Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Konseling Eklektik Untuk Meningkatkan Fungsi Sosial Dan Kualitas Hidup

Latar Belakang Masalah Kualitas Hidup

Konseling eklektik sebagai salah satu bentuk terapi psikososial yang tidak berorientasi pada satu teori secara eksklusif, tetapi justru mempelajari berbagai teori dan menerapkannya sesuai dengan keadaan dan perkembangan masalah pasien, merupakan pendekatan konseling integratif yang menerapkan strategi penanganan secara cermat dan tepat terhadap permasalahan yang berbeda pada setiap pasien dalam mencapai dan memelihara kemungkinan tertinggi dari level integrasinya yang ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan integritas yang memuaskan. Untuk mencapai tujuan yang ideal itu maka pasien perlu dibantu untuk menyadari sepenuhnya situasi masalahnya, mengajari pasien secara sadar dan intensif memiliki latihan pengendalian di atas masalah tingkah laku (Latipun, 2008; Mappiare, 2010; Hayat, 2010).

Dengan konsep pendekatan konseling eklektik tersebut diharapkan dapat membantu pasien skizofrenia dalam memecahkan permasalahannya, memperbaiki perilakunya serta membantu memulihkan kembali kemampuan adaptasi sehingga dapat meningkatkan kapasitas fungsi sosial dan kualitas hidup pasien skizofrenia. Selain itu menurut pengetahuan penulis, belum ada publikasi di Indonesia tentang penelitian konseling eklektik untuk meningkatkan kapasitas fungsi sosial dan kualitas hidup pasien skizofrenia.

Perumusan Masalah

  1. Apakah The Social and Occupational Functioning Assessment Scale (SOFAS) versi Indonesia valid dan reliabel digunakan untuk menilai kapasitas fungsi sosial pasien skizofrenia di Indonesia?
  2. Apakah konseling eklektik efektif meningkatkan kapasitas fungsi sosial pasien skizofrenia?
  3. Apakah konseling eklektik efektif meningkatkan kualitas hidup pasien skizofrenia?

Landasan Teori

  1. Skizofrenia

Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizein yang berarti terpisah atau pecah dan phren yang artinya jiwa. Menurut Eugen Bleuler, skizofrenia adalah suatu gambaran jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau ketidak harmonisan antara proses berpikir, perasaan dan perbuatan (Maramis, 2009).

  1. Kapasitas Fungsi sosial

Kapasitas fungsi sosial yaitu kemampuan menjalankan peran sosial seperti mempertahankan pekerjaan, perkawinan, mengurus anak serta adaptif menghadapi masalah dan tidak terisolasi dari lingkungan sosialnya (Surilena, 2005).

  1. Kualitas Hidup

Menurut WHO ( 1991) definisi kualitas hidup adalah persepsi individu terhadap posisinya dalam kehidupan sesuai dengan sistem budaya dan nilai-nilai tempat mereka hidup dalam kaitannya dalam kepentingannya, tujuan hidupnya, harapannya dan standar yang ingin dicapainya. Pada hakekatnya setiap orang memiliki kemampuan namun seringkali kemampuan tersebut kurang berfungsi dengan baik. Tujuan konseling adalah untuk mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki seseorang dengan membantu mengembangkan penguasaannya terhadap lingkungan dan respon-respon di dalam dirinya.

Metode Penelitian

Penelitian Keefektifan Konseling Eklektik untuk Meningkatkan Kapasitas Fungsi Sosial dan Kualitas Hidup Pasien Skizofrenia di rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta adalah penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial yang mengambil lokasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.

Sampel pada penelitian ini adalah pasien skizofrenia di poliklinik rawat jalan Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta, pengambilan sampel secara purposive sampling, analisis datanya menggunakan uji t tidak berpasangan.

Sedangkan uji validitas The Social and Occupational Functioning Assessment Scale (SOFAS) menggunakan rancangan cross sectional dan pengambilan sampelnya secara quota sampling, analisis datanya menggunakan uji korelasi Pearson product moment.

Kesimpulan

  1. The Social and Occupational Functioning Assessment Scale (SOFAS) valid dan reliabel untuk mengukur kapasitas fungsi sosial pasien skizofrenia.
  2. Konseling eklektik efektif meningkatkan kapasitas fungsi sosial pasien skizofrenia.
  3. Konseling eklektik efektif meningkatkan kualitas hidup pasien skizofrenia. Dengan demikian hipotesis satu diterima.