Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Kajian Intertekstualitas dan Nilai Pendidikan Karya Ahmad Tohari dan Arswendo Atmowiloto

Judul Skripsi : Kajian Intertekstualitas dan Nilai Pendidikan Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari dan Novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto

 

A. Latar Belakang Masalah

Dasar interteks dalam penelitian ini adalah analisis struktur karya sastra dari unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Langkah berikutnya menganalisis hubungan struktur karya sastra untuk menemukan persamaan dan perbedaaan yang dijumpai di dalam kedua novel yang diintertekskan. Persamaan dan perbedaan bisa dikaji dari pendiskripsian latar kedua novel juga ciri-ciri kultural (warna lokal) yang terdapat dalam kedua novel yang diintertekskan. Sisi lain yang menarik dari kajian novel adalah menganalisis nilai-nilai pendidikan yang ada di dalamnya. Nilai pendidikan moral, sosial budaya, dan religius merupakan objek kajian yang sangat tepat untuk diteliti dan dianalisis dalam sebuah novel. Dengan memaknai dan memahami nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam sebuah karya sastra akan mengubah pribadi seseorang menjadi lebih baik atau berkualitas apabila orang tersebut bisa memetik hikmahnya.

Penulis tertarik mengkaji novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto dengan pendekatan intertekstualitas karena kedua novel tersebut dibangun dengan struktur yang kuat utamanya struktur latar yang berupa warna lokal Jawa yang dominan dalam kedua novel tersebut.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah persamaan dan perbedaan kandungan warna lokal dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Canting sesuai kajian sastra dengan pendekatan intertekstualitas?
  2. Nilai pendidikan apakah yang terkandung di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Canting?

 

C. Tujuan Penelitian

  1. Menjelaskan persamaan dan perbedaan kandungan warna lokal dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Canting.
  2. Menjelaskan nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan novel Canting.

 

D. Simpulan

Persamaan dan Perbedaan Kandungan Warna Lokal Novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Novel Canting

  1. Perbedaan: Hasil interteks kedua novel tersebut yang berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat Jawa menyebutkan bahwa kondisi masyarakat pedesaan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk menampilkan warna lokal yang berupa: menjunjung kebersamaan, suka kemitraan, pertimbangan religius, cinta seni, dan dekat alam. Sedangkan, kondisi masyarakat perkotaan dalam novel Canting menampilkan warna lokal yang berupa: anonimitas, jarak sosial, keteraturan, dan kepribadian kota.
  2. Persamaan: Pandangan hidup orang Jawa yang ditampilkan dalam kedua novel tersebut meliputi sikap terpuji sebagai orang Jawa yang disebut Panca-sila, yaitu: rila, narimo, temen, sabar, dan budi luhur. Kelima sikap tersebut dimiliki oleh tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Ronggeng Duku

Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Novel Canting

  • Nilai Pendidikan Sosial Budaya
  1. Nilai Pendidikan Sosial Budaya Novel Ronggeng Dukuh Paruk: Etika dalam kehidupan sosial yang harus diikuti agar mendapatkan keberhasilan hidup tersebut adalah mengikuti wiradat (upaya diri) dan rajin bekerja.
  2. Nilai Pendidikan Sosial Budaya Novel Canting: Etika dalam kehidupan sosial yang harus diikuti agar mendapatkan keberhasilan dan keselarasan hidup tersebut adalah rajin bekerja dan membantu ketenteraman negara.
  • Nilai Pendidikan Religius
  1. Nilai Pendidikan Religius Novel Ronggeng Dukuh Paruk: Sebagai bentuk religiusitas karena orang-orang Dukuh jarang bersentuhan dengan dunia selain Dukuh Paruk.
  2. Nilai Pendidikan Religius Novel Canting: Pada prinsipnya dalam novel Canting tidak ada penuturan secara eksplisit yang menyatakan religiusitas yang berkaitan hubungan manusia dengan Tuhan.