Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Skripsi Ekonomi: Persepsi Akuntan Publik dan Mahasiswa Akuntansi trhdp Kode Etik

Judul Skripsi: Persepsi Akuntan Publik dan Mahasiswa Akuntansi terhadap Kode Etik Akuntan Indonesia: Aturan Etika (Studi Kasus di Jawa Tengah)

 

A. Latar Belakang

Profesi akuntan merupakan profesi yang senantiasa dituntut untuk mengembangkan profesionalismenya. Profesionalisme suatu profesi mensyaratkan tiga hal utama yang harus dipunyai oleh setiap anggota profesi tersebut, yaitu berkeahlian, berpengetahuan, dan berkarakter (Machfoedz, 1997 dalam Ludigdo & Machfoedz, 1999). Ketiga hal tersebut mutlak harus dimiliki oleh setiap anggota profesi, sehingga profesionalisme profesi dapat diakui oleh masyarakat. Berkeahlian dan berpengetahuan dalam profesi akuntan berkenaan dengan bagaimana seorang akuntan memiliki keahlian dalam menjalankan profesinya. Auditor harus telah menjalani pendidikan dan pelatihan teknis yang cukup dalam praktik akuntansi dan teknik auditing. Sedangkan karakter menunjukkan personality seorang profesional, yang diantaranya diwujudkan dalam sikap dan tindakan etisnya.

Dalam menjalankan profesinya, seorang akuntan diatur oleh suatu kode etik akuntan. Kode etik akuntan merupakan norma perilaku yang mengatur hubungan antara akuntan dengan para klien, antara akuntan dengan sejawatnya, dan antara profesi dengan masyarakat. Dengan adanya kode etik, masyarakat akan dapat menilai sejauh mana seorang akuntan telah bekerja sesuai dengan standar-standar etika yang telah ditetapkan oleh profesinya (Khomsiyah dan Indriantoro, 1998). Kepercayaan publik merupakan suatu hal yang penting bagi akuntan publik, karena tugas mulianya menjaga kepentingan publik itu. Atas kepercayaan publik pula seorang akuntan berhak menerima bayaran, sebagai imbalan dari independensi, obyektivitas, dan kompetensi profesionalnya.

 

B. Rumusan Masalah

Apakah terdapat perbedaan persepsi antara akuntan publik dan mahasiswa akuntansi terhadap kode etik akuntan Indonesia?

 

C. Landasan Teori Skripsi

Pengertian Persepsi

Gibson (1996: 134) mendefinisikan persepsi sebagai proses seseorang untuk memahami lingkungannya, yang meliputi orang, subyek, simbol, dan sebagainya, yang melibatkan proses kognitif. Proses kognitif merupakan proses pemberian arti, yang melibatkan tafsiran pribadi terhadap rangsangan yang muncul dari obyek tertentu. Oleh karena tiap-tiap individu memberikan makna yang melibatkan tafsiran pribadinya pada obyek tertentu, maka masing-masing individu akan memiliki persepsi yang berbeda meskipun melihat obyek yang sama.

Pengertian Etika

Keraf (1998: 10), etika secara harfiah berasal dari kata Yunani ethos (jamaknya: ta etha), yang artinya sama persis dengan moralitas, yaitu adat kebiasaan yang baik. Adat kebiasaan yang baik ini lalu menjadi sistem nilai yang berfungsi sebagai pedoman dan tolak ukur tingkah laku yang baik dan buruk.

Kode Etik Akuntan Indonesia

Kode Etik Akuntan Indonesia pertama kali dirumuskan dan disahkan pada kongres Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tahun 1973. Dalam perkembangannya kode etik tersebut mengalami beberapa kali perubahan, yaitu pada Kongres Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tahun 1981, Kongres Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tahun 1986, Kongres Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tahun 1990, Kongres Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tahun 1994, Kongres Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tahun 1998, dan yang terakhir adalah Kongres Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tahun 2002.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian survey.

Populasi dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu akuntan publik yang ada di Jawa Tengah dan mahasiswa akuntansi di seluruh perguruan tinggi yang ada di Jawa Tengah.

Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode purposive sampling.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

 

E. Kesimpulan

  1. Dari hasil pengujian hipotesis dengan Independent Samples T-Test pada keseluruhan aturan etika, hipotesis utama (H1) dalam penelitian ini Untuk aturan etika secara keseluruhan disimpulkan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara akuntan publik dan mahasiswa akuntansi dengan nilai p-value 0,000. Jika dilihat dari tiap aturan etika diketahui bahwa untuk semua aturan etika menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara akuntan publik dan mahasiswa akuntansi kecuali untuk aturan nomor 400 tentang tanggung jawab kepada rekan.
  2. Perbandingan nilai mean untuk mengetahui persepsi yang lebih baik antara akuntan publik dan mahasiswa akuntansi, menghasilkan kesimpulan bahwa secara keseluruhan aturan etika, persepsi akuntan publik lebih baik dari mahasiswa akuntansi, hal ini ditunjukkan dengan nilai mean akuntan publik yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai mean mahasiswa akuntansi. Namun bila nilai mean diperbandingkan pada masing-masing aturan etika, maka hanya pada aturan nomor 400 tentang tanggung jawab kepada rekan yang menyatakan bahwa persepsi mahasiswa akuntansi lebih baik daripada persepsi akuntan publik, sedangkan pada aturan etika lainnya menyatakan bahwa persepsi akuntan publik lebih baik daripada persepsi mahasiswa akuntansi.

 

Contoh Skripsi Ekonomi

  1. Evaluasi Program Pembagian Beras untuk Keluarga Miskin (Raskin) di Kabupaten Sukoharjo
  2. Proses Ekspor-Impor pada Kawasan Berikat Tanjung Emas Export Processing Zone (Tepz)
  3. Prosedur Penerbitan Surat Keterangan Asal (Certificate Of Origin) di Dinas Perindustrian
  4. Proses Kontrak Dagang Internasional pada CV. Aninda Furniture di Sroyo Karanganyar
  5. Persepsi Akuntan Publik dan Mahasiswa Akuntansi terhadap Kode Etik Akuntan Indonesia