Kajian Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan dlm Novel Tuan Guru Karya Salman Faris

Judul Skripsi : Kajian Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan dalam Novel Tuan Guru Karya Salman Faris

 

A. Latar Belakang Masalah

Segala sesuatu yang dilukiskan oleh sastrawan dalam sebuah novel merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dikesampingkan dalam melakukan sebuah analisis. Sosiologi sastra tidak bisa mengenyampingkan peran ilmu lain dalam analisisnya meskipun fokus kajian berbeda-beda, misalnya dalam menganalisis sosial budaya masyarakat, pasti diperlukan ilmu-ilmu sosial ataupun ilmu-ilmu budaya. Seperti yang dikemukakan oleh Goldman (1997: 493): “the sociologist of literature must—like any other sociologist—verify this fact and not admit straightaway that such and such a work or such and such a group of works which he is studying constitutes a unitary structure”.

Terkait dengan pandangan tersebut, dalam penelitian ini mengkaji tentang pandangan dunia pengarang, sosial budaya yang dilukiskan pengarang dalam novel, serta nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Tuan Guru karya Salman Faris. Pengambilain nilai pendidikan sebagai salah satu masalah yang dikaji dalam penelitian ini karena setiap karya pasti mengandung nilai-nilai kehidupan yang mendidik pembaca. Kajian terhadap nilai pendidikan tersebut akan menjadi nilai tambah penting bagi pembaca.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah pandangan dunia pengarang mengenai eksistensi Tuan Guru dalam novel Tuan Guru karya Salman Faris?
  2. Nilai-nilai pendidikan apa sajakah yang terkandung dalam novel Tuan Guru karya Salman Faris?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mendeskripsikan dan menjelaskan pandangan dunia pengarang mengenai eksistensi Tuan Guru dalam novel Tuan Guru karya Salman Faris.
  2. Mendeskripsikan dan menjelaskan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Tuan Guru karya Salman Faris.

 

D. Simpulan Skripsi

1. Pandangan Dunia Pengarang terhadap Eksistensi Tuan Guru dalam Novel Tuan Guru Pandangan Salman Faris mengenai eksistensi tuan guru dalam masyarakat Lombok yang dituangkan dalam novel Tuan Guru menyingkap bahwa sesungguhnya tuan guru merupakan manusia biasa yang tidak berbeda dengan masyarakat umumnya. Perbedaan terletak pada ilmu agama dan secara aplikatif tuan guru belum tentu bisa mengamalkan ilmunya secara total. Ia juga tidak luput dari kesalahan atau lebih halusnya kekhilafan seperti masyarakat lainnya. Tuan guru tidak boleh dikeramatkan apalagi disamakan derajatnya dengan nabi yang merupakan manusia pilihan Allah yang mulia.

2. Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Tuan Guru

  • Nilai Pendidikan Sosial

Nilai sosial yang digambarkan banyak menyiratkan tentang kesetiakawanan, penghormatan seorang istri kepada suami, kepatuhan seorang anak kepada orang tua, kehidupan bertetangga yang luhur, serta menghormati orang yang lebih tua.

  • Nilai Pendidikan Moral

Nilai pendidikan moral yang disuguhkan dalam novel Tuan Guru mencakup pendidikan moral dalam hubungan kemanusiaan, kehidupan beragama, dan kehidupan dengan alam.

  • Nilai Pendidikan Budaya

Nilai pendidikan budaya khususnya kebudayaan Lombok yang diungkapkan dalam novel Tuan Guru yakni tentang kebudayaan begibung; makan bersama dalam satu wadah. Hal ini memupuk rasa persaudaraan serta meniadakan kelas sosial di antara sesama anggota masyarakat. Dalam merumuskan aturan-aturan yang berlaku di perkampungan yang sifatnya tidak tertulis, kebudayaan masyarakat Lombok mengajarkan untuk memberikan mandat kepada sesepuh kampung atau desa yang dianggap punya pengaruh dan telah mengetahui seluk beluk kampung sehingga mampu menyusun aturan yang terbaik bagi masyarakat.

Incoming search terms: