Hubungi Kami di WA 08-951-951-3333

Instalasi Pengelolaan Air PDAM Kabupaten Pacitan Tahun 2011

Latar Belakang Masalah Pengelolaan Air 

Terkait dengan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, di Kabupaten Pacitan mengalir Sungai Grindulu yang mempunyai panjang lebih 67,15 Km dengan kedalaman 10 meter. Sungai Grindulu memiliki lebar permukaan 77 meter dan lebar dasar 63 meter dengan debit maksimal 1926,15 m³/detik dan debit minimalnya 0,41 m³/detik.  Kecenderungan kualitas air Sungai Grindulu mengalami penurunan sangat dimungkinkan, mengingat dibagian tengah Sungai Grindulu terdapat beberapa kegiatan usaha yang berpotensi menimbulkan pencemaran, serta terdapat permukiman yang melakukan kegiatan pembuangan limbah domestiknya ke sungai tersebut.

Keberadaan Sungai Grindulu yang menjadi salah satu sumber air baku PDAM Kabupaten Pacitan mengharuskan kualitas Sungai Grindulu tetap terjaga dan dalam kondisi baik. Kontrol terhadap kualitas air harus dilakukan secara terus menerus sehingga jika terjadi perubahan atau penurunan kualitas air dapat segera diketahui dan dicari penyebabnya sehingga dapat segera dicari solusi yang paling tepat guna mengembalikan kualitas air sungai tersebut. Diharapkan dengan mengetahui kualitas air yang digunakan sebagai air baku di PDAM Kabupaten Pacitan, akan menjamin kualitas air yang akan sampai kepada masyarakat yang berupa air bersih dengan indikator parameter kualitas air tidak melampaui ambang baku mutu yang ditetapkan melalui PERMENKES No. 416 Tahun 1990 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air.

 

Perumusan Masalah

  1. Bagaimana implementasi Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 di Sungai Grindulu Kabupaten Pacitan Tahun 2011 sebagai air baku PDAM secara substantif?
  2. Bagaimana Implementasi Peraturan Menteri Kesehatan No. 416 Tahun 1990 di Instalasi Pengelolaan Air (IPA) PDAM Kabupaten Pacitan Tahun 2011 secara substantif?

 

Landasan Teori

Implementasi Hukum

Hukum dipandang sebagai suatu sistem, maka untuk dapat memahaminya perlu penggunaan pendekatan sistem. Berbagai pengertian hukum sebagai sistem hukum dikemukakan antara lain oleh Lawrence M. Friedman, bahwa hukum itu merupakan gabungan antara komponen struktur, substansi dan kultur:

  1. Komponen struktur yaitu kelembagaan yang diciptakan oleh sistem hukum itu dengan berbagai macam fungsi dalam rangka mendukung bekerjanya sistem tersebut.
  2. Komponen substantif yaitu sebagai output dari sistem hukum, berupa peraturan-peraturan, keputusan-keputusan yang digunakan baik oleh pihak yang mengatur maupun yang diatur.
  3. Komponen kultural yaitu terdiri atas nilai-nilai dan sikap-sikap yang mempengaruhi bekerjanya hukum, atau oleh Lawrence M. Friedman disebut sebagai kultur hukum.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomer 82 Tahun 2001 Berdasarkan definisinya pencemaran air yang diindikasikan dengan turunnya kualitas air sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Yang dimaksud dengan tingkat tertentu tersebut diatas adalah baku mutu air yang ditetapkan, dan berfungsi sebagi tolok ukur untuk menentukan telah terjadinya pencemaran air.

 

Metodologi Penelitian

Jenis penelitian ini adalah hukum sosiologis empiris dan jika dilihat dari sifatnya termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif.

Sumber data berasal dari data primer yang berupa sample air Sungai Grindulu dan air hasil olahan IPA serta data sekundernya berupa peraturan perundang-undangan.

Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dokumentasi dan uji laboratuorium terhadap sample air.

Teknik analisis data adalah dengan membandingkan parameter hasil uji laboratorium dari sample air dengan parameter syarat sesuai PP No. 82 Tahun 2001 dan PERMENKES No. 416 Tahun 1990.

 

Kesimpulan

  1. Implementasi Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 di Sungai Grindulu

Kabupaten Pacitan Tahun 2011 sebagai air baku PDAM secara substantif belum diterapkan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan dilampauinya baku mutu yang ditetapkan, yaitu parameter residu tersuspensi, BOD, DO, Seng (Zn), Besi (Fe), Fecal Coliform dan Total Coliform pada IPA Kecamatan Pacitan dan residu tersuspensi, BOD, DO, total fosfat sebagai P, besi (Fe), mangan (Mn), seng (Zn), fecal coliform dan total coliform pada IPA Kecamatan Arjosari.

  1. Implementasi Peraturan Menteri Kesehatan No. 416 Tahun 1990 di Instalasi Pengelolaan Air (IPA) PDAM Kabupaten Pacitan Tahun 2011 secara substantif belum sepenuhnya dijalankan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya parameter yang dilampaui baku mutunya di IPA Kecamatan Pacitan yaitu rasa dan mangan (Mn), namun pada IPA Kecamatan Arjosari tidak ada parameter yang dilampaui bakumutunya.