Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif TGT dan Jigsaw dari Motivasi Belajar Siswa

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) dan Jigsaw Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa SMP di Kabupaten Blora

 

A. Latar Belakang

Rendahnya hasil nilai pendidikan matematika disebabkan karena guru dalam proses belajar mengajar yang selama ini yang dilakukan adalah dengan membiarkan siswa belajar secara pasif, mereka hanya dibiarkan menerima materi pelajaran tanpa diperhatikan daya kreatifnya. Konsekuensinya adalah siswa lebih dituntut untuk belajar hafalan, sehingga informasi bahan pelajaran yang sampai ke memori siswa tidak mampu bertahan lama atau mudah terlupakan. Ini akan menimbulkan dampak buruk pada siswa, mereka tidak bisa atau sulit menerapkan beberapa konsep dan rumus untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk memecahkan persoalan tersebut adalah dengan mengubah cara belajar siswa dengan memberikan suasana belajar yang baru yaitu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) dan Jigsaw. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat mengurangi kejenuhan belajar pada siswa. Pembelajaran lebih menekankan pada pendekatan kontekstual, yang mana matematika bersifat abstrak itu dapat disajikan dalam bentuk kontekstual, sehingga siswa dapat memahami konsep dengan mudah dan menyenangkan. Yang perlu diperhatikan di sini bahwa siswa diberi keleluasaan dalam belajar dalam arti siswa bisa menempatkan posisi belajar sesuai yang mereka inginkan tanpa ada penekanan dari guru. Diciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

Motivasi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan siswa dalam belajar. Motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan, pengalaman, motivasi juga mendorong dan mengarah minat belajar untuk tercapainya tujuan. Bagi siswa yang mempunyai motivasi tinggi akan bersungguh-sungguh dalam belajar sehingga akan dapat meningkatkan prestasi belajar.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw?
  2. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi dengan siswa mempunyai motivasi belajar sedang dan rendah?
  3. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang dengan siswa yang motivasi belajar rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) dengan model pembelajaran kooperatif tipe
  2. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi dengan siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang dan rendah? Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang dengan siswa yang mempunyai motivasi belajar rendah.

 

D. Kesimpulan

  1. Prestasi belajar matematika siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) sama dengan prestasi belajar matematika siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe
  2. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi lebih baik daripada siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang dan rendah.
  3. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai motivasi belajar sedang lebih baik daripada siswa yang mempunyai motivasi belajar rendah.

Incoming search terms:

Model Pembelajaran Berbasis Masalah dlm Menentukan Hasil Belajar Matematika Siswa

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Menentukan Hasil Belajar Matematika Siswa SMK di Surakarta

 

A. Latar Belakang

Model pembelajaran yang saat ini sedang disosialisasikan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional agar diterapkan di sekolah-sekolah adalah model pembelajaran yang akan membuat siswa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran itu misalnya pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) yang disingkat dengan PBL. Melalui model ini siswa diharapkan dapat berlatih menyelesaikan persoalan dengan kemampuan penalaran yang dimilikinya sehingga siswa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini, guru hanya berfungsi sebagai fasilitator.

Skor hasil belajar merupakan salah satu indikator untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam belajar. Model PBL menggunakan pendekatan atau strategi pembelajaran kooperatif. Model kooperatif diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terjadi karena model kooperatif dapat mendorong siswa lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Di samping itu, siswa merasa lebih nyaman bila bertanya pada teman sebaya dari pada bertanya pada gurunya.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah tersebut di atas, dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

  1. Manakah yang hasil belajar matematikanya lebih baik, siswa yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran free PBL atau modified PBL?
  2. Manakah yang hasil belajar matematikanya lebih baik, siswa yang memiliki kemampuan penalaran tinggi, sedang atau rendah?

 

C. Tujuan Penelitian Skripsi

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. untuk mengetahui mana yang hasil belajar matematikanya lebih baik, siswa yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran free PBL atau modified PBL.
  2. untuk mengetahui mana yang hasil belajar matematikanya lebih baik, siswa yang memiliki kemampuan penalaran tinggi, sedang atau rendah

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan analisis variansi dan uji lanjut setelah analisis variansi di atas dapat disimpulkan bahwa :

1. Hasil belajar matematika siswa yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah yang dimodifikasi dengan pendekatan realistik terbimbing (modified PBL) lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang diberi pembelajaran berbasis masalah murni (free PBL).

2. Hasil belajar matematika siswa kategori kemampuan penalaran tinggi lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang mempunyai kategori penalaran sedang dan rendah, dan hasil belajar siswa yang mempunyai kategori penalaran sedang lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang mempunyai kategori penalaran rendah.

 

E. Saran

Agar hasil belajar matematika dapat ditingkatkan, maka disarankan:

1. Kepada pengajar :

Dalam pembelajaran matematika, guru hendaknya menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran matematika yang sedang diampunya karena tidak semua materi pelajaran matematika cocok dengan model pembelajaran tertentu.

2. Kepada Pihak Sekolah

Dalam penerimaan peserta didik baru, perlu menggunakan tes kemampuan penalaran agar dapat memprediksi kemampuan peserta didik terutama dalam bidang matematika.

 

Efektivitas Model Pembelajaran Tipe TAI – TPS Dilihat dari Sikap Percaya Diri Siswa

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Tipe Teams Assisted Individual (TAI) dan Think Pair Share (TPS) Ditinjau dari Sikap Percaya Diri Peserta Didik pada Materi Limit Fungsi Kelas XI IPA SMA Kota Kediri Tahun Pelajaran 2010/2011

 

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu materi yang dianggap sulit adalah Limit Fungsi. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian peserta didik yang masih rendah. Pada materi ini peserta didik mengalami kesulitan dalam menghitung nilai limit fungsi. Dalam menentukan limit fungsi di suatu titik dan di titik tak terhingga peserta didik masih kesulitan untuk memilih cara mana yang sesuai untuk menyelesaikan soal-soal karena belum bisa mencermati bentuk-bentuk soalnya. Selain itu peserta didik masih kesulitan dalam memfaktorkan, mengalikan dengan faktor lawan, membagi dengan pangkat tertinggi, dan mengaplikasi sifat-sifat limit fungsi untuk mencari nilai limit suatu fungsi.

Dalam mengatasi masalah tersebut penulis tertarik untuk menerapkan model pembelajaran menggunakan kelompok-kelompok kecil dan pembelajaran individual yang bisa menyelesaikan masalah. Dengan membuat para siswa bekerja dalam tim-tim pembelajaran kelompok-kelompok kecil dan mengemban tanggung  jawab mengelola dan memeriksa secara rutin, saling membantu satu sama lain dalam menghadapi masalah dan saling memberi dorongan untuk maju. Model pembelajaran ini diharapkan peserta didik akan lebih memahami apa yang diperoleh karena peserta didik mencari sendiri pengetahuannya tentang materi tersebut. Selain itu peserta didik dapat bekerjasama dan berinteraksi dengan anggota kelompoknya sehingga dapat meningkatkan partisipasi aktif peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah hasil belajar peserta didik yang diberikan pembelajaran dengan model pembelajaran TAI lebih baik daripada peserta didik yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran TPS pada materi limit fungsi?
  2. Apakah hasil belajar peserta didik yang mempunyai sikap percaya diri tinggi lebih baik daripada peserta didik yang mempunyai sikap percaya diri sedang dan rendah, dan hasil belajar peserta didik yang mempunyai sikap percaya diri sedang lebih baik daripada peserta didik yang mempunyai sikap percaya diri rendah pada materi limit fungsi?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah hasil belajar peserta didik yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran TAI lebih baik daripada peserta didik yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran TPS pada materi limit fungsi.
  2. Untuk mengetahui apakah hasil belajar peserta didik yang mempunyai sikap percaya diri tinggi lebih baik daripada peserta didik yang mempunyai sikap percaya diri sedang dan rendah dan hasil belajar peserta didik yang mempunyai sikap percaya diri sedang lebih baik daripada peserta didik yang mempunyai sikap percaya diri rendah pada materi Limit Fungsi.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan kajian teori dan hasil analisis yang telah diuraikan pada Bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pada siswa SMA Kota Kediri :

1. Peserta didik yang mengikuti pembelajaran yang penyajiannya dengan menggunakan model pembelajaran tipe TAI akan memperoleh hasil belajar yang lebih baik dari peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model TPS.

2. Peserta didik yang memiliki sikap percaya diri tinggi mempunyai hasil belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki sikap percaya diri sedang dan rendah, peserta didik yang memiliki sikap percaya diri sedang mempunyai hasil belajar matematika yang lebih baik dari peserta didik yang memiliki sikap percaya diri rendah.

 

Efektivitas Model Pembelajaran Portofolio Dilihat dari Sikap Siswa Terhadap Matematika

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Portofolio Dilihat dari Sikap Siswa Terhadap Matematika Kelas XI IPS SMA

 

A. Latar Belakang Masalah

Menurut Haris dalam Mar’at ( 1981:19) menyatakan bahwa sikap adalah sebagai suatu konstruk psikologik atau variabel tersembunyi yang perlu ditafsirkan dari reaksi yang dapat diawasi dan memiliki konsistensi. Reaksi tersebut diketahui sebagai kecenderungan mendekati atau menghindar dari obyek, disamping diwarnai oleh unsur senang atau tidak senang sesuai dengan identitasnya.

Selanjutnya Shaver dalam Mar’at (1981:21) menyatakan untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap obyek tertentu mencakup komponen kognisi, afeksi, dan konasi. Komponen kognisi akan menjawab pertanyaan apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang obyek. Komponen afeksi menjawab pertanyaan tentang apa yang dirasakan ( senang / tidak senang ) terhadap obyek. Komponen konasi akan menjawab pertanyaan bagaimana kesediaan/kesiapan untuk bertindak terhadap obyek. Sikap siswa terhadap matematika merupakan faktor yang mempengaruhi dalam hasil belajar siswa. Dengan demikian, pembelajaran yang berlangsung hendaknya dapat menumbuhkan sikap positip terhadap matematika, sehingga akan diperoleh hasil yang optimal. Mengingat pentingnya kemampuan matematika bagi siswa dalam proses belajar selanjutnya, maka masalah rendahnya hasil belajar matematika siswa di SMA perlu diupayakan pemecahannya.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran portofolio lebih baik dari siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional?
  2. Apakah hasil belajar matematika siswa yang mempunyai sikap terhadap matematika tinggi lebih baik dari siswa yang mempunyai sikap terhadap matematika lebih rendah?
  3. Apakah terdapat interaksi antara penggunaan model pembelajaran dan sikap siswa terhadap matematika terhadap hasil belajar matematika?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Apakah hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran portofolio lebih baik dari pada yang diajar dengan model pembelajaran konvensional.
  2. Apakah hasil belajar matematika siswa yang mempunyai sikap terhadap matematika tinggi lebih baik dari pada siswa yang mempunyai sikap terhadap matematika sedang maupun rendah.
  3. Apakah terdapat interaksi antara penggunaan model pembelajaran dan sikap siswa terhadap matematika terhadap hasil belajar matematika.

 

D. Kesimpulan

Secara ringkas disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran portofolio lebih efektif terhadap hasil belajar matematika jika dibandingkan dengan pembelajaran menggunakan model konvensional pada siswa kelas XI program IPS SMA Negeri di Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah tahun pelajaran 2008-2009, baik untuk siswa yang sikap terhadap matematika tinggi maupun siswa dengan sikap terhadap matematika rendah.

 

E. Saran

1. Kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah, khususnya di tingkat MGMP untuk melakukan perubahan dalam pembelajaran pada sekolah – sekolah, terutama mengurangi model pembelajaran konvensional dan melakukan pembelajaran yang inovatif terutama pada pembelajaran statistika bisa diterapkan model pembelajaran portofolio.

2. Kepada para peneliti untuk melakukan pengkajian lebih mendalam dan secara luas terkait efektivitas pembelajaran model portofolio terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan lain di SMA, khususnya di Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah.

Incoming search terms:

Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TS-TS dan NHT Terhadap Prestasi Belajar

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay-Two Stray (TS-TS) dan Numbered Heads Together (NHT) Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP di Kabupaten Bantul Ditinjau dari Aktivitas Belajar

 

A. Latar Belakang Skripsi

Selain model pembelajaran kooperatif tipe TS-TS, alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Model pembelajaran ini memberi penekanan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. NHT sebagai model pembelajaran pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok. Adapun ciri khas dari NHT adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya. Dalam menunjuk siswa tersebut, guru tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok tersebut.

Menurut Muhammad Nur (2005: 78), dengan cara tersebut akan menjamin keterlibatan total semua siswa dan merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok. Selain itu model pembelajaran NHT memberi kesempatan kepada siswa untuk membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.

 

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi, pemilihan dan pembatasan masalah, dapatn dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik, pembelajaran dengan model kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TS-TS), model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) atau pembelajaran konvensional?
  2. Manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik, aktivitas belajar tinggi, sedang atau rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan perumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik di antara pembelajaran dengan model kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TS-TS), model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) atau pembelajaran konvensional.
  2. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar lebih baik di antara siswa dengan aktivitas belajar tinggi, sedang atau rendah.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada Bab I, dapat disimpulkan bahwa pada siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kabupaten Bantul pada semester gasal tahun pelajaran 2011/2012, khususnya pada materi persamaan garis lurus :

1. Pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray (TS-TS) memberikan prestasi belajar matematika yang sama dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Di sisi lain, prestasi belajar matematika siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe TS-TS dan kooperatif tipe NHT lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

2. Siswa dengan aktivitas belajar tinggi mempunyai prestasi belajar paling baik, sedangkan siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang lebih baik prestasinya daripada siswa dengan aktivitas belajar rendah

 

E. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi penelitian, maka dapat dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Bagi guru matematika

Hendaknya melakukan inovasi pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif tipe TS-TS dan NHT dalam upaya meningkatkan prestasi belajar matematika siswa khususnya pada materi persamaan garis lurus.

2. Bagi peneliti lain

Dapat melakukan kajian yang lebih mendalam tentang pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TS-TS, NHT dan pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar matematika siswa.

 

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dan TTW Ditinjau dari Harga Diri Siswa

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dan TTW Ditinjau dari Harga Diri Siswa Kelas XI SMK

 

A. Latar Belakang

Pengaruh dari pembelajaran konvensional ini berlawanan dengan pengaruh pembelajaran kooperatif yang dinyatakan oleh Slavin (2010:122) yaitu, dampak psikologis dari pembelajaran kooperatif adalah pengaruhnya terhadap harga diri siswa. Keyakinan siswa bahwa mereka adalah pribadi yang penting dan bernilai merupakan sesuatu yang sangat penting untuk membangun kemampuan dalam menghadapi kekecewaan dalam hidup, untuk menjadi pembuat keputusan dengan percaya diri dan menjadi pribadi yang produktif dan bahagia.

Dalam kelompok diskusi, memungkinkan siswa untuk saling berkomunikasi dengan teman dan saling bertukar pikiran dengan saling menghargai pendapat. Keberhasilan suatu kelompok tidak hanya ditentukan oleh salah satu individu saja, melainkan oleh seluruh anggota kelompok, sehingga akan tercipta kerjasama dalam kelompok untuk mencapai keberhasilan. Hal ini memungkinkan bagi siswa untuk menikmati pembelajaran matematika sehingga dapat mempengaruhi prestasi belajarnya.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat menghasilkan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik daripada model pembelajaran kooperatif tipe TTW maupun model pembelajaran Konvensional? Apakah model pembelajaran kooperatif tipe TTW dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran Konvensional?
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri sedang maupun rendah? Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika.

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran kooperatif tipe TTW maupun model pembelajaran Konvensional, dan apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TTW memberikan prestasi matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran Konvensional.
  2. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri sedang maupun rendah dan apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai tingkat harga diri rendah.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika untuk penggunaan model pembelajaran yang berbeda, model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan model pembelajaran kooperatif tipe TTW menghasilkan prestasi belajar matematika yang sama baik, model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan model pembelajaran Konvensional menghasilkan prestasi belajar matematika yang sama baik, dan model pembelajaran kooperatif tipe TTW menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran Konvensional.

2. Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika untuk tingkat harga diri yang berbeda, siswa dengan tingkat harga diri tinggi dan siswa dengan tingkat harga diri sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang sama baik, siswa dengan tingkat harga diri tinggi mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan tingkat harga diri rendah, dan siswa dengan tingkat harga diri sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang sama baik dengan siswa yang mempunyai tingkat harga diri rendah.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT – RPT Ditinjau dari Motivasi Berprestasi Siswa

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) dan Tipe Reciprocal Peer Tutoring (RPT) Ditinjau dari Motivasi Berprestasi Siswa Kelas VIII SMP Negeri di Kabupaten Sukoharjo Tahun Ajaran 2010/2011

A. Latar Belakang Skripsi

Dari implementasi RPT yang dilakukan, posisi siswa menjadi tutor (pengajar pribadi teman sebaya) ketika siswa membuat pertanyaan-pertanyaan untuk rekannya dan memberikan penjelasan pada rekannya yang tidak dapat menjawab item pertanyaan darinya dan posisi tutee (siswa pribadi) ketika siswa diberi pertanyaan dan penjelasan oleh rekannya. Menurut Griffin and Griffin (dalam Choudhury, 2002: 137) pada RPT, fungsi siswa sama yaitu sebagai tutor dan tutee. Ini memungkinkan siswa untuk memperoleh kedua keuntungan dari  persiapan dan instruksi yang digunakan tutor, dan dari instruksi yang diterima oleh tutee. Ditambahkan oleh Slavin (2011: 242) bahwa tutor dan tutee keduanya dapat diuntungkan: tutee dapat memelajari konsep akademis dan tutor memeroleh penerimaan dan pemahaman yang lebih baik terhadap siswa yang mempunyai ketidakmapuan.

Motivasi berprestasi siswa merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan pembelajaran matematika. Rao (2003:13) menjelaskan motivasi berprestasi adalah harapan untuk menemukan kepuasan dalam menguasai tantangan dan perbuatan yang sulit, motivasi untuk menampilkan tugas-tugas khusus untuk memiliki standar pesaing unggul dengan hasil yang dapat dinilai. Dengan motivasi berprestasi siswa dapat melakukan sesuatu sebaik-baiknya dan tekun dalam menyelesaikan permasalahan matematika hingga mencapai standar tertinggi.

 

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi, pemilihan, dan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan model pembelajaran kooperatif tipe RPT?
  2. Manakah yang memiliki prestasi belajar yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi, sedang dan rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik antar model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan model pembelajaran kooperatif tipe RPT.
  2. Untuk mengetahui manakah yang memiliki prestasi belajar yang lebih baik antara siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi, sedang dan rendah.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada Bab I, dapat disimpulkan bahwa pada siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri semester genap tahun pelajaran 2010/2011 di Kabupaten Sukoharjo, khususnya pada materi bangun ruang sisi datar:

1. Pembelajaran dengan tipe TGT memberikan prestasi belajar matematika yang sama dengan menggunakan tipe RPT.

2. Siswa dengan motivasi berprestasi tinggi mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan motivasi berprestasi sedang maupun rendah. Di sisi lain, siswa dengan motivasi berprestasi sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang sama dengan siswa dengan motivasi berprestasi rendah.

 

E. Saran

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi penelitian di atas, maka dapat dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Bagi Guru

Guru dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan tipe RPT sebagai variasi pembelajaran untuk meningkatkan hasil prestasi matematika siswa, khususnya pada materi bangun ruang sisi datar: prisma tegak dan limas.

2. Bagi Para Peneliti

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam kegiatan penelitian yang relevan di masa yang akan datang, dengan materi belajar dan tingkat pendidikan yang berbeda.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan Jigsaw dari Sikap Siswa Terhadap Matematika

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan Tipe Jigsaw pada Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Sikap Siswa Terhadap Matematika Siswa SMP di Kabupaten Magetan

 

A. Latar Belakang

Pembelajaran kooperatif menampakkan wujudnya dalam bentuk belajar kelompok. Dalam kelompok belajar kooperatif siswa tidak diperkenankan mendominasi atau menggantungkan diri pada siswa lain. Dalam kelompok belajar kooperatif ditanamkan norma bahwa sifat mendominasi orang lain adalah sama buruknya dengan sifat menggantungkan diri pada orang lain. Prestasi belajar seorang siswa dalam proses pembelajaran ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Salah satu faktor internal adalah sikap pada diri siswa yaitu sikap siswa pada matematika, sebagai reaksi afektif pada diri siswa dan diketahui sebagai kecenderungan mendekati atau menghindar dari matematika, dan diwarnai oleh unsur senang atau tidak senang terhadap matematika.

Sikap siswa terhadap matematika merupakan faktor yang mempengaruhi dalam prestasi belajar siswa. Dengan demikian, pembelajaran yang berlangsung hendaknya dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap matematika, sehingga akan diperoleh hasil yang optimal. Mengingat pentingnya kemampuan matematika bagi siswa dalam proses belajar selanjutnya, maka masalah rendahnya hasil belajar matematika siswa SMP perlu diupayakan pemecahannya.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) atau siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw?
  2. Manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang memiliki sikap terhadap matematika tinggi, sedang atau rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD atau siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
  2. Untuk mengetahui manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik, siswa yang memiliki sikap terhadap matematika tinggi, sedang atau rendah.

 

D. Kesimpulan Tesis

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Prestasi belajar matematika siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang memiliki sikap terhadap matematika tinggi lebih baik dibandingkan prestasi belajar matematika siswa yang memiliki sikap terhadap matematika sedang maupun rendah, dan prestasi belajar matematika siswa yang memiliki sikap terhadap matematika sedang lebih baik dibandingkann prestasi belajar matematika siswa yang memiliki sikap terhadap matematika rendah.

 

E. Saran

Agar prestasi belajar matematika pada umumnya dan persamaan garis lurus pada khususnya dapat ditingkatkan, maka disarankan

1. Kepada Guru

Pemahaman tentang model pembelajaran semakin berkembang, sehingga guru dapat memilih model pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran, khususnya model pembelajaran kooperatif Jigsaw dan STAD.

2. Kepada Siswa

Sudah saatnya para siswa sadar akan pentingnya prestasi belajar dan menyadari bahwa prestasi belajar bisa dicapai secara optimal jika siswa sendiri yang berusaha

Pembelajaran Kooperatif Tipe GI dan STAD Ditinjau dari Kreativitas dan Sikap Percaya Diri

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dan Student Teams Achievement Division (STAD) Ditinjau dari Kreativitas dan Sikap Percaya Diri Peserta Didik Kelas XI SMA Negeri Se-Kabupaten Lampung Utara Tahun Pelajaran 2011/2012

 

A. Latar Belakang

Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran kelompok yang dalam proses pembelajaran berpusat pada peserta didik sehingga dalam proses pembelajaran menghendaki peserta didik aktif dan adanya kerjasama antar anggota kelompok. Melalui pembelajaran kooperatif peserta didik secara aktif dan kooperatif bersama peserta didik yang lainnya mengkonstruksikan pengetahuannya melalui diskusi kelompok. Selain disebabkan oleh model pembelajaran konvensional yang masih diterapkan di berbagai sekolah, rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik dimungkinkan juga disebabkan oleh faktor lain yang mampu mempengaruhi prestasi belajar matematika. Faktor lain yang dimungkinkan juga mempengaruhi prestasi belajar matematika adalah kreativitas dan sikap percaya diri peserta didik. Setiap peserta didik memiliki kategori kreativitas dan sikap percaya diri yang berbeda.

Model pembelajaran tertentu mungkin cocok untuk tingkat kreativitas dan sikap percaya diri tertentu tetapi belum tentu untuk kategori kreativitas dan sikap percaya diri yang lain. Perbedaan tingkat kreativitas dan sikap percaya diri peserta didik juga harus menjadi pertimbangan bagi guru dalam menentukan model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran. Mengingat pentingnya matematika bagi peserta didik maka masalah rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik, kurang tepatnya model pembelajaran yang digunakan oleh guru sehingga peserta didik cenderung pasif dan hanya menerima penjelasan dari guru, dan guru kurang mempertimbangkan kreativitas dan sikap percaya diri peserta didik maka perlu diupayakan pemecahannya.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka peniliti merumuskan masalah penelitian sebagai berikut.

  1. Manakah model pembelajaran yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD atau tipe GI?
  2. Manakah kategori kreativitas peserta didik yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, peserta didik dengan kreativitas tinggi atau rendah?
  3. Manakah kategori sikap percaya diri peserta didik yang memberikan prestasi belajar lebih baik, peserta didik dengan sikap percaya diri tinggi atau rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui manakah model pembelajaran yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD atau tipe GI.
  2. Untuk mengetahui manakah kreativitas peserta didik yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, peserta didik dengan kreativitas tinggi atau rendah.
  3. Untuk mengetahui manakah sikap percaya diri peserta didik yang memberikan prestasi belajar matematika lebih baik, peserta didik dengan sikap percaya diri tinggi atau rendah.

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan kajian teori, hasil penelitian, adanya analisis serta mengacu pada perumusan masalah dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Prestasi belajar matematika peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GI lebih baik daripada prestasi belajar matematika peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

2. Prestasi belajar matematika peserta didik dengan kreativitas tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika peserta didik dengan kreativitas rendah.

3. Prestasi belajar matematika peserta didik dengan sikap percaya diri tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika peserta didik dengan sikap percaya diri rendah

Efektivitas Model Pembelajaran Accelerated Teaching dgn Setting Cooperative Learning

Judul Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Accelerated Teaching dengan Setting Cooperative Learning Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Respon Siswa pada Pembelajaran Kelas X SMA Negeri Kabupaten Boyolali

 

A. Latar Belakang Masalah

Respon dapat diartikan sebagai tanggapan seseorang terhadap pengaruh atau reaksi dari luar sehingga mempengaruhi sikap dan tingkah laku. Respon siswa terhadap proses pembelajaran merupakan tanggapan siswa selama mengikuti proses pembelajaran, sehingga mempengaruhi sikap dan tingkah laku siswa dapat diungkapkan ke dalam bentuk pernyataan dari siswa tersebut. Dalam pembelajaran dengan metode Accelerated Teaching siswa dalam mengikuti proses pembelajaran akan banyak dihadapkan komponen-komponen pembelajaran, sehingga sangat dimungkinkan bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh respon siswa terhadap proses pembelajaran.

Mengingat pentingnya prestasi belajar matematika bagi siswa dalam proses belajar selanjutnya maka masalah rendahnya prestasi belajar matematika siswa, dan respon siswa terhadap proses pembelajaran matematika yang cenderung negatif perlu diupayakan pemecahannya.Berdasarkan uraian di atas, maka perlu adanya kajian tentang penerapan Model Accelerated Teaching di sekolah-sekolah lain di Boyolali dan sebagai alternatif model pembelajaran dalam pembelajaran matematika di SMA.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah model pembelajaran Accelerated Teaching dengan setting Cooperative Learning menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dari pada model pembelajaran Accelerated Teaching tanpa setting Cooperative Learning pada materi pokok Trigonometri
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai respon tinggi lebih baik daripada siswa yang mempunyai respon sedang, dan apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai respon sedang lebih baik daripada siswa yang mempunyai respon rendah pada materi pokok Trigonometri?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah cara penyajian materi dengan model Accelerated Teaching dengan setting Cooperative Learning dalam pembelajaran akan memberikan prestasi yang lebih baik pada materi pokok Trigonometri daripada cara penyajian materi dengan model Accelerated Teaching tanpa setting Cooperative Learning.
  2. Untuk mengetahui apakah prestasi balajar matematika siswa yang mempunyai respon tinggi lebih baik dari pada siswa yang mempunyai respon sedang dan siswa yang mempunyai respon sedang mempunyai prestasi yang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai respon rendah dalam mempelajari materi pokok Trigonometri.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran Accelerated Teaching dengan setting Cooperative Learning pada materi pokok Trigonometri menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran Accelerated Teaching tanpa setting Cooperative Learning.

2. Respon siswa pada pembelajaran berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika pada materi pokok Trigonometri. Prestasi belajar siswa yang mempunyai respon tinggi sama baiknya dengan siswa yang mempunyai respon sedang, prestasi belajar siswa yang mempunyai respon tinggi lebih baik daripada yang memiliki respon rendah dan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai respon sedang sama dengan prestasi belajar siswa yang mempunyai respon rendah.

 

E. Saran

1. Kepada guru mata pelajaran matematika

Dalam melakukan kegiatan pembelajaran matematika, hendaknya guru lebih banyak melibatkan keaktifan siswa, guru hanya sebagai fasilitator dan motivator saja. Misalnya dengan memilih dan menggunakan cara penyajian materi yang lebih banyak melibatkan aktivitas siswa, seperti pembelajaran yang menggunakan model Accelerated Teaching dengan setting Cooperative Learning.

2. Kepada siswa

Sebaiknya siswa selalu memperhatikan dengan sungguh-sungguh penjelasan guru tentang materi yang disampaikan dan memahami dengan baik ringkasan materi pembelajaran model Accelerated Teaching dengan setting Cooperative Learning.