Implemetasi Program Terpadu Pemberdayaan Masyarakat Berperspektif Gender

Latar Belakang Masalah Prespektif Gender

Evaluasi kegiatan P2MBG tidak saja untuk mengukur hasil yang ingin diraih melalui kegiatan ini tapi juga mengetahui kendala dan kelebihannya. Kendala sebagai kelemahan program perlu dicaikan jalan keluar dan perbaikan, sedangkan keberhasilan dari kegiatan P2MBG menjadi argumentasi pemerintah setempat apakah kegiatan atau program ini pantas untuk dilanjutkan lagi.

United Nation dengan program Millinium Development Golds Tahun 2000 merumuskan strategi pengarusutamaan gender untuk diadopsi oleh setiap negara berdampingan dalam program pengentasan kemiskinan. Barometer itu akan dilihat seberapa jauh negara membuka ruang partisipasi, akses, fungsi kontrol dan aspek manfaat dari pembangunan itu secara adil dan aspiratif mengusung kepentingan perempuan. Harapan di masa yang akan datang  eksistensi dan peran perempuan tidak saja menjadi obyek namun juga sebagai pelaku dalam pembangunan.

Rumusan Permasalahan Penelitian

Peneliti merumuskan permasalahan penelitian yaitu apakah ada perbedaan pendapatan masyarakat mitra sebelum dan sesudah menerima bantuan modal usaha melalui kegiatan P2MBG tahun 2008?

Tinjauan Pustaka

  • Paradigma Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi bukan suatu perkembangan baru dalam ilmu ekonomi. Studi tentang pembangunan ekonomi telah menarik perhatian para pemerhati atau ekonom sejak zaman merkantilis, kaum klasik sampai Marx atau Adam Smith dan Keynes. Analisis mengenai masalah pembangunan ekonomi yang dilakukan ekonom sekarang ini merupakan masalah-maslah yang dianalisis para ekonom masa lalu (Arsyad, 2004:3).

  • Program Terpadu Pemberdayaan Masyarakat Berperspektif Gender.

Tujuan umum Program Terpadu Pemberdayaan Masyarakat Berperspektif Gender atau P2MBG sebagaimana dikeluarkan Badan Pemberdayaaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Tengah Tahun 2006 menyebutkan bahwa tujuan program ini adalah meningkatkan kualitas hidup keluarga menuju kesejahteraan kesetaraan dan keadilan melalui kegiatan lintas bidang pembangunan dalam upaya peningkatan kondisi, status kedudukan dan partisipasi perempuan.

  • Pengertian kemiskinan dan pemberdayaan.

Kemiskinan merupakan suatu tingkat kehidupan yang berada di bawah standar kebutuhan hidup minimum yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan pokok pangan yang membuat prang cukup bekerja dan sehat berdasarkan kebutuhan beras dan gizi. Garis kemiskinan yang digunakan Sayogyo (1977) adalah dengan membanding tingkat pemenuhan beras perkapita per tahun.  Bagi masyarakat miskin pedesaan mengonsumsi beras kurang dari 240 kg perkapita per tahun dan perkotaan kurang dari 360 kg perkapita per tahun.

  • Strategi Penanggulangan Kemiskinan

Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) untuk mencapai sasaran penurunan angka kemiskinan menetapkan strategi pemberdayaan masyarakat melalui dua cara yaitu (1) mengurangi beban pengeluaran konsumsi kelompok miskin dan (2) adalah meningkatkan produktifitas masyarakat terutama usaha kecil dan menengah yang meliputi penajaman program, pendanaan dan pedampingan. Pendampingan yang dimaksud di sini adalah programpenyiapan, pemihakan dan perlindungan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya masyarakat dan kelembagaanya sebagai sasaran program agar pendanaan yang disalurkan dapat diserap dan dimanfaatkan dengan baik.

Metodelogi Penelitian

Pelaksanaan P2MBG tahun 2008 di Kabupaten Klaten ditempatkan di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat dengan 10 kelompok sasaran yang terdiri dari dari 99 orang masyarakat mitra.

Dari 99 masyarakat yang dibentuk pada awal pelaksanaannya oleh pemerintah sampai penelitian dilakukan ternyata hanya 50 masyarakat mitra yang aktif menekuni usaha yang ditetapkan melalui P2MBG.

Kesimpulan

  1. Terdapat perbedaan pendapatan masyarakat mitra antara sebelum dan sesudah pelaksanaan P2MBG tahun 2008 di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat. Pendapatan masyarakat mitra sebelum kegiatan P2MBG tahun 2008 adalah Rp 292.300,00 dan pendapatan setelah kegiatan P2MBG tahun 2008 adalah Rp 330.800,00. Artinya terdapat selisih atau besaran peningkatan pendapatan sebesar Rp 38. 500,00.
  2. Hipotesis yang peneliti rumuskan yaitu diduga terdapat perbedaan pendapatan masyarakat mitra antara sebelum dan setelah pelaksanaan P2MBG tahun 2008 di Desa Krakitan, Kecamatan juga terjawab. Kesimpulan ini dibuktikan dengan uji t-test yang menunjukan bahwa t hitung diperoleh sebesar 9,710 atau lebih besar dari t tabel sebesar 2,423 dengan derajat kepercayaan (α = 0,01) pada responden sebanyak 50 dan df (N-1).