Tesis Keperawatan Kesehatan Masyarakat: Klinik Kesehatan Kota pd Nenek G dgn Risiko Jatuh

Judul Tesis : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti

 

A. Latar Belakang

Lansia sangat berisiko mengalami jatuh. Hal ini disebabkan oleh faktor aktivitas, penurunan kemampuan fisik, penyakit yang diderita dan faktor lingkungan (Nugroho,2008). Sebagian besar jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas berjalan, naik atau turun tangga, merubah posisi atau saat lansia dengan banyak kegiatan dan olahraga yang menyebabkan kelelahan. Penyebab jatuh pada lansia juga bisa karena penyakit yang diderita seperti Parkinson, osteoporosis, stroke dan lain-lain. Sedangkan faktor dari lingkungan adalah lantai yang licin, jalan yang tidak rata, pencahayaan yang kurang, dan tidak adanya handraill pada tangga. Jika lansia mengalami jatuh tentu akan menimbulkan masalah baru dan berdampak pada kesehatan lansia.

Akibat dari jatuh adalah terjadi cidera kepala, cidera jaringan lunak dan fraktur. Komplikasi dari fraktur jika tidak ditangani dengan tepat adalah timbulnya dekubitus akibat tirah baring yang berkepanjangan, perdarahan, trombosis vena dalam, emboli paru, infeksi pneumonia atau infeksi saluran kencing akibat tirah baring lama, gangguan nutrisi, dan sebagainya (Ariawan, Kuswardhani, & Aryana, 2010). Dampak buruk dari risiko jatuh bisa dialami lansia di rumah ataupun di panti, karena lansia ada yang tinggal di rumah bersama keluarga dan ada yang tinggal di institusi seperti di panti werdha.

 

B. Rumusan Masalah

Lansia adalah usia dimasa pensiun, rentang usia antara 65 dan 75 tahun (Potter & Perry, 2006). Menurut UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia, definisi lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas, baik pria maupun wanita. Menjadi lansia atau menjadi tua tidak bisa dihindari, karena akan terjadi pada setiap orang.

Lansia akan mengalami perubahan fisiologis, kognitif dan kesehatan psikososial (Potter & Perry, 2006). Perubahan fisik meliputi semua sistem tubuh, yang salah satunya sistem muskuloskeletal. Perubahan yang terjadi pada sistem muskuloskeletal, yaitu: penurunan massa dan tonus otot, serat otot berkurang ukurannya, kekuatan otot berkurang sebanding dengan penurunan massa otot (Potter & Perry, 2006).

Perubahan tersebut dapat mengakibatkan kelambanan dalam gerak, langkah kaki yang pendek, kekuatan otot menurun terutama ekstremitas bawah (Darmojo, 2004). Kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan cenderung mudah goyah, lansia menjadi lambat mengantisipasi bila terjadi gangguan terpeleset, tersandung, mengalami gangguan keseimbangan dan akhirnya berisiko jatuh. Risiko jatuh bisa terjadi pada lansia yang tinggal di rumah bersama keluarga ataupun yang tinggal di panti.

Hasil survei yang dilakukan di Unit Pelayanan Sosial Tresna Werdha (UPSTW) Bangkalan, didapatkan sekitar 63% lansia mengeluh gangguan keseimbangan tubuh akibat kelemahan otot ekstremitas bawah. Dari 65% lansia tersebut sekitar 57% lansia pernah mengalami jatuh. Risiko jatuh pada lansia jika tidak dilakukan pencegahan akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan lansia. Akibat dari jatuh adalah timbulnya cidera kepala dan fraktur, yang jika dibiarkan akan menimbulkan komplikasi seperti timbulnya dekubitus akibat tirah baring yang berkepanjangan, perdarahan, trombosis vena dalam, emboli paru, infeksi pneumonia atau infeksi saluran kencing akibat tirah baring lama, gangguan nutrisi, dan sebagainya (Ariawan, Kuswardhani, dan Aryana, 2010). Olehkarena itu diperlukan upaya pencegahan untuk mengatasi masalah risiko jatuh pada lansia.

Upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah risiko jatuh, salah satunya dengan mengajarkan latihan fisik atau latihan keseimbangan, yang bertujuan untuk meningkatkan keseimbangan tubuh lansia.. Latihan keseimbangan pada lansia diajarkan oleh perawat profesional. Selain itu, perawat juga berperan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, mulai dari pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan, membuat rencana keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi.

Berdasarkan fenomena tersebut, maka penulis tertarik melakukan asuhan keperawatan pada Nenek G dengan masalah risiko jatuh di Wisma Bungur STW Karya Bhakti.

 

C. Tinjauan Pustaka

Pengertian lansia

Menurut UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia, definisi lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas, baik pria maupun wanita. Lansia adalah tahapan dimana individu ada pada usia tertentu, yang dikategorikan sebagai berikut: lansia awal (young old) antara 65 sampai 74 tahun, lansia pertengahan (middle old) antara 75 sampai 84 tahun dan lansia akhir ( oldold) 85 tahun atau lebih (Miller, 2012). Menjadi lansia atau menjadi tua tidak bisa dihindari, karena akan terjadi pada setiap orang.

Pengertian kota

Kota adalah pemukiman yang relatif besar padat dan permanen serta dihuni oleh orang orang yang heterogen kehidupan sosialnya. Akibatnya hubungan sosial menjadi longgar, acuh tak acuh dan tidak bersifat pribadi. Kota adalah istilah untuk lokasi geografis dan densitas populasi yang digambarkan dalam jarak dan waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke pusat kota (Stanhope & Lancaster, 2004 )

 

Keperawatan Kesehatan Perkotaan

Keperawatan kesehatan masyarakat adalah suatu bidang dalam keperawatan kesehatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat, serta mengutamakan pelayanan promotif, preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang utuh melalui pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal sehingga mandiri dalam upaya kesehatannya (Depkes, 2006).

 

D. Metode Penelitian

Data subjektif yang ditemukan antaralain: Nenek G mengatakan tidak kuat berdiri lama (lebih dari 2 menit), ingin bisa berdiri mandiri dan bisa berjalan kembali, mobilisasi menggunakan kursi roda, menggunakan walker hanya untuk latihan berpindah dari duduk ke berdiri dan sebaliknya, pernah jatuh 3x selama di STW, aktivitas sebagian dibantu oleh caregiver.

Data Obyektif yang didapatkan pada Nenek G, antara lain: terlihat beraktivitas menggunakan kursi roda, Nilai Indeks Kazt (tingkat kemandirian): 4, artinya tingkat kemandirian sebagian atau gangguan fungsional sebagian, Nilai BBT (Berg Balance test): 26.

Diagnosa keperawatan yang dirumuskan, ada 3 diagnosa utama yaitu: hambatan mobilisasi fisik, risiko jatuh dan insomnia.

 

E. Kesimpulan

  1. Lansia yang tinggal di Wisma Bungur, memungkinkan mengalami risiko jatuh, karena proses menua, seiring pertambahan usia terjadi penurunan kekuatan otot dan massa tulang, dan terbatasnya rentang gerak sendi. Faktor penyebab lain risiko jatuh adalah lansia tinggal sendiri di kamar, tidak ada yang selalu mengawasi aktivitas dan kegiatannya. Identifikasi lansia yang berisiko jatuh adalah hal yang paling penting. Pengkajian skala jatuh Morse dan test keseimbangan Berg juga perlu dilakukan dalam mengidentifikasi lansia yang berisiko jatuh.
  2. Masalah yang terjadi pada lansia dengan risiko jatuh bisa dirumuskan jika ada faktor risiko seperti ada riwayat jatuh, usia di atas 65 tahun, tinggal sendiri di kamar, prosthesis ekstremitas bawah, penggunaan alat bantu (tongkat, walker), penggunaan kursi roda, penurunan kognitif atau status mental. Sedangkan faktor lingkungan yang meningkatkan risiko jatuh, antaralain: lingkungan yang tidak teratur, ruang dengan pencahayaan yang redup, lantai yang licin, keset atau karpet yang tertekuk, tidak adanya handrail di kamar mandi atau di shower. Faktor lain yaitu medikasi, seperti: penggunaan alkohol, anti ansietas, anti hipertensi, diuretic, obat penenang, dan anti depresi.
  3. Rencana asuhan keperawatan untuk mengatasi risiko jatuh, tidak hanya diperuntukkan pada lansia, tetapi juga pada lingkungan atau orang-orang di sekitar lansia untuk melakukan modifikasi lingkungan pencegahan jatuh, seperti tidak menaru barang-barang di area handrail koridor, meletakkan barang dengan rapi, keset tidak tertekuk, cahaya cukup.

 

Contoh Tesis Keperawatan Kesehatan Mayarakat

  1. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Atresia Ani di Lantai III Utara Rsup Fatmawati
  2. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Dengan Diabetes Melitus di Ruang Teratai 5 Selatan Rsup Fatmawati
  3. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Kasus Fraktur Cruris Sinistra di GPS Lantai 1 Rsup Fatmawati
  4. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Kepada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  5. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Anak Dengan Gizi Buruk di Ruang Teratai Lantai 3 Selatan RSUP Fatmawati
  6. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  7. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  8. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  9. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  10. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
  11. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Luka Bakar Derajat II di RSPAD Gatot Soebroto
  12. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati
  13. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V, RSPAD Gatot Soebroto
  14. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  15. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan Dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo
  16. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kejang Demam di RSUP Fatmawati
  17. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 Rspad Gatot Soebroto
  18. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Post Operasi Laparatomi Apendiktomi Et Causa Apendisitis Perforasi di Rsup Fatmawati Obat
  19. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Sistemik Lupus Eritematosus Di Ruang Rawat Anak Lantai Tiga Selatan Rsup Fatmawati Jakarta
  20. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida Di Ruang Bedah Anak Lantai Iii Utara Rsup Fatmawati

 

Tesis Keperawatan Kesehatan Masyarakat: Praktik Klinik Kesehatan Perkotaan pd Pasien DM

Judul Tesis : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati

 

A. Latar Belakang

Perawatan kaki secara teratur dapat mengurangi penyakit kaki diabetik sebesar 50-60% yang mempengaruhi kualitas hidup (The Centers for Disease Control and Prevention [2009], dalam Heitzman, 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Ariyanti (2012), menunjukkan bahwa perawatan kaki mandiri merupakan variabel yang paling berhubungan dengan resiko ulkus kaki diabetes dan penggunaan alas kaki yang baik mampu mencegah resiko ulkus kaki diabetes. Singh, Armstrong, & Lipsky (2005) menyatakan manajemen perawatan kaki secara mandiri yang tepat meningkat dari 32% menjadi 48% dan ada kecenderungan penurunan amputasi ekstremitas bawah. Sehingga peran perawat sebagai penyuluh sangatlah penting dalam memberikan edukasi kepada penderita DM untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang perawatan kaki.

Berdasar data-data tersebut peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan dan penyuluh sangatlah penting dalam usaha preventif dan promotif bagi penderita DM yang dilakukan salah satunya dengan memberikan edukasi mengenai perawatan DM. Kemauan melakukan perawatan kaki diabetik maka diabetisi harus mempunyai niat yang tinggi karena perawatan kaki diabetik ini harus dilakukan secara teratur jika ingin benar-benar mendapatkan kualitas hidup yang baik. Pemeriksaan dan perawatan kaki diabetes merupakan semua aktivitas khusus (senam kaki, memeriksa dan merawat kaki) yang dilakukan individu yang beresiko sebagai upaya dalam mencegah timbulnya ulkus diabetikum.

 

B. Perumusan Masalah

Komplikasi jangka panjang pada DM mengakibatkan timbulnya gangguan pembuluh darah, gangguan persyarafan, dan infeksi. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya masalah kaki diabetik. Masalah kaki diabetik dapat dimanifestasikan sebagai ulkus, gangren dan artropati Charcot. Masalah kaki diabetik yang timbul dapat dicegah dengan salah satu upaya pemberian edukasi tentang perawatan kaki. Tetapi upaya-upaya tersebut belum optimal. Perawat berperan penting dalam upaya preventif dan promotif untuk meningkatkan pengetahuan diabetisi dengan memberikan edukasi mengenai perawatan kaki diabetik.

 

C. Tinjauan Pustaka

Konsep Kesehatan masyarakat perkotaan

Keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan sebagai upaya dalam pencegahan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan keperawatan langsung (direction) terhadap individu, keluarga dan kelompok didalam konteks komunitas serta perhatian lagsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat dan mempertimbangkan masalah atau isu kesehatan masyarakat yang dapat mempengaruhi individu, keluarga serta masyarakat.

Konsep Diabetes Mellitus

Diabetes Militus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat (Price & Wilson, 2005). Menurut Robbin & Cottrans (2010), diabetes mellitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat. Berdasar kedua definisi tersebut diabetes mellitus terjadi akibat 2 faktor utama yaitu adanya defisiensi insulin dan faktor kedua karena kerja insulin yang tidak adekuat. Pada akhirnya hyperglikemi yang terjadi lama menyebabkan gangguan multi sistem.

 

Perawatan Kaki Diabetik

Pemeriksaan kaki dan pelajaran tentang perawatan kaki penting untuk dilakukan ketika menghadapi pasien yang berisiko tinggi mengalami infeksi kaki. Beberapa ciri resiko tinggi seperti lama penyakit diabetes yang melebihi 10 tahun, usia pasien yang lebih dari 40 tahun, riwayat merokok, penurunan denyut nadi perifer, penurunan sensibilitas, kontrol gula darah yang rendah, kerusakan penglihatan, deformitas anatomis atau bagian yang menonjol (seperti bunion dan kalus), dan riwayat ulkus kaki atau amputasi (Singh, Armstrong, & Lipsky, 2005)

 

D. Metodelogi Penelitian

Edukasi perawatan kaki dilakukan karena saat pengkajian ditemukan keluhan adanya rasa baal dan kebas pada kedua kaki, riwayat penyembuhan luka yang lama, riwayat amputasi plantar digiti 1 dextra, dan klien tidak mengetahui tentang perawatan kaki.

Tindakan amputasi bisa dihindari melalui deteksi dini yang dilakukan dengan cara memeriksakan kaki secara teratur setiap hari.

Pemeriksaan kaki diabetik perlu dilakukan secara menyeluruh, baik sebelum luka muncul maupun setelah terjadi luka, untuk itu sangat penting bagi diabetisi mendapat edukasi mengenai perawatan kaki.

 

E. Kesimpulan

Peningkatan kejadian DM berhubungan dengan peningkatan faktor risiko akibat perubahan gaya hidup seiring dengan perkembangan dunia yang makin modern, pertumbuhan populasi dan peningkatan usia harapan hidup. Diabetes adalah penyebab utama ke-empat kematian secara global dan diabetik neuropati perifer adalah salah satu faktor predisposisi yang paling umum menyebabkan ulserasi kaki dan yang paling sering menyebabkan klien diabetes masuk ruang perawatan rumah sakit.

Penderita diabetes melitus (DM) dalam perjalanan penyakitnya akan mengalami komplikasi ulkus diabetika terutama ulkus kaki diabetika bahkan sampai memerlukan tindakan amputasi. Tindakan amputasi bisa dihindari melalui deteksi dini dengan cara memeriksakan kaki secara teratur setiap hari. Edukasi yang diberikan dalam upaya meningkatkan kemandirian klien baik dalam upaya promotif, preventif, maupun kuratif. Keperawatan kesehatan komunitas merupakan proses keperawatan yang digunakan untuk dapat mencapai tingkat kesehatan yang optimal yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan resosialitatif.

Masalah yang didapatkan pada kasus Tn H.S di dapatkan 5 masalah keperawatan, yaitu 2 masalah keperawatan aktual dan 3 masalah keperawatan resiko. Manajemen perawatan kaki dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan resiko injuri: cedera kaki berhubungan dengan kurang pengetahuan akan perawatan kaki dan neuropati perifer. Manajemen perawatan kaki yang dilakukan mencakup pengkajian kaki diabetik, cara menjaga kebersihan kaki, memeriksa kondisi kaki, mencegah cedera, memotong kuku kaki yang benar, penggunaan alas kaki, dan cara latihan kaki yang baik.

Hasil evaluasi yang didapatkan pada Tn H.S terlihat kaki klien lebih lembab, kulit tidak kering lagi, kaki terlihat bersih. Klien mengatakan nyaman setelah dilakukan perawatan kaki dengan dibersihkan sabun dan diberi lotion. klien mampu menyebutkan dan mendemonstrasikan ulang cara perawatan kaki sederhana dan cara pemeriksaan kaki sendiri. Mampu menyebutkan ulang cara modifikasi mencegah faktor resiko dan cedera yang memperburuk masalah kaki. Klien mampu mendemostrasikan ulang cara latihan pergerakan sendi aktif di ekstremitas saat tirah baring. Evaluasi ini menunjukkan implementasi yang dilakukan diharapkan dapat mencegah terjadinya ulkus diabetik pada penderita DM.

 

Contoh Tesis Keperawatan Kesehatan Mayarakat

  1. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Atresia Ani di Lantai III Utara Rsup Fatmawati
  2. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Dengan Diabetes Melitus di Ruang Teratai 5 Selatan Rsup Fatmawati
  3. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Kasus Fraktur Cruris Sinistra di GPS Lantai 1 Rsup Fatmawati
  4. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Kepada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  5. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Anak Dengan Gizi Buruk di Ruang Teratai Lantai 3 Selatan RSUP Fatmawati
  6. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  7. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  8. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  9. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  10. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
  11. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Luka Bakar Derajat II di RSPAD Gatot Soebroto
  12. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati
  13. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V, RSPAD Gatot Soebroto
  14. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  15. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan Dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo
  16. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kejang Demam di RSUP Fatmawati
  17. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 Rspad Gatot Soebroto
  18. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Post Operasi Laparatomi Apendiktomi Et Causa Apendisitis Perforasi di Rsup Fatmawati Obat
  19. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Sistemik Lupus Eritematosus Di Ruang Rawat Anak Lantai Tiga Selatan Rsup Fatmawati Jakarta
  20. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida Di Ruang Bedah Anak Lantai Iii Utara Rsup Fatmawati

 

Tesis Keperawatan Kesehatan Masyarakat: Praktik Klinik Warga Kota pd Pasien Kolelitiasis

Judul Tesis : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 RSPAD Gatot Soebroto

 

A. Latar Belakang

Adaptasi masyarakat terhadap kondisi dan lingkungan membuat masyarakat mengubah perilaku dan gaya hidup mereka. Salah satu perubahan perilaku dan gaya hidup yang dilakukan oleh masyarakat adalah terkait kebiasaan dalam mengkonsumsi makanan cepat saji, berlemak, dan berkolesterol. Makanan yang berlemak dan berkolesterol dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, seperti penyakit jantung koroner dan kolelitiasis. Kolelitiasis atau dikenal sebagai penyakit batu empedu merupakan penyakit yang di dalamnya terdapat batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu atau pada kedua-duanya. Mowat (1987) dalam Gustawan (2007) mengatakan kolelitiasis adalah material atau kristal tidak berbentuk yang terbentuk dalam kandung empedu.

Komposisi dari batu empedu merupakan campuran dari kolesterol, pigmen empedu, kalsium dan matriks inorganik (Gustawan, 2007). Kandung empedu merupakan sebuah kantung yang terletak di bawah hati yang mengonsentrasikan dan menyimpan empedu sampai dilepaskan ke dalam usus. Fungsi dari empedu sendiri sebagai ekskretorik seperti ekskresi bilirubin dan sebagai pembantu proses pencernaan melalui emulsifikasi lemak oleh garam-garam empedu (Smeltzer dan Bare, 2002). Selain membantu proses pencernaan dan penyerapan lemak, empedu juga berperan dalam membantu metabolisme dan pembuangan limbah dari tubuh, seperti pembuangan hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan

 

B. Perumusan Masalah

Cepatnya urbanisasi populasi masyarakat dari desa ke perkotaan membuat masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi dan lingkungan yang ada. Adaptasi masyarakat terhadap kondisi dan lingkungan membuat mayarakat mengubah perilaku dan gaya hidup mereka. Salah satu perubahan perilaku dan gaya hidup yang dilakukan oleh masyarakat adalah terkait kebiasaan dalam mengkonsumsi makanan cepat saji, berlemak, dan berkolesterol. Makanan berlemak dan berkolesterol merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan batu empedu. Kasus kolelitiasis yang meningkat pada masyarakat di Indonesia dan Afrika dilaporkan karena kebiasaan makan (peningkatan asupan kalori, kolesterol tinggi/lemak) dan perubahan gaya hidup. Di RSPAD Gatot Soebroto, rata-rata pasien yang mengalami kolelitiasis dan dirawat dilantai 5 bedah dari bulan Februari sampai Juni berjumlah empat orang.

 

C. Tinjauan Pustaka

Konsep Dasar KKMP

Perkembangan dan pertumbuhan masyarakat di daerah perkotaan dipengaruhi oleh banyaknya masyarakat yang melakukan urbanisasi dari desa ke kota-kota besar. Cepatnya urbanisasi populasi masyarakat dari desa ke perkotaan membuat masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi dan lingkungan yang ada. Adaptasi masyarakat terhadap kondisi dan lingkungan menjadi salah satu yang menentukan derajat kesehatan masyarakat itu sendiri. Hal ini sesuai dengan hasil Riskesdas tahun 2007 yang menyebutkan bahwa derajat kesehatan masyarakat yang masih belum optimal pada hakikatnya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan genetika. Kalangan ilmuwan umumnya berpendapat bahwa determinan utama dari derajat kesehatan masyarakat tersebut, selain kondisi lingkungan, adalah perilaku masyarakat (Jaji, 2012). Oleh karena itu, untuk mengurangi perilaku masyarakat yang kurang sehat diperlukan informasi kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan mayarakat.

Pengertian Kolelitiasis

Kolelitiasis atau dikenal sebagai penyakit batu empedu merupakan penyakit yang di dalamnya terdapat batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu atau pada kedua-duanya. Mowat (1987) dalam Gustawan (2007) mengatakan kolelitiasis adalah material atau kristal tidak berbentuk yang terbentuk dalam kandung empedu.

Proses Keperawatan Pengkajian

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Lyer et al (1996) dalam Setiadi (2012)). Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan tiga metode, yaitu wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik.

 

D. Laporan Kasus Kelolaan Utama

Ny. S usia 65 tahun masuk ke RSPAD Gatot Soebroto pada tanggal 23 April 2013 dengan diagnosa medis Cholelitiasis Simptomatik.

Diagnosa keperawatan prioritas yang diambil adalah defisiensi pengetahuan terkait diet rendah lemak berhubungan dengan kondisi klien postop laparaskopi kolesistektomi dan terpasang T-tube.

Evaluasi keperawatan dari intervensi pendidikan kesehatan tentang Diet Rendah Lemak yang kedua berdasarkan data subjektif adalah klien mengatakan sudah paham dan mengerti.

 

E. Kesimpulan

Pada kasus kolelitiasis yang dialami oleh klien dapat disimpulkan bahwa penyebab kolelitiasis klien adalah usia klien yang berumur 65 tahun, riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal, dan kebiasaan makan klien yang sering mengkonsumsi makanan berlemak dan bersantan.

Dari hasil data penyebab kolelitiasis yang dialami klien, batu empedu yang mungkin dialami klien adalah batu kolesterol. Batu kolesterol yang terbentuk terjadi ketika konsentrasi kolesterol dalam saluran empedu melebihi kemampuan empedu untuk mengikatnya dalam suatu pelarut, kemudian terbentuk kristal yang selanjutnya membentuk batu. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan sekresi kolesterol oleh hati dan penurunan sintesis asam empedu yang dapat mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap, dan membentuk batu. Cairan empedu yang berfungsi sebagai pembantu proses penyerapan lemak dengan cara emulsifikasi lemak tidak berfungsi secara optimal karena kadar kolesterol yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukannya informasi kepada klien tentang diet rendah lemak untuk mencegah terjadinya hipersaturasi cairan empedu kembali pasca pembedahan.

Berdasarkan hasil pengkajian, klien belum tahu tentang apa yang dimaksud dengan diet rendah lemak, pentingnya diet rendah lemak untuk dirinya, dan makanan apa saja yang mengandung lemak. Oleh karena itu, masalah keperawatan yang muncul pada klien adalah defisiensi pengetahuan. Klien diberikan pendidikan kesehatan terkait diet rendah lemak.

Evaluasi keperawatan setelah diberikan intervensi pendidikan kesehatan tentang diet rendah lemak adalah klien mengerti, paham, dan dapat menyebutkan tentang diet rendah lemak, pentingnya diet rendah lemak untuk dirinya, makanan apa saja yang mengandung lemak, diet atau nutrisi apa saja yang baik untuk klien dan pembuatan menu harian yang dilakukan oleh klien dan keluarga.

Masalah yang ditemui saat pemberian implementasi adalah lingkungan dan kondisi klien yang kurang kondusif untuk diberikan pendidikan kesehatan.

Lingkungan dan kondisi klien ini menyebabkan konsentrasi klien tidak optimal dalam menerima materi yang disampaikan. Oleh karena itu, pentingnya kontinuitas pengulangan materi sebagai pengingat untuk klien terhadap materi yang telah disampaikan.

 

Contoh Tesis Keperawatan Kesehatan Mayarakat

  1. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Atresia Ani di Lantai III Utara Rsup Fatmawati
  2. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Dengan Diabetes Melitus di Ruang Teratai 5 Selatan Rsup Fatmawati
  3. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Kasus Fraktur Cruris Sinistra di GPS Lantai 1 Rsup Fatmawati
  4. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Kepada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  5. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Anak Dengan Gizi Buruk di Ruang Teratai Lantai 3 Selatan RSUP Fatmawati
  6. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  7. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  8. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  9. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  10. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
  11. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Luka Bakar Derajat II di RSPAD Gatot Soebroto
  12. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati
  13. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V, RSPAD Gatot Soebroto
  14. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  15. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan Dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo
  16. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kejang Demam di RSUP Fatmawati
  17. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 Rspad Gatot Soebroto
  18. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Post Operasi Laparatomi Apendiktomi Et Causa Apendisitis Perforasi di Rsup Fatmawati Obat
  19. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Sistemik Lupus Eritematosus Di Ruang Rawat Anak Lantai Tiga Selatan Rsup Fatmawati Jakarta
  20. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida Di Ruang Bedah Anak Lantai Iii Utara Rsup Fatmawati

 

Incoming search terms:

Tesis Keperawatan Kesehatan Masyarakat: Praktik Klinik Perkotaan pd Klien dgn Ibu Hamil

Judul Tesis : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta

 

A. Latar Belakang

Bekerja dengan kondisi hamil dapat meyebabkan risiko terhadap ibu dan janinya. Penelitian yang dilakukan Crisna (2005) menyatakan bahwa perempuan yang bekerja sangat rentan mengalami stres fisik dan mental. Stres terhadap beban kerja di kantor dan dirumah serta aktivitas kantor yang melelahkan menjadi salah satu masalah serius bagi ibu hamil. Loomans et all (2012) mengemukakan ibu hamil yang mengalami masalah psikososial seperti stres akan lebih rentan melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mengalami masalah psikologis. Lebih lanjut penelitian tersebut menyatakan tekanan pekerjaan menjadi salah satu penyebab stres yang dialami oleh ibu hamil.

Berdasarkan hal tersebut di atas, fenomena ibu hamil yang bekerja sangat menarik untuk diberikan asuhan keperawatan yang holistik meliputi biopsikososial dan kultural khususnya dalam keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan (KKMP) mengingat banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan, baik terhadap kesehatan ibu bekerja itu sendiri maupun bayi yang dikandungnya. Konsep asuhan keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan merupakan salah satu bagian integral dari pelayanan kesehatan dimana fokus asuhan keperawatan yang diberikan tidak hanya meliputi lingkup asuhan keperawatan individu namun juga melibatkan lingkungan dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang saling terkait. Pada pemberian asuhan keperawatan KKMP pada ibu hamil bekerja yang dilakukan selama periode kehamilan, persalinan dan menyusui, diharapkan dapat memberikan manfaat dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan bayi.

 

B. Rumusan Masalah

Dewasa ini, kaum perempuan khususnya yang tinggal di perkotaan cenderung untuk berperan ganda baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai perempuan karir. Seiring meningkatnya pertumbuhan dan kepadatan penduduk di daerah perkotaan berdampak pada persaingan ekonomi yang semakin ketat sehingga menyebabkan setiap individu dalam masyarakat perkotaan dituntut untuk lebih berusaha dan bekerja lebih keras dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada akhirnya tidak sedikit perempuan tetap bekerja dalam kondisi hamil demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Semakin meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja akan meningkatkan risiko perempuan terpapar bahaya selama bekerja terutama pada perempuan dengan kehamilan (Kalsum, 2005).

 

C. Tinjauan Pustaka

Ibu Bekerja

Menurut Ihromi (1990) yang dimaksud ibu bekerja adalah wanita yang sudah bersuami dalam kehidupan atau kegiatan sehari-harinya bekerja diluar rumah mencari nafkah baik sebagai pegawai negeri atau swasta. Matlin (1987) mendefinisikan wanita bekerja sebagai wanita yang bekerja diluar rumah, menerima uang untuk apa yang mereka kerjakan atau mendapatkan gaji dari apa yang mereka lakukan.

Ibu Bekerja dan Menyusui

Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan air susu ibu (ASI) dari payudara ibu. Bayi menggunakan refleks menghisap untuk mendapatkan dan menelan susu (Biancuzzo, 2000). Menyusui menjadi sebuah tantangan bagi ibu bekerja. Pada akhirnya, ibu-ibu sering kali berhenti menyusui pada awal kehidupan bayi dan lebih memilih untuk memberikan susu formula pada bayi-bayi mereka. Tempat bekerja memberikan kontribusi kepada penurunan angka menyusui wanita bekerja (Murtagh & Mounton, 2011). Ibu pekerja akan melakukan penyapihan dini kepada bayinya jika tempat bekerja tidak mendukung dan memfasilitasi pekerja perempuan untuk memberikan ASI kepada bayinya.

Pemerahan dan Penyimpanan ASI

Memeras ASI direkomendasikan setiap tiga sampai empat jam saat ibu dan bayi berpisah. Bayi mengosongkan ASI dari payudara ibu dengan gerakan peristaltik lidah yang memberikan tekanan sekaligus perasan pada area sekitar puting (areola) sehingga ASI memancar ke mulut bayi. Bayi menghisap ASI dengan memberikan tekanan pada payudara sekitar 50-220 mmHg. Mesin dapat memberikan tekanan yang lebih besar, sehingga kerap kali menimbulkan rasa tidak nyaman kepada ibu.

 

D. Metodelogi Penelitian

Berbagai masalah keperawatan yang ditemukan pada klien kelolaan pada masa antenatal (ansietas dan kesiapan meningkatkan nutrisi) hingga postnatal (risiko infeksi dan kesiapan meningkatkan pemberian ASI). Menyusui eksklusif seringkali menjadi kendala bagi ibu postnatal yang kembali bekerja. Implementasi yang dilakukan selama 3 kali (1 kali di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan 2 kali kunjungan rumah) pertemuan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu memberikan edukasi dan demonstrasi perawatan payudara, pemerahan dan penyimpanan ASI.

 

E. Kesimpulan

Ibu hamil bekerja merupakan fenomena yang sangat umum terjadi pada masyarakat perkotaan karena mengingat populasi ibu bekerja yang semakin berkembang, khususnya dalam menjalani masa kehamilan. Ibu hamil yang bekerja memiliki risiko mengalami komplikasi kehamilan atau persalinan yang lebih besar dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak bekerja. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus dalam upaya meningkatkan status kesehatan pada pekerja perempuan.

Kasus kehamilan pada ibu bekerja di wilayah perkotaan, misalnya kasus pada klien kelolaan yang menjalani masa kehamilannya sambil bekerja. Klien melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan menjalani proses persalinan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta. Berbagai masalah keperawatan yang ditemukan pada masa antenatal hingga postnatal.

Masalah keperawatan yang ditemukan pada klien saat pengkajian antenatal yaitu ansietas dan kesiapan meningkatkan nutrisi. Masalah keperawatan tersebut diatasi dengan melakukan intervensi keperawatan. Klien diberikan pendidikan kesehatan mengenai nutrisi untuk ibu hamil.

Selain itu, masalah keperawatan yang ditemukan pada klien saat pengkajian postnatal yaitu risiko infeksi dan kesiapan meningkatkan pemberian ASI. Klien diberikan pendidikan kesehatan mengenai perawatan perineum di rumah dan mengenai ASI serta manajemen laktasi. Hasil intervensi selama 3 kali pertemuan termasuk kunjungan rumah didapat klien mampu menyusui bayinya dengan sedikit bantuan dari perawat sehingga masalah keperawatan yang terjadi dapat teratasi.

 

Contoh Tesis Keperawatan Kesehatan Mayarakat

  1. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Atresia Ani di Lantai III Utara Rsup Fatmawati
  2. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Dengan Diabetes Melitus di Ruang Teratai 5 Selatan Rsup Fatmawati
  3. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Kasus Fraktur Cruris Sinistra di GPS Lantai 1 Rsup Fatmawati
  4. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Kepada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  5. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Anak Dengan Gizi Buruk di Ruang Teratai Lantai 3 Selatan RSUP Fatmawati
  6. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  7. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  8. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  9. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  10. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
  11. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Luka Bakar Derajat II di RSPAD Gatot Soebroto
  12. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati
  13. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V, RSPAD Gatot Soebroto
  14. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  15. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan Dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo
  16. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kejang Demam di RSUP Fatmawati
  17. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 Rspad Gatot Soebroto
  18. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Post Operasi Laparatomi Apendiktomi Et Causa Apendisitis Perforasi di Rsup Fatmawati Obat
  19. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Sistemik Lupus Eritematosus Di Ruang Rawat Anak Lantai Tiga Selatan Rsup Fatmawati Jakarta
  20. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida Di Ruang Bedah Anak Lantai Iii Utara Rsup Fatmawati

 

Tesis Keperawatan Kesehatan Masyarakat: Klinik Kesehatan Kota pd Kehamilan Hidrosefalus

Judul Tesis : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo

 

A. Latar Belakang

Blum (1994) menjelaskan bahwa determinan derajat kesehatan meliputi empat faktor, yaitu faktor lingkungan, faktor perilaku, faktor pelayanan kesehatan, dan faktor genetik. Kualitas dan kuantitas setiap faktor dapat muncul secara berbeda-beda dalam mempengaruhi status kesehatan. Lingkungan yang buruk dapat mengakibatkan gangguan kesehatan di masyarakat. Tingginya angka kesakitan penyakit infeksi berbasis lingkungan masih merupakan masalah utama di Indonesia (Soemirat, 2009). Berdasarkan dua pernyataan diatas dapat disimpulkan lingkungan merupakan salah satu penyebab masalah kesehatan perkotaan.

Kondisi lingkungan perkotaan saat ini mengalami kemunduran. Industrialisasi merupakan salah satu faktor yang memicu kemunduran lingkungan perkotaan Dampak industrialisasi terhadap lingkungan perkotaan adalah meningkatnya pencemaran lingkungan di kota, dan urbanisasi. Urbanisasi menyebabkan sempitnya lahan pemukiman yang berdampak terhadap menurunya derajat kesehatan masyarakat perkotaan, serta memburuknya sanitasi lingkungan. (www.depkes.go.id).

 

B. Perumusan Masalah

Kehamilan kongenital merupakan penyebab ke empat kematian bayi di Indonesia. Kehamilan kongenital dapat disebabkan karena faktor genetik, lingkungan, dan gabungan antara genetik dan lingkungan. Hidrosefalus merupakan salah satu dari kelainan kongenital. Lingkungan yang tercemar dan kotor serta kebersihan yang tidak dijaga dapat meningkatkan angka kejadian hidrsosefalus. Oleh sebab itu diperlukan sebuah asuhan keperawatan untuk mengatasinya.

 

C. Tinjauan Pustaka

Deskripsi Mayarakat Perkotaan

Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Menurut Mansyur (2008) masyarakat kota adalah masyarakat yang anggotaanggotanya terdiri dari manusia yang bermacam-macam lapisan atau tingkatan hidup, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain serta mayoritas penduduknya hidup berjenis-jenis usaha yang bersifat non agraris. Menurut Anshor & Sudarsono (2008) masyarakat perkotaan merupakan satuan kehidupan sosial manusia, menempati wilayah yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial-ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis, atau dapat pula diartikan sebagai bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala-gejaia pemusatan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan pedesaan.

Deskripsi Kehamilan dengan Hidrosefalus

Kehamilan dengan hidrosefalus adalah suatu keadaan dimana ibu mengandung janin yang mengalami hidrosefalus. Kehamilan dengan hidrosefalus hanya dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). Pemeriksaan hidrosefalus melalui USG melalui penampang transversal kepala pada berbagai berbagai tingkatan, mulai dari verteks sampai dasar tengkorak. Pemeriksaan akan lebih mudah dilakukan bila kepala berada dalam posisi oksiput melintang (Wiknjosastro, 2009)

Asuhan Keperawatan Hidrosefalus

Kehamilan dengan janin hidrosefalus memerlukan penatalaksanaan khusus. Menurut Bobak, Lowdermilk dan Jensen (2004) kehamilan dengan janin hidrosefalus dapat menyebabkan distosia persalinan. Distosia persalinan adalah persalinan yang panjang, sulit, atau abnormal, yang timbul karena berbagai kondisi yang berhubungan dengan persalinan yang disfungsional, perubahan struktur pelvis, sebab-sebab pada janin, posisi ibu serta respon psikologis ibu. Salah satu penatalaksanaan kehamilan dengan hidrosefalus adalah operasi caesar.

 

D. Metodelogi Penelitian

Hasil analisis pada kasus ibu dengan kehamilan hidrosefalus memiliki kecemasan terhadap bayi yang akan dilahirkan nanti.

Kurang pengetahuan ibu dan keluarga mengenai hidrosefalus merupakan salah satu faktor munculnya kecemasan.

Pemberian pendidikan kesehatan seputar hidrosefalus dan perawatan bayi dengan hidrosefalus dapat menurunkan kecemasan pada ibu dan keluarga.

 

E. Kesimpulan

  1. Lingkungan perkotaan dapat mempengaruhi berbagai kondisi kesehatan, salah satunya adalah kehamilan hidrosefalus.
  2. Nyonya S mengalami kehamilan dengan hidrosefalus. Diagnosa keperawatan yang dialami klien pada saat prenatal adalah ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan terkait kondisi janin suspect hidrosefalus dan juga persalinan seksio sesarea. Diagnosa keperawatan yang dialami klien pada saat postnatal adalah gangguang rasa nyaman nyeri, ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan ibu terkait kondisi kesehatan bayinya, diskontuinitas pemberian ASI, dan perilaku sehat berhubungan dengan pemulihan postnatal.
  3. Kondisi cemas yang dialami klien dapat diatasi dengan cara pemberian pendidikan kesehatan seputar hidrosefalus dan perawatan bayi hidrosefalus.

 

Contoh Tesis Keperawatan Kesehatan Mayarakat

  1. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Atresia Ani di Lantai III Utara Rsup Fatmawati
  2. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Dengan Diabetes Melitus di Ruang Teratai 5 Selatan Rsup Fatmawati
  3. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Kasus Fraktur Cruris Sinistra di GPS Lantai 1 Rsup Fatmawati
  4. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Kepada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  5. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Anak Dengan Gizi Buruk di Ruang Teratai Lantai 3 Selatan RSUP Fatmawati
  6. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  7. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  8. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  9. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  10. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
  11. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Luka Bakar Derajat II di RSPAD Gatot Soebroto
  12. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati
  13. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V, RSPAD Gatot Soebroto
  14. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  15. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan Dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo
  16. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kejang Demam di RSUP Fatmawati
  17. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 Rspad Gatot Soebroto
  18. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Post Operasi Laparatomi Apendiktomi Et Causa Apendisitis Perforasi di Rsup Fatmawati Obat
  19. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Sistemik Lupus Eritematosus Di Ruang Rawat Anak Lantai Tiga Selatan Rsup Fatmawati Jakarta
  20. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida Di Ruang Bedah Anak Lantai Iii Utara Rsup Fatmawati

 

Tesis Keperawatan Kesehatan Masyarakat: Praktik Klinik Kesehatan Kota pd Klien Ibu Hamil

Judul Tesis : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta

 

A. Latar Belakang

Kehidupan modern masyarakat daerah perkotaan dewasa ini menuntut wanita berperan ganda dalam mengurus rumah tangga dan bekerja diluar rumah. Saat wanita menjalani karirnya ia dituntut untuk dapat berperan sebagai seorang istri juga sebagai seorang pekerja. Tidak jarang peran ganda ini akhirnya menimbulkan konflik peran pada wanita karir yang telah berkeluarga. Alteza & Hidayati (2009) menyatakan penyebab munculnya work family conflict pada wanita pekerja bersumber baik dari pekerjaan mapun keluarga. Menurut Ingranurindani (2008) peran ganda sebagai pekerja maupun ibu rumah tangga memberikan tuntutan yang lebih besar dari biasanya. Dalam menjalankan tanggungjawabnya wanita pekerja sangat rentan mengalami masalah psikologis. Stress dapat timbul ketika wanita pekerja menghadapi tekanan yang tinggi dari tempatnya bekerja maupun dari keluarganya yang kemudian tidak diiringi kemampuan untuk menyeimbangkan tugas-tugasnya. Lebih lanjut Alteza & Hidayati mengemukakan dampak negatif work family conflict yang dirasakan oleh wanita pekerja adalah gangguan psikologis dan gangguan kesehatan yang akan berpengaruh terhadap kemampuannya menyelesaikan pekerjaan di kantor maupun dirumah.

Karir bagi seorang wanita menjadi salah satu cara untuk memanfaatkan pengetahuan dan wawasan yang dimiliki serta sarana aktualisasi diri. Siregar (2007) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa alasan utama ibu untuk bekerja adalah memanfaatkan pendidikan yang dimiliki. Sebagian wanita bekerja karena kondisi rumah tangga yang menuntut agar mereka ikut berperan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Basri (2013) menyatakan kecenderungan ibu memilih kembali bekerja setelah melahirkan tidak semata-mata karena perasaan senang bekerja melainkan untuk ikut berperan mendukung ekonomi rumah tangga.

 

B. Perumusan Masalah

Dewasa ini wanita dituntut berperan ganda dalam mengurus rumah tangga dan bekerja diluar rumah. Seiring meningkatnya pertumbuhan dan kepadatan penduduk di daerah perkotaan berdampak pada persaingan ekonomi yang semakin ketat sehingga menyebabkan setiap individu dalam masyarakat perkotaan dituntut untuk lebih berusaha dan bekerja lebih keras dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada kondisi rumah tangga menengah kebawah, bekerja menjadi suatu keharusan sebagai bentuk dukungan finansial secara ekonomi untuk keluarganya. Pada akhirnya tidak sedikit wanita tetap bekerja dalam kondisi hamil demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

 

C. Tinjauan Pustaka

Definisi Masyarakat

Koentjaraningrat (2002) menjabarkan definisi masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas yang sama. Menurut Selo Soemardjan dalam Soekanto (2006) masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama, dan melakukan sebagian besar kegiatannya dalam kelompok tersebut (Horton & Hunt, 2006).

Definisi Bayi Prematur

Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang atau sama dengan 37 minggu tanpa memperhatikan berat badan lahir (Wong, 2009). Menurut Nelson (2000) bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu dihitung mulai hari pertama menstruasi terakhir dan dianggap sebagai periode kehamilan memendek. Prematuritas dan berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan terutama pada bayi dengan berat 1500 gram atau kurang saat lahir. Keduanya berkaitan dengan terjadinya peningkatan morbilitas dan mortalitas neonatus.

Defenisi BBLR

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram (Prawirohardjo, 2007). Klasifikasi bayi berat lahir rendah menurut umur kehamilan (proverawati & Ismawati, 2010), yaitu:

  • Prematuritas murni dengan karakteristik bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa Kehamilan (NKB-SMK).
  • Dismaturitas, dengan karakteristik bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan. Dismatur ini dapat juga disebut Neonatus Kurang Bulan – Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB- KMK), Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NCBKMK), Neonatus Lebih Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NLB-KMK) (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 2002).

 

D. Metode Penelitian

Hasil pengkajian didapatkan klien kurang mendapatkan informasi mengenai perawatan payudara, teknik memerah ASI, dan penyimpanan ASI. Implementasi yang dilakukan selama 3 kali (1 kali di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan 2 kali kunjungan rumah) pertemuan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu melakukan edukasi dan demonstrasi cara perawatan payudara, teknik memerah ASI, dan penyimpanan ASI.

 

E. Kesimpulan

Kehidupan masyarakat daerah perkotaan menuntut wanita ikut berperan dalam mendukung ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan bekerja. Faktor-faktor yang mendorong wanita untuk bekerja adalah kurangnya pendapatan suami dan biaya hidup yang tinggi di daerah perkotan. Hal tersebut juga menjadi alasan bagi wanita hamil untuk tetap bekerja walaupun dalam kondisi hamil. Peran ganda sebagai seorang pekerja maupun ibu rumah tangga memberikan tuntutan yang lebih besar dari biasanya dan menjadi penyebab munculnya work family conflict pada wanita pekerja. Stress terhadap beban kerja di kantor dan di rumah serta aktivitas kantor yang melelahkan menjadi faktor risiko bagi ibu hamil pekerja untuk melahirkan bayi prematur dan BBLR.

Kasus ibu hamil pekerja di daerah perkotaan, misalnya kasus Ny. R (27 tahun) dengan status sebagai karyawan swasta dalam kondisi hamil 32 minggu melahirkan bayi prematur dan berat badan lahir di RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Berbagai masalah keperawatan ditemukan selama periode antenatal hingga postpartum. Masalah keperawatan utama pada klien adalah diskontinuitas pemberian ASI. Fokus intervensi keperawatan dengan masalah diskontinuitas pemberian ASI adalah perawatan payudara, teknik memerah ASI, dan penyimpanan ASI. Hasil pengkajian didapatkan klien kurang mendapatkan informasi mengenai perawatan payudara, teknik memerah ASI, dan penyimpanan ASI.

Perawat melakukan edukasi mengenai perawatan payudara, teknik memerah ASI, dan penyimpanan ASI sebagai implementasi keperawatan yang dilakukan selama klien menjalani perawatan di rumah sakit dan kunjungan rumah yang dilakukan pada periode post partum. Evaluasi yang didapatkan adalah klien dapat memahami informasi mengenai perawatan payudara, teknik memerah ASI, dan penyimpanan ASI. Klien juga dapat memberikan ASI pada bayinya yang masih dirawat di rumah sakit namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Kegagalan pemberian ASI pada klien terjadi karena ASI klien sudah tidak keluar dan ia harus kembali bekerja serta kurangnya pengawasan yang ketat dari perawat untuk masalah tersebut.

 

Contoh Tesis Keperawatan Kesehatan Mayarakat

  1. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Atresia Ani di Lantai III Utara Rsup Fatmawati
  2. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Dengan Diabetes Melitus di Ruang Teratai 5 Selatan Rsup Fatmawati
  3. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Kasus Fraktur Cruris Sinistra di GPS Lantai 1 Rsup Fatmawati
  4. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Kepada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  5. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Anak Dengan Gizi Buruk di Ruang Teratai Lantai 3 Selatan RSUP Fatmawati
  6. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  7. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  8. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  9. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  10. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
  11. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Luka Bakar Derajat II di RSPAD Gatot Soebroto
  12. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati
  13. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V, RSPAD Gatot Soebroto
  14. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  15. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan Dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo
  16. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kejang Demam di RSUP Fatmawati
  17. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 Rspad Gatot Soebroto
  18. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Post Operasi Laparatomi Apendiktomi Et Causa Apendisitis Perforasi di Rsup Fatmawati Obat
  19. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Sistemik Lupus Eritematosus Di Ruang Rawat Anak Lantai Tiga Selatan Rsup Fatmawati Jakarta
  20. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida Di Ruang Bedah Anak Lantai Iii Utara Rsup Fatmawati

 

Tesis Keperawatan Kesehatan Masyarakat: Klinik Kesehatan Kota pd Pasien Cedera Kepala

Judul Tesis : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati

 

A. Latar Belakang

Penyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh cedera kepala melalui beberapa tahapan atau sasaran. Sasaran pasien meliputi mempertahankan bersihan jalan napas, tercapainya keseimbangan cairan dan elektrolit, tercapainya status nutrisi yang adekuat, pencegahan cedera, pencegahan fungsi kognitif, koping keluarga efektif, peningkatan pengetahuan tentang proses rehabilitasi dan pencegahan komplikasi (Smeltzer & Bare, 2006). Ketika mengamati fenomena pasien yang mengalami sakit kepala di ruang rawat anak RSUP Fatmawati, penulis mendapati berbagai reaksi anak seperti mengerang, menangis atau mengeluh serta membentur-benturkan/ memukul kepalanya saat terjadi pusing/ sakit kepala.

Kejadian ini tentu saja meningkatkan kecemasan orang tua dan mengganggu kenyamanan pasien sehingga penulis tertarik menerapkan sebuah intervensi dari tesis yang berjudul “Pengaruh Terapi Bacaan Al-Qur’an Melalui Media Audio terhadap Respon Nyeri Pasien Post Operasi Hernia di RS Cilacap”. Selain karya ilmiah ini mudah diaplikasikan di ruang rawat, tidak membutuhkan banyak dana atau media, dan mudah diaplikasikan oleh orang tua bagi anaknya yang di rawat di RS.

 

B. Perumusan Masalah

Telah terjadi peningkatan angka kejadian kecelakaan di Indonesia, khususnya daerah perkotaan. Dampak dari fenomena ini adalah kejadian cedera kepala pada anak, baik ringan, sedang atau berat. Pada kurun waktu 3 bulan terakhir, terdapar 3,7% pasien cedera kepala di bangsal anak RSUP Fatmawati. Selain itu, terjadi juga peningkatan jumlah kejadian cedera kepala di setiap bulannya ruang rawat anak RSUP Fatmawati. Pada pasien cedera kepala, terdapat gejala yang ditimbulkan dari peningkatan tekanan intra kranial, yaitu sakit kepala atau nyeri pada klien, sehingga dapat diterapkan salah satu intervensi dari sebuah tesis untuk mempengaruhi respon nyeri klien.

 

C. Tujuan Penelitian

Cedera Kepala

Cedera kepala merupakan penyakit neurologik yang serius diantara penyakit neurologik yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (60 % kematian yang disebabkan kecelakaan lalu lintas merupakan akibat cedera kepala). Faktor kontribusi terjadinya kecelakaan seringkali adalah konsumsi alkohol (Ginsberg, 2005). Risiko utama pasien yang mengalami cedera kepala adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau pebengkakan otak sebagai respon terhadap cedera dan menyebabkan peningkatan TIK (Smetlzer & Bare, 2006).

Komplikasi Cedera Kepala

Komplikasi utama trauma kepala adalah perdarahan, infeksi, edema dan herniasi melalui tontronium. Infeksi selalu menjadi ancaman yang berbahaya untuk cedera terbukja dan edema dihubungkan dengan trauma jaringan. Uptur vaskular dapat terjadi sekalipun pada cedera ringan; keadaan ini menyebabkan perdarahan di antara tulang tengkorak dan permukaan serebral. Kompesi otak di bawahnya akan menghasilkan efek yang dapat menimbulkan kematian dengan cepat atau keadaan semakin memburuk (Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz, 2009).

Asuhan Keperawatan Cedera

Kepala pada Anak Asuhan keperawatan pada anak yang mengalami cedera kepala harus dilakukan secara holistik. Proses keperawatan dimulai dari pengkajian sampai evaluasi keperawatan. Selain itu, dalam memberikan intervensi keparawatan, ada tahapan proses pengkajiandan priorotas diagnosa yang harus diselesaikan secara berurutan (Smeltzer & Bare, 2006).

 

D. Metodelogi Penelitian

Metode dalam mengurangi nyeri menurut Twycross, Moriarty, & Betts (1998) dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu counterirritation dan dengan metode psikologi.

Penggunaan media audio telah dibuktikan sebagai salah satu teknik distraksi yang ampuh dalam menurunkan nyeri pada anak.

 

E. Kesimpulan

Gambaran umum anak yang mengalami cedera kepala memperlihatkan tanda-tanda gelisah, mual muntah, dan penurunan kesadaran. Anak yang mengalami cedera kepala mengalami berbagai masalah keperawatan, seperti masalah gangguan perfusi jaringan serebral, gangguan nutrisi, cairan ataupun memiliki risiko cedera.

Pemberian asuhan yang sesuai dengan prosedur, bertahap dan berkelanjutan mampu menyebabkan peningkatan kondisi anak ke arah yang lebih baik. Terdapat beberapa kondisi yang harus diperhatikan pada anak yang mengalami cedera kepala, yaitu terjadinya peningkatan tekanan intra kranial. Peningkatan tekanan intra kranial ini ditandai dengan adanya nyeri kepala pada anak. Respon nyeri yang terjadi pada anak tidak bisa diabaikankarena akan meningkatkan stres hospitalisasi pada anak.

Untuk itu perlu adanya intervensi yang tepat dalam mengatasi nyeri yang timbul, salah satunya dengan terapi Bacaan Al-Qur‟an. Terapi ini telah diaplikasikan pada pasien anak cedera kepala. Hasilnyamenunjukkan adanya pengaruh TBA terhadap respon nyeri anak, baik dari tanda-tanda vital dan keadaan umum anak. Terapi ini direkomendasikan pada perawat dan orang tua karena mudah dan dapat dilakukan oleh keluarga. Keluarga juga berperan penting dalam meningkatkan kondisi kesehatan anak. Keterlibatan keluarga dalam proses perawatan serta peningkatan kualitas interaksi antara orang tua dan anak menjadi salah satu cara dalam meningkatkan proses penyembuhan anak.

 

Contoh Tesis Keperawatan Kesehatan Mayarakat

  1. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Atresia Ani di Lantai III Utara Rsup Fatmawati
  2. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Dengan Diabetes Melitus di Ruang Teratai 5 Selatan Rsup Fatmawati
  3. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Kasus Fraktur Cruris Sinistra di GPS Lantai 1 Rsup Fatmawati
  4. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Kepada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  5. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Anak Dengan Gizi Buruk di Ruang Teratai Lantai 3 Selatan RSUP Fatmawati
  6. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  7. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  8. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  9. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  10. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
  11. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Luka Bakar Derajat II di RSPAD Gatot Soebroto
  12. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati
  13. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V, RSPAD Gatot Soebroto
  14. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  15. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan Dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo
  16. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kejang Demam di RSUP Fatmawati
  17. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 Rspad Gatot Soebroto
  18. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Post Operasi Laparatomi Apendiktomi Et Causa Apendisitis Perforasi di Rsup Fatmawati Obat
  19. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Sistemik Lupus Eritematosus Di Ruang Rawat Anak Lantai Tiga Selatan Rsup Fatmawati Jakarta
  20. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida Di Ruang Bedah Anak Lantai Iii Utara Rsup Fatmawati

 

Tesis Keperawatan Kesehatan Masyarakat: Praktik Kesehatan Warga Kota pd Pasien Fraktur

Judul Tesis : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V RSPAD Gatot Soebroto

 

A. Latar Belakang

Kehidupan perkotaan memberikan dampak pada kesehatan masyarakat kota pada umumnya. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor di area perkotaan merupakan ancaman tersendiri bagi kesehatan. Kendaraan bermotor di Indonesia meningkat 8-12% per tahun (Kurniasih, 2011). Seiring meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di perkotaan, jumlah kecelakaan kendaraan bermotor pun meningkat tajam. Badan pusat statistik mencatat, jumlah kecelakaan tahun 2010 sebanyak 66.488 dan naik pada tahun 2011 menjadi 108.696 kasus kecelakaan. Sedangkan data dari badan kesehatan dunia (WHO) didapatkan bahwa lebih dari 7 juta orang meninggal akibat insiden kecelakaan dan sekitar 2 juta orang mengalami kecacatan fisik (WHO, 2005).

Usman (2012) menyebutkan bahwa hasil data Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2011, di Indonesia terjadinya fraktur yang disebabkan oleh cedera antara lain karena jatuh, kecelakaan lalu lintas dan trauma tajam / tumpul. Dari 45.987 peristiwa terjatuh yang mengalami fraktur sebanyak 1.775 orang (3,8 %), dari 20.829 kasus kecelakaan lalu lintas, mengalami fraktur sebanyak 1.770 orang (8,5 %), dari 14.127 trauma benda tajam / tumpul, yang mengalami fraktur sebanyak 236 orang (1,7 %) (Depkes 2009). Dari data Depkes tahun 2005 di Kalimantan Timur korban fraktur karena kecelakaan sekitar 10,5%.

 

B. Perumusan Masalah

Peningkatan jumlah kendaraan bermotor di area perkotaan menyebabkan peningkatan kejadian kecelakaan bermotor. Salah satu dampak yang muncul karena kecelakaan bermotor adalah Fraktur atau patah tulang. Salah satu jenis fraktur yang paling banyak terjadi adalah fraktur ekstremitas bawah. Fraktur dapat mengakibatkan perubahan pada bagian yang terkena cedera. Immobilisasi yang lama akan mempengaruhi mobilitas fisik. Pencegahan komplikasi akibat immobilisasi yang lama membutuhkan perhatian dari perawat khususnya perawat bedah untuk melakukan asuhan keperawatan mengenai sistem orthopedi khususnya dengan tindakan pemberian latihan rentang pergerakan sendi untuk mengurangi risiko komplikasi immobilisasi dan menjaga fleksibilitas, kekuatan dan stabilitas klien.

 

C. Tinjauan Pustaka

Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan

Masyarakat perkotaan memiliki ciri dan karakter tersendiri. Hal ini membuat masyarakat perkotaan memerlukan perhatian tersendiri dalam perawatan kesehatannya. Sehingga dibuatlah domain tersendiri yaitu keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan. Kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, keberagamana strata sosial ekonomi, dan kecenderungan materialistik yang tinggi (Bintarto, 2004).

Konsep dasar Fraktur Tibia

Fraktur memiliki banyak pengertian dari berbagai referensi. Fraktur atau patah tulang diartikan dengan terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer & Bare, 2002). Sumber lain menyatakan fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur biasanya disebabkan oleh trauma atau tegangan fisik (Mansjoer ,2002).

Latihan Rentang Pergerakkan Sendi

Latihan rentang gerak dapat aktif (klien menggerakan semua sendinya dengan rentang gerak tanpa bantuan), pasif (klien tidak dapat menggerakan setiap sendi dengan rentang gerak), atau berada di antaranya. Rencana keperawatan harus meliputi menggerakan ekstremitas klien dengan rentang gerak penuh. Latihan rentang gerak pasif harus dimulai segera pada kemampuan klien menggerakan ekstremitas atau sendi menghilang. Pergerakan dilakukan dengan perlahan dan lembut dan tidak menyebabkan nyeri.

 

D. Metodelogi Penelitian

Setelah dilakukan pengkajian keperawatan, data-data hasil pengkajian keperawatan dianalisis untuk merumuskan masalah keperawatan.

Data-data didapatkan dari anamnesis, pengkajian fisik maupun diagnostik. Analisis data yang dijabarkan berikut ini berdasarkan pengkajian klien pada tanggal 25 Mei 2013.

Saat pengkajian dilakukan, klien mengatakan kaki kanan nyeri berdenyut, saat istirahat nyeri masih dirasakan skala 3, saat digerakkan nyeri dirasakan skala 6.

 

E. Kesimpulan

Berdasarkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada klien dengan Fraktur Tibia Dextra didapatkan beberapa simpulan. Faktor risiko yang memungkinkan Nn N mengalami fraktur tibia Nn N meliputi usia dan gaya hidup yang terpapar dengan kendaraan bermotor. Fraktur Tibia Nn N disebabkan karena kecelakaan lalu lintas akibat kendaraan bermotor di area perkotaan. Masalah keperawatan yang muncul pada Nn N akibat masalah kesehatan yang dialami adalah nyeri, ansietas dan hambatan mobilitas fisik. Implementasi yang sudah dilakukan meliputi latihan mobilisasi dengan latihan pergerakan sendi, manajemen nyeri dan pendidikan kesehatan dari pre operasi hingga perencanaan pulang. Latihan pergerakan sendi setelah operasi ORIF pada Nn N terbukti mampu menghindarkan komplikasi terkait immobilisasi yang ditandai dengan meningkatnya luas gerak sendi (LGS) fleksi lutut kanan klien dari 27o menjadi 35o.

 

Contoh Tesis Keperawatan Kesehatan Mayarakat

  1. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Atresia Ani di Lantai III Utara Rsup Fatmawati
  2. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Dengan Diabetes Melitus di Ruang Teratai 5 Selatan Rsup Fatmawati
  3. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Kasus Fraktur Cruris Sinistra di GPS Lantai 1 Rsup Fatmawati
  4. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Kepada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  5. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Anak Dengan Gizi Buruk di Ruang Teratai Lantai 3 Selatan RSUP Fatmawati
  6. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  7. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  8. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  9. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  10. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
  11. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Luka Bakar Derajat II di RSPAD Gatot Soebroto
  12. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati
  13. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V, RSPAD Gatot Soebroto
  14. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  15. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan Dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo
  16. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kejang Demam di RSUP Fatmawati
  17. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 Rspad Gatot Soebroto
  18. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Post Operasi Laparatomi Apendiktomi Et Causa Apendisitis Perforasi di Rsup Fatmawati Obat
  19. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Sistemik Lupus Eritematosus Di Ruang Rawat Anak Lantai Tiga Selatan Rsup Fatmawati Jakarta
  20. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida Di Ruang Bedah Anak Lantai Iii Utara Rsup Fatmawati

 

Tesis Keperawatan Kesehatan Masyarakat: Klinik Kesehatan Kota pd Pasien Kehamilan dgn SIDA

Judul Tesis : Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) di RSUPN Cipto Mangunkusumo

 

A. Latar Belakang

Pemerintah Indonesia telah menerapkan Program Prevention of Mother to Child Transmission (PMTCT) untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal akibat HIV/AIDS pada masa perinatal. Ada empat elemen program ini diantaranya adalah memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV positif ke anak saat persalinan (Komisi Penanggulangan AIDS, 2010). Cara persalinan harus berdasarkan pedoman yang sudah ditentukan dengan memperhatikan usia kehamilan, kondisi kesehatan ibu dan janin, jumlah virus di dalam tubuh, pengobatan yang didapatkan ibu selama kehamilan (American College of Obstetricians and Gynecologist, 2000).

Ibu hamil yang menderita HIV/AIDS jumlahnya sekitar 2,5% dari mereka yang positif menderita HIV/AIDS. Bayi yang dikandung seorang ibu HIV positif, kemungkinan besar akan tertular baik selama kehamilan, persalinan, maupun setelah persalinan. Terdapat beberapa faktor penting yang memegang peranan dalam proses penularan HIV, yang pertama adalah faktor maternal (faktor ibu), kedua faktor bayi yang dikandung, dan ketiga cara penularannya. Faktor yang paling utama mempengaruhi resiko penularan HIV dari ibu ke bayi adalah kadar virus HIV di dalam darah. Faktor bayi yang mempengaruhi penularan HIV adalah usia kandungan saat bayi dilahirkan dan berat bayi saat lahir. Faktor lain yang mempengaruhi penularan HIV dari ibu ke anak adalah cara penularannya, dimana sebagian besar terjadi saat persalinan berlangsung. Cara persalinan ibu hamil HIV positif yang lebih dianjurkan adalah dengan operasi, sebab dengan persalinan melalui operasi akan meminimalkan kontak kulit dan mukosa membran bayi dengan serviks (leher rahim) dan vagina, sehingga semakin kecil resiko penularan (Mulyana,2008).

 

B. Rumusan Masalah

Jumlah kasus ibu hamil dan melahirkan dengan HIV dari tahun ke tahun semakin meningkat baik di dunia maupun di Indonesia. Resiko kematian, berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur adalah kondisi yang terjadi pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi HIV. Bayi berat lahir rendah masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di beberapa negara, termasuk Indonesia. Tingginya angka kejadian BBLR akan berdampak pada meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Pada prinsipnya perawatan bayi prematur mencakup pemenuhan kebutuhan termoregulasi, kebutuhan nutrisi, dan pencegahan infeksi. Perawatan bayi prematur oleh ibu sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diperoleh ibu dan keluarga dalam melakukan perawatan bayi prematur, hal ini menjadi alasan pentingnya ibu dengan SIDA dan keluarga mendapat asuhan keperawatan.

 

C. Tinjauan Pustaka

Konsep Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan

Penyebaran HIV/AIDS terutama di kota metropolitan seperti Jakarta terjadi akibat adanya mobilitas penduduk. Perpindahan penduduk sering melibatkan pemisahan antar suami dengan istri untuk jangka waktu lama sehingga sang suami menggunakan jasa pekerja seks komersial selama terpisah dari istri. Mobilitas itu sendiri tidak dapat disalahkan, namun “lingkungan” di sekitar penduduk yang berpindah tersebut membuat mereka menjadi rentan (Chantavanich, Beesey & Paul, 2000; Skeldon, 2000).

Kehamilan dengan SIDA

Cara terbaik untuk mengetahui seseorang terdeteksi HIV yaitu dengan melakukan pemeriksaan test HIV karena pada stadium awal pasien tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui apakah seseorang sudah terinfeksi HIV yaitu pemeriksaan antibodi HIV. Dalam kebijakan operasional Kementrian Kesehatan RI tes HIV yang digunakan adalah Rapid Test karena memiliki keuntungan lebih cepat memberikan hasil, sensitivitas dan spesifiditas diatas 98%. Perkembangan virus HIV dipantau dengan pemeriksaan CD4 dalam tubuh penderita (Kemenkes RI, 2011).

Pengobatan HIV Pada Ibu Bersalin

Selama ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV & AIDS, obatobatan Antiretroviral (ARV) hanya berfungsi menekan kadar HIV dalam darah (viral load) dengan cara menghentikan proses penggandaan diri virus sehingga tidak menginfeksi sel-sel baru (Yayasan Spiritia, 2009). Menurut Kemenkes RI (2011) tujuan terapi ARV: mengurangi laju penularan HIV di masyarakat, menurunkan angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan HIV, memperbaiki kualitas hidup ODHA, memulihkan dan memelihara fungsi kekebalan tubuh dan menekan replikasi virus secara maksimal. Pada ibu yang hamil dan akan melahirkan, pengobatan bertujuan untuk mempertahankan kesehatan ibu dan mencegah penularan HIV ke janin.

Analisa Kasus

Populasi HIV/AIDS dikategorikan sebagai population at risk diartikan sebagai kumpulan individu-individu atau kelompok yang memiliki aktivitas atau karakteristik meskipun sedikit atau kecil yang dapat menyebabkan peningkatan resiko atau potensial terjadinya penyakit, injuri, atau masalah kesehatan (Stanhope & Lanchaster, 2004; Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999).

Beberapa faktor resiko dapat berkontribusi terhadap munculnya kondisi sehat atau tidak sehat dan tidak setiap orang yang terpapar dengan peristiwa yang sama akan memiliki akibat yang sama.

 

E. Kesimpulan

  1. Masalah perkotaan yang dapat terjadi penularan HIV yaitu adanya mobilitas penduduk, urbanisasi dan mayoritas penduduk didominasi oleh para pemukim laki-laki sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan perbandingan penduduk perempuan dan laki-laki dan mengarah pada marak dan menyebarnya industri seks komersial yang menjadi titik persebaran penyakit menular. Wanita sangat bersiko terkena HIV. Jumlah pasien HIV wanita semakin meningkat karena masalah rumah tangga dan kehamilan. Ibu hamil dengan SIDA harus mendapat PMTCT.
  2. Asuhan keperawatan Ibu hamil dengan SIDA dilakukan secara komprehensif yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencaan, implementasi dan evaluasi. Pengkajian dilakukan selama ibu berada dalam perawatan ibu nifas di RSCM sampai pulang ke rumah. Pengkajian tentang status obstetrik, pemeriksaan fisik ibu nifas dan pengobatan ARV selama kehamilan dan perawatan bayi di rumah.
  3. Diagnosa keperawatan postnatal yaitu nyeri akut berhubungan dengan efek involusi uterus, diskontinuitas pemberian ASI berhubungan dengan penyakit SIDA pada Ibu A dan kesiapan meningkatkan kemampuan menjadi orang tua berhubungan dengan perawatan bayi prematur di rumah.

 

Contoh Tesis Keperawatan Kesehatan Mayarakat

  1. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Atresia Ani di Lantai III Utara Rsup Fatmawati
  2. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Dengan Diabetes Melitus di Ruang Teratai 5 Selatan Rsup Fatmawati
  3. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Kasus Fraktur Cruris Sinistra di GPS Lantai 1 Rsup Fatmawati
  4. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Kepada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  5. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Anak Dengan Gizi Buruk di Ruang Teratai Lantai 3 Selatan RSUP Fatmawati
  6. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  7. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  8. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  9. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  10. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
  11. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Luka Bakar Derajat II di RSPAD Gatot Soebroto
  12. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati
  13. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V, RSPAD Gatot Soebroto
  14. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  15. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan Dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo
  16. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kejang Demam di RSUP Fatmawati
  17. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 Rspad Gatot Soebroto
  18. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Post Operasi Laparatomi Apendiktomi Et Causa Apendisitis Perforasi di Rsup Fatmawati Obat
  19. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Sistemik Lupus Eritematosus Di Ruang Rawat Anak Lantai Tiga Selatan Rsup Fatmawati Jakarta
  20. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida Di Ruang Bedah Anak Lantai Iii Utara Rsup Fatmawati

 

Tesis Keperawatan Kesehatan Masyarakat: Klinik Kesehatan Kota pd Kehamilan dgn SIDA

Judul Tesis: Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo

 

A. Latar Belakang

Kehamilan pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) atau Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) merupakan suatu fenomena kesehatan masyarakat perkotaan yang mulai banyak ditemukan terutama di kota besar seperti Jakarta. Kehamilan dengan SIDA (HIV/AIDS) ini akan melahirkan suatu praktik baru dalam dunia kesehatan dan keperawatan. Penatalaksanaan keperawatan maternitas akan dituntut untuk lebih berkembang dan melahirkan inovasi yang spesifik terhadap masalah perkotaan kehamilan dengan SIDA. Kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan maternitas pada kehamilan dengan SIDA dapat menjadi berbeda dan unik karena adanya beberapa kebutuhan khusus yang membedakannya dari kehamilan lain pada umumnya.

Data yang diperoleh dari UNAIDS tahun 2008 juga menunjukkan bahwa 35 % ODHA di Asia adalah perempuan. Angka ini memiliki kenaikan yang signifikan dibandingkan tahun 1990 yang hanya 17 %. Selain itu, diperkirakan terdapat 50 juta perempuan di Asia yang berisiko terinfeksi HIV dari pasangan seks mereka. Data lain menyebutkan bahwa diantara 1,7 juta perempuan Asia yang sudah tertular HIV, 90 % tertular dari suami atau pasangan tetap mereka.

 

B. Rumusan Masalah

Angka kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Akut atau SIDA di Indonesia telah mengalami peningkatan dibandingkan beberapa tahun belakangan terutama di daerah perkotaan. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan gaya hidup masyarakat perkotaan yang meningkatkan risiko penularan HIV/AIDS yaitu diantaranya perilaku seks bebas, bergonta-ganti pasangan, dan penggunaan narkoba jarum suntik di kalangan masyarakat perkotaan yang jumlahnya semakin meningkat. Kehamilan dengan SIDA akan menimbulkan stressor tersendiri dan berbagai risiko baik pada ibu maupun bayinya, sehingga diperlukan sebuah asuhan keperawatan maternitas yang khusus dan spesifik untuk mengatasinya.

 

C. Tinjauan Pustaka

Teori dan Konsep Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan

Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Kawasan perkotaan (urban) dalam UU Penataan ruang No.26 tahun 2007 adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Masyarakat perkotaan merupakan suatu komunitas yang tinggal di perkotaan dengan semua keadaan dan kondisi yang ada di lingkungan kota. Jumlah masyarakat perkotaan bertambah setiap tahunnya dipengaruhi oleh jalur urbanisasi.

Kehamilan dengan SIDA

Kehamilan dengan HIV AIDS atau biasa juga disebut dengan kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (SIDA) akan menimbulkan respon stress bagi ibu maupun pasangan. Hal ini karena adanya ancaman dari kehamilan berisiko yang akan dihadapi selama masa kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan. Beberapa perempuan dengan kehamilan SIDA ditemukan melakukan usaha untuk menggugurkan kandungan setelah tahu bahwa mereka hamil.

Periode Prenatal pada Kehamilan dengan SIDA

Insiden HIV pada wanita hamil diperkirakan meningkat. Riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium penting untuk menjamin ibu dan bayi akan mendapatkan perawatan yang tepat. Individu yang berada pada kategori infeksi HIV meliputi wanita dan pasangan dari daerah geografis HIV umum terjadi, wanita dan pasangan yang menggunakan obat-obatan intravena, wanita dengan PMS persisten dan PMS rekuren, wanita yang menerima transfusi antara tahun 1987-1985, dan setiap wanita yang yakin bahwa ia mungkin terpapar HIV. Informasi dan pemeriksaan HIV harus dilakukan pada wanita yang berisiko tinggi pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan prenatal (Bobak, 2008).

 

D. Laporan Kasus Kelolaan Utama

Ny. FH (32th) dengan diagnosa medis SIDA on ARV JPKHT G4P3A0H37- 38, direncanakan operasi caesar dalam 2 minggu ke depan (pada pengkajian 9 Mei 2013).

Pengkajian yang dilakukan meliputi pengkajian awal, pengkajian prenatal, dan pengkajian postnatal.

 

E. Kesimpulan

Asuhan keperawatan telah dilakukan dengan lima tahap. Tahap pertama adalah pengkajian. Hasil pengkajian awal pada Ny. FH menggambarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap masalah cemas atau ansietas yang berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi selama masa kehamilan. Hal yang menjadi penyebab utama kecemasan ialah masalah kurangnya informasi yang diperlukan klien dalam menghadapi kondisi kehamilannya dari periode prenatal sampai postnatal. Berdasarkan data-data yang didapat dari hasil pengkajian keseluruhan dimulai dari tahap prenatal sampai postnatal, didapatkan empat masalah keperawatan keluarga pada ibu FH, yaitu 1) cemas/ansietas; 2) kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi; 3) kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang perawatan postnatal pasca operasi caesar; 4) kesiapan meingkatkan pengetahuan tentang pemberian PASI yang baik dan benar. Rencana intervensi yang disusun untuk menyelesaikan masalah keperawatan yang ditemukan dilakukan secara bertahap mulai dari periode prenatal sampai postnatal. Salah satu intervensi yang dilakukan ialah edukasi/konseling mengenai pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi yang dilakukan pada tahap prenatal dan postnatal kepada klien. Dalam melakukan intervensi inovvasi tersebut, mahasiswa melibatkan keluarga klien seperti suami.

Hasil evaluasi intervensi keperawatan yang telah dilakukan terhadap Ny.F didapatkan hasil bahwa masalah keperawatan cemas dapat teratasi dan kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang perawatan postnatal pasca operasi caesar dapat teratasi sebagian. Sementara itu, masalah kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi dan kesiapan meningkatkan pengetahuan tentang cara pemberian PASI dengan bai dan benar dapat teratasi.

 

Contoh Tesis Keperawatan Kesehatan Mayarakat

  1. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Atresia Ani di Lantai III Utara Rsup Fatmawati
  2. Analisis Praktek Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Dengan Diabetes Melitus di Ruang Teratai 5 Selatan Rsup Fatmawati
  3. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Kasus Fraktur Cruris Sinistra di GPS Lantai 1 Rsup Fatmawati
  4. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Kepada Nenek TJ dengan Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  5. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Anak Dengan Gizi Buruk di Ruang Teratai Lantai 3 Selatan RSUP Fatmawati
  6. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  7. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien dengan Kehamilan Hidrosefalus di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  8. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Klien Ibu Hamil Pekerja di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta
  9. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Nenek G dengan Masalah Risiko Jatuh di Wisma Bungur Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
  10. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
  11. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Luka Bakar Derajat II di RSPAD Gatot Soebroto
  12. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien DM di Irna B Lantai 5 Selatan RSUP Fatmawati
  13. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Fraktur di Ruang Bedah Lantai V, RSPAD Gatot Soebroto
  14. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN Cipto Mangunkusumo
  15. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kehamilan Dengan Sindroma Defisiensi Imun Akut (Sida) di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo
  16. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kejang Demam di RSUP Fatmawati
  17. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di Ruang Bedah Lantai 5 Rspad Gatot Soebroto
  18. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Post Operasi Laparatomi Apendiktomi Et Causa Apendisitis Perforasi di Rsup Fatmawati Obat
  19. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Sistemik Lupus Eritematosus Di Ruang Rawat Anak Lantai Tiga Selatan Rsup Fatmawati Jakarta
  20. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Pada Pasien Spina Bifida Di Ruang Bedah Anak Lantai Iii Utara Rsup Fatmawati