Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Penurunan Pendengaran Sensorineural dgn Penderita Diabetes Melitus

Judul Skripsi : Hubungan Penurunan Pendengaran Sensorineural dengan Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Terkendali Baik dan Tidak Terkendali Baik

 

A. Latar Belakang

Utomo dalam penelitian Penurunan Pendengaran Pada Penderita Diabetes Melitus tidak Tergantung Insulin dengan menggunakan alat ukur audiometri nada murni dan audiometri tutur didapatkan hasil ada hubungan bermakna terjadinya penurunan pendengaran dengan rasio prevalensi sebesar 2,89% (IK95% 1,33 ; 4,45). (Utomo, 1999).

Prihantara dalam penelitian membandingkan DM dengan hipertensi dan DM dengan normotensi, dengan menggunakan alat ukur audiometri nada murni dan audiometri tutur, didapatkan hasil p>0,05 atau tidak bermakna (Prihantara, 2002). Salvinelli, melakukan penelitian dengan melihat ambang dengar penderita DM dan yang tidak DM. Dengan menggunakan alat ukur audiometri nada murni, didapatkan hasil ambang dengar penderita DM 10 – 30 dB, yang tidak DM 10 – 20 dB, hasil ini tidak bermakna (Salvinelli, dkk, 2004).

 

B. Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan terjadinya penurunan pendengaran sensorineural pada Diabetes Melitus Tipe 2 terkendali baik dengan DM Tipe 2 tidak terkendali baik?

 

C. Tujuan Penelitian

Menganalisis adakah hubungan DM Tipe 2 tidak terkendali baik dengan DM Tipe terkendali baik terhadap terjadinya penurunan pendengaran sensorineural.

 

D. Simpulan Skripsi

Dari penelitian ini dapat diambil simpulan bahwa ada hubungan antara DM Tipe 2 tidak terkendali baik dan DM Tipe 2 terkendali baik terhadap terjadinya penurunan pendengaran sensorineural. Dengan risiko mengalami penurunan pendengaran sebesar:

1. Hasil analisis regresi logistik pada pemeriksaan audiometri telinga kanan didapatkan hasil DM tidak terkendali baik memiliki risiko mengalami penurunan pendengaran 3,5 kali dibanding DM tekendali baik (OR=3,5; p=0,032).

2. hasil analisis regresi logistik pada pemeriksaan audiometri telinga kanan didapatkan hasil DM tidak terkendali baik memiliki risiko mengalami penurunan pendengaran 4,5 kali dibanding DM tekendali baik (OR=4,5 ; p=0,010).

 

E. Saran

Perlunya pengawasan dan kontrol kadar gula darah pada penderita DM Tipe 2 oleh penderita dan juga oleh anggota keluarga, agar dapat mengurangi risiko terjadinya penurunan pendengaran sensorineural dan perlunya penanganan penderita DM lebih awal dengan bagian THT untuk mendeteksi terjadinya penurunan pendengaran.