Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Pemanfaatan Benda-Benda Bersejarah Peninggalan Masa Kolonial Belanda

Latar Belakang Masalah Sejarah Benda-Benda Peninggalan Belanda

Kota Salatiga menyimpan banyak sekali benda-benda bersejarah, tetapi belum terungkap secara memadai. Referensi mengenai benda-benda bersejarah di Salatiga masih sangat minim dan terbatas, bahkan belum ada penulisan mengenainya yang cukup representatif dan komprehensif, belum ada publikasi secara ilmiah dan memadai tentang perkembangannya. Yang ada baru menunjukkan kajian yang bersifat topikal dalam bentuk makalah, paper, dan artikel.

Apabila dikaji secara mendalam, benda-benda bersejarah tersebut dapat digolongkan dan diklasifikasikan berdasarkan periodisasi sejarah Indonesia secara lengkap, sejak jaman prasejarah Indonesia, jaman sejarah Indonesia Kuno, jaman sejarah Indonesia madya, sampai jaman sejarah Indonesia Baru. Kesemuanya dapat digunakan sebagai sumber belajar khususnya untuk mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah deskripsi dari jenis atau ragam benda-benda bersejarah peninggalan masa kolonial Belanda yang ada di kota Salatiga?
  2. Nilai-nilai edukatif apa yang yang terkandung dalam benda-benda bersejarah peninggalan masa kolonial Belanda di Salatiga?
  3. Bagaimana guru memanfaatkan benda-benda bersejarah peninggalan masa kolonial Belanda yang ada di kota Salatiga sebagai sumber belajar?
  4. Kendala apa saja yang dihadapi guru dalam memanfaatkan benda-benda bersejarah peninggalan masa kolonial Belanda di Salatiga sebagai sumber belajar di sekolah?

Kajian Teori

Menurut Dennis Guning yang dikutip Setiadi dkk (2007:2) menyatakan bahwa guru sejarah dituntut memiliki kemampuan-kemampuan yang mendasar dan memenuhi beberapa kompetensi utama yaitu :

  1. kompetensi profesional : guru harus memiliki pengetahuan yang luas
  2. kompetensi personal : guru harus mempunyai sikap dan kepribadian yang mantap.
  3. kompetensi sosial : guru harus memiliki kemampuan berkomunikasi sosial.

Kompetensi dan kemampuan yang dimiliki guru sejarah akan semakin efektif dan berhasil guna apabila didukung oleh berbagai sumber belajar sejarah yang relevan, lengkap, dapat dioperasionalkan, dan terjangkau baik harga maupun letak, baik sumber tertulis, lisan, maupun sumber yang berupa benda.

Metodologi Penelitian

Lokasi penelitian di Kota Salatiga. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif berjenis penelitian terapan dengan studi terpancang.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi, mengkaji dokumen (content analysis), dan perekaman.

Informan ditentukan dengan teknik purposive sampling, yakni memilih informan yang dipandang paling tahu dan memiliki sumber data penting yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti seperti kepala sekolah beserta stafnya, guru, pemilik dan penunggu bangunan bersejarah, peserta didik, petugas piket atau pegawai kantor. Untuk memperoleh validitas data digunakan teknik trianggulasi sumber.

Data dianalisis dengan model analisis interaktif, yaitu interaksi antara pengumpulan data dengan tiga komponen analisis lain yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan.

Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Salatiga merupakan kota yang menyimpan banyak sekali kekayaan akan benda-benda bersejarah khususnya yang berupa bangunan-bangunan peninggalan masa Kolonial Belanda. Bangunan-bangunan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam beberapa katagori yakni rumah tinggal, gedung perkantoran, tempat ibadah, sekolah, rumah sakit, hotel, bahkan panti asuhan. Kondisi beberapa bangunan memang sudah direnovasi, namun tetap tidak meninggalkan karakter aslinya. Beberapa bangunan yang lain bahkan dalam keadaan kurang terawat.

Dengan dijumpainya nilai-nilai edukatif yang terdapat pada benda-benda peninggalan bersejarah masa Kolonial Belanda di Salatiga, maka sudah pasti keberadaannya sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai sumber belajar di sekolah. Keberadaan bangunan sekolah-sekolah dari tingkat pendidikan dasar sampai sekolah menengah dapat mengandung nilai edukatif bahwa sejak jaman kolonial masyarakat Salatiga sudah tinggi tingkat pendidikannya. Keberadaan rumah-rumah sakit menunjukkan bahwa masyarakat Salatiga sangat menjunjung tinggi kesehatan ragawinya. Dijumpainya beberapa tempat ibadah membuktikan bahwa masyarakat sudah tinggi kesadaran religiusnya. Dari pewarisan nilai-nilai itu akan tumbuh kesadaran sejarah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan watak bangsa (character building). Dimanfaatkannya benda-benda bersejarah peninggalan masa Kolonial Belanda di Salatiga sebagai sumber belajar di sekolah-sekolah tentu saja dilakukan dengan mempertimbangkan daya kreatifitas, kejelian, kemauan, dan kemampuan si pengguna dalam hal ini guru dan peserta didik karena kedudukan peninggalan-peninggalan tersebut sangat penting dan strategis.