Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Realistik pada Materi Segi Empat

Judul Skripsi : Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Realistik pada Materi Segi Empat Ditinjau dari Aktivitas Belajar Siswa Kelas VII SMP

 

A. Latar Belakang Masalah

Proses pembelajaran matematika realistik menggunakan masalah kontekstual sebagai titik awal dalam belajar matematika. Masalah kontekstual yang dimaksud adalah masalah-masalah yang nyata dan konkrit yang dekat dengan lingkungan siswa dan dapat diamati atau dipahami oleh siswa dengan membayangkan. Dalam hal ini siswa melakukan aktivitas matematika horisontal, yaitu siswa mengorganisasikan masalah dan mencoba mengidentifikasi aspek matematika yang ada pada masalah tersebut. Siswa bebas mendeskripsikan, dan menyelesaikan masalah konstektual dengan caranya sendiri dengan pengetahuan awal yang dimiliki, kemudian dengan atau tanpa bantuan guru menggunakan matematika vertikal (melalui abstraksi dan formulasi), sehingga tiba pada tahap pembentukan konsep. Sehingga penggunaan pendekatan matematika realistik diduga akan meningkatkan kemampuan akademik siswa yaitu prestasi belajar siswa.

Rendahnya prestasi belajar matematika siswa mungkin tidak hanya dipengaruhi pendekatan pembelajaran dalam proses pembelajaran, tetapi mungkin dipengaruhi oleh aktivitas belajar siswa dalam mempelajari pelajaran matematika. Tingginya aktivitas belajar matematika siswa mungkin dapat berakibat pada tingginya prestasi belajar matematika, begitu pula sebaliknya aktivitas belajar matematika siswa yang rendah dimungkinkan dapat berakibat pada rendahnya prestasi belajar matematika siswa. Dengan demikian aktivitas belajar pada saat belajar matematika mungkin dapat dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika.

 

B. Perumusan Masalah Skripsi

  1. Apakah prestasi belajar matematika siswa dalam pembelajaran matematika realistik lebih baik dibandingkan pembelajaran dengan pendekatan mekanistik pada pokok bahasan segi empat?
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang dan rendah, serta apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar rendah?
  3. Apakah pembelajaran matematika realistik menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan pembelajaran dengan pendekatan mekanistik pada siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang dan tinggi, serta apakah pembelajaran matematika realistik maupun pembelajaran dengan pendekatan mekanistik pada siswa yang mempunyai aktivitas belajar rendah tidak ada perbedaan prestasi belajar matematikanya?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa dalam pembelajaran matematika realistik lebih baik dibandingkan pembelajaran dengan pendekatan mekanistik pada pokok bahasan segi empat.
  2. Untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang dan rendah, serta apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar rendah.

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika siswa dalam pembelajaran matematika realistik lebih baik dibandingkan pembelajaran dengan pendekatan mekanistik pada pokok bahasan segi empat.

2. Prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang dan rendah, sedangkan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang sama dengan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai aktivitas belajar rendah.

3. Pembelajaran matematika realistik menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan pembelajaran dengan pendekatan mekanistik untuk setiap kategori aktivitas belajar yang dimiliki siswa.

Kooperatif NHT Modifikasi pada Pembelajaran Matematika dari Aktivitas Belajar Siswa

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together Modifikasi pada Pembelajaran Matematika Ditinjau dari Aktivitas Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri di Gunung Kidul

 

A. Latar Belakang Skripsi

Memodifikasi model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together adalah pada saat diskusi kelompok ada kemungkinan suatu kelompok hanya dapat menjawab sebagian tugas yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu dilakukan pembagian tugas untuk menjawab LKS atau soal yang diberikan oleh guru. Misalkan siswa nomor satu bertugas menjawab soal nomor 1. Siswa nomor dua mengerjakan soal nomor 2 dan siswa nomor tiga mengerjakan soal nomor 3 dan seterusnya, sehingga modifikasi langkah yang kedua (guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya) menjadi (penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomor terhadap tugas yang berangkai).

Siswa dengan nomor yang sama dari kelompok yang berbeda akan menjawab tugas atau soal yang sama dari guru. Pada kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka jika mereka membentuk kelompok diskusi yang baru dengan nomor yang sama. Sehingga modifikasi sintak yang ketiga (kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya) menjadi (guru menyuruh siswa kerja sama antar kelompok kemudian kembali pada kelompoknya dan mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya).

 

B. Rumusan Masalah

  1. Manakah yang lebih baik prestasi belajar siswa yang diberikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together Modifikasi atau prestasi belajar siswa yang diberikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together?
  2. Manakah yang lebih baik prestasi belajarnya, siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi, sedang atau rendah?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui manakah yang lebih baik prestasi belajar siswa yang diberikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together Modifikasi atau prestasi belajar siswa yang diberikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together.
  2. Untuk mengetahui manakah yang lebih baik prestasi belajarnya, siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi, sedang atau rendah.

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar pada siswa yang diberikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together Modifikasi lebih baik jika dibandingkan dengan prestasi belajar pada siswa yang diberikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together.

2. Siswa yang mempunyai aktivitas belajar lebih tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik dari pada siswa yang mempunyai aktivitas belajar lebih rendah. Hal ini dapat dijabarkan sebagai berikut: Prestasi belajar siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi lebih baik jika dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang memiliki aktivitas belajar sedang. Prestasi belajar siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi lebih baik jika dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang memiliki aktivitas belajar rendah. Prestasi belajar siswa yang mempunyai aktivitas belajar sedang lebih baik jika dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang memiliki aktivitas belajar rendah.

 

Incoming search terms:

Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Make A Match Ditinjau dari Aktivitas Belajar Siswa

Judul Skripsi : Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Make A Match Ditinjau dari Aktivitas Belajar Siswa (Penelitian Pada Siswa SD Negeri Kelas V Kecamatan Pontianak Kota di Kota Pontianak Tahun Ajaran 2009/2010)

 

A. Latar Belakang Skripsi

Pada pembelajaran matematika di sekolah, sebagian besar guru masih mendominasi proses mengajar belajar dengan menerapkan pembelajaran yang menganut teori behaviorisme seperti model pembelajaran langsung (Direct Instruction). Umumnya guru memulai pembelajaran langsung pada pemaparan materi, kemudian pemberian contoh oleh guru dan selanjutnya mengevaluasi siswa melalui latihan soal. Padahal memahami pembelajaran matematika bukanlah hal mudah (Noraini Idris, 2009: 39). Banyak siswa gagal memahami konsep yang diberikan pada mereka. Siswa menerima pelajaran matematika secara pasif dan bahkan hanya menghafal rumus-rumus tanpa memahami makna dan manfaat dari apa yang dipelajari. Akibatnya prestasi belajar matematika di sekolah masih relatif rendah dan tidak mengalami peningkatan yang berarti .

Seiring diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diharapkan guru dapat meningkatkan prestasi siswa khususnya pada pelajaran matematika dengan berkreasi dan berinovasi menggunakan berbagai macam model pembelajaran yang berkembang saat ini. Penelitian ini memberikan alternatif teknik Make A Match sebagai salah satu teknik yang merupakan pengembangan dari belajar kooperatif dengan landasan filosofisnya adalah kontruktivisme yang menekankan pada aktivitas siswa untuk membangun pengetahuannya.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah prestasi belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik Make A Match lebih baik daripada menggunakan model pembelajaran Direct Instruction pada materi luas bangun datar (trapesium dan layang-layang)?
  2. Apakah siswa dengan aktivitas belajar tinggi memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar sedang dan rendah, dan apakah siswa dengan aktivitas belajar sedang memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar rendah pada materi luas bangun datar (trapesium dan layang-layang)?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui apakah prestasi belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik Make A Match lebih baik daripada menggunakan model pembelajaran Direct Instruction pada materi luas bangun datar (trapesium dan layang-layang).
  2. Mengetahui apakah siswa dengan aktivitas belajar tinggi memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar sedang dan rendah, dan apakah siswa dengan aktivitas belajar sedang memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar rendah pada materi luas bangun datar (trapesium dan layang-layang).

 

D. Kesimpulan

1. Prestasi belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik Make A Match lebih baik daripada menggunakan model pembelajaran Direct Instruction pada materi luas bangun datar (trapesium dan layang-layang).

2. Prestasi belajar matematika siswa yang memiliki aktivitas belajar tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki aktivitas belajar rendah, serta prestasi belajar matematika siswa yang memiliki aktivitas belajar sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang memiliki aktivitas rendah, sedangkan prestasi belajar matematika siswa dengan aktivitas belajar tinggi tidak terdapat perbedaan dengan prestasi belajar matematika siswa dengan aktivitas belajar rendah pada materi luas bangun datar (trapesium dan layang-layang).

 

Problem Posing – Tipe STAD terhadap pada Materi Pythagoras dari Aktivitas Belajar Siswa

Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Problem Posing – Tipe STAD terhadap pada Materi Pythagoras Ditinjau dari Aktivitas Belajar Siswa

 

A. Latar Belakang Masalah

Agar proses pembelajaran berhasil, guru diharapkan mampu menerapkan metode yang tepat dan sesuai dengan pengajaran matematika, guru diharapkan menanamkan prinsip atau konsep yang ada. Dalam hal ini sebelum siswa menyelesaikan sebuah soal, siswa harus memahami soal tersebut secara menyeluruh. Ia harus tahu apa yang diketahui, apa yang dicari, rumus atau teorema yang harus digunakan dan cara penyelesaiannya. Untuk itu dalam mengerjakan soal-soal matematika diperlukan siasat atau strategi dalam penyelesaiannya.

Mengingat begitu pentingnya strategi dalam penyelesaian masalah matematika, maka untuk menyelesaikan sebuah soal cerita yang pada kenyataannya siswa masih kesulitan dalam memahami dan menyelesaikan soal tersebut, sangat diperlukan langkah-langkah untuk mempermudah pemahamannya. Salah satu strategi yang efektif dalam menciptakan pembelajaran aktif dan menyenangkan tentunya dengan melibatkan peserta didik dalam kegiatan diskusi di kelas. Pembelajaran yang dapat melibatkan peserta didik dalam kegiatan diskusi kelas dengan suasana belajar aktif telah mulai dilakukan oleh guru yaitu dengan model pembelajaran kooperatif salah satunya yaitu dengan tipe STAD tetapi ternyata masih belum cukup efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa pada suatu konsep, oleh karena itun perlu dicobakan lagi pembelajaran kooperatif yang melibatkan peserta didik dengan suasana belajar aktif dan memberikan strategi dalam penyelesaian soal, dapat diterapkan yaitu dengan model pembelajaran Problem Posing.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Apakah pembelajaran model Problem Posing lebih efektif daripada pembelajaran dengan model konvensional pada pokok bahasan Teorema Pythagoras pada peserta didik SMP di Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2010/2011?
  2. Apakah pembelajaran model Cooperative Learning tipe STAD lebih efektif daripada pembelajaran dengan model konvensional pada pokok bahasan Teorema Pythagoras pada peserta didik SMP di Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2010/2011?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Efektivitas pembelajaran dengan model Problem Posing dibandingkan model konvensional
  2. Efektivitas pembelajaran dengan model Cooperative Learning tipe STAD dibandingkan model konvensional

 

D. Kesimpulan

Berdasarkan landasan teori dan didukung hasil analisis yang telah disajikan dalam BAB IV serta mengacu pada perumusan masalah yang telah dikemukakan di depan, maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa pada kelas VIII SMP di Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2010/2011 pada pokok bahasan Teorema Pythagoras:

1. Pada peserta didik yang diberi model pembelajaran Problem Posing memiliki prestasi lebih baik daripada peserta didik yang diberi model pembelajaran Konvensional, berarti bahwa model pembelajaran Problemn Posing lebih efektif daripada model pembelajaran Konvensional.

2. Pada peserta didik yang diberi model pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD memiliki prestasi lebih baik daripada peserta didik yang diberi model pembelajaran Konvensional, berarti bahwa model pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD lebih efektif daripada model pembelajaran Konvensional.

3. Pada peserta didik yang diberi model pembelajaran Problem Posing memiliki prestasi lebih baik daripada peserta didik yang diberi model pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD, berarti bahwa model pembelajaran Problem Posing lebih efektif daripada model pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD.

Incoming search terms: