Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Di Dusun Sukunan

Latar Belakang Masalah Pengolaan Sampah

Salah satu daerah yang telah berhasil melaksanakan pengelolaan sampah yang melibatkan partisipasi masyarakat adalah dusun Sukunan. Atas keberhasilan dusun Sukunan menjadi “Kampung Wisata Lingkungan” maka dusun ini menjadi tempat percontohan untuk pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat. Banyak kalangan yang telah berkunjung di dusun Sukunan ini, baik dari instansi pemerintah, sekolah,kelompok masyarakat lain, bahkan dari luar negeri.

Latar belakang profesi masyarakat di Sukunan ini sebagian besar adalah buruh tani, petani, buruh bangunan, pedagang, usaha kecil rumahan (tempe, tahu,  sujen, emping mlinjo, bakpia, dll.) hanya sebagian kecil yang menjadi karyawan swasta, PNS dan TNI. Melalui pengelolaan sampah mandiri diharapkan masyarakat di daerah ini dapat memperoleh manfaat sampah secara ekonomi, peningkatan motivasi dan pengetahuan terhadap pelestarian lingkungan serta termotivasi mengembangkan sistem pengelolaan sampah mandiri dan produktif yang berbasis masyarakat (Tim Paguyuban Sukunan Bersemi, 2008 : 9).

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk partisipasi masyarakat Sukunan dalam pengelolaan sampah. Partisipasi ini akan dilihat dari tiga aspek, yaitu: persepsi masyarakat Sukunan terhadap pengelolaan sampah, motivasi masyarakat Sukunan untuk ikut serta dalam pengelolaan sampah dan kegiatan partisipasi masyarakat Sukunan dalam pengelolaan sampah.

Kajian Teoretis

  • Sampah dan Pengelolaan Sampah

Menurut UU No.18 th 2008 Pasal 1 ayat (1) definisi sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.  Sampah, baik kuantitas maupun kualitasnya sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan dan taraf hidup masyarakat. Beberapa faktor yang penting antara lain adalah :

  1. Jumlah penduduk
  2. Keadaan sosial ekonomi
  3. Kemajuan teknologi
  4. Pengelolaan Sistem Sentralisasi

Kebanyakan pemukiman masih menerapkan pola pengelolaan sampah secara sentralistik. Sistem sentralisasi pengolahan sampah adalah pengolahan sampah yang terpusat dari daerah yang cakupannya luas. Pengolahan sampah yang dilakukan di tingkat TPA.

  • Pengelolaan Sistem Desentralisasi

Berbeda dengan sistem sentralisasi, sistem desentralisasi mensyaratkan pengolahan sampah pada daerah hulu atau penghasil sampah pertama. Pada sistem ini, di setiap di setiap sub-area tidak hanya aktivitas pengumpulan sampah, tetapi juga pengolahannya sampai menjadi produk yang bisa dimanfaatkan lagi.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.

Teknik pengumpulan data yang digunakan observasi, wawancara mendalam, dan diskusi.

Untuk menjamin validitas data digunakan teknik triangulasi sumber data. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dan snowball dan data dianalisis dengan menggunakan metode interaktif.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk partisipasi masyarakat Sukunan dalam pengelolaan sampah adalah fasilitasi, yaitu suatu bentuk partisipasi masyarakat yang disengaja, yang dirancang dan didorong sebagai proses belajar dan berbuat oleh masyarakat untuk menyelesaikan suatu kegiatan bersama-sama. Dengan fasilitasi, masyarakat diposisikan sebagai dirinya, sehingga dia termotivasi untuk berpartisipasi dan berbuat sebaik-baiknya. Hasil wawancara dan observasi menunjukkan persepsi positif masyarakat Sukunan terhadap kegiatan pengelolaan sampah terlihat dari tumbuhnya kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk mengelola sampah. Motivasi masyarakat untuk ikut berpartisipasi, antara lain : motivasi dari diri sendiri untuk mendapatkan ilmu dan wawasan, alasan ekonomi, faktor kebersihan lingkungan, keterbatasan lahan dan pelestarian lingkungan. Kegiatan partisipasi masyarakat Sukunan dalam pengelolaan sampah yaitu: memilah, mengangkut, mengolah, mengembangkan serta turut berperan dalam pelestarian lingkungan hidup.