Evaluasi Perbandingan Efek Metoprolol Dan Lidokain Pada Respons Hemodinamik

Latar Belakang Masalah  Efek Metoprolol Dan Lidokain

Respons stres pada pasien yang mendapatkan anestesi umum secara universal dapat kita lihat sebagai suatu fenomena dimana mungkin berhubungan dengan adanya gangguan pada sistem endokrin atau autonom (Morgan, 2006). Frekwensi terjadinya reaksi respons kardiovaskular paling sering saat laringoskopi dan intubasi endotrakea. Peningkatan respons saat laringoskopi dan intubasi endotrakea seperti takikardia,hipertensi dan kejadian aritmia dapat mengancam jiwa. Peningkatan denyut jantung mungkin berhubungan dengan perubahan segmen ST dimana terindikasi sebagai adanya iskemia miokardial (Mastracci, 2010).

1

Antagonis adrenergik beta selektif meminimalkan terjadinya peningkatan denyut jantung dan kontraksi miokardial (penentu utama dalam meningkatkan konsumsi oksigen jaringan) dengan cara melemahkan efek positif dari kronotropik dan inotropik dari peningkatan aktivitas adrenergik. Hal ini sangat diinginkan pada pasien dengan penyakit jantung iskemia (Zhang, 2006). Perhatian lebih diberikan kepada penggunaan antagonis adrenergik beta selektif untuk mencegah refleks takikardia yang dimediasi oleh simpatoadrenal dan hipertensi yang terjadi selama prosedur laringoskopi dan intubasi endotrakeal, hal ini termasuk penggunaan metoprolol dan lidokain sebagai penumpul aktivitas adrenergik (Zargar ,2002).

Beberapa agen anestesi nonvolatile adalah

Barbiturate (Thiamylal, Secobarbital, Phenobarbital, Thiopental, Methohexital, Pentobarbital), Benzodiazepine (Diazepam, Lorazepam, Flumazenil, Midazolam), Opioid (Morphine, Meperidine, Fentanyl, Sufentanil, Alfentanil, Remifentanil) dapat digunakan sebagai penumpul tindakan intubasi endotrakea.

(Mirekandari et al,2011). Penggunaan opiat sebagai penumpul respons hemodinamik selain mahal juga banyak efek yang kurang disukai seperti efek mual, muntah, adiksi, pruritus, serta alergi terhadap opiat itu sendiri.Penelitian ini dirancang untuk mengevaluasi dan membandingkan efektivitas penggunaan metoprolol dan lidokain untuk menghilangkan gejolak hemodinamik saat dilakukannya laringoskopi dan intubasi endotrakeal.

Perumusan Masalah

Apakah metoprolol lebih efektif daripada lidokain dalam menumpulkan respons hemodinamik pada laringoskopi dan intubasi endotrakeal ?

Tujuan Penelitian

  • Tujuan Umum

Mengevaluasi keefektifan dosis metoprolol dibandingkan dengan lidokain intravena dalam menumpulkan efek hemodinamik saat laringoskopi dan intubasi endotrakeal. Dosis metoprolol yang digunakanadalah injeksi 1 mg intravena pada sesaat sebelum dilakukan intubasi dalam hal menumpulkan gejolak hemodinamik dibandingkan dengan pemberian lidokain intravena 1,5 mg/kg sesaat sebelum intubasi endotrakea.

  • Tujuan Khusus
  1. Mengetahui apakah pemberian intravena metoprolol 1 mg lebihC

efektif dibandingkan lidokain 1,5 mg/kg berat badan dalam menumpulkan respons hemodinamik pada tindakan laringoskopi intubasi.

  1. Deteksi dini iskemia miokardial sehingga dapat mengurangi keterlambatan untuk melakukan intervensi dan meningkatkan kemungkinan mempertahankan jaringan miokardial yang masih baik.

Kesimpulan Efek Metoprolol Dan Lidokain

  1. Respons hemodinamik yang terlihat pada hasil penelitian ini yang memiliki nilai signifikansi adalah nilai sistolik menit pertama dan ketiga serta nilai RPP (rate pressure product), dimana nilai p < 0,05. Sehingga secara statistik dapat dikatakan bahwa metoprolol 1 mg injeksi lebih efektif dibandingkan dengan lidokain 1,5 mg/kg berat badan dalam menumpulkan respons hemodinamik saat laringoskopi dan intubasi endotrakeal.
  2. Analisa secara klinis pasien selama perjalanan operasi terlihat bahwa pasien-pasien dengan gangguan hemodinamik seperti tekanan darah tinggi serta denyut nadi yang cepat dapat di turunkan dengan metoprolol injeksi 1 mg serta memberikan kestabilan hemodinamik selama perjalanan operasi yang dapat dibuktikan dengan catatan medis perjalanan anestesi.