Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Kajian Sosiopragmatik Tindak Tutur Adegan Limbukan dlm Seni Pertunjukan Wayang Purwa

Judul Skripsi : Kajian Sosiopragmatik Tindak Tutur Adegan Limbukan dalam Seni Pertunjukan Wayang Purwa di Surakarta

 

A. Latar Belakang Masalah

Berdasarkan sejumlah fenomena pada tuturan adegan limbukan beberapa dalang di daerah Surakarta dapat diidentifikasi atas berbagai kecenderungan, yakni :

a) langsung versus tidak langsung (inderect)

b) literal versus tidak literal

c) fokus (to the point) versus berputar-putar

d) santun versus tidak santun

Dengan demikian, penelitian ini dilaksanakan berdasarkan pertimbanganpertimbangan. Pertama, aspek yang penting adalah memahami maksud penutur  (speaker meaning). Untuk menangkap maksud penutur sangat ditentukan oleh latar sosial-kultural, hubungan penutur (n), dan mitra tutur (t) yang terkait dengan variabel kekuasaan (power) dan solidaritas serta status sosial, kondisi psikologis n kaitannya dengan t. Kaitannya dengan pengertian, maksud ini telah diketengahkan oleh Edi Subroto (1988:6) bahwa maksud adalah penafsiran terhadap pertuturan (T) menurut cara pandang orang pertama. Maksud tuturan ini bergayut erat dengan kondisi fisiologis, psikologis, motif tuturan, dan prinsip-prinsip dalam pragmatik (PKS dan PSS).

Merujuk pada latar belakang di atas maka judul penelitian ini adalah “Kajian Sosiopragmatik Tindak Tutur Adegan Limbukan dalam Seni Pertunjukan Wayang Purwa di Surakarta (Studi Kasus terhadap Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk).

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah jenis-jenis tindak tutur yang digunakan oleh Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk dalam adegan limbukan seni pertunjukan wayang purwa di Kota Surakarta?
  2. Bagaimanakah implikatur-implikatur tindak tutur yang digunakan oleh Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk dalam adegan limbukan seni pertunjukan wayang purwa di Kota Surakarta?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Jenis-jenis tindak tutur yang digunakan oleh Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk dalam adegan limbukan seni pertunjukan wayang purwa di Kota Surakarta.
  2. Implikatur-implikatur tindak tutur yang digunakan oleh Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk dalam adegan limbukan seni pertunjukan wayang purwa di Kota Surakarta.

 

D. Simpulan

1. Tindak tutur adegan limbukan pertunjukan wayang purwa oleh Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk yang paling dominan adalah tindak tutur asertif pada subtindak tutur ‘memberi tahu’ karena frekuensinya lebih sering hadir dalam pertuturan. Hal ini wajar karena tuturan yang disampaikan dalang mengandung maksud untuk menyatakan kebenaran dengan tujuan memberikan informasi kepada mitra tutur. Penutur dalam adegan limbukan lebih besar porsi tuturannya untuk memberi tahu jenis lagu yang disajikan, memberi tahu permasalahan penutur saat menuju lokasi wayang, menyampaikan maksud hajatan, menanggapi undangan pentas, menceritakan pengalaman diri dalam meniti kariernya, menyatakan sisi-sisi positif pihak sponsor, dan memperkenalkan pendukung dalang.

2. Hasil penelitian dan pembahasan implikatur-implikatur TTALDSPWP Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Warseno Slenk dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. pernyataan sanjungan dan sisi-sisi positif pihak sponsor atau panitia sebanyak 12,32%.
  2. tuturan dalam rangka menghibur para pemirsa wayang (pemberitahuan lagu yang akan ditampilkan, dengan menunjuk salah seorang atau beberapa orang crew-nya untuk melantunkan lagu, dan penyampaian humor) sebanyak 33,97%.

Incoming search terms: