Faktor yg Mempengaruhi Kinerja Keuangan Bank Umum-Syariah

Judul Tesis : Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan Bank Umum Konvensional dan Syariah di Indonesia

 

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kenyataannya, tidak semua teori seperti yang telah dipaparkan (dimana pengaruh CAR dan LDR berbanding lurus terhadap ROA serta pengaruh BOPO dan NPL berbanding terbalik terhadap ROA). Menurut Mawardi (2005), faktor-faktor yang mempengaruhi ROA adalah CAR, NIM, NPL, dan BOPO. Dari penelitiannya menunjukkan bahwa risiko kredit (NPL) berpengaruh negatif terhadap ROA, risiko pasar (NIM) berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA, efisiensi operasi (BOPO) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA, Modal (CAR) tidak berpengaruh terhadap ROA.

Berbeda dengan Mawardi, Mahardian (2008) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ROA adalah CAR, NIM, NPL, BOPO, dan LDR. CAR, NIM, dan LDR berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA serta BOPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Sementara untuk variabel NPL memiliki pengaruh negatif terhadap ROA, akan tetapi tidak  signifikan. Sedangkan Yuwono (2010), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa CAR, NPL, ROA, dan LDR berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pada tahun berikutnya. CAR dan LDR tidak berpengaruh signifikan, sedangkan NPL dan ROA memiliki pengaruh negatif dan signifikan untuk memprediksi kinerja keuangan pada tahun berikutnya.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimana pengaruh CAR terhadap ROA pada bank umum konvensional dan syariah di Indonesia?
  2. Bagaimana pengaruh NPL/NPF terhadap ROA pada bank umum konvensional dan syariah di Indonesia?

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah di atas adalah :

  1. Menganalisis pengaruh CAR terhadap ROA pada bank umum konvensional dan syariah di Indonesia.
  2. Menganalisis pengaruh NPL/NPF terhadap ROA pada bank umum konvensional dan syariah di Indonesia.

 

D. Kesimpulan

  1. Faktor – faktor yang mempengaruhi ROA adalah variabel- variabel bebas seperti CAR, NPL, BOPO, dan LDR baik pada bank umum konvensional dan bank umum syariah. Pada bank umum konvensional, CAR, NPL, dan LDR berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA sedangkan BOPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA.
  2. Berdasar hasil pengujian hipotesis 1.a menunjukan bahwa pada bank umum konvensional variabel CAR berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel ROA. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,041, sehingga hipotesis 1.a diterima. Menurut pengujian hipotesis 1.b, variabel CAR tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel ROA pada bank umum syariah.

 

E. Saran

Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa rasio-rasio keuangan bank pada bank umum konvensional (CAR, NPL, BOPO, dan LDR) mampu memprediksi ROA pada bank umum konvensional di Indonesia periode 2006–2010. Sedangkan pada bank umum syariah hanya BOPO yang mampu memprediksi ROA. Berdasar hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa manajemen bank umum konvensional berturut-turut perlu memperhatikan besarnya BOPO yang mempunyai pengaruh dominan terhadap ROA kemudian NPL, CAR dan LDR. Bank dengan aset yang besar perlu mengelola assetnya dengan baik dengan terus menjaga besarnya BOPO dan melakukan efisiensi dalam menghasilkan pendapatan bunga bank yang optimal. Pada manajemen bank umum syariah perlu memperhatikan BOPO, karena BOPO merupakan variabel yang paling dominan dan konsisten dalam mempengaruhi ROA.

Tesis Komunikasi: Iklan Politik Caleg dlm Persepsi Pemilih Pemula

Judul Tesis : Iklan Politik Caleg dalam Persepsi Pemilih Pemula (Study Deskriptif Kualitatif Tentang Iklan Politik Caleg DPRD II Surakarta Melalui Media Luar Ruang dalam Persepsi Pemilih Pemula di SMA Negeri III Surakarta)

 

A. Latar Belakang

Menjelang Pemilihan Umum tahun 2009 mendatang, iklim politik Indonesia pun mulai memanas. Beberapa manuver politik telah dilakukan oleh sejumlah partai dengan para tokoh politiknya untuk menduduki jabatan politik yang diinginkan. Beberapa nama tokoh politik nasional pun bermunculan sebagai calon presiden. Sementara itu, partai politik (parpol) juga mempersiapkan para kadernya untuk menduduki jabatan di lembaga legislatif, baik tingkat pusat (DPR RI), tingkat provinsi (DPRD I), maupun tingkat kabupaten kota (DPRD II). Pada pemilu sebelumnya, masa kampanye parpol dilakukan satu sampai dua bulan sebelum hari pelaksanaan pemilu digelar. Namun pada pemilu 2009, pelaksanaan kampanye parpol sudah mulai digelar 9 bulan sebelum pemilu dilaksanakan. Pemilu 2009 dilaksanakan pada 5 April 2009, namun parpol sudah diperbolehkan berkampanye tiga hari setelah ditetapkan sebagai peserta Pemilu 2009 pada 9 Juli 2008 lalu, sehingga masa kampanye parpol sudah dimulai sejak 12 Juli 2009.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana bentuk iklan politik caleg DPRD II Surakarta melalui media luar ruang?
  2. Bagaimana persepsi pemilih pemula di SMA Negeri III Surakarta terhadap iklan caleg DPRD II Surakarta melalui media luar ruang?

 

C. Landasan Teori

Deskripsi Kota Surakarta Secara Umum

Kota Surakarta yang sering disebut dengan nama Kota Solo secara astronomis terletak antara 110°46’49” – 110°51’30” Bujur Timur dan antara 7°31’43” – 7°35’38” Lintas Selatan. Secara geografis, Surakarta terletak di antara dua gunung api, yakni gunung Lawu dan gunung Merapi dan di bagian timur dan selatan dibatasi oleh Sungai Bengawan Solo. Wilayah Kota Surakarta merupakan dataran rendah dengan ketinggian + 92 m dari permukaan laut, yang berbatasan di sebelah utara dengan Kabupaten Boyolali, sebelah Timur dengan Kabupaten Karanganyar, sebelah selatan dengan Kabupaten Sukoharjo dan di sebelah Barat dengan Kabupaten Sukoharjo.

Perekonomian Daerah

Krisis Moneter nasional pada tahun 1998 yang dialami Indonesia juga berdampak pada kondisi perekonomian daerah, dimana laju pertumbuhan ekonomi daerah Surakarta menurun sejak adanya krisis moneter. Dengan berbagai upaya pemulihan krisis ekonomi, maka pertumbuhan ekonomi Kota Surakarta mulai positif kembali sejak tahun 1999. Laju pertumbuhan ekonomi Kota Surakarta mulai tahun 1999 dan 2000 masing-masing adalah 1,44% dan 4,15%. Demikian pula pada tahun 2001 dan 2002 perekonomian daerah Kota Surakarta telah mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 3,84 % dan 5,12 %.

 

Kepariwisataan

Kegiatan kepariwisataan di Kota Surakarta sangat ditunjang dengan keberadaan Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Puro Mangkunegaran. Selain kedua objek wisata tersebut, kegiatan pariwisata di Kota Surakarta juga didukung objek-objek wisata Museum Radya Pustaka, Taman Sriwedari dengan kesenian Wayang Orang Sriwedari dan Taman Hiburan Rakyat Sriwedari, Taman Satwa Taru Jurug, Taman Balekambang dan Monumen Pers.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode wawancara mendalam yang dibantu juga dengan FGD (Focus group discussion) untuk memperkuat data.

Pengambilan sample penelitian ini adalah melalui purposive sampling yaitu pemilihan secara sengaja dengan maksud   menemukan apa yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Dalam penelitian ini, responden penelitian disebut sebagai informan. Adapun jumlah informan dalam penelitian ini yaitu 4 orang calon anggota legislatif DPRD II Surakarta dan 12 orang pemilih pemula di SMA Negeri III Surakarta.

 

E. Kesimpulan

  1. Seleksi

Pemilih pemula cukup sering melihat iklan politik di media luar ruang. Mereka banyak melihat iklan tersebut di pinggir-pinggir jalan, perempatan maupun pertigaan jalan serta di dinding-dinding kosong maupun dinding toko dan warung. Adapun jenis iklan yang sering dilihat adalah baliho, poster atau banner, spanduk, bendera dan poster pada mobil.

  1. Interpretasi

Foto caleg dinilai sebagai salah satu instrumen penting untuk mengenali wajah caleg. Foto caleg mampu mencerminkan kesan tertentu, seperti kesan berwibawa. Ekspresi cemberut dalam foto diri caleg kurang disukai. Namun, pencantuman foto diri caleg juga dinilai negatif, yaitu sebagai bentuk dari narsisme politik.

  1. Reaksi

Penilaian bagus dan kurang bagusnya iklan caleg oleh pemilih pemula dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan pemilih pemula. Adapun beberapa poin yang digunakan untuk menilai bagus dan kurang bagusnya suatu iklan politik caleg antara lain : ukuran besar kecilnya iklan, kuantitas iklan, letak penempatan iklan, foto diri caleg dalam iklan, ilustrasi gambar, pemakaian background warna desain dan profil partai asal caleg. Iklan yang berukuran besar dan tersebar merata lebih disukai oleh pemilih pemula. Jargon politik caleg bukanlah faktor yang berpengaruh pada penilaian bagus dan kurang bagusnya suatu iklan caleg. Secara umum pemilih pemula menilai iklan caleg berguna untuk mengetahui sekilas informasi dan visi misi caleg.

 

Contoh Tesis Komunikasi

  1. Fungsi Humas Sebagai Media Communications Relations Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen
  2. Kegiatan Humas PT. PLN (Persero) Area Pelayanan dan Jaringan Surakarta dalam Mensosialisasikan Penghematan Listrik
  3. Iklan Politik Caleg dalam Persepsi Pemilih Pemula Study Deskriptif Kualitatif Tentang Iklan Politik Caleg
  4. Proses Produksi Berita di Radio PTPN Rasitania Surakarta
  5. Fungsi Publisitas dalam Penyelenggaraan Regular Event di Boshe VVIP Club

 

 

 

Tesis Komunikasi: Fungsi Humas sebagai Media Communications Relations Pemerintah Daerah

Judul Tesis : Fungsi Humas sebagai Media Communications Relations Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen dengan Masyarakat Lewat Internet

 

A. Latar Belakang

Kemajuan teknologi yang semakin canggih seperti sekarang ini, akan membuat persaingan yang semakin ketat dalam segala bidang. Berkembang dan tidaknya sumber daya manusia tergantung apakah sumber daya manusianya sendiri mau mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Karena kemampuan manusia akan bertambah apabila ia mau terus berlatih dan berusaha.

Oleh karena itu, untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang profesional dalam dunia kerja maka mahasiswa diberikan program pelatihan kerja/magang sebagai mata kuliah akhir dalam upaya menghadapi dunia kerja nantinya. Dalam kuliah Kerja Media (KKM), mahasiswa apat menerapkan, mengaplikasikan serta membandingkan ilmunya yang didapat selama dibangku kuliah dengan kenyataan yang sesungguhnya terjadi di dunia kerja.

 

B. Tujuan Umum

  1. Untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar Ahli Madya program D III Komunikasi Terapan,selain itu juga untuk memenuhi kegiatan proses akhir perkuliahan yang merupakan salah satu syarat kelulusan, sesuai dengan peraturan yang berlaku di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.
  2. Untuk menerapkan, mempraktekkan, serta membuktikan apakah teoriteori tentang Ilmu Kehumasan yang di peroleh di bangku kuliah sama dengan penerapan di dunia kerja? Selain itu, penulis juga ingin mencari pengalaman dan ingin merasakan bagaimana rasanya hidup dilingkungan kerja yang penuh dengan persaingan baik limu maupun kemampuan. Sehingga, penulis tidak merasa asing pada saat memasuki dunia kerja nantinya.

 

C. Landasan Teori

Devinisi dan Pengertian Public Relations

Menurut Rachmadi, Public Relations pada hakekatnya adalah kegiatan komunikasi, kendati agak lain dengan komunikasi lainnya, karena ciri hakiki dari komunikasi PR adalah two way communications (komunikasi dua arah/timbal balik). Arus komunikasi timbal balik ini yang harus dilakukan dalam kegiatan PR, sehingga terciptanya umpan balik yang merupakan prinsip pokok dalam PR (Soleh Soemirat dan Elvinaro Ardianto, 2004:11).

 

Humas Pemerintah

Dasar pemikiran humas dalam pemerintahan berdasarkan pada dua fakta dasar. Pertama, masyarakat mempunyai hak untuk mengetahui; karena itu, para pejabat pemerintah mempunyai tanggung jawab guna memberi penjelasan kepada masyarakat. Kedua, ada kebutuhan bagi para pejabat untuk menerima masukan dari masyarakat tentang persoalan baru dan tekanan sosial, untuk memperoleh partisipasi dan dukungan masyarakat. Hanya dengan proses komunikasi demikianlah pemerintah dan para pemilih dapat mencapai suatu pengertian kesatuan yang positif. (H. Frazier Moore, 1993:489).

Community Relations

Salah satu tugas PR dalam menjaga hubungan baik dengan para stakeholdersnya yaitu stakeholders eksternal pada komunitas masyarakat sekitar lingkungan perusahaan. Kegiatan untuk membina hubungan baik dan harmonis dengan komunitas dalam PR dikenal dengan istilah Community Relations, yang pada dasarnya merupakan kegiatan komunikasi timbal balik perusahaan dalam menjalin hubungan baik dengan komunitas lingkungannya.

 

D. Kesimpulan

Pemkab Sragen sangat peka akan kebutuhan publik dalam bidang informasi, sehingga dengan adanya website baru humas, publik akan dengan mudah dan cepat mengakses berita-berita melalui internet. Ini merupakan keunggulan pemkab Sragen dalam penyampaian informasi sehingga akan lebih efektif dan kebenaran berita juga informasinyapun dapat dipertanggung jawabkan.

Humas berfungsi sebagai media komunikasi relations yang dapat memberikan informasi dan berita-berita terbaru kepada publik melalui internet. Dengan adanya website humas dan Sragenkab tersebut, akan memudahkan bagi publik yang berada diluar daerah Sragen atau diluar pulau Jawa yang ingin mengetahui informasi tentang Sragen. Karena mereka tidak perlu datang langsung ke Pemkab Sragen, tetapi dapat dengan mudah mengakses berita melalui internet.

 

E. Saran

  1. Selama melaksanakan Kuliah Kerja Media di Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen, penulis berharap Pemkab Sragen lebih meningkatkan kinerja pegawai sehingga peran Humas dalam pemerintahan dapat dirasakan publik pada umumnya.
  2. Sangat menguntungkan apabila internet digunakan sebagai suatu fasilitas dalam melakukan pendekatan dalam suatu hubungan pers di Pemkab sragen.
  3. Diharapkan Program D III Komunikasi Terapan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta, lebih ditingkatkan lagi. Sehingga akan menghasilkan sumber daya manusia yang aktif dan profesional karena lebih berpengalaman dalam dunia kerja.

 

Contoh Tesis Komunikasi

  1. Fungsi Humas Sebagai Media Communications Relations Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen
  2. Kegiatan Humas PT. PLN (Persero) Area Pelayanan dan Jaringan Surakarta dalam Mensosialisasikan Penghematan Listrik
  3. Iklan Politik Caleg dalam Persepsi Pemilih Pemula Study Deskriptif Kualitatif Tentang Iklan Politik Caleg
  4. Proses Produksi Berita di Radio PTPN Rasitania Surakarta
  5. Fungsi Publisitas dalam Penyelenggaraan Regular Event di Boshe VVIP Club

Tesis Akutansi: Analisis Pengaruh Roce & CSE trhdp Residual Earnings

Judul Tesis : Analisis Pengaruh Roce dan CSE terhadap Residual Earnings (Studi Kasus pada Perusahaan Manufaktur Food And Beverage di BEI)

 

A. Latar Belakang

Tingkat pertumbuhan dan kemampuan perusahaan diperkirakan untuk mengambil keputusan dalam melangkah, dan memperluas usaha. Analisis berguna untuk melihat perusahaan dari aspek-aspek tertentu yang menjadi landasan bagi kebijakan / keputusan yang diambil. Keputusan yang dibentuk berdasarkan analisis, digunakan untuk menilai / memperbaiki kinerja perusahaan.

Analisis yang ada berguna bagi semua pihak berkaitan dengan kepentingan masing-masing. Pihak yang berkepentingan berasal dari internal maupun eksternal perusahaan. Analisis yang digunakan oleh masing-masing pihak terkait tidak selalu sama. Hal ini dikarenakan berbagai pihak memiliki kepentingan masing-masing dan kebutuhan informasi yang diperlukan tidak selalu sama. Oleh karena itu, analisis yang digunakan seringkali berbeda berdasarkan kebutuhan masing-masing.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Adakah pengaruh antara margin keuntungan penjualan(PM) dengan residual earnings di industri barang konsumsi?
  2. Adakah pengaruh antara perputaran aset(ATO) dengan residual earnings di industri barang konsumsi?
  3. Adakah pengaruh antara other items / NOA dengan residual earnings di industri barang konsumsi

 

C. Landasan Teori

Laporan Keuangan

Laporan keuangan menurut Riyanto (1997:327) adalah ikhtisar mengenai keadaan finansial suatu perusahaan dimana neraca (balance sheet) mencerminkan suatu aktiva, hutang ,dan modal sendiri pada saat tertentu, dan laporan rugi/laba(income statement) mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama periode tertentu, biasanya meliputi periode suatu tahunan.

Kinerja Keuangan

Menurut Helfert (1996) kinerja adalah “hasil dari banyak keputusan individual yang dibuat terus-menerus oleh manajemen”. Untuk menilai kinerja, perusahaan perlu melibatkan analisis dampak keuangan kumulatif, dan ekonomi serta mempertimbangkan ukuran komparatif.

Analisis Laporan Keuangan

Menurut Djarwanto (1984:51) Analisis laporan keuangan meliputi tata hubungan dan kecenderungan / trend untuk mengetahui apakah keadaan keuangan, hasil usaha dan kemajuan keuangan perusahaan memuaskan / tidak memuaskan. Analisis dilakukan dengan mengukur hubungan antara unsur-unsur itu dari tahun ke tahun untuk mengetahui arah perkembangannya.

 

D. Metode Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat survei. Penelitian ini merupakan penelitian studi empiris.

Populasi adalah keseluruhan kelompok indifidu.

Pemilihan sampel dengan metode purposive sampling.

 

E. Kesimpulan

  1. Dari perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang food and beverage di BEI, berdasarkan kriteria yang ada, diperoleh 18 perusahaan yang terpilih sebagai sampelnya.
  2. Dari 8 rasio variabel independen, setelah diuji dengan asumsi klasik, dinyatakan bahwa rasio tersebut memenuhi syarat untuk dianalisis dengan analisis regresi berganda.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Evaluasi Sistem Akuntansi Pembelian Bahan Pembantu Chemical Pada Pt.Kusumahadi Santosa Surakarta
  2. Intellectual Capital Disclosure: Studi Empiris Pada Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
  3. Pengaruh Dana Alokasi Khusus (Dak) Dan Pendapatan Asli Daerah (Pad) Terhadap Belanja Daerah Bidang Pendidikan Pada Kabupaten/Kota Di Sulawesi
  4. Hubungan Antara Kinerja Sosial Dan Lingkungan Terhadap Kinerja Keuangan Ukuran Perusahaan
  5. Analisis Pengaruh Roce Dan Cse Terhadap Residual Earnings (Studi Kasus Pada Perusahaan Manufaktur Food And Beverage Di Bei)

 

 

Tesis Akutansi: Pengaruh DAK & PAD trhdp Belanja Daerah

Judul Tesis: Pengaruh Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Belanja Daerah Bidang Pendidikan pada Kabupaten/Kota di Sulawesi

 

A. Latar Belakang

Daerah penerima DAK wajib menyediakan dana pendamping dalam APBD minimal 10% dari DAK yang diterima. Pengecualian dapat diberikan kepada daerah dengan kemampuan fiskal rendah. Selain itu, daerah juga diwajibkan menyediakan 3% dari nilai DAK yang diterima untuk biaya umum yang diambil dari sumber penerimaan lainnya. DAK dipakai untuk menutup kesenjangan pelayanan publik antardaerah dengan prioritas pada bidang kegiatan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kelautan dan perikanan, pertanian, prasarana pemerintahan daerah, dan lingkungan hidup.

Selain dana perimbangan tersebut pemda juga memiliki pendanaan sendiri berupa PAD, pinjaman daerah maupun penerimaan lain – lain penerimaan daerah yang sah. Kebijakan penggunaan dana tersebut diserahkan ke pemda. Seharusnya sumber pendanaan tersebut digunakan secara efektif dan efisien oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat serta dilakukan secara transparan dan akuntabel.

 

B. Rumusan Masalah Tesis

  1. Apakah ada pengaruh Dana Alokasi Khusus dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja daerah Bidang pendidikan Kabupaten / Kota di Sulawesi?
  2. Apakah terjadi flypaper effect pada pengaruh DAK tahun sebelumnya dan PAD tahun sebelumnya terhadap prediksi belanja daerah bidang pendidikan tahun berjalan pada kabupaten / kota di Sulawesi?.

 

C. Landasan Teori

Belanja Daerah Bidang Pendidikan

Belanja Daerah adalah semua pengeluaran pemerintah daerah pada suatu periode Anggaran. (Abdul Halim, 2002). Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah terdiri dari tiga komponen utama, yaitu unsur penerimaan, belanja rutin dan belanja pembangunan. Ketiga komponen itu meskipun disusun hampir secara bersamaan, akan tetapi proses penyusunannya berada di lembaga yang berbeda. Proses penyusunan anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara keseluruhan berada di tangan Sekretraris Daerah yang bertanggung jawab mengkoordinasikan seluruh kegiatan penyusunan APBD. Sedangkan proses penyusunan belanja rutin disusun oleh Bagian Keuangan Pemda, proses penyusunan penerimaan dilakukan oleh Dinas Pendapatan Daerah dan proses penyusunan belanja pembangunan disusun oleh Bappeda (Bagian Penyusunan Program dan Bagian Keuangan).

 

Dana Alokasi Khusus (DAK)

Dana alokasi khusus adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai tujuan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Menurut UU No. 25 Tahun 1999, DAK dapat dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu untuk membiayai kebutuhan khusus dengan memperhatikan tersedianya dana dalam APBN.

Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah. Menurut Halim (2002) Pendapatan Asli Daerah adalah semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah, seperti pajak, retribusi daerah, bagian laba usaha daerah dan lain – lain. Sedangkan diatur dalam UU No. 25 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah, PAD adalah penerimaan yang diperoleh dari sumber – sumber dalam wilayahnya sendiri yang di pungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian hypotheses testing yang bertujuan untuk menguji hipotesis.

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kabupaten / Kota yang terdapat di Sulawesi.

Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling.

Data kuantitatif dalam penelitian ini berupa Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan asli Daerah (PAD) dan Belanja Pendidikan.

Data sekunder pada umumnya berbentuk catatan atau laporan data dokumentasi oleh lembaga tertentu yang dipublikasikan.

 

E. Kesimpulan

Dalam penelitian sebelumnya yang menggunakan variabel penelitian berupa DAU, dan PAD menyimpulkan bahwa DAU dan PAD berpengaruh terhadap belanja daerah dan terjadi flypaper effect. Ketika dihubungkan langsung dengan belanja bidang pendidikan terdapat kesimpulan tidak terjadinya flypaper effect dikarenakan pengaruh PAD lebih besar dibandingkan dengan pengaruh DAU.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa DAK mempunyai pengaruh terhadap belanja daerah bidang pendidikan baik dengan lag maupun tanpa lag. Sedangkan Pendapatan Asli daerah (PAD) tidak berpengaruh terhadap belanja daerah bidang pendidikan di kabupaten / kota di Sulawesi baik dengan lag atau tanpa lag. Baik dengan lag maupun tanpa lag pengaruh DAK lebih besar dibandingkan pengaruh PAD terhadap belanja daerah bidang pendidikan hal ini berarti telah terjadi flypaper effect.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Evaluasi Sistem Akuntansi Pembelian Bahan Pembantu Chemical Pada Pt.Kusumahadi Santosa Surakarta
  2. Intellectual Capital Disclosure: Studi Empiris Pada Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
  3. Pengaruh Dana Alokasi Khusus (Dak) Dan Pendapatan Asli Daerah (Pad) Terhadap Belanja Daerah Bidang Pendidikan Pada Kabupaten/Kota Di Sulawesi
  4. Hubungan Antara Kinerja Sosial Dan Lingkungan Terhadap Kinerja Keuangan Ukuran Perusahaan
  5. Analisis Pengaruh Roce Dan Cse Terhadap Residual Earnings (Studi Kasus Pada Perusahaan Manufaktur Food And Beverage Di Bei)

 

 

Tesis Akutansi: Evaluasi Sistem Akuntansi Pembelian Bahan Pembantu Chemical

Judul Tesis : Evaluasi Sistem Akuntansi Pembelian Bahan Pembantu Chemical pada PT. KUSUMAHADI Santosa Surakarta

 

A. Latar Belakang

PT.Kusumahadi Santosa merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang kegiatan utamanya mengolah bahan baku berupa benang menjadi bahan jadi berupa kain yang siap jual. Bahan baku terdiri dari benang katun dan benang rayon, sedangkan bahan pembantu terdiri dari chemical, paper cone, layer box, box packing,klem black dan straping band. Pembelian bahan baku sendiri ditangani oleh tim khusus pembelian, sedangkan bahan pembantu ditangani oleh perusahaan. Bahan pembantu merupakan faktor penting dalam proses produksi terutama bahan pembantu chemical dalam proses pembuatan di PT. Kusumahadi Santosa, karena bahan pembantu chemical sebagai penentu kualitas hasil suatu produk. Selain itu bahan pembantu chemical dibutuhkan untuk mempertahankan kestabilan suatu proses produksi.

Perusahaan harus mampu mengelola dan mengadakan bahan pembantu chemical dengan baik dan berkualitas untuk menunjang kelancaran proses produksi sehingga produk yang dihasilkan berkualitas. Pembelian bahan pembantu chemical diperlukan adanya sistem akuntansi yang baik yang didalamnya terdapat unsur – unsur pengendalian intern yang baik pula untuk mencegah terjadinya penyelewengan dan kecurangan. Pembelian bahan pembantu chemical sangat memerlukan perhatian yang extra dalam pengadaan dan penyimpanan, karena akan mempengaruhi kelancaran aktivitas produksi dan hasil dari produksi itu sendiri. Untuk pengadaan bahan pembantu ini memerlukan pertimbangan yang cukup matang, baik yang terkandung dalam kuantitas dan ketepatan waktu untuk mendatangkan bahan bahan pembantu chemical tersebut. Terkait masalah pengadaan diatas juga akan mempengaruhi penerimaan dan penyimpanan serta resiko yang akan terjadi.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana sistem akuntansi pembelian bahan pembantu chemical di PT. Kusumahadi Santosa Surakarta ?
  2. Bagaimana evaluasi sistem akuntansi pembelian bahan pembantu chemical di PT. Kusumahadi Santosa Surakarta?

 

C. Landasan Teori

Pengertian Sistem dan Prosedur

Sistem menurut Mulyadi (2001 : 5) adalah : “Sekelompok unsur yang erat berhubungan satu dengan yang lainnya, yang berfungsi bersama – sama untuk mencapai tujuan tertentu.”

Pengertian Sistem Akuntansi

Menurut Mulyadi (2001 : 5) sistem akuntansi adalah : “Organisasi formulir, catatan, dan laporan yang dikoordinasikan sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pegelolaan perusahaan.”

Pengertian Persediaan Bahan Pembantu

Dalam perusahaan manufaktur, persediaan terdiri dari : persediaan produk jadi, persediaan produk dalam proses, persediaan bahan baku, persediaan bahan penolong, persediaan bahan habis pakai pabrik, perediaan suku cadang. Dalam perusahaan dagang, persediaan hanya terdiri dari satu golongan, yaitu persediaan barang dagangan yang dibeli untuk dijual kembali. Transaksi yang mengubah persediaan produk jadi, persediaan bahan baku, persediaan bahan penolong, persediaan bahan habis pakai pabrik, dan persediaan suku cadang, bersangkutan dengan transaksi intern perusahaan dan transaksi yang menyangkut pihak luar perusahaan (penjualan dan pembelian),sedangkan transaksi yang mengubah persediaan produk dalam proses seluruhnya berupa transaksi intern perusahaan. ( Mulyadi 2001:553).

 

D. Kesimpulan Tesis

PT.Kusumahadi Santosa merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang bergerak dibidang tekstil. Perusahaan ini meggunakan bahan baku berupa benang dan bahan pembantu chemical. Pengadaan bahan baku perusahaan menggunakan tim khusus pembelian yang telah ditunjuk oleh perusahaan, sedangkan dalam penanganan bahan pembantu ditangani oleh perusahaan sendiri, khususnya dalam pembelian bahan pembantu chemical yang merupakan faktor terpenting dalam proses produksi. Pembelian bahan pembantu chemical pada PT.Kusumahadi Santosa pembeliannya dilakukan secara kredit. Sistem pembelian bahan pembantu chemical pada PT.Kusumahadi Santosa sudah cukup baik dan berjalan dengan lancar, terbukti dengan adanya pemisahan fungsi sehingga tidak dilakukan oleh satu fungsi saja meskipun ada juga fungsi yang masih merangkap dengan fungsi lain. Selain itu, dokumen dan catatan akuntansi yang digunakan juga sudah memadai. Prosedur yang digunakan juga sudah baik. Jadi sistem akuntansi pembelian bahan pembantu chemical pada PT.Kusumahadi Santosa sudah cukup baik, meskipun masih ada yang perlu diperbaiki dan ditambahkan.

 

E. Rekomendasi

  1. Sebaiknya ada pemisahan fungsi antara penerimaan barang dan bagian gudang sehingga bisa mencegah terjadinya penyelewengan atau kerjasama yang bisa merugikan perusahaan.
  2. Sebaiknya adanya pemisahan fungsi pencatatan dan operasional, sehingga akan mengurangi tindak kerjasama yang bisa merugikan perusahaan.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Evaluasi Sistem Akuntansi Pembelian Bahan Pembantu Chemical Pada Pt.Kusumahadi Santosa Surakarta
  2. Intellectual Capital Disclosure Studi Empiris Pada Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar
  3. Pengaruh Dana Alokasi Khusus (Dak) Dan Pendapatan Asli Daerah (Pad) Terhadap Belanja Daerah Bidang Pendidikan Pada Kabupaten/Kota Di Sulawesi
  4. Hubungan Antara Kinerja Sosial Dan Lingkungan Terhadap Kinerja Keuangan, Ukuran Perusahaan, Risiko Manajemen Dan Kepemilikan Institusional

Tesis Akutansi: Persepsi Akuntan Pendidik & Pengguna Jasa Akuntan trhdp Kualifikasi Entry

Judul Tesis : Persepsi Akuntan Pendidik dan Pengguna Jasa Akuntan (Perusahaan Swasta) terhadap Kualifikasi Entry Level Accountant

 

A. Latar Belakang Tesis

Profesi akuntan berada pada kondisi perkembangan yang cepat. Perkembangan ini harus diikuti oleh semakin mantapnya profesionalisme yang dimiliki akuntan dan di masa depan profesi akuntan di Indonesia akan menghadapi tantangan yang semakin berat dalam menjalankan profesinya. Oleh karena itu, kesiapan akuntan yang menyangkut profesionalisme mutlak diperlukan (Rahman dalam Setiyani, 2003). Untuk menjadi seorang yang profesional, ada tiga syarat utama yang harus dipenuhi, yaitu mempunyai pengetahuan (knowledge), mempunyai keahlian (skill), dan mempunyai karakter (characteristics) (Machfoedz, 1997).

Peran akuntan harus dikaji ulang untuk menghadapi masa depan. Mereka hendaknya merekayasa ulang dirinya sendiri dan menjelaskan kembali peran mereka sebagai konsultan internal perusahaan. Jika dulu akuntan lebih cenderung berkutat dengan data-data keuangan, sekarang akuntan harus lebih dibekali dengan teknik analisis sebagai pertimbangan manajemen untuk suatu strategi bisnis. Akuntan semakin dituntut memiliki toleransi terhadap ambiguitas dan kemampuan kepemimpinan, selain itu akuntan harus memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang baik dan juga kemampuan membangun analisis di luar jangkauan peran akuntan secara tradisional (Husein dalam Setiyani, 2003).

 

B. Rumusan Masalah

  1. Kualifikasi apakah yang paling diperlukan oleh pengguna jasa akuntan (perusahaan swasta) pada entry level accountant?
  2. Apakah terdapat perbedaan persepsi antara akuntan pendidik dan pengguna jasa akuntan (perusahaan swasta) terhadap kualifikasi entry level accountant?

 

C. Landasan Teori

Persepsi

Menurut Kotler dalam Meylani (2003), persepsi merupakan proses seorang individu memilih, mengorganisasi, menafsirkan masukan-masukan informasi untuk menciptakan sebuah gambaran yang bermakna tentang dunia. Jadi persepsi adalah suatu proses yang merupakan aktivitas mengindera, menyeleksi, mengorganisir, dan menginterpretasikan, serta memberi penilaian terhadap objek tertentu.

Akuntan Pendidik

Pengertian akuntan pendidik menurut Partini dalam Amani (2004) diartikan sebagai akuntan yang berprofesi sebagai staf pengajar (dosen) tetap pada suatu perguruan tinggi.

Pengguna Jasa Akuntan (Perusahaan Swasta)

Pengguna jasa akuntan (user) adalah mereka yang di dalam organisasi bisnisnya menggunakan tenaga akuntan (Situmorang, 2000). Pengguna jasa akuntan yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan swasta yang terdiri dari perusahaan manufaktur, perusahaan dagang, dan perusahaan jasa.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan metode survei melalui kuesioner.

Kuesioner dalam penelitian ini adalah kuesioner yang digunakan sebelumnya oleh Meylani (2003) dan Setiyani (2003) yang diadaptasi dari Novin dan Tucker (2003) dan Harsono dan Untoro (2004) yang diadaptasi dari Goleman (1995).

Metode yang digunakan untuk menganalisis validitas adalah Pearson Product Moment, reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha, dan normalitas dengan One- Sample Kolmogorov Smirnov. Sedangkan untuk menguji hipotesis digunakan uji Independent Sample T-Test dan Mann Whitney U-Test

 

E. Kesimpulan

  1. Dari hasil Independent Sample T-Test, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan pendidik pengguna jasa akuntan (perusahaan swasta) mengenai kualifikasi ketrampilan (skill) dan kecerdasan emosional (emotional quotient) yang harus dimiliki oleh entry level accountant. Sedangkan untuk kualifikasi pengetahuan (knowledge) tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan pendidik dan pengguna jasa akuntan (perusahaan swasta).
  2. Dari hasil Mann-Whitney U Test, menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan pendidik dan pengguna jasa akuntan (perusahaan swasta) mengenai kualifikasi karakteristik (characteristics) yang harus dimiliki oleh entry level accountant.
  3. Secara keseluruhan terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan pendidik dan pengguna jasa akuntan (perusahaan swasta) terhadap kualifikasi entry level accountant. Akuntan pendidik memiliki persepsi yang lebih tinggi dari pengguna jasa akuntan (perusahaan swasta). Hal ini dibuktikan dengan nilai mean akuntan pendidik yang selalu lebih tinggi dari nilai mean pengguna jasa akuntan (perusahaan swasta).

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Evaluasi Sistem Penerimaan Kas Dari Sambungan Barudan Tagihan Rekening Air
  2. Reaksi Pasar Terhadap Pengumuman Pergantian Chief Executive Officer (Ceo) Diukur
  3. Evaluasi Penentuan Harga Pokok Produksi pada Pembuatan Tahu Fajar di Jumantono
  4. Evaluasi Sistem Pemberian Kredit pada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Badan
  5. Prediksi Rasio Keuangan terhadap Kondisi Financial Distress pada Perusahaan Property

 

 

Tesis Akutansi: Evaluasi Sistem Pembelian Bahan Baku Rayon pd PT KUSUMAPUTRA SANTOSA

Judul Tesis : Evaluasi Sistem Pembelian Bahan Baku Rayon pada PT KUSUMAPUTRA SANTOSA Kab.Karanganyar

 

A. Latar Belakang

Menghadapi persaingan yang semakin ketat, perusahaan harus mampu menghasilkan produknya dengan lancar dan mempunyai mutu dan kualitas sama atau lebih unggul dari para pesaingnya. Hal tersebut penting untuk dapat bersaing dan mendapatkan konsumen yang lebih banyak. Suatu perusahaan yang telah berjalan harus memonitor kegiatan dan hasil produksinya secara cermat dan teliti.

Untuk menunjang pengawasan tersebut, peran sistem yang berhubungan secara langsung dengan kegiatan produksi berperan sangat penting agar kualitas produksi dapat terjaga. Dalam hal ini, salah satu sistem yang berkaitan dengan kegiatan produksi adalah sistem pembelian.

 

B. Rumusan Masalah Tesis

  1. Bagaimana sistem pembelian bahan baku rayon pada PT Kusumaputra Santosa?
  2. Apakah kelebihan dan kelemahan dari sistem pembelian bahan baku rayon pada PT Kusumaputra Santosa?

 

C. Landasan Teori

Pengertian Sistem

Sistem akuntansi adalah organisasi formulir, catatan yang terdiri drai jurnal, buku besar, dan buku pembantu, serta laporan yang dikoordinasikan sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan (Mulyadi, 2001 : 3).

Definisi Bahan Baku

Bahan baku adalah bahan yang menempel menjadi satu dengan barang jadi yang mempunyai nilai relatif lebih tinggi dibanding nilai bahan yang lain dalam pembuatan suatu barang jadi (Hanggana, 2007:14).

Sistem Pembelian

Sistem pembelian digunakan dalam perusahaan untuk pengadaan barang yang diperlukan oleh perusahaan (Mulyadi, 2001:299). Begitu juga pada PT Kusumaputra Santosa yang termasuk perusahaan manufaktur, pembelian bahan baku sangat penting dilakukan untuk penyediaan bahan baku produksi sesuai dengan permintaan konsumen. Transaksi pembelian dapat digolongkan menjadi dua, pembelian lokal yaitu pembelian dari pemasok dalam negeri dan pembelian impor yaitu pembelian dari pemasok luar negeri. Cara pembayarannya pun dapat dilakukan dengan bermacammacam cara antara lain dengan tunai atau dengan kredit.

 

D. Kesimpulan

Akuntansi pembelian bahan baku rayon pada PT Kusumaputra Santosa terdiri dari;

  1. Fungsi yang terkait yaitu;
  2. Fungsi peminta barang
  3. Fungsi pembelian
  4. Fungsi penerimaan
  5. Fungsi pembuatan tanda terima barang
  6. Fungsi pembuatan laporan penerimaan barang
  7. Fungsi akuntansi
  8. Fungsi pengajuan rencana bayar
  9. Dokumen yang digunakan yaitu;
  10. Surat rencana kebutuhan bahan
  11. Surat permintaan penawaran harga
  12. Surat kontrak pembelian
  13. Faktur (nota)
  14. Surat jalan
  15. Laporan harian penerimaan atau pengeluaran barang
  16. Tanda terima barang
  17. Laporan penerimaan barang
  18. Bukti pengeluaran

 

E. Rekomendasi

  1. Perlu adanya pemisahan fungsi antara fungsi operasional (peneriman) dan fungsi penyimpanan pada bagian gudang agar dalam proses kedua kegiatan tersebut tidak terjadi penyelewengan yang dapat merugikan perusahaan.
  2. Sebaiknya yang melakukan permintaan pembelian adalah bagian gudang dengan rekomendasi dari bagian produksi mengenai jumlah kebutuhan bahan baku yang diperlukan untuk proses produksi periode yang akan datang.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Evaluasi Sistem Penerimaan Kas Dari Sambungan Barudan Tagihan Rekening Air
  2. Reaksi Pasar Terhadap Pengumuman Pergantian Chief Executive Officer (Ceo) Diukur
  3. Evaluasi Penentuan Harga Pokok Produksi Pada Pembuatan Tahu Fajar Di Jumantono
  4. Evaluasi Sistem Pemberian Kredit Pada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Badan
  5. Prediksi Rasio Keuangan Terhadap Kondisi Financial Distress Pada Perusahaan Property

 

Tesis Akutansi: Evaluasi Sistem Pemberian Kredit pd Perusahaan Daerah BPR Badan Kredit Desa

Judul Tesis : Evaluasi Sistem Pemberian Kredit pada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Badan Kredit Desa Kabupaten Karanganyar Cabang Grompol

 

A. Latar Belakang

Perkembangan perbankan nasional saat ini mengakibatkan ketatnya persaingan antarbank. Saat ini kelangsungan hidup suatu bank sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk bersaing di pasar. Kemampuan bersaing memerlukan strategi yang dapat memanfaatkan semua kekuatan dan peluang yang ada serta menutup kelemahan dan menetralisir hambatan strategis dalam dinamika bisnis yang dihadapi. Semua itu dapat dilakukan apabila manajemen mampu melakukan pengambilan keputusan yang didasarkan pada masukan yang obyektif. Banyak faktor yang menjadi masukan manajemen dalam pengambilan keputusan. Salah satunya adalah masukan yang berasal dari Sistem Informasi Akuntansi. Salah satu aspek penting dalam Sistem Informasi Akuntansi adalah bahwa sistem tersebut berjalan dengan baik di dalam struktur pengendalian intern perusahaan. Pengendalian menjamin kebijakan dan pengarahanpengarahan manajemen cukup memadai. Pengendalian intern yang baik merupakan faktor kunci manajemen perusahaan yang efektif.

BPR BKD Kabupaten Karanganyar didirikan untuk membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah di segala bidang serta sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Sebagai perusahaan daerah yang usahanya bergerak di bidang jasa keuangan, maka PD. BPR BKD Kabupaten Karanganyar harus mampu memberikan pelayanan terbaik bagi para nasabahnya. Guna memudahkan nasabah untuk melakukan transaksi kredit ataupun simpanan maka pada tanggal 30 Januari 2009 PD. BPR BKD Kabupaten Karanganyar membuka PD. BPR BKD Kabupaten Karanganyar Cabang Grompol, sesuai dengan surat dari Bank Indonesia Nomor 11/163/DKBU/Idad/Slo, tentang persetujuan operasional Kantor Cabang BPR BKD Kabupaten Karanganyar Cabang Grompol. Sebelum berdiri sebagai kantor cabang, PD. BPR BKD Kabupaten Karanganyar Cabang Grompol merupakan salah satu kantor kas pelayanan PD. BPR BKD Kabupaten Karanganyar.

 

B. Rumusan Masalah

  • Bagaimana sistem pemberian kredit di PD BPR BKD Kabupaten Karanganyar Cabang Grompol?
  • Apakah sistem pengendalian intern yang efektif telah diterapkan pada sistem pemberian kredit di PD BPR BKD Kabupaten Karanganyar Cabang Grompol?
  • Apakah kelebihan dan kelemahan sistem pemberian kredit pada PD BPR BKD Kabupaten Karanganyar Cabang Grompol?

 

C. Landasan Teori

Pengertian Sistem Pengendalian Intern

Sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, metode, dan ukuranukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi, dan mendorong dipatuhinya kebijakan manjemen (Mulyadi, 2001: 163).

Pengertian Kredit

Istilah kredit berasal dari bahasa Yunani (Credere) yang berarti kepercayaan (truth atau faith) atau dalam bahasa Latin “creditum” yang berarti kepercayaan akan kebenaran (Mulyono, 1993: 9). Sehingga dasar dari kredit ialah kepercayaan seseorang atau suatu badan yang memberikan kredit (kreditur) percaya bahwa penerima kredit (debitur) di masa mendatang akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah dijanjikan. Menurut pasal 1 ayat 11 UndangUndang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan UndangUndang Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan, kredit adalah penyediaan uang atau tagihantagihan yang dapat disamakan dengan itu berdasarkan persetujuan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain, dalam hal dimana pihak peminjam berkewajiban melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Tujuan dan Fungsi Kredit

Suyatno (2003: 15) berpendapat bahwa tujuan kredit yang diberikan oleh suatu bank, khususnya bank pemerintah yang bertugas sebagai agent of development adalah:

  1. Turut mensukseskan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan.
  2. Meningkatkan aktivitas perusahaan agar dapat menjalankan fungsinya guna menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat
  3. Memperoleh laba agar kelangsungan hidup perusahaan terjamin dan dapat memperluas usahanya.

 

D. Kesimpulan

  1. BPR BKD Kabupaten Karanganyar Cabang Grompol adalah salah satu badan kredit yang ada di wilayah Kabupaten Karanganyar. Dalam kegiatannya, tidak jarang terjadi masalah dalam macetnya angsuran kredit yang dilakukan oleh nasabahnya. Tapi dengan diterapkannya sistem yang baik dalam proses pemberian kredit di PD. BPR BKD Kabupaten Karanganyar Cabang Grompol akan meminimalisasi adanya risiko kegagalan kredit. Dari hasil pembahasan yang telah dilakukan penulis dapat disimpulkan bahwa pada sistem pemberian kredit di PD. BPR BKD Kabupaten Karanganyar Cabang Grompol sudah terdapat pemisahan tanggung jawab fungsional antar bagian, penggunaan formulir bernomor urut tercetak, penggunaan dokumen rangkap, dan sistem wewenang otorisasi dokumen.

 

E. Saran

  1. BPR BKD Kabupaten Karanganyar Cabang Grompol harus lebih mengoptimalkan Bagian Analisis Kredit.
  2. Lebih selektif dalam memilih calon debitur, dengan penilaian kredit yang lebih mempertimbangkan kelayakan kredit. Selektif dalam memilih calon debitur dapat mengurangi tingkat kredit bermasalah.
  3. Satuan Pengawas Intern lebih intensif mengadakan pemeriksaan dan melakukan pengawasan, sehingga mendorong dipatuhinya setiap ketentuan yang ditetapkan oleh manajemen PD. BPR BKD Kabupaten Karanganyar oleh karyawan di semua bagian.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Evaluasi Sistem Penerimaan Kas Dari Sambungan Barudan Tagihan Rekening Air
  2. Reaksi Pasar Terhadap Pengumuman Pergantian Chief Executive Officer (Ceo) Diukur
  3. Evaluasi Penentuan Harga Pokok Produksi Pada Pembuatan Tahu Fajar Di Jumantono
  4. Evaluasi Sistem Pemberian Kredit Pada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Badan
  5. Prediksi Rasio Keuangan Terhadap Kondisi Financial Distress Pada Perusahaan Property

 

Tesis Akutansi: Evaluasi Penentuan Harga Pokok Produksi pd Pembuatan Tahu Fajar

Judul Tesis : Evaluasi Penentuan Harga Pokok Produksi pada Pembuatan Tahu Fajar di Jumantono

 

A. Latar Belakang

Harga pokok produksi merupakan keseluruhan biaya produksi yang terserap ke dalam setiap unit produk yang dihasilkan perusahaan. Secara umum biaya produksi dibagi menjadi tiga elemen yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya produksi lainnya (Biaya Overhead Pabrik). Untuk pengumpulan biaya produksi ditentukan oleh karakteristik proses produksi yang dihasilkan perusahaan. Karakteristik kegiatan perusahaan menggunakan metode pengumpulan biaya produksi. Ada dua macam metode pengumpulan biaya produksi yaitu: metode harga pokok proses dan metode harga pokok pesanan.

Untuk kepentingan perencanaan laba jangka pendek, manajemen memerlukan informasi biaya yang dipisahkan menurut perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan. Penentuan harga pokok produksi dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu metode full costing dan variable costing. Full costing memperlakukan semua biaya produksi sebagai harga pokok (product cost) tanpa memperhatikan apakah biaya tersebut variabel atau tetap. Harga pokok produksi dengan metode ini terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik tetap dan variabel. Variable costing, hanya biaya produksi yang berubah-ubah sesuai dengan output yang diperlakukan sebagai harga pokok. Umumnya terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead variabel.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Biaya Overhead Pabrik apa saja yang belum dihitung?
  2. Berapa harga pokok produksi dengan pendekatan full costing dan variable costing pada pembuatan tahu Fajar di Jumantono?

 

C. Landasan Teori

Pengertian Biaya

Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu (Mulyadi, 2000: 8). Dalam arti sempit biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva (Mulyadi, 2000: 10).

 

Pengertian Harga Pokok Produksi

Menurut Mulyadi (2000: 10) harga pokok merupakan pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva, selain itu harga pokok juga digunakan untuk menunjukkan pengorbanan sumber ekonomi dalam pengolahan bahan baku menjadi produk. Namun karena pembuatan produk tersebut bertujuan mengubah aktiva (berupa persediaan bahan baku) menjadi aktiva lain (persediaan produk jadi), maka pengorbanan bahan baku tersebut, yang berupa biaya bahan baku, akan membentuk harga pokok produksi.

 

Metode Harga Pokok Proses (Process costing)

Sistem process costing digunakan dalam perusahaan yang memproduksi satu jenis produk dalam jumlah besar dalam jangka panjang. Contohnya adalah produksi kertas. Prinsip dasar dari process costing adalah mengakumulasikan biaya dari operasi atau departemen tertentu selama satu periode penuh (bulanan, kuartalan, dan tahunan) dan kemudian membaginya dengan jumlah unit yang diproduksi selama periode tersebut.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang memfokuskan pada evaluasi harga pokok produk pada tahu perpotongnya. Penelitian ini dilakukan dengan dua pendekatan metode penentuan harga pokok produksi yaitu (1) metode full costing yaitu metode yang memperlakukan semua biaya produksi sebagai harga pokok (product cost) tanpa memperhatikan apakah biaya tersebut variabel atau tetap, (2) metode variable costing, hanya biaya produksi yang berubah-ubah sesuai dengan output yang diperlakukan sebagai harga pokok. Perumusan masalah adalah (1) biaya overhead pabrik apa saja yang belum dihitung?, (2) berapa harga pokok produksi dengan pendekatan full costing dan variable costing pada pembuatan tahu Fajar di Jumantono?

 

E. Kesimpulan Tesis

  1. Biaya overhead pabrik yang belum dihitung adalah biaya overhead pabrik tetap yaitu biaya penyusutan gedung dan biaya penyusutan mesin.
  2. Penghitungan biaya overhead pabrik antara tahu putih dan tahu merah tidak dipisahkan.

 

Contoh Tesis Akutansi

  1. Evaluasi Sistem Penerimaan Kas Dari Sambungan Barudan Tagihan Rekening Air
  2. Reaksi Pasar Terhadap Pengumuman Pergantian Chief Executive Officer (Ceo) Diukur
  3. Evaluasi Penentuan Harga Pokok Produksi Pada Pembuatan Tahu Fajar Di Jumantono
  4. Evaluasi Sistem Pemberian Kredit Pada Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Badan
  5. Prediksi Rasio Keuangan Terhadap Kondisi Financial Distress Pada Perusahaan Property