkatkan kemampuan dan hasil belajar yang sekarang dapat menjadi dasar kemampuan awal bagi pembelajaran berikutnya. Kemampuan awal merupakan prasyarat agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lancar. Masing-masing siswa belum tentu memiliki kemampuan awal yang sama.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka peningkatan prestasi belajar siswa memerlukan perencanaan dan pendekatan yang sistematis, yang menyentuh kebutuhan belajar sesuai dengan kemampuan siswa. Keberhasilan proses belajar mengajar selain dipengaruhi oleh model pembelajaran juga dipengaruhi oleh kemampuan awal siswa, sehingga dimungkinkan bahwa kemampuan awal siswa akan mempengaruhi prestasi belajar yang dicapai oleh siswa.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Manakah di antara model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) dan model pembelajaran penemuan terbimbing (Guided Discovery) yang menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik?
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang dan rendah? Serta apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah?
  3. Manakah di antara Missouri Mathematics Project dan Guided Discovery yang menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik pada siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi, awal sedang, awal rendah ?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

  1. Mengetahui Manakah di antara model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) dan model pembelajaran penemuan terbimbing (Guided Discovery) yang menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik.
  2. Mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang dan rendah serta apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah.
  3. Manakah di antara Missouri Mathematics Project dan Guided Discovery yang menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik pada siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi, awal sedang, awal rendah ?

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar siswa yang mendapat perlakuan model pembelajaran Missouri Mathematics Project lebih baik daripada prestasi belajar siswa yang mendapat perlakuan model pembelajaran Guided discovery.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih baik dari siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah dan sedang.

3. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih baik dari siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah.

4. Model pembelajaran MMP menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dibanding dengan model pembelajaran GD, untuk kategori kemampuan awal tinggi, sedang maupun rendah.

Missouri Mathematics Project ( MMP ) yang Dimodifikasi pada Pembelajaran Matematika

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project ( MMP ) yang Dimodifikasi pada Pembelajaran Matematika

 

A. Latar Belakang Skripsi

Ada kebiasan sebagian peserta didik jika menjawab pertanyaan tidak memperhitungkan secara matang jawabannya tersebut. Sehingga dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika, karena jawaban yang diberikan cenderung salah. Tidak setiap guru mengetahui adanya pengaruh gaya kognitif ini. Untuk meningkatkan hasil belajar, guru perlu mengetahui tentang pengaruh ini. Ada beberapa tipe gaya kognitif antara lain gaya kognitif reflektif dan impulsif.

Kedua gaya ini menunjukkan cara cepat dan lambatnya peserta didik dalam menjawab pertanyaan. Ada peserta didik yang menjawab cepat tetapi salah, cepat tapi benar, lambat tapi salah dan ada yang menjawab lambat tapi benar. Jika guru mengetahui dan paham tentang gaya kognitif ini, diharapkan guru dapat menerapkan model pembelajaran yang tepat pada proses pembelajaran hubungannya dengan gaya kognitif yang dimiliki peserta didik.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah hasil belajar peserta didik yang diberi model Missouri Mathematics Project (MMP) yang dimodifikasi unsur-unsur Student Teams Achievement Divisions (STAD) lebih baik daripada peserta didik yang diberi model Missouri Mathematics Project (MMP) dan konvensional, dan apakah peserta didik yang diberi model Missouri Mathematics Project (MMP) lebih baik daripada peserta didik yang diberi model konvensional?
  2. Apakah hasil belajar peserta didik yang mempunyai gaya kognitif reflektif lebih baik daripada gaya impulsif?
  3. Manakah di antara model pembelajaran MMP yang dimodifikasi, MMP dan Konvensional yang menghasilkan hasil belajar yang lebih baik jika ditinjau dari gaya kognitif reflektif dan impulsif?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik yang diberi model Missouri Mathematics Project (MMP) yang dimodifikasi unsur-unsur Student Teams Achievement Divisions (STAD) lebih baik daripada peserta didik yang diberi model Missouri Mathematics Project (MMP) dan konvensional, dan peserta didik yang diberi model Missouri Mathematics Project (MMP) lebih baik daripada peserta didik yang diberi model konvensional.
  2. Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik yang mempunyai gaya kognitif reflektif lebih baik daripada peserta didik yang mempunyai gaya impulsif.
  3. Untuk mengetahui di antara model pembelajaran MMP yang dimodifikasi, MMP dan Konvensional yang menghasilkan hasil belajar yang lebih baik jika ditinjau dari gaya kognitif reflektif- impulsif.

 

D. Kesimpulan

1. Model pembelajaran MMP modifikasi menghasilkan belajar matematika peserta didik yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran MMP dan konvensional, dan juga model pembelajaran MMP menghasilkan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan model konvensional.

2. Hasil belajar matematika peserta didik yang mempunyai gaya kognitif tipe reflektif lebih baik dari gaya kognitif tipe impulsif.

3. Pada pembelajaran dengan model MMP modifikasi, peserta didik bergaya reflektif hasil belajarnya lebih baik yang bergaya impulsif. Demikian juga untuk pembelajaran dengan model MMP. Sedangkan untuk pembelajaran konvensional, peserta didik yang bergaya reflektif hasil belajarnya sama dengan impulsif. Pada peserta didik bergaya reflektif, model pembelajaran MMP modifikasi dan MMP hasil belajarnya sama, model MMP modifikasi hasil belajarnya lebih baik daripada yang konvensional sedangkan model MMP hasil belajarnya lebih baik daripada yang konvensional. Pada peserta didik bergaya impulsif, pembelajaran dengan MMP modifikasi, MMP maupun konvensional hasil belajarnya sama.

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD yg Dimodifikasi dari Kemandirian Belajar Peserta Didik

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD yang Dimodifikasi Ditinjau dari Kemandirian Belajar Peserta Didik Kelas X SMK di Kabupaten Grobogan Tahun 2010/2011

 

A. Latar Belakang Skripsi

Proses pembelajaran yang baik perlu didukung adanya media atau sarana yang sesuai. Sehingga antara penggunaan media dan tujuan pembelajaran dapat berkolaborasi. Dalam proses pembelajaran matematika, materi tertentu seringkali menuntut penggunaan media. Namun pemilihan media sebaiknya yang telahdikenal peserta didik sehingga materi yang akan dipelajari akan lebih mudah untuk dipahami. Kreatifitas dan keaktifan peserta didik sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman materi yang dipelajari. Hal ini tidak mudah dilakukan peserta didik jika tidak ditunjang kemampuan guru dalam mengajar, sumber belajar yang tersedia, serta media pembelajaran yang ada. Keterbatasan sumber belajar, baik referensi maupun media pembelajaran matematika di sekolah menjadi kendala dalam proses pembelajaran. Keterbatasan itu dikarenakan adanya anggapan bahwa mahalnya sumber belajar matematika khususnya media pembelajaran. Namun dengan keterbatasan media pembelajaran jangan dijadikan alasan untuk tidak menggunakan media. Disamping itu, terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan belajar matematika, diantaranya kemandirian dalam belajar matematika. Perkembangan dalam bidang teknologi pembelajaran menekankan pada pentingnya kemandirian dalam belajar. Penerapan sistem pembelajaran tuntas, pengajaran perorangan, sistem modul, cara belajar peserta didik aktif dan pendekatan keterampilan proses, semuanya menekankan pada kemandirian belajar peserta didik yang tinggi.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Manakah yang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik, peserta didik yang diberikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dimodifikasi, tipe STAD atau konvensional pada materi program linier?
  2. Manakah yang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik, peserta didik dengan kemandirian belajar tinggi, sedang, atau rendah pada materi program linier?
  3. Pada masing-masing kategori kemandirian belajar tinggi, sedang, dan rendah,manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dimodifikasi, tipe STAD, atau konvensional pada materi program linier?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik, peserta didik yang diberikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dimodifikasi, tipe STAD atau konvensional pada materi program linier.
  2. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik, peserta didik dengan kemandirian belajar tinggi, sedang, atau rendah pada materi program linier.
  3. Untuk mengetahui pada masing-masing kategori kemandirian belajar tinggi, sedang, dan rendah, manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dimodifikasi, tipe STAD, atau konvensional pada materi program linier.

 

D. Kesimpulan

1. Pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dimodifikasi dan tipe STAD menghasilkan prestasi belajar yang sama, tetapi keduanya dapat menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional pada materi program linier.

2. Peserta didik dengan kemandirian belajar tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik daripada peserta didik dengan kemandirian belajar sedang atau rendah, dan peserta didik dengan kemandirian belajar sedang mempunyai prestasi belajar sama dengan peserta didik yang mempunyai kemandirian belajar rendah pada materi program linier.

3. Peserta didik pada masing-masing kategori kemandirian belajar yang diberikan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dimodifikasi dan tipe STAD mempunyai prestasi belajar yang sama tetapi keduanya lebih baik daripada menggunakan pembelajaran konvensional pada materi program linier.

 

Eksperimentasi Model Pembelajaran Jigsaw dgn Pendekatan Matematisasi Berjenjang

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dengan Pendekatan Matematisasi Berjenjang Ditinjau dari Minat Belajar Siswa pada Materi Pokok Bangun Ruang Sisi Datar SMP Kelas VIII di Kota Semarang

 

A. Latar Belakang

Rendahnya prestasi siswa pada materi geometri kemungkinan disebabkan oleh lemahnya kemampuan siswa memvisualisasikan obyek-obyek geometri dalam bentuk yang lebih nyata dan penyebab kesulitan yang dihadapi siswa adalah kurangnya pemahaman tentang konsep-konsep dasar terkait, seperti kedudukan titik, garis dan bidang dalam ruang. Materi  yang menjadi bagian penting dalam mempelajari materi geometri pada umumnya. Setiap guru seharusnya jeli dalam melihat berbagai masalah yang dihadapi oleh siswa. Guru harus bisa menemukan penyebab kesulitan yang dihadapi siswanya untuk kemudian berusaha memberikan sebuah alternatif pemecahan masalah dan menghindari kesalahan-kesalahan yang sering terjadi.

Salah satu alternatif yang dapat ditempuh untuk meningkatkan prestasi belajar siswa adalah melalui kreativitas yang dimiliki oleh para guru  dengan keinginan untuk selalu mencari pendekatan yang terbaik agar selalumenarik minat dan motivasi siswa belajar maka tujuan yang diharapkan akan tercapai. Ada beberapa pendekatan dalam pembelajaran matematika, salah satunya adalah pendekatan matematisasi berjenjang. Dalam pendekatan ini siswa akan menempuh beberapa tahap yaitu tahap enaktif, tahap ikonik, dan tahap simbolik. Dengan pendekatan ini diharapkan siswa dapat benar-benar aktif dalam proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Manakah model pembelajaran yang memberikan prestasi belajar lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan pendekatan matematisasi berjenjang, model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw atau model pembelajaran langsung?
  2. Manakah yang mempunyai prestasi belajar lebih baik antara siswa yang mempunyai minat belajar tinggi, sedang atau rendah?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

Tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui manakah pembelajaran yang memberikan prestasi belajar lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan pendekatan matematisasi berjenjang, model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw atau model pembelajaran langsung.
  2. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar lebih baik antara siswa yang mempunyai minat belajar tinggi, sedang atau rendah.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan analisa data dan pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.

1. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan pendekatan matematisasi berjenjang menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik daripada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan model pembelajaran langsung, dan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik daripada model pembelajaran langsung.

2. Siswa yang mempunyai kategori minat tinggi lebih baik prestasi belajarnya daripada siswa yang mempunyai kategori minat sedang dan rendah, dan siswa yang mempunyai kategori minat sedang lebih baik prestasi belajarnya daripada siswa yang mempunyai kategori minat rendah.

 

E. Saran

1. Bagi Guru

Berdasarkan uraian tersebut, diperoleh informasi bahwa ada berbagai manfaat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan pendekatan matematisasi berjenjang dalam pembelajaran matematika untuk siswa baik manfaat secara akademis maupun manfaat sosial.

2. Bagi Sekolah

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih memfokuskan pada pengembangan potensi individu (bukan penyeragaman) dan secara terbuka memberikan ruang apresiasi kepada Kepala Sekolah untuk mengembangkannya secara mandiri, maka setidaknya sekolah harus memperhatikan potensi masing-masing individu dalam hal ini adalah siswa sebagai produk dari sekolah dan bisa melayani semua siswa dengan tingkat kemampuan yang heterogen.

Kooperatif Tipe Jigsaw pada Materi Pokok Sistem Persamaan Linier dari Motivasi Belajar

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada Materi Pokok Sistem Persamaan Linier Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri Se – Kabupaten Tulungagung

 

A. Latar Belakang

Berdasarkan pada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP 2006) materi kajian matematika untuk SMA kelas X, meliputi: bentuk pangkat, akar, sistem persamaan linier, sistem persamaan campuran linier dan kuadrat dua variabel,logika, trigonometri, dan geometri. Sementara berdasar hasil observasi pendahuluan di lapangan terhadap beberapa guru matematika SMA, ternyata masih banyak siswa kelas X SMA mengalami kesulitan dalam belajar aljabar pada materti pokok sistem persamaan linier dua variabel (SPLDV).

Oleh karena itu perlu adanya usaha untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada materi pokok SPLDV dengan mengubah model pembelajaran yang dilakukan. Yaitu dari model pembelajaran langsung menuju pembelajaran kooperatif. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi pokok SPLDV diduga lebih efektif untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pada materi pokok SPLDV. Hal ini sejalan dengan paradigma pembelajaran pada kurikulum 2004 yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang disempurnakan dengan kurikulum 2006 (KTSP); yaitu dari ”teaching” atau guru mengajar menjadi ”learning” atau siswa belajar. Artinya bahwa pusat pembelajaran era sekarang harus betul-betul terletak pada siswa. Guru bertindak selaku fasilitator, dinamisator, motivator, administrator dan mampu menciptakan atmosfir belajar yang menyenangkan (enjoy learning).

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

  1. Apakah prestasi belajar siswa pada meteri pokok sistem persamaan linier dua variabel (SPLDV) dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw lebih baik dari siswa yang menggunakan model pembelajaran langsung ?
  2. Apakah prestasi belajar siswa dengan motivasi lebih tinggi, lebih baik dibanding prestasi belajar siswa dengan motivasi belajar lebih rendah pada materi pokok sistem persamaan linear dua variabel ?

 

C. Tujuan Penelitian

Penulisan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

  1. Mana yang lebih baik antara prestasi belajar matematika pada materi pokok sistem persamaan linear dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan menggunakan model pembelajaran langsung.
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang memiliki motivasi lebih tinggi, lebih baik dari siswa yang memiliki motivasi lebih rendah pada materi pokok sistem persamaan linier dua variabel.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Prestasi belajar matematika pada materi pokok sistem persamaan linear yang mendapatkan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dari pada yang mendapatkan pembelajaran dengan model pembelajaran langsung.

2. Prestasi belajar matematika pada materi pokok sistem persamaan linear siswa yang mempunyai motivasi belajar lebih tinggi lebih baik dari siswa yang mempunyai motivasi belajar lebih rendah.

3. Tidak ada interaksi penggunaan model pembelajaran dan tingkat motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika pada materi pokok sistem persamaan linear.

 

E. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan penelitian, peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Saran bagi para guru

Seorang guru diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang model pembelajaran yang semakin berkembang, sehingga guru dapat memilih model pembalajaran yang tepat dalam proses pembelajaran.

2. Saran bagi Kepala Sekolah

Bagi Kepala Sekolah diharapkan dapat lebih intensif dan berkesinambu ngan dalam memantau dan mengarahkan guru dalam proses pembelajaran, mengingat guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan.

Incoming search terms:

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw yg Dimodifikasi dari Gaya Kognitif Siswa

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw yang Dimodifikasi Ditinjau dari Gaya Kognitif Siswa SMP Kelas VIII

 

A. Latar Belakang

Model pembelajaran konvensional yang digunakan oleh sebagian besar guru tidak sesuai dengan tuntutan jaman, karena pembelajaran yang dilakukan kurang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk aktif mengkonstruksi pengetahuannya. Salah satu model pembelajaran yang dimungkinkan mampu mengantisipasi kelemahan model pembelajaran konvensional adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Pembelajaran model ini lebih meningkatkan kerja sama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam suatu perencanaan kegiatan. Dalam pembelajaran ini setiap anggota kelompok diharapkan dapat bekerja sama dan bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun pada kelompoknya.

Penulis memilih memodifikasi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw karena pada penerapannya terdapat kelemahan-kelemahan diantaranya: penugasan anggota kelompok untuk menjadi ahli sering tidak sesuai antara kemampuan dengan kompetensi yang harus dipelajari, siswa yang mempunyai kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi ketika menjadi ahli, sehingga dimungkinkan terjadinya kesalahan. Pengembangan penelitian pembelajaran tipe Jigsaw tetap berdasar pada tipe Jigsaw yang sudah ada.

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

  1. Apakah pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dimodifikasi memberikan prestasi belajar lebih baik dibandingkan dengan tipe Jigsaw dan keduanya lebih baik daripada pembelajaran konvensional pada materi bangun ruang sisi datar?
  2. Apakah siswa dengan gaya kognitif field independent mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan gaya kognitif field dependent pada materi bahasan bangun ruang sisi datar?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dimodifikasi memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, dan keduanya lebih baik daripada pembelajaran konvensional.
  2. Untuk mengetahui apakah siswa dengan gaya kognitif field independent mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada gaya kognitif field dependent pada materi bangun ruang sisi datar.

 

D. Kesimpulan

1. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dimodifikasi memberikan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan keduanya lebih baik daripada pembelajaran konvensional pada materi bangun ruang sisi datar.Siswa dengan gaya kognitif field independent memiliki prestasi belajar yang lebih baik dibanding siswa dengan gaya kognitif field dependent.

2. Pada siswa dengan gaya kognitif field independent maupun field dependent yang diberikan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dimodifikasi mempunyai prestasi belajar lebih baik dibandingkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan keduanya lebih baik daripada pembelajaran konvensional pada materi bangun ruang sisi datar.

 

E. Saran

1. Bagi Kepala Sekolah

Hendaknya kepala sekolah menyarankan kepada guru matematika agar dalam memberikan pembelajaran dapat memperoleh hasil yang maksimal harus memilih model pembelajaran yang sesuai dengan gaya kognitif siswa.

2. Kepada para guru matematika

Dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dimodifikasi dan tipe Jigsaw harus memperhatikan tingkat heterogenitas masing-masing kelompok asal, dan pemberian tugas kepada siswa yang akan menjadi tim ahli sesuai dengan kemampuan siswa.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT dan STAD dari Keingintahuan dan Gaya Kognitif

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) dan Student Teams Achievement Divisions (STAD) Ditinjau dari Keingintahuan dan Gaya Kognitif Peserta Didik

 

A. Latar Belakang

Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran kelompok yang menghendaki adanya kerja sama antar anggota kelompok dalam memahami suatu konsep. Melalui model pembelajaran kooperatif, peserta didik secara aktif mengkonstruksi pemahamannya secara berkelompok. Peserta didik secara kooperatif mengkonsultasikan kesulitan yang dialaminya kepada peserta didik lain sehingga melalui model pembelajaran kooperatif sangat dimungkinkan bagi peserta didik untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami. Rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik dimungkinkan tidak hanya dipengaruhi oleh model pembelajaran yang diterapkan di dalam kelas. Terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar matematika yang juga perlu mendapat perhatian dari guru. Faktor-faktor tersebut antara lain keingintahuan dan gaya kognitif peserta didik. Setiap peserta didik mempunyai kategori keingintahuan dan karakteristik gaya kognitif yang berbeda-beda.

Dalam  mempelajari matematika pun demikan, setiap peserta didik memiliki kategori keingintahuan yang berbeda-beda terhadap suatu konsep matematika. Ada peserta didik yang sangat antusias ingin mengetahui dan memahami suatu konsep matematika, namun ada pula peserta didik yang menganggap bahwa suatu konsep matematika itu tidak penting. Begitu juga untuk gaya kognitif, ada peserta didik yang terampil dalam menguraikan suatu hal-hal yang kompleks dan ada pula peserta didik yang lebih tertarik terhadap mata pelajaran sosial dibandingkan mata pelajaran matematika.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT atau STAD?
  2. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi, sedang, atau rendah?
  3. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent atau field independent?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT atau STAD.
  2. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika lebih baik, peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi, sedang, atau rendah.
  3. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent atau field independent.

 

D. Simpulan

1. Prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang maupun rendah, dan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan sedang lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki keingintahuan rendah.

3. Prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field independent lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki gaya kognitif field dependent.