Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Kajian Okulasi Benih Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg) dgn Perbedaan Mata Tunas

Judul Skripsi : Kajian Okulasi Benih Karet (Heavea brasiliensis Muell.Arg) dengan Perbedaan Mata Tunas (Entres) dan Klon

A. Latar Belakang Masalah 

Amypalupy (1988) menjelaskan bahwa bahan tanaman karet asal okulasi banyak memberi keuntungan dari sifat-sifat unggul induknya seperti pertumbuhan tanaman seragam, produksi tinggi, mulai berproduksi dalam waktu relatif singkat, mudah dalam penyadapan, dan tahan terhadap penyakit. Menurut Setyamidjaja (1999), hasil okulasi pada tanaman karet salah satunya adalah stum mata tidur. Stum mata tidur adalah benih hasil okulasi dengan mata tunas okulasi yang belum tumbuh.

Dalam melakukan okulasi dibutuhkan mata tunas (entres) yang merupakan bagian tanaman batang atas yang akan diokulasikan dengan batang bawah. Mata tunas ini setelah menyatu dengan batang bawah akan tumbuh menjadi batang tanaman karet (Setiawan dan Andoko, 2007). Ada tiga jenis mata tunas yang tampak pada tanaman karet yaitu mata daun, mata sisik dan mata bunga. Mata daun dan mata sisik dapat dipakai untuk okulasi, sedangkan mata bunga tidak dapat digunakan (Nazaruddin dan Paimin, 2006)

 

B. Rumusan Masalah

  1. Seberapa pengaruh penggunaan mata entres sisik, rapat dan jarang dalam upaya penyediaan benih yang baik.
  2. Apakah ada hubungan positif dengan penggunaan mata entres sisik, rapat dan jarang pada beberapa klon yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman.

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Mendapatkan asal stum mata tidur yang baik terhadap percepatan pemecahan mata tunas dan pertumbuhan benih tanaman karet dalam polybag.
  2. Menemukan ada tidaknya pengaruh antara penggunaan mata entres sisik, rapat dan jarang pada beberapa klon yang berbeda.

 

D. Kesimpulan Skripsi

1. Semua jenis mata entres (jarang, rapat dan sisik) dapat digunakan sebagai bahan tanam untuk batang atas.

2. Okulasi menggunaan jenis mata entres sisik dan jarang memberi persentase tumbuh yang lebih baik dibanding entres rapat.

3. Jenis mata entres sisik pada klon RRIC 100 memberikan tinggi dan diameter tunas tertinggi.

4. Secara umum klon RRIC 100 dan PR 261 menghasilkan tinggi tunas yang lebih baik dibandingkan 2 klon yang lain.

 

E. Saran

1. Terkait penyediaan benih, klon RRIC 100 dan entres sisik dapat dianjurkan untuk digunakan sebagai bahan tanam karena menghasilkan pertimbuhan yang lebih baik.

2. Dari hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat menjadi suatu pedoman kepada petani penangkar benih agar dapat di terapkan.