Pembelajaran Matematika Menggunakan Pendekatan Quantum Learning dan Pendekatan CTL

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Matematika Menggunakan Pendekatan Quantum Learning dan Pendekatan CTL

 

A. Latar Belakang

Adanya pengajaran pada materi statistika yang menyajikan rumus demi rumus dalam bentuk akhir menyebabkan peserta didik semakin merasa bingung darimana rumus tersebut diperoleh, selain itu penyajian materi dalam bentuk akhir tanpa proses penemuan akan menyebabkan peserta didik mudah lupa. Walaupun kemampuan peserta didik berbeda-beda, tetapi yang harus diyakini setiap guru adalah bahwa setiap peserta didik mempunyai potensi untuk kreatif. Tinggal bagaimana seorang guru dapat menimbulkan semangat belajar  peserta didik, sehingga potensi kreatifnya akan muncul. Pengalaman yang diperoleh peserta didik saat belajar sangat penting bagi kehidupannya.

Dengan mengalami sendiri apa yang ia pelajari, hasilnya akan bermakna mendalam dan tahan lama dengan kata lain agar peserta didik dapat menangkap makna belajar, ia harus membangun sendiri makna itu. Karena itu digunaka pendekatan pembelajaran Quantum Learning dan pendekatan pembelajaran Contextual Learning and Teaching, dan penekanan kreativitas peserta didik selama prosese belajar mengajar. Peserta didik yang cerdas dapat membantu temannya yang lamban. Mengingat pentingnya kreativitas peserta didik dalam memahami materi dalam kegiatan belajar mengajar, maka guru diharapkan dapat menciptakan suasana belajar mengajar yang dapat menumbuhkan kreativitas peserta didik, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah pembelajaran matematika pada pokok bahasan statistika dengan pendekatan Quantum Learning dengan metode Discovery menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan pendekatan Contextual Teaching and Learning pada pokok bahasan statistika peserta didik SMA kelas XI IPA semester I ?
  2. Apakah peserta didik dengan kreativitas tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik dibandingkan dengan peserta didik dengan kreativitas sedang dan rendah, peserta didik dengan kreativitas sedang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik dengan kreativitas rendah ?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika pada pokok bahasan statistika dengan pendekatan Quantum Learning dengan metode Discovery menghasilkan prestasi belajar yang berbeda dibandingkan pendekatan CTL terhadap pokok bahasan statistika peserta didik SMA kelas XI IPA semester I.
  2. Untuk mengetahui apakah peserta didik dengan kreativitas tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik dibandingkan dengan kretivitas sedang dan rendah, peserta didik dengan kreativitas sedang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik dengan kreativitas rendah.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Quantum Learning dengan metode Discovery memperoleh prestasi yang lebih baik daripada peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning.

2. Peserta didik dengan kreativitas tinggi, sedang, maupun rendah memiliki prestasi yang sama

3. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan kreativitas terhadap prestasi belajar matematika peserta didik pada pokok bahasan statistika. Hal ini berarti :

4. Peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Quantum Learning dengan metode Discovery memperoleh prestasi yang lebih baik daripada peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan CTL baik untuk peserta didik dengan kreativitas tinggi, sedang maupun rendah.

5. Peserta didik dengan kreativitas tinggi, sedang, maupun rendah memiliki prestasi yang sama baik untuk peserta didik yang mengikuti pembelajaran pendekatan Quantum Learning dengan metode Discovery maupun pendekatan pembelajaran CTL

Tipe STAD dan Quantum Learning Mind Mapping Terhadap Prestasi Belajar Matematika

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Quantum Learning Mind Mapping Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Kesiapan Belajar Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri di Kabupaten Magetan Tahun Ajaran 2009/2010

 

A. Latar Belakang Skripsi

Sampai sejauh ini pencapaian hasil belajar matematika di sekolah secara umum dapat dinyatakan masih belum sesuai dengan harapan. Hal ini dapat dilihat dari masih sulitnya siswa untuk mencapai hasil tertinggi dalam pencapaian belajar matematika. Ini terbukti dari nilai matematika pada ujian nasional pada semua tingkat dan jenjang pendidikan selalu terpaku pada angka yang rendah . Data Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur tahun 2009 untuk Kabupaten Magetan nilai matematika program IPA yang nilainya 10,00-9,00 adalah 17,72%, 8,00-8,99=20,20%, 7,00- 7,99=23,43%, 6,00-6,99=10,86%, 5,50-5,99=18,86%, 4,25-5,49=5,51%, 3,00-4,24=2,28% dan 2,00-2,99=1,14%. Hal ini masih tergolong rendah jika ketuntasan minimal ideal adalah 75. Untuk itu perlu bagi guru untuk terus mencari dan menerapkan metode baru untuk memudahkan siswa dalam proses pembelajaran dan memotivasi siswa agar selalu mempunyai kesiapan sebelum belajar matematika sehingga pembelajaran matematika menjadi lebih baik. Terutama sub pokok bahasan fungsi komposisi untuk mencari fungsi penyusunnya, yang hasilnya lebih rendah dari sub pokok bahasan-sub pokok bahasan yang lain.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah prestasi belajar matematika pada pembelajaran metode STAD lebih baik daripada metode pembelajaran Mind Mapping?
  2. Apakah siswa yang mempunyai kesiapan tinggi akan mempunyai prestasi belajar lebih baik dibanding dengan siswa yang mempunyai kesiapan sedang dan rendah serta siswa yang mempunyai kesiapan sedang akan mempunyai prestasi belajar lebih baik dari siswa yang mempunyai kesiapan rendah?
  3. Apakah terdapat interaksi antara penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dan Mind Mapping serta kesiapan siswa terhadap prestasi belajar ?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan metode STAD lebih baik dari pada pembelajaran metode Mind Mapping.
  2. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kesiapan tinggi lebih baik dari pada siswa yang mempunyai kesiapan sedang dan rendah serta apakah siswa yang mempunyai kesiapan sedang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai kesiapan rendah.

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika yang dilakukan dengan pembelajaran kooperatif type STAD lebih baik dari pada siswa dengan pembelajaran metode Mind Mapping.

2. Siswa yang mempunyai kesiapan belajar tinggi lebih baik dari pada kesiapan belajar sedang maupun rendah, dan siswa yang mempunyai kesiapan belajar sedang berbeda secara signifikan dengan siswa yang mempunyai kesiapan belajar rendah. Dengan kata lain siswa yang mempunyai kesiapan belajar sedang lebih baik dari pada kesiapan belajar rendah.

 

E. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi diatas, maka saran yang diberikan peneliti adalah sebagai berikut :

1. Kepada siswa

Pada saat diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa diharapkan memperhatikan penjelasan atau jawaban yang disampaikan oleh siswa lain, baik dalam diskusi kelompok maupun saat kelompok lain mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

2. Kepada Guru Mata Pelajaran Matematika

Guru hendaknya lebih banyak melibatkan peran siswa secara aktif dalam melaksanakan kegiatan belajar matematika, dimana siswa mengkontruksi pengetahuan mereka sendiri sehingga pelajaran lebih bermakna. Cara yang dilakukan antara lain, memilih metode pembelajaran yang lebih menekankan pada keterlibatan siswa secara optimal misalnya metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Matematika Melalui Pendekatan Realistics Mathematics Education (RME) dgn Pemecahan Masalah

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Realistics Mathematics Education (RME) dengan Pemecahan Masalah dan Pendekatan Realistics Mathematics Education (RME) Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa

A. Latar Belakang

RME dengan pemecahan masalah sebagai salah satu pendekatan baru dalam pembelajan matematika, juga mengajak siswa mematisasi kontekstual yaitu kegiatan pola pikir siswa yang dikembangkan dari hal-hal yang bersifat konkrit menuju hal-hal abstrak. Pembelajaran matematika dengan model realistik dengan pemecahan masalah pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang dipahami siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika yang lebih baik dari masa lalu. Realita yang dimaksud adalah hal-hal yang nyata atau konkrit yang dapat diamati dan dipahami siswa dengan membayangkan, sedangkan lingkungan adalah tempat dimana siswa berada (Soedjadi, 2003 :108).

Alternatif pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan RME. Menurut Ahmad Fauzan (2001) menyatakan bahwa RME memberikan kesempatan kepada kita untuk bertindak secara aktif mencari jawaban atas masalah yang dihadapi dan berusaha memeriksa, mencari dan menyimpulkan  sendiri secara logis, kritis, analitis dan sistematis. Cara ini akan mendorong siswa untuk meningkatkan penalaran dan berpikir secara bebas, terbuka dengan senang hati maka akan memperdalam pengetahuannya secara mandiri.Selain penggunaan pendekatan pembelajaran yang tepat, terdapat faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar matematika, diantaranya adalah gaya belajar siswa, gaya belajar adalah cara yang lebih disukai dalam melakukan kegiatan berpikir, memproses dan mengerti suatu informasi. Hasil riset menunjukkan bahwa murid yang belajar dengan gaya belajar mereka yang dominan, saat mengerjakan tes, akan mencapai nilai yang jauh lebih tinggi  dibandingkan bila mereka belajar dengan cara yang tidak sejalan dengan gayabelajar mereka (Adi W . Gunawan, 2004 :139), ada bermacam-macam gaya belajar siswa yaitu gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah siswa yang diberi pembelajaran matematika melalui pendekatan RME dengan pemecahan masalah lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa yang diberi pembelajaran matematika melalui pendekatan RME pada materi segi empat?
  2. Apakah ada perbedaan prestasi belajar berdasarkan pada gaya belajar siswa yaitu gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik?

 

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui apakah siswa yang diberi pembelajaran matematika melalui pendekatan RME dengan pemecahan masalah lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa yang diberi pembelajaran matematika melalui pendekatan RME pada materi segi empat?

2. Untuk mengetahui apakah gaya belajar yang dimiliki siswa memberikan pengaruh yang berbeda terhadap prestasi belajar matematika.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan bangun datar segi empat melalui pendekatan pembelajaran RME dengan pemecahan masalah lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa melalui pendektan pembelajaran RME.

2. Siswa pada pokok bahasan segi empat, antara masing-masing gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik mempunyai prestasi belajar yang sama.

 

E. Saran

1. Guru

Dalam proses pembelajaran pembelajaran, peran guru sebagai motivator dan fasilitator lebih dioptimalkan agar siswa lebih aktif sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

2. Peneliti yang lain

Menerapkan pendekatan pembelajaran RME dengan pemecahan masalah dan pendekatan RME untuk materi yang berbeda.

3. Kepada Pihak Sekolah

Memberi kebijakan-kebijakan yang dapat merangsang para guru agar bersedia mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

 

Pembelajaran Kontekstual pada Kemampuan Menyelesaikan Soal Aljabar dan Soal Cerita

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Kontekstual pada Kemampuan Menyelesaikan Soal Aljabar dan Soal Cerita Ditinjau dari Gaya Belajar pada Siswa Kelas X (Sepuluh) Madrasah Aliyah di Kabupaten Bojonegoro

 

A. Latar Belakang

Tidak sedikit siswa yang memandang matematika sebagai suatu mata pelajaran yang membosankan, menyeramkan bahkan menakutkan, sehingga motivasi belajar matematika siswa rendah dan banyak siswa berusaha menghindari pelajaran matematika. Banyak siswa merasa kesulitan dalam memahami matematika karena matematika bersifat abstrak, sementara alam pikiran kita terbiasa berpikir tentang obyek-obyek yang konkret. Guru tidak terbiasa menggunakan metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan membuat siswa dapat mengaitkan matematika dengan kehidupan nyata, metode pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, pendekatan konstruktivisme, pembelajaran berbasis masalah, dan sebagainya. Guru terbiasa menggunakan model pembelajaran mekanistik dan strukturalistik, yaitu guru menerangkan, memberi rumus dan contoh, kemudian siswa diberi soal untuk dikerjakan. Akibatnya banyak siswa yang masih mengalami kesulitan belajar matematika.

Salah satu faktor penyebab kesulitan belajar adalah faktor dari dalam diri individu, meliputi faktor jasmaniah (kondisi dan kesehatan jasmani), dan aspek psikis, meliputi kondisi kesehatan psikis, kemampuan intelektual, sosial, psikomotor, serta kondisi afektif dan konaktif dari individu (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005 : 162). Selain itu, motivasi belajar, gaya belajar dan minat belajar siswa juga dapat berpengaruh terhadap kesulitan belajar siswa. Guru perlu mengetahui motivasi, minat maupun gaya belajar siswa yang berbeda-beda di dalam kelas. Pemahaman guru pada kondisi psikologi siswa dapat memudahkan guru memberi perlakuan atau solusi pada setiap kesulitan belajar yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Pada kemampuan menyelesaikan soal aljabar, apakah pembelajaran dengan pendekatan kontekstual memberikan hasil yang lebih baik daripada pembelajaran langsung, baik secara umum maupun jika ditinjau dari gaya belajar?
  2. Pada kemampuan menyelesaikan soal cerita, apakah pembelajaran dengan pendekatan kontekstual memberikan hasil yang lebih baik daripada pembelajaran langsung, baik secara umum maupun jika ditinjau dari gaya belajar?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

  1. Pada kemampuan menyelesaikan soal aljabar, apakah pembelajaran dengan pendekatan kontekstual memberikan hasil yang lebih baik daripada pembelajaran langsung, baik secara umum maupun jika ditinjau dari gaya belajar.
  2. Pada kemampuan menyelesaikan soal cerita, apakah pembelajaran dengan pendekatan kontekstual memberikan hasil yang lebih baik daripada pembelajaran langsung, baik secara umum maupun jika ditinjau dari gaya belajar.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa pada siswa kelas X (Sepuluh) Madrasah Aliyah di Kabupeten Bojonegoro Propinsi Jawa Timur Tahun Pelajaran 2009-2010, khususnya pada materi Sistem Persamaan Linear dan Kuadrat:

1. Pada kemampuan menyelesaikan soal aljabar, pembelajaran pendekatan kontekstual memberikan hasil yang sama dengan pembelajaran langsung, baik secara umum maupun jika ditinjau dari gaya belajar.

2. Pada kemampuan menyelesaikan soal cerita, pembelajaran denga pendekatan kontekstual memberikan hasil yang lebih baik daripada pembelajaran langsung, baik secara umum maupun jika ditinjau dari gaya belajar.

 

E. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi penelitian di atas, maka dapat dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Kepada Kantor Departemen Agama Kabupaten Bojonegoro Propinsi Jawa Timur, agar memberikan pelatihan kepada guru-guru Madrasah Aliyah tentang pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual.

2. Kepada para Kepala Madrasah Aliyah di Kabupaten Bojonegoro agar memotivasi para guru untuk melakukan inovasi pembelajaran,diantaranya adalah melakukan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.

Problem Posing – Tipe STAD terhadap pada Materi Pythagoras dari Aktivitas Belajar Siswa

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Problem Posing – Tipe STAD terhadap pada Materi Pythagoras Ditinjau dari Aktivitas Belajar Siswa

 

A. Latar Belakang Masalah

Agar proses pembelajaran berhasil, guru diharapkan mampu menerapkan metode yang tepat dan sesuai dengan pengajaran matematika, guru diharapkan menanamkan prinsip atau konsep yang ada. Dalam hal ini sebelum siswa menyelesaikan sebuah soal, siswa harus memahami soal tersebut secara menyeluruh. Ia harus tahu apa yang diketahui, apa yang dicari, rumus atau teorema yang harus digunakan dan cara penyelesaiannya. Untuk itu dalam mengerjakan soal-soal matematika diperlukan siasat atau strategi dalam penyelesaiannya.

Mengingat begitu pentingnya strategi dalam penyelesaian masalah matematika, maka untuk menyelesaikan sebuah soal cerita yang pada kenyataannya siswa masih kesulitan dalam memahami dan menyelesaikan soal tersebut, sangat diperlukan langkah-langkah untuk mempermudah pemahamannya. Salah satu strategi yang efektif dalam menciptakan pembelajaran aktif dan menyenangkan tentunya dengan melibatkan peserta didik dalam kegiatan diskusi di kelas. Pembelajaran yang dapat melibatkan peserta didik dalam kegiatan diskusi kelas dengan suasana belajar aktif telah mulai dilakukan oleh guru yaitu dengan model pembelajaran kooperatif salah satunya yaitu dengan tipe STAD tetapi ternyata masih belum cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa pada suatu konsep, oleh karena itun perlu dicobakan lagi pembelajaran kooperatif yang melibatkan peserta didik dengan suasana belajar aktif dan memberikan strategi dalam penyelesaian soal, dapat diterapkan yaitu dengan model pembelajaran Problem Posing.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah pembelajaran model Problem Posing lebih efektif daripada pembelajaran dengan model konvensional pada pokok bahasan Teorema Pythagoras pada peserta didik SMP di Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2010/2011?
  2. Apakah pembelajaran model Cooperative Learning tipe STAD lebih efektif daripada pembelajaran dengan model konvensional pada pokok bahasan Teorema Pythagoras pada peserta didik SMP di Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2010/2011?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Efektivitas pembelajaran dengan model Problem Posing dibandingkan model konvensional
  2. Efektivitas pembelajaran dengan model Cooperative Learning tipe STAD dibandingkan model konvensional

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan landasan teori dan didukung hasil analisis yang telah disajikan dalam BAB IV serta mengacu pada perumusan masalah yang telah dikemukakan di depan, maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa pada kelas VIII SMP di Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2010/2011 pada pokok bahasan Teorema Pythagoras:

1. Pada peserta didik yang diberi model pembelajaran Problem Posing memiliki prestasi lebih baik daripada peserta didik yang diberi model pembelajaran Konvensional, berarti bahwa model pembelajaran Problemn Posing lebih efektif daripada model pembelajaran Konvensional.

2. Pada peserta didik yang diberi model pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD memiliki prestasi lebih baik daripada peserta didik yang diberi model pembelajaran Konvensional, berarti bahwa model pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD lebih efektif daripada model pembelajaran Konvensional.

3. Pada peserta didik yang diberi model pembelajaran Problem Posing memiliki prestasi lebih baik daripada peserta didik yang diberi model pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD, berarti bahwa model pembelajaran Problem Posing lebih efektif daripada model pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD.

Incoming search terms:

Pembelajaran CTL dgn Metode Demonstrasi dan Simulasi Komputer

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran CTL dengan Metode Demonstrasi dan Simulasi Komputer

 

A. Latar Belakang

Perkembangan industri yang terlalu cepat menjadi suatu kendala sekolah dalam menyiapkan lulusannya sesuai kebutuhan industri. Salah satu jalan untuk menjembatani kesenjangan ini, guru SMK harus memiliki cara yang efektif untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Salah satunya dengan memberikan demonstrasi tentang hal yang ada di industri. Demonstrasi menjawab tentang gambaran alat atau cara kerja dengan kapasitas, ukuran atau jumlah lebih kecil dari sebenarnya.

Dengan pendekatan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan proses belajar mengajar. Tidak terkecuali SMK Negeri 2 Sragen yang terus berupaya meningkatkan kualitas lulusannya. SMK Negeri 2 Sragen saat ini menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat Sragen sebagai tempat pedidikan anak – anaknya. Hal ini dikarenakan banyak lulusannya yang dapat diterima sebagai karyawan atau pegawai di berbagai perusahan besar. Banyaknya lulusan yang dapat diterima bekerja menunjukan bahwa kualitas lulusan SMK Negeri 2 Sragen cukup berkualitas dan dipercaya oleh masyarakat dan industri. Minat untuk bekerja meningkatkan kualitas lulusan yakni dari kemampuan dalam bekerja industri yang selalu menjadi teladan untuk karyawan yang lain. Kemampuan siswa dalam mengoperasikan mesin tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah pembelajaran CTL dengan metode demonstrasi dengan simulasi komputer lebih efektif daripada simulasi komputer saja dalam menyiapkan kemampuan siswa memprogram mesin CNC sebelum melakukan kerja praktek industri pada siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK Negeri 2 Sragen?
  2. Apakah motivasi berwirausaha tinggi lebih efektif daripada motivasi berwirausaha rendah dalam menyiapkan kemampuan siswa memprogram mesin CNC sebelum melakukan kerja praktek industri pada siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK Negeri 2 Sragen?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui efektivitas pembelajaran CTL dengan metode demonstrasi dengan simulasi komputer dalam menyiapkan kemampuan siswa memprogram mesin CNC sebelum melakukan kerja praktek industri pada siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK Negeri 2 Sragen.
  2. Mengetahui motivasi berwirausaha pada siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK Negeri 2 Sragen.

 

D. Kesimpulan

1. Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara Pembelajaran CTL dengan metode Demonstrasi dan Simulasi komputer saja terhadap kemampuan memprogram mesin CNC, yang berdasarkan Fhitung = 47,78 dibandingkan Ftabel = 3,999. Kelas yang menggunakan metode demonstrasi memiliki kemampuan lebih baik dibanding kelas yang menggunakan simulasi komputer saja.

2. Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara motivasi berwirausaha tinggi dan motivasi berwirausaha rendah terhadap kemampuan memprogram mesin CNC, yang berdasarkan Fhitung = 25,65 dibandingkan Ftabel = 3,999. Kelompok yang memiliki motivasi wirausaha tinggi memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan keompok yang memiliki motivasi wirausaha rendah.

 

E. Saran Skripsi

1. Guru sebaiknya menguasai berbagai pendekatan (approach) pembelajaran, dan mampu menerapkan sesuai dengan kebutuhan. Ketepatan dalam memilih pendekatan akan membantu siswa untuk mencapai kompetensi standar sesuai kurikulum yang berlaku. Siswa berprestasi dihasilkan oleh guru/pendidik yangn

2. Untuk mengoptimalkan pembelajaran dengan pendekatan metode demonstrasi diperlukan dukungan sarana penunjang pembelajaran seperti modul atau bahan ajar yang lengkap, alat-alat/mesin.

Incoming search terms: