Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) Sebagai Pembelajaran Matematika

Latar Belakang Masalah Pembelajaran Matematika

Selama waktu pelajaran dalam kelas, semuanya dipenuhi dengan pemberian materi dan latihan saja. Sejak jam pembelajaran dimulai, siswa diharuskan mengkonsumsi materi pembelajaran matematika tanpa adanya kesempatan mengelak. Tak ada kesempatan untuk mempelajari hal-hal lain yang sama penting, atau jauh lebih penting daripada matematika itu sendiri. Bisa jadi inilah yang menyebabkan munculnya persepsi bahwa matematika itu ”menyeramkan”. Terlebih lagi jika cara penyampaian materinya sangat kaku dan membosankan.

Masalah diatas perlu kiranya dicarikan solusinya. Bagaimana seorang pengajar mampu menghilangkan citra buruk matematika di benak siswanya, dan tentu akan lebih baik lagi jika akhirnya nanti, perasaan cinta dan butuh terhadap matematika/ pembelajaran matematika benar-benar telah tumbuh berkembang dalam jiwa setiap siswanya. Erica McWilliam (1997) dalam jurnalnya mengemukakan bahwa,”Kita semua harus menjadi peserta didik sepanjang waktu, dan orang-orang dari kita yang mengajar siswa juga harus memahami diri untuk menjadi fasilitator pembelajaran”.

Perumusan Masalah

  1. Apakah pembelajaran matematika yang diajarkan dengan metode PPR lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran dengan metode konvensional terhadap prestasi belajar siswa pada materi pokok luas segitiga?
  2. Apakah siswa dengan aktivitas belajar tinggi lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa dengan aktivitas belajar sedang dan siswa dengan aktivitas belajar rendah, dan siswa dengan aktivitas belajar sedang lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa dengan aktivitas belajar rendah pada materi pokok luas segitiga?
  3. Apakah perbedaan prestasi belajar matematika dengan menggunakan metode PPR dan dengan metode konvensional konsisten pada tiap kategori aktivitas belajar siswa, dan apakah perbedaan prestasi belajar matematika antara tiaptiap kategori aktivitas belajar konsisten pada pembelajaran menggunakan metode PPR dan metode konvensional?

Landasan Teori

Thulus Hidayat,et al (1995:96) mengemukakan bahwa, “Belajar sebagai suatu proses atau aktivitas dipengaruhi oleh berbagai faktor yang secara garis besar dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

Faktor yang berasal dari luar diri pelajar (eksternal) yaitu:

  • Faktor non sosial seperti keadaan suhu, cuaca, waktu dan alat yang digunakan.
  • Faktor sosial yaitu faktor manusia

Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pelajar (internal)

  • Faktor-faktor fisiologis yaitu keadaan jasmani
  • Faktor-faktor psikologis

Prestasi Belajar Matematika Suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus dapat tercapai. Tujuan instruksional tersebut merupakan hasil belajar yang telah ditetapkan baik menurut aspek isi maupun aspek perilaku.

PPR (Paradigma Paedagogi Reflektif) adalah polapikir dalam menumbuh kembangkan pribadi siswa menjadi pribadi berkemanusiaan. PPR termasuk model pembelajaran inovatif alternatif yaitu kooperatif.

Metodelogi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode eksperimental semu dengan desain faktorial 2×3.

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA-SMA se Kabupaten Semarang Semester II tahun pelajaran 2008/2009.

Sampel penelitian ini adalah kelompok eksperimen (dengan metode PPR) terdiri dari SMA N 1 Ambarawa sebanyak 40 siswa dan SMAK Bhakti Awam sebanyak 40 siswa, jumlah kelompok eksperimen sebanyak 80 siswa. Sedangkan kelompok kontrol (metode konvensional) terdiri dari SMAN 1 Ambarawa sebanyak 40 siswa dan SMAK Bhakti Awam sebanyak 40 siswa, jumlah kelompok kontrol sebanyak 80 siswa. Jadi banyaknya sampel 160 siswa. Metode penarikan sampel menggunakan penarikan sampel berkelompok (Cluster Random Sampling) dengan cara undian. Data dikumpulkan dengan metode dokumentasi, angket dan tes.

Metode dokumentasi dari nilai UAN SMP digunakan untuk uji keseimbangan, metode angket digunakan untuk mengukur aktivitas belajar matematika dan metode tes digunakan untuk mengumpulkan data prestasi belajar matematika.

Analisis data dengan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, dilanjutkan dengan uji komparasi ganda metode Scheffe.

Kesimpulan

  1. Cara penyajian materi menggunakan metode PPR lebih baik daripada menggunakan pembelajaran Konvensional.
  2. Prestasi belajar siswa dengan aktivitas tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa dengan aktivitas belajar sedang, sedangkan siswa dengan aktivitas tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa dengan aktivitas rendah, dan prestasi belajar siswa dengan aktivitas sedang lebih baik daripada prestasi siswa dengan aktivitas rendah pada materi pokok luas segitiga.
  3. Prestasi belajar matematika dari masing-masing cara penyajian materi berlaku konsisten/ sama pada masing-masing kategori aktivitas siswa dan prestasi belajar matematika dari masing-masing kategori aktivitas belajar berlaku konsisten/ sama pada masing-masing cara penyajian materi.