Novel Suparto Brata’s Omnibus Karya Suparto Brata (Pendekatan Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan)

Latar Belakang Masalah Kajian Sosiologi dan Nilai Pendidikan dalam Novel

Di setiap novelnya memiliki kekhasan masing-masing. Seperti halnya dalam novel clemang-clemong, terdapat beberapa kata yang bagi sebagian orang dianggap tabu. Dalam novel Astirin Mbalela kita bisa melihat keberanian Astirin dalam menentang tradisi kawin paksa dan petualangannya saat pergi ke Surabaya. Selanjutnya Suparto Brata menyajikan adegan menegangkan dengan gaya khas detektif dalam novel Bekasi Remengremeng. Semuanya dikemas dengan tangan dingin Suparto Brata. Pembaca juga disuguhkan dengan alur cerita yang menawan. Tidak mudah ditebak! Pembaca akan terus dibuat penasaran dan bertanya-tanya tentang peristiwa selanjutnya. Istilah seperti suspense dan surprise juga dihadirkan dalam cerita Astirin Mbalela. Suspense yang membuat pembaca penasaran dan ingin terus membacanya, sedangkan surprise adalah hal yang memberi kejutan bagi pembaca dalam cerita tersebut.

Penelitian ini mengambil judul Novel Suparto Brata‟s Omnibus karya Suparto Brata (Tinjauan Sosiologi Sastra dan Nilai-nilai Pendidikan). Penelitian ini dimulai dengan sebuah kajian struktural yang menganalisis tentang tema, alur, penokohan, setting, dan sudut pandang dilanjutkan dengan kajian sosiologi sastra, dan nilai-nilai pendidikan yang meliputi nilai pendidikan agama, karakter dan sosial budaya.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah unsur-unsur struktural yang meliputi tema, alur, penokohan, latar, dan sudut pandang yang terdapat dalam SBO?
  2. Bagaimanakah aspek sosial dan budaya yang terdapat dalam SBO?
  3. Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan dalam SBO?

Landasan Teori, Penelitian Yang Relevan, Kerangka Berpikir

  • Pendekatan Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra adalah suatu telaah obyektif dan ilmu tentang manusia dalam masyarakat dan proses sosialnya (Sapardi Djoko Damono, 1979: 17). Penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra memperlihatkan kekuatan yakni: sastra dipandang sebagai sesuatu hasil budaya yang amat diperlukan masyarakat. Suatu pendekatan sosiologi sastra mencakup tiga komponen pokok menurut pendapat Warren dan Wellek dalam Djoko Damono (1979: 3) ketiganya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Sosiologi pengarang
  2. Sosiologi karya sastra
  3. Sosiologi sastra
  • Hakikat Nilai Pendidikan

Herman J. Waluyo (2009:27) menyatakan bahwa nilai sastra berarti kebaikan yang ada dalam makna karya sastra bagi kehidupan. Nilai sastra dapat berupa nilai medial (menjadi sarana). Nilai final (yang dikejar seseorang), nilai cultural, nilai kesusilaan, dan nilai agama. Dari pendapat tersebut, peneliti menyimpulkan ada tiga macam nilai yang terdapat dalam Suparto Brata‟s Omnibus. Nilai-nilai pendidikan yang dimaksud yaitu nilai pendidikan agama, pendidikan karakter, dan pendidikan sosial budaya.

Metodelogi Pendidikan

Bentuk penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.

Sumber data penelitian ini dapat dipilah menjadi dua, yaitu dokumen dan informan. Dokumennya adalah Suparto Brata‟s Omnibus tahun 2007. Informannya adalah pengarang Suparto Brata‟s omnibus.

Berdasarkan sumber data penelitian, maka data penelitiannya adalah teks di dalam Suparto Brata‟s omnibus yang mengandung tema, alur, penokohan, setting, sudut pandang, aspek sosial budaya, dan nilai-nilai pendidikan.

Simpulan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap Suparto Brata‟s Omnibus, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

  1. Suparto Brata‟s Omnibus meliputi tiga novel, yaitu Astirin Mbalela, Clemang-clemong, dan Bekasi Remeng-remeng. Ditinjau dari analisis struktural, novel Astirin Mbalela merupakan salah satu novel yang bertemakan perjuangan. Aspek penokohan dalam novel Astirin Mbalela menampilkan tokoh-tokoh dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda. Alur yang digunakan dalam novel Astirin Mbalela adalah alur maju, karena menceritakan kejadian dari awal hingga akhir.Setting tempat, setting waktu, dan setting sosial digarap dengan apik dan menarik. Sudut pandang yang digunakan oleh pengarang dalam novel Astirin Mbalela adalah sudut pandang orang ketiga. Aspek penokohan dalam novel tersebut juga menampilkan tokoh-tokoh dengan komplek, dan sebagian tokoh mengalami perubahan nasib.
  2. Bagaimanapun juga aspek sosial budaya tidak bisa dilepaskan dari karya sastra terutama karya rekaan. Segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan, pendidikan, agama, adat-istiadat, bahasa, suku dan tempat tinggal selalu berhubungan dengan karya tersebut. Tidak terkecuali dalam Suparto Brata‟s Omnibus yang meliputi Astirin Mbalela, Clemang-clemong, dan Bekasi Remeng-remeng.
  3. Nilai-nilai pendidikan yang meliputi nilai pendidikan agama, pendidikan karakter, dan pendidikan sosial budaya yang terdapat dalam Suparto Brata‟s Omnibus sangat bermanfaat bagi penikmat karya sastra dimanapun berada.