Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Kajian Penggunaan BOISCA untuk Pemanfaatan Air Lindi (Leachate) menjadi Pupuk Cair

Judul Skripsi : Kajian Penggunaan BOISCA untuk Pemanfaatan Air Lindi (Leachate) menjadi Pupuk Cair

A. Latar Belakang Masalah Skripsi

Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk mengolah sampah adalah pengolahan sampah organik menjadi kompos cair dengan menggunakan komposter. Metode ini dikembangkan oleh Bapak Sukamto (guru Kompos Cair). Metode ini sangat sederhana dan tergolong praktis dibandingkan dengan metode-metode lainnya (takakura, supermix sampuk) yang umumnya menghasilkan kompos padat. Peralatan yang dibutuhkan hanyalah sebuah unit tong komposter, sebuah semprotan (spayer), dan cairan bioaktivator BOISCA, serta alat-alat untuk mencacah/merajang sampah seperti pisau dan talenan.

Cairan lindi dapat digunakan sebagai pupuk atau kompos cair. Caranya: tambahkan 1 tutup botol BOISCA ke dalam botol lindi, lalu biarkan selama 1 malam. Setelah itu lindi sudah dapat digunakan sebagai pupuk cair. Campurkan 1 liter lindi dengan 5 liter air untuk menyiram tanaman. Keuntungan kompos cair dibandingkan dengan pupuk kimia adalah kompos cair dapat diberikan pada tanaman kapan pun dan sesering mungkin tanpa merusak struktur tanah (Sukamto, 2007). BOISCA adalah bioaktivator khusus untuk pembuatan kompos cair dari sampah rumah tangga. Bioaktivator untuk pembuatan pupuk cair ini diciptakan oleh Sukamto Hadisuwito, sepulangnya dari Jepang. Dengan berbekal pengalaman hasil mengikuti pelatihan dari OISCA (Organization for Industrial Spiritual and Cultural Advancement) Jepang.

 

B. Rumusan Masalah

Berapakah dosis BOISCA dan waktu pencampuran yang paling tepat agar dihasilkan pupuk cair yang berkualitas dari pemanfaatan air lindi ini sehingga berguna untuk kesuburan tanaman dan mengurangi pencemaran akibat penimbunan sampah?

 

C. Tujuan

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis BOISCA dan waktu pencampuran yang paling tepat agar dihasilkan pupuk cair yang berkualitas bagi kesuburan tanaman dan mengurangi pencemaran lingkungan akibat produksi air lindi dari penimbunan Sampah.

 

D. Kesimpulan

1. Pupuk cair untuk semua unsur baik N, P, K, Ca, Mg, Fe yang paling tinggi dihasilkan oleh pupuk cair dengan perlakuan D1T4, urutan kedua adalah pupuk cair dengan perlakuan D1T3, urutan ketiga adalah pupuk cair dengan perlakuan D2T1, urutan ke empat adalah pupuk cair dengan perlakuan D2T2.

2. Dari hasil analisis statistik diketahui bahwa pemberian pupuk cair dengan perlakuan 1 (D1T3), perlakuan 2 (D2T2), perlakuan 3 (D2T1), perlakuan 4 (D1T4), perlakuan 5 (kontrol/tanpa pupuk) dan perlakuan 6 (NPK) tidak menunjukkan beda nyata terhadap parameter tinggi tanaman dan jumlah daun namun menunjukkan beda nyata terhadap parameter jumlah buah dan berat buah. Dengan urutan perlakuan yang menghasilkan buah dari yang paling banyak sampai paling sedikit adalah Perlakuan 1 (D1T3), Perlakuan 6 (NPK), Perlakuan 4 (D1T4), Perlakuan 3 (D2T1), Perlakuan 2 (D2T2) dan Perlakuan 5 (Kontrol/tanpa pupuk)