Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Nilai-Nilai Tradisional Petani Komunitas Adat ”Blangkon” dgn Usaha Tani Padi Sawah

Judul Skripsi : Kajian Nilai-nilai Traditional Petani Komunitas “Blangkon” Kaitanya dengan Usaha Tani Padi Sawah

 

A. Latar Belakang Masalah Skripsi

Komunitas adat Blangkon di desa Pekuncen kecamatan Jatilawang kabupaten Banyumas merupakan masyarakat adat yang masih cukup teguh memegang adat tradisi dan kebudayaan leluhurnya, termasuk selalu melaksanakan ritual-ritual dalam melaksanakan usahataninya. Sekitar 95 persen dari 5.163 jiwa penduduk di desa Pekuncen merupakan penganut aliran ini. Mereka masih sering mengadakan ritual/selamatan pada waktu-waktu tertentu yang pastinya juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Padahal, dilihat secara kasat mata dari segi sosial ekonomi kehidupan komunitas adat Blangkon masih banyak yang kurang bisa hidup secara berkecukupan, rumah-rumah merekapun masih sangat sederhana.

Mereka pada umumnya mengandalkan hidup dari usahatani padi, padahal rata-rata luas lahan garapan mereka sempit yaitu kurang dari 0,5 hektar sehingga terjadi inefisiensi dalam usahataninya. Oleh karena itu penulis tetarik untuk mengadakan penelitian tentang ” Kajian Nilai-nilai Tradisional Petani Komunitas Adat Blangkon Kaitannya dengan Usaha tani Padi Sawah”.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Bagaimana nilai-nilai tradisional petani komunitas adat Blangkon yang mempengaruhi perilaku petani dalam pengelolaan usahatani padi sawah?
  2. Bagaimana analisis usahatani padi sawah petani komunitas adat Blangkon?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mengkaji nilai-nilai tradisional petani komunitas adat Blangkon yang mempengaruhi perilaku petani dalam pengelolaan usahatani padi sawah.
  2. Menganalisis usahatani padi sawah petani komunitas adat Blangkon.

 

D. Kesimpulan

1. Nilai-nilai tradisonal yang mereka laksanakan adalah dalam bentuk ritual selamatan berdasarkan bulan, ritual selamatan umum dan ritual selamatan berdasarkan siklus kehidupan. Nilai positif dari nilai-nilai tradisional ini adalah masih kuatnya rasa kebersamaan atau kegotongroyongan dan kepatuhan/loyalitas yang tinggi terhadap pimpinan adat. Sedangkan nilai negatifnya adalah rasa kepasrahan mereka terhadap alam dan terhadap nasib masih tinggi sehingga mereka cenderung menerima nasib apa adanya dan kurang adanya upaya untuk memperbaiki taraf hidupnya. Mereka sudah merasa hidup cukup bila mereka bisa makan 3 kali dalam sehari, hidup rukun dan sehat.

2. Dalam hal kegiatan usaha tani, petani komunitas adat Blangkon mau menerima dan melaksanakan anjuran dari pemerintah/penyuluh pertanian, akan tetapi proses adopsi inovasi mereka berjalan lambat. Hal ini antara lain karena pengetahuan dan informasi yang mereka dapat dalam bidang pertanian masih terbatas, selain itu juga karena sarana prasarana pertanian yang kurang memadahi. Untuk analisa usaha tani ini, semua petani komunitas adat Blangkon tidak ada yang mencatat/memperhitungkannya sehingga mereka tidak mengetahui berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk usahataninya dan berapa pendapatan yang diperolehnya dan dari 20 responden penelitian ini didapat data bahwa sebagian besar hasil panen padi mereka adalah untuk dikonsumsi sendiri, sehingga mereka termasuk dalam petani subsisten. Dari hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata pendapatan yang didapat dari hasil usahatani padi sawah per long 20 atau 0,14 hektar adalah Rp 989.000,00 Dari hasil pendapatan Rp 989.000,00 dikurangi biaya untuk ritual pertanian Rp 327.500,00 dan biaya untuk ritual bulanan Rp 2.540.500,00 jadi sisanya adalah Rp -1.879.000,00 dan dari perhitungan tersebut ternyata secara keuangan petani tidak memperoleh keuntungan bila mereka hanya mengandalkan penghasilan dari usahatani padi sawah dengan luas rata-rata long 20 atau 0,14 hektar.